BAB 2 LANDASAN TEORI
2.2 Melestarikan Batik Bayat
Melestarikan adalah menjadi atau membiarkan tetap tidak berubah (Surayin, 2001:265). Jacobus Ranjabar (2006:114) mengemukakan bahwa melestarikan budaya adalah mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, luwes dan selektif, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Salah satu tujuan diadakannya pelestarian budaya adalah juga untuk melakukan revitalisasi budaya (penguatan). Revitaliasasi kebudayaan dapat didefinisikan sebagai upaya yang terencana, sinambung, dan diniati agar nilai- nilai budaya itu bukan hanya dipahami oleh para pemiliknya, melainkan juga membangkitkan segala wujud kreativitas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam menghadapi berbagai tantangan (Jacobus Ranjabar, 2006:114).
Batik adalah kain yang bergambar (bercorak) yang pembuatannya dengan cara tertentu, mula-mula ditulis atau ditera dengan lilin atau diwarnakan dengan soga (Surayin, 2001:31). Batik Bayat memiliki ciri khas gaya dan bentuknya yaitu menggunakan satu warna dan cenderung coklat tua dan hitam menjadi karakter atau gaya batik Bayat. Batik bayat juga menggunakan warna natural, yang merupakan pewarnaan kain batik dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti dari kulit pohon mahoni, kilit pohon duwet, kulit pohon secang, dan kulit pohon tangi. Batik tulis Bayat juga mempunyai motif khas, yang tidak ada pada
daerah industri batik lainnya. Motif batik khas Bayat antara lain latar putih, kambil secukil atau kopi pecah, dan remukan.
Simpulan dari pendapat diatas bahwa melestarikan batik Bayat merupakan salah satu wujud untuk menjaga dan mempertahankan keberadaan dan keaslian dari ciri khas gaya dan bentuk batik Bayat serta ciri motif khas batik tulis Bayat di desa Jarum. Upaya melestarian batik Bayat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah saja, masyarakat industri pembatik juga harus berperan aktif dalam melestarikannya. Peranan masyarakat industri batik di desa Jarum ini meliputi peranan produksi, peranan promosi dan peranan pemasaran.
1) Memproduksi batik bayat
Memproduksi batik dengan cara mempertahankan motif, bentuk, gaya dan warna batik bayat, meningkatkan kualitas batik bayat seperti keawetan warna, kenyamanan saat dipakai (kualitas bahan baku/mori). Memproduksi batik bayat secara eksklusif, yaitu pengerjaan batik bayat secara manual (proses keseluruhan menggunakan ketrampilan tangan) dengan jumlah yang relatif sedikit agar tidak menimbulkan kebosanan bagi konsumen.
2) Mempromosikan batik bayat
Mempromosikan batik dgn cara iklan baik media cetak (majalah, surat kabar, brosur, kartu nama) maupun media elektronik (TV, radio, Internet).
3) Memasarkan batik bayat
Memasarkan batik dengan teknik pemasaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat maupun pasar sehingga sasaran pemasaran dapat tercapai, mengefektifkan fasilitas pemasaran yang dimiliki pengrajin untuk menekan biaya
produksi sehingga harga jual menjadi rendah dapat menarik pelanggan. Memasarkan batik bayat di kota tujuan wisata sehinggga batik bayat bukan hanya dikenal diwilayah bayat tetapi juga bisa dikenal di Indonesia bahkan sampai keluar negeri.
2.2.1 Perajin Batik Bayat
Bayat merupakan wilayah di Kabupaten Klaten yang berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul (DIY) dan Kabupaten Sukohardjo (Jateng), mempunyai berbagai perajin yang patut dibanggakan. Perajin yang mampu menarik perhatian adalah perajin batik tulis dan perajin batik keramik.
Perajin batik tulis berpusat diwilayah kelurahan Jarum, dan perajin keramik berpusat dikelurahan Paseban. Perajin batik tulis di Kelurahan Jarum sebagian besar merupakan perajin rumah tangga, dan terbesar di beberapa wilayah pedukuhan, antara lain Dukuh Pendem, Pudungrejo, Karangnongko, dan Gedangklutuk.
Hasil produksi batik tulis bukan hanya berupa kain, melainkan juga sudah ada yang dipadukan dengan produk lain, yaitu kayu. Batik kain merupakan cikal bakal perajin batik tulis di jarum, terutama batik kain jarik. Namun dengan perkembangnya permintaan pasar dan perkembangan mode, maka produk batik kain sudah meluas pada batik pakaian, batik kain, hiasan, dan aksesoris rumah tangga lain seperti taplak, seprai, sajadah, sarung bantal dan lain-lain. Sehingga jumlah produksi batik yang di buat dalam satu bulan mencapai dua lusin.
Jenis batik yang di produksi oleh masyarakat industri batik Bayat yaitu batik tradisional dan batik modern. Teknik pembuatannya yang di gunakan dalam
pembuatan batik Bayat yaitu batik tulis, batik cap, batik colet dan batik printing. Perajin batik Bayat sebagian besar mengenal batik Bayat dari turun-temurun nenek moyang terdahulu. Masing-masing perajin batik Bayat medesain produk pakaian batik sendiri dan mereka mengembangkan desain dengan belajar dan menambah pengetahuan serta selalu mengikuti tentang fashion atau trend yang sedang berkembang di pasaran.
Batik tulis jarum mempunyai ciri motif khas, yang tidak ada pada daerah industri batik lainnya. Motif batik khas jarum antara lain latar putih, kambil secukil/kopi pecah dan remukan. Kelebihan yang dimiliki oleh pembatik jarum adalah warna natural, yang merupakan pewarnaan kain batik dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti dari kulit pohon mahoni, kulit pohon duwet, kulit pohon secang dan kulit pohon tangi. Dari kulit pohon-pohon tersebut diperoleh berbagai warna, antara lain cokelat, violet, merah hati, kuning dan gambir. Bahkan warna-warna alami tersebut dapat dikombinasikan untuk memperoleh efek warna baru, sehingga akan mendapatkan banyak pilihan warna.
Batik kayu merupakan hasil kreasi warga pembatik jarum. Hasil produk itu meliputi batik wayang, sandal dan hiasan-hiasan rumah tangga. Pembatik jarum membuka industri batik kayu dengan tujuan ingin mempertahankan usahanya, menciptakan peluang pasar baru, dan berusaha melakukan kreasi-kreasi dengan media batik selain kain.
Simpulan berdasarkan pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa perajin batik di desa Jarum adalah perajin yang masih mempertahankan ciri khas batik
Bayat antara lain motif “latar putih, kambil secukil/kopi pecah dan remukan”. Keberadaan perajin batik berperan dalam melestarikan batik bayat.
2.2.2 Workshop dan Showroom Batik Bayat
2.2.2.1 Workshop batik bayat
Workshop adalah pelatihan kerja, yang meliputi teori dan praktek dalam
satu kegiatan terintegrasi. Workshop juga diartikan sebagai tempat tenaga kerja (tempat pembuatan batik/proses pembuatan batik) melakukan kegiatan dari awal sampai akhir proses kerja yg didukung dengan alat-alat kerja.
Desa Jarum merupakan daerah tempat tinggal para perajin batik. Daerah ini terdapat 25 yang telah membuka pintunya untuk wisatawan. Disana dengan leluasa dapat mengunjungi workshop pembuatan batik, mulai pembuatan batik tulis dan cap serta batik kayu dan patung.
Pemerintah Klaten bekerja sama dengan dinas perindustrian perdagangan koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) kabupaten Klaten untuk mengadakan pelatihan ketrampilan membatik dengan berbicara materi tentang pengembangkan ketrampilan membatik, manajemen, kewirausahaan dan teknik pemasaran dengan tujuan sebagai wawasan sehingga mereka akan mandiri dan lebih siap dalam menghadapi persaingan pasar.
Simpulan berdasarkan pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa workshop adalah tempat pembuatan batik dan pelatihan kerja bagi para wisatawan atau pengunjung yang ingin berlatih membatik.
2.2.2.2 Showroom batik bayat
Showroom adalah ruang pamer, ruang yang khusus digunakan sebagai
tempat memamerkan dan memajang batik seperti kain batik, blus batik, kemeja batik, kaos batik, tas batik, telapak meja batik, seprai batik, sarung bantal batik, sepatu batik, sandal batik, dan batik kayu lainnya . Masyarakat umum menyebut demikian karena secara global sudah di artikan sebagai tempat untuk memajang bernama showroom. Showroom juga dapat diartikan sebagai tempat display untuk furniture ataupun barang yang memang untuk dipamerkan. Tujuan showroom
dibuat adalah untuk memberikan fasilitas akan kebutuhan.
Desa Jarum menjadi desa wisata batik, para pengusaha mulai membuka gerai atau showroom yang menyediakan produk batik dengan berbagai corak dan jenis. Mulai dari daster, kemeja, baju tidur, setelan kebaya, dan kemeja batik yang terbuat dari batik tulis, cap, printing, colet, jemputan maupun sutera serta berbagai batik kayu dan patung.
Simpulan berdasarkan pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa
showroom adalah tempat pajang hasil karya perajin batik Bayat di desa Jarum.