perjanjian yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian;
3. Mengenai suatu hal tertentu;
4. Suatu sebab yang halal.11
9Ibid, 10Ibid,hlm 52
11Badrulzaman, Op.Cit, 66
Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan satu persatu mengenai keempat syarat untuk sahnya suatu perjanjian jual beli, yaitu sebagai berikut:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
Yang dimaksud adalah bahwa kedua subyek yang mengadakan perjanjian itu harus sepakat, setuju atau seia-sekata mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan itu. Pokok perjanjian itu berupa obyek perjanjian dan syarat-syarat perjanjian. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, juga dikehendaki oleh pihak yang lain. Mereka menghendaki sesuatu yang sama secara timbal balik. Dengan demikian persetujuan disini sifatnya sudah mantap, tidak lagi dalam perundingan.
Persetujuan kehendak sifatnya bebas, artinya betul-betul atas kemauan sukarela pihak-pihak, tidak ada paksaaan sama sekali dari pihak manapun.12Biasanya ada pihak-pihak, yang mengadakan perundingan atau negosiasi, yaitu pihak yang satu memberitahukan kepada pihak yang lain tentang obyek perjanjian dan syarat-syaratnya. Sebaliknya pihak yang lain menyatakan kehendaknya itu, sehingga tercapailah persetujuan yang mantap. Kadang-kadang kehendak itu dapat dinyatakan secara tegas dan kadang-kadang ada pula secara diam-diam, tetapi maksudnya menyetujui apa yang dikehendaki pihak lain itu.
Mengenai syarat pertama bahwa sepakat mereka yang mengikatkan dirinya baik pihak pembeli dan penjual (seluruh ahli waris) harus benar-benar sepakat dalam melakukan perjanjian jual beli tanpa ada paksaan, penipuan, dan kesilapan (Pasal 1321 KUH Perdata). Dalam hal cakap membuat suatu perikatan,
12Abdulkadir, Op.Cit, hlm. 89
sebagaimana pada pasal 1330 KUH Perdata menentukan bahwa setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan, kecuali undang-undang menentukan bahwa ia tidak cakap. Mengenai orang-orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian dapat kita temukan dalam pasal 1330 KUH Perdata, yaitu
a. Orang-orang yang belum dewasa
b. Mereka yang berada dibawah pengampuan
c. Wanita yang bersuami. Ketentuan ini dihapus dengan berlakunya Undang No.1 tahun 1974 tentang perkawinan. Karena pasal 31 Undang-Undang ini menentukan bahwa hak dan kedudukan suami istri adalah seimbang dan masing-masing berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian
Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum. Pada umumnya, setiap orang yang sudah dewasa, artinya sudah mencapai umur 21 tahun atau sudah kawin walaupun belum berumur 21 tahun dan sehat pikirannya dikatakan cakap melakukan perbuatan hukum. Menurut ketentuan pasal 1330 KUHPerdata disebut sebagai orang-orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian, yaitu orang-orang yang belum dewasa, mereka yang ditaruh dibawah pengampunan, dan orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-Undang. Selain kecakapan ada lagi yang disebut dengan kewenangan melakukan perbuatan hukum, kewenangan membuat perjanjian.
Dikatakan ada kewenangan apabila ia mendapat kasus dari pihak ketiga untuk melakukan perbuatan hukum tertentu, dalam hal ini membuat perjanjian, dan dikatakan tidak ada kewenangan apabila tidak mendapat kuasa untuk itu.
Akibat hukum ketidakcakapan atau ketidakwenangan membuat perjanjian ialah bahwa perjanjian yang telah dibuat itu dapat dimintakan pembatalannya kepada hakim.Jika pembatalannya itu tidak dimintakan oleh pihak yang berkepentingan, maka perjanjian tetap berlaku bagi pihak-pihak.
Dalam kaitannya dengan orang-orang yang belum dewasa, yakni anak dibawah umur yang merupakan ahli waris untuk mendapatkan warisan maka dapat dilakukan perwalian. Perwalian (Voogdij) adalah pengawasan terhadap anak dibawah umur, yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua serta pengurusan harta benda atau kekayaan anak tersebut diatur oleh Undang-Undang. 13
Misalnya orang tua sudah tidak ada lagi (meninggal dunia) atau apabila dicabut kekuasaannya sebagai orang tua maka kekuasaan untuk mengurus kepentingan si anak tersebut berpindah ketangan seorang wali. Dengan kata lain, si anak belum dewasa ditaruh dibawah perwalian. Segala kepentingan si anak menjadi urusan wali, baik mengenai diri pribadi si anak maupun harta bendanya 3.
Mengenai suatu hal tertentu
Suatu hal tertentu merupakan suatu pokok perjanjian, merupakan prestasi yang perlu dipenuhi dalam suatu perjanjian dan merupakan obyek perjanjian. Apa yang diperjanjikan harus cukup jelas, ditentukan jenisnya, jumlahnya boleh tidak disebutkan asal dapat dihitung atau ditetapkan. Syarat bahwa prestasi harus sudah tertentu atau dapat ditentukan gunanya ialah untuk menetapkan hak dan kewajiban kedua belah pihak, jika timbul perselisihan dalam pelaksanaan perjanjian. Apabila prestasi itu kabur, sehingga perjanjian itu tidak dapat dilaksanakan, maka
13Subekti, Perbandingan Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 1986, hlm. 52.
dianggap tidak ada obyek perjanjian. Akibat tidak dipenuhinya syarat ini, perjanjian itu batal demi hukum.
Objek Perjanjian juga biasa disebut dengan Prestasi. Prestasi terdiri atas :14 a.
memberikan sesuatu, misalnya membayar harga, menyerahkan barang.
b. berbuat sesuatu, misalnya memperbaiki barang yang rusak, membangun rumah, melukis suatu lukisan yang dipesan.
c. tidak berbuat sesuatu, misalnya perjanjian untuk tidak mendirikan suatu bangunan, perjanjian untuk tidak menggunakan merek dagang tertentu.
Syarat ketiga yaitu mengenai suatu hal tertentu. Maksudnya perjanjian haruslah berkenaan dengan hal yang tertentu, jelas dan dibenarkan oleh hukum.
Mengenai hal ini dapat ditemukan dalam (Pasal 1332 dan 1333 KUH Perdata).
Misalnya mengenai hal tertentu ialah perjanjian jual beli yang menyangkut tanah dan bangunan.
4. Suatu sebab yang halal
Kata Causa berasal dari bahasa Latin artinya sebab. Sebab adalah suatu yang menyebabkan orang membuat perjanjian, dan yang mendorong orang membuat perjanjian. Namun bukan itu yang dimaksudkan oleh Undang-Undang dengan sebab yang halal. Sesuatu yang menyebabkan seorang membuat suatu perjanjian pada asasnya tidak diperdulikan oleh Undang-Undang. Yang diperhatikan oleh hukum atau Undang-Undang hanyalah tindakan orang dalam
14Ahmadi Miru, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, hlm. 69.
masyarakat. Jadi yang dimaksudkan dengan sebab atau causa dari suatu perjanjian adalah isi perjanjian itu sendiri.
Dua syarat pertama dinamakan syarat-syarat subjektif yaitu mengenaii kespekatan dan cakap dalam membuat perjanjian, karena mengenai orang-orangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian. Tidak dipenuhinya salah satu syarat tersebut dapat berakibat hukum dapat dibatalkannya perjanjian. Oleh karena itu, dalam hal adanya kekurangan mengenai syarat subyektif, undang-undang menyerahkan kepada para pihak, untuk melakukan pembatalan perjanjian atau tidak. Perjanjian yang demikian itu, tidak batal demi hukum, tetapi dapat dimintakan pembatalan.
Sedangkan dua syarat terakhir dinamakan syarat-syarat obyektif karena mengenai perjanjiannya sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan.
Tidak dipenuhinya salah satu syarat obyektif dapat menimbulkan akibat hukum batalnya.15 Syarat Obyektif adalah mengenai obyek yang diperjanjikan, yaitu tentang syarat suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Apabila yang tidak terpenuhi dalam suatu perjanjian adalah syarat obyektif, perjanjian tersebut batal demi hukum, karenanya tujuan para pihak untuk membuat suatu perjanjian menjadi batal. Karena obyek yang diperjanjikan batal, perjanjiannya otomatis batal demi hukum . Dengan demikian, tidak ada dasar untuk saling menuntut di depan hakim.
15Badrulzaman, Op.Cit., hlm. 107.