• Tidak ada hasil yang ditemukan

melakukan yang terbaik Penyuka tantangan yang

Dalam dokumen Majalah VISI Edisi ke 3 LOWRES (Halaman 30-32)

mengalir seperti air.

ditinggali bukan rumah milik pribadi. “Menempati rumah baru yang lebih kecil, tapi harus memuat seluruh anggota keluarga sebanyak 10 orang, pastinya sangat sempit,” terang anak ke-4 dari 8 bersaudara ini. “Saking sempitnya saya terpaksa tidur di masjid. Saya punya bantal, selimut dan buku-buku sendiri di masjid,” terang Arif.

Masjid sudah seperti rumah kedua buat Arif. “Alhamdulillah yang menjadi rumah kedua adalah masjid bukan tempat lain. Dari masjid saya belajar disiplin melaksanakan sholat, puasa, termasuk belajar berorganisasi. Banyak sekali pelajaran yang saya petik dan hal ini menempa pribadi saya kearah yang positif,” katanya.

Walau tumbuh dalam lingkungan pedesaan dan kekurangan, Sang Bapak yang pernah mendapat penghargaan sebagai guru SMP Teladan tingkat nasional tetap konsentrasi ke pendidikan. Padahal mayoritas masyarakat saat itu masih menganut falsafah Jawa mangan ora mangan sing penting kumpul yang membuat mereka susah berkembang. “Tidak mau mengecewakan bapak, satu hal yang kita lakukan bersama, ketika anak pertama lulus, bekerja kemudian

membantu adik-adiknya sekolah dan begitu selanjutnya. Tumbuh dalam banyak kekurangan bisa membuat keluarga sangat rukun, saling membantu, kalau satu sakit semua benar-benar merasa sakit,” urai Arif.

Pada tahun 1981, Arif lulus SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi. “Saya mendaftar di Universitas Sebelas Maret, IKIP dan Universitas Gajah Mada, diterima semua dan akhirnya saya memutuskan di Universitas Gajah Mada Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi,” katanya. “Saat kuliah situasi tidak banyak berubah, tetap semangat melakukan pekerjaan apa saja yang menghasilkan uang.” Mencari uang untuk biaya sekolah sebenarnya sudah dilakoninya sejak SMA kelas 2. Sejak pukul 6 pagi, Arif bergelantungan di angkot jurusan Karang Gede-Karang Anyar sebagai kenek, pukul 11 bersiap ke sekolah karena masuk siang.

Sampai kuliah, Arif berlum terpikir mau jadi apa, tidak ada cita-cita. “Saya hanya berpikir bagaimana sekolah setinggi mungkin dan sekolah tidak putus. Saat kuliah saya juga membiayai kuliah dengan menjadi supir angkot gede jurusan Prambanan- Jogja. Rute angkutan ini dekat dengan kampus sehingga penumpangnya banyak teman- teman sekampus,” katanya. Alih-alh malu, Arif malah senang ketiban rezeki karena teman-teman banyak yang membayar lebih. Setelah cukup ilmu kemudian baru Arif ikut proyek dosen seperti penelitian,

survey dan yang lain-lain.

Singkat cerita, lulus dan bekerja di Yogyakarta sebagai akuntan. “Saya ingin sekali kerja di Jakarta, datanglah ke Jakarta. Itu adalah pertama kali saya datang ke Jakarta. Di Jakarta saya hanya tahu atas dan bawah dan buta sama sekali mengenai Jakarta Timur, Barat, Selatan dan Utara,” cerita Arif. Selang beberapa bulan, ada Alumni Universitas Gajah Mada yang menawarkan saya bekerja di BUMN dan nama perusahaannya adalah PT Surveyor Indonesia.

"Saya melamar, dipanggil, ditest dan diterima. Saya mengawali karir di Divisi Keuangan dan Akuntansi dan pindah ke berbagai divisi. Saya adalah salah satu karyawan PT Surveyor Indonesia yang paling sering dipindah,” kata Arif. Karena dasarnya menyukai tangtangan dan mau belajar, Arif selalu menikmati dan belajar dari posisi yang dilewatinya. Hingga pada tahun 2012, PT Surveyor Indonesia diminta mengirimkan karyawan untuk fit and proper test untuk dipromosikan. Arif salah satunya.

adalah yang bermanfaat. “Saya banyak kekurangan, tidak mungkin saya mengerti semua di PT Surveyor Indonesia , saya sedikit demi sedikit menambah ilmu. Dengan karyawan tidak boleh mentang-mentang tapi harus dibangun satu komunitas bahwa kita saling membutuhkan dan saling membantu,” Arif berphilosofi.

Learing by doing. Setiap saya duduk dalam satu posisi saya berusaha mengambil pelajaran dari posisi tersebut. “Belajar tidak harus kursus, atau kuliah secara formal. Saya tidak malu untuk diajari oleh anak buah, saya terus belajar,” ungkapnya. “PT Surveyor Indonesia sama dengan perusahaan sejenis, tidak punya satu bisnis penopang revenue yang kuat, penugasan pemerintah sewaktu-waktu bisa dicabut. “Saya konsen bahwa PT Surveyor Indonesia harus punya satu sumber penghasilan yang kalau sewaktu-waktu penugasan pemerintah di cabut kita tetap bisa jalan.

*** “Alhamdulilah saya lulus, dan ditempatkan

menjadi Direktur Keuangan PT Sucofindo (Persero). Itu tidak berlangsung lama hanya 4,5 bulan. Saya diminta deputi kembali ke PT Surveyor Indonesia sebagai Direktur Utama karena saat itu PT Surveyor Indonesia dan PT Sucofindo dilanda Isu merger. Keadaan sangat tidak kondusif,” terang Arif. Saat itu situasi memang tidak kondusif direksi dan karyawan saling berhadapan. “Saya mengajak bicara, dalam hal ini Serikat Pekerja, saat makan bersama saya berikan penjelasan sedikit, terus dan terus akhirnya mereka mengerti dan klop. Kalau perusahaan tidak sejahtera karyawan tidak akan sejahtera. Pekerjaan harus tumbuh, walau bertentangan,” tambahnya.

Saat menjadi memimpin di PT Surveyor Indonesia, Arif menerapkan ilmu yang didapat ketika masih tidur di masjid. “Ustadnya mengatakan bahwa manusia tidak sempurna, sebaik-baiknya manusia

Sosok

Target pendapatan yang patok PT Surveyor Indonesia (Persero) pada tahun ini sebesar Rp1,2 meningkat dari realisasi pendapatan ditahun 2016 sebesar Rp850 miliar. Laba perusahaan juga dikerek ke angka Rp160 miliar meningkat jauh dibandingkan realisasi laba tahun 2016 sebesar Rp60 miliar. “Selain penugasan pemerintah saat ini PT Surveyor Indonesia juga sedang merintis bisnis yang bisa menopang revenue,” kata Arif Zainuddin, Direktur Utama PT Surveyor Indonesia kepada Majalah BUMN Insight di Bali awal bulan lalu. Bisnis apa saja yang akan dilakukan dan sudah sejauh mana? Berikut nukilannya.

Selain proyek dari penugasan pemerintah, katanya Surveyor sedang merintis usaha yang bisa menopang revenue?

Sebelumnya saya tegaskan dulu, kita akan tetap melakukan penugasan dari pemerintah karena sebagai BUMN adalah perpanjangan tangan pemerintah. Nilai dari proyeknya cukup besar, sampai april 2017 sudah mengantongi Rp1,4 triliun. Terkait inovasi bisnis yang bisa menopang revenue itu benar karena ketika penugasan dicabut oleh pemerintah kita bisa bertahan.

Usaha apa saja yang akan dilakukan PT Surveyor Indonesia?

Saat ini kita sedang merintis. Kemarin kita diundang oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin) yang menceritakan bahwa mereka akan memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk minyak pelumas, baja, ban, velk dan mainan anak-anak. Untuk itu

Kemenperin menggandeng PT Surveyor Indonesia untuk mendirikan laboratorium pengujian.

Kita sudah kalkulasi bisnis dan layak. Laboratorium tersebut selain untuk pengujian bisa digunakan untuk yang lain. PT Surveyor Indonesia sudah menghitung besaran investasi untuk proyek ini sekitar Rp 90 miliar. Khusus laboratorium kita kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung.

Selain itu apa lagi?

GINSI dan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menunjuk PT Surveyor Indonesia untuk menjadi verifikator kontainer di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I, II dan III. Tugas PT Surveyor Indonesia melakukan container scanner, memantau kerusakan container. Hal ini sudah kita buatkan sistemnya dan sudah diuji coba di pelabuhan Semarang, Medan, Surabaya dan segera di Tanjung Priok. PT Surveyor Indonesia memantau setiap kontainer yang datang, kemudian diambil pemilik barang di gate pelabuhan, kemudian dilakukan pemeriksaan apakah ada kerusakan atau tidak. GINSI mendesak agar hal ini di laksanakan.

Bisakah dua proyek ini menopang pendapatan perusahaan?

Untuk saat ini cukup. Tapi tentunya harus terus mengembangkan untuk countainer scaner bisa dikembangkan untuk pengiriman antar pulau, dan lain-lain. Ada divisi mengembangkan yang akan mengembangkan bisnis-bisnis lain. Intinya agar kita tidak tergantung dengan penugasan pemerintah, penugasan akan tetap kita lakukan.

Kita akan berusaha menjadi surveyor Negara, saat ini beberapa Kementerian menunjuk PT SI untuk melakukan surveyor atau verifikator kebijakannya. Kita terus berusaha agar semua kementerian menunjuk kita sebagai surveyor Pemerintah. ***

Arif Zainuddin

Dirut PT Surveyor Indonesia (Persero)

Dalam dokumen Majalah VISI Edisi ke 3 LOWRES (Halaman 30-32)

Dokumen terkait