• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

D. Prosedur Diagnosis Kesulitan Belajar

2. Melokalisasikan Letaknya Kesulitan (Permasalahan)

Setelah kita menemukan kelas atau individu siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, maka persoalan selanjutnya yang perlu kita telaah, ialah (1) dalam mata pelajaran (bidang studi) manakah kesulitan itu terjadi, (2) pada kawasan tujuan belajar (aspek prilaku) yang manakah ada kesulitan itu terjadi, (3) pada bagian (ruang lingkup bahan) yang manakah kesulitan itu terjadi, dan (4) dalam segi kesulitan belajar manakah kesulitan itu terjadi. Untuk itu dilakukan analisis letak kesulitan belajar siswa dengan cara sebagai berikut:

a. Mendekati kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dapat dilakukan dengan cara membandingkan angka nilai prestasi individu siswa untuk semua bidang studi.untuk membuat jelas

hal ini sebaiknya dibuat grafik yang berisi semua mata pelajaran/bidang studi lengkap dengan nilainya.

b. Mendeteksi pada kawasan tujuan belajar dan bahagian ruang lingkup bahan pelajaran dimanakah kesulitan terjadi. Dapat dilakukan dengan menganalisis jawaban siswa terhadap soal-soal setiap mata pelajaran. Dari jawaban itu dapat diketahui pada bagiam mana siswa mendapat kesulitan.

c. Analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Analisis yang dimaksud disini adalah analisis terhadap kemampuan menyelesaikan tugas-tugas, soal-soal saat proses belajar berlangsung, kehadiran atau ketidakhadiran saat proses belajar berlangsungsi untuk setiap mata pelajaran, penyesuaian diri dengan temannya.

Sebagai catatan umum, kedua langkah pokok 2.a. dan 2.b. di atas itu dalam pelaksaannya dapat ditempuh dengan beberapa strategi pendekatan, antara lain: Dalam konteks sistem instuksional yang konvensional, Pelaksanaan pengumpulan informasi dalam rangka mengidentifiksi kasus dan permasalahan ini dapat di tempuh dua cara yaitu: diintegrasikan dengan kegiatan instruksional, dilakukan secara khusus. Dalam konteks sistem instruksional yang inovatif, sebenarnya pekerjaan diagnostik ini sudah merupakan hal yang inheren dengan sistem dan program instruksionalnya sendiri, misalnya : Dalam sistem pengajaran berprograma (programmed instruction), khususnya yang menggunakan mesin belajar mengajar (teaching machine) atau sistem pengajaran berbantuan komputer (CIA, computer assisted intruction), pada hakekatnya sepanjang proses belajar merupakan suatu rangkaian diagnotik remedial, dimana kalau siswa salah memilih satu alternatif jawaban (tombol mesin) maka secara otomatis akan memperoleh response (pemberitahuan) salah benarnya performance belajar siswa; kalau jawaban itu benar dapat lanjutkan dengan program berikutnya, tetapi kalau jawabannya salah atau keliru ia harus segera memperbaikinya; Begitu pula dalam

sistem pengajaran modul (modular intruksional syistem) dimana unit demi unit atau modul demi modul hanya dapat diteruskan dengan modul berikutnya setelah mendapat umpan balik (feedback) dari pekerjaan pada setiap modul itu telah tuntas (mastery) barulah dapat mulai dengan kelanjutannya, tetapi kalau ternyata terdapat beberapa kesalahan atau program remedial sebagai koreksi terhadap program aslinya sebelum diperkenalkan melanjutkannya, atau alternatif lain diberikan program pengayaan (enrichment program).

3. Lokalisasi Jenis Faktor dan Sifat yang Menyebabkan Siswa Mengalami Berbagai Kesulitan.

Pada garis besarnya sebab kesulitan belajar dapat timbul dari dua hal yaitu :

a. Faktor internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri siswa itu sendiri. Hal ini antara lain disebabkan oleh :

1) Kelemahan mental faktor kecerdasan, intelegensia, atau kecakapan / bakat: khusus tertentu yan dapat diketahui melalui test tertentu.

2) Kelemahan fisik, panca indera, syaraf, kecacatan, karena sakit dan sebagainya.

3) Gangguan, yang bersifat emosional.

4) Sikap dan kebiasaan yang salah dalam mempelajari bahan pelajaran bahan pelajaran tertentu.

5) Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar pelajaran-pelajaran tertentu.

b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan timbulnya hambatan atau kesulitan. Faktor eksternal antara lain meliputi:

1) Situasi atau proses belajar mengajar yang tidak merangsang siswa untuk aktif antisifatif (kurang kemungkinannya siswa belajar secara aktif”student aktif learning”)

2) Sifat kurikulum yang kuran fleksibel.

3) Beban belajar yang terlampau berat.

4) Sering pindah sekolah.

5) Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar mengajar.

6) Situasi rumah yang kuran mendorong untuk melakukan aktivitas belajar.

c. Untuk mengenal kesemua faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dapat dipergunakan berbagai cara dan alat, baik yang dapat dibuat oleh guru, maupun yang telah dikerjakan orang lain yang tersedia disekolah. Cara dan alat itu antara lain:

1) Test kecerdasan 2) Test bakat khusus

3) Skala sikap baik yang sudah standar maupun yang secara sederhana bisa dibuat guru.

4) Inventory

5) Wawancara dengan siswa yang bersangkutan.

6) Mengadakan observasi yang intensif baik dalam maupun di luar kelas

7) Wawancara dengan guru dan wali kelas, dan dengan orang tua atau teman-teman bila dipandang perlu.

4. Perkiraan Kemungkinan Bantuan

Apabila kita telaah tentang letak kesulitan yang dialami siswa, jenis dan sifat kesulitan, latar belakangnya, faktor-faktor yang menyebabkannya, maka kita akan dapat memperkirakan beberapa hal berikut:

a. Apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak.

b. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami

c. Kapan dan dimana pertolongan itu dapat di berikan.

d. Siapa yang dapat memberikan pertolongan.

e. Bagaimana cara menolong siswa agar dapat dilaksanakan secara efektif.

f. Siapa sajakah yang harus dilibatsertakan dalam menolong siswa tersebut.

5. Penetapan Kemungkinan Cara Mengatasinya

Pada langkah ini perlu menyusun suatu rencana atau alternatif-alternatif rencana yang akan dilaksanakan untuk membantu peserta didik/siswa mengatasi masalah kesulitan belajarnya. Rencana ini hendaknya berisi :

a. Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami siswa tersebut.

b. Menjaga agar kesulitan yang serupa jangan sampai terulang.

Ada baiknya rencana ini dapat didiskusikan dan dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang dipandang berkepentingan kelak diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan kepada yang bersangkutan seperti penasehat akademik, guru, orang tua, pembimbing penyuluh dan ahli lain. Secara khusus kegiatan ini hanya dapat diberikan oleh guru mata kuliah yang tahu persis tentang berbagai kesulitan yang bisa di alami siswa dalam mata pelajarannya.

6. Tindak Lanjut

Kegiatan tindak lanjut adalah kegiatan melakukan bantuan, bimbingan, arahan atau pengajaran paling tepat dalam membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar, cara ini dapat berupa : a. melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran

remidial pada mata pelajaran yang menjadi masalah bagi siswa tertentu. Remidial dapat dilakukan oleh guru, atau pihak lain yang dianggap dapat menciptakan suasana belajar siswa yang penuh motivasi.

b. membagi tugas dan peranan kepada orang-orang tertentu dalam memberikan bantuan pada siswa.

A

D C

B b

a

k1 k2

t

Gambar 2.1: Trapesium

c. Senantiasa mencek dan ricek kemajuan terhadap siswa yang bermasalah baik pamahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan berupa bahan, maupun mencek bahan tepat guna program remedial yang dilakukan untuk setiap saat diadakan revisi dan improvisasi.

d. Mentransfer atau mengirim (roferral case) siswa yang menurut perkiraan tidak dapat ditangani oleh guru kepada orang atau lembaga lain (psikologi, psikiater, lembaga bimbingan, lembaga psikoligi dan sebagainya) yang diperkirakan akan lebih dapat dan lebih tepat membantu siswa tersebut.

E. BANGUN DATAR SEGIEMPAT

Dalam matematika materi bangun datar segiempat merupakan materi yang cukup banyak untuk dipahami oleh siswa. Dalam meteri bangun datar segiempat ini pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam pokok bahasan keliling dan luas bangun datar segiempat, sehingga dalam penelitian ini akan di teliti tentang keliling dan luas segiempat. Materi bangun datar yang diambil oleh peneliti yaitu materi bangun datar segiempat yang meliputi persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, trapesium, dan layang– layang. (sumber: Matematika untuk SMP/MTs Kelas VII Semester 2).

1. Trapesium

Trapesium adalah segiempat yang memiliki tepat sepasang sisi yang sejajar. Jenis – jenis trapesium yaitu trapesium tidak beraturan, trapesium siku – siku, dan trapesium sama kaki.

a. Sifat – sifat Trapesium

1) Mempunyai tepat sepasang sisi yang sejajar

2) + = 180°

3) + = 180°

b. Keliling dan Luas Trapesium

1) Keliling trapesium adalah panjang kurva tertutup yang melingkupi trapesium tersebut. Berdasarkan gambar di atas, maka keliling trapesium =𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏 + 1 + 2.

2) Luas dari suatu bangun datar merupakan banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun datar tersebut. Oleh sebab itu, luas trapesium adalah banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi banguntrapesium tersebut.

Luas trapesium Berdasarkan gambar di atas, dapat ditentukan dengan membuat salah satu diagonalnya, misal diagonal BD sehingga berbentuk segitiga ABD dan segitiga BCD. Maka:

Luas trapesium = 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑎𝑎𝑎𝑎

= 1

2 𝑎𝑎𝑎𝑎 × 𝑡𝑡𝑡𝑡 + 12 𝑏𝑏𝑏𝑏 × 𝑡𝑡𝑡𝑡

= 1

2 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 12𝑏𝑏𝑏𝑏 × 𝑡𝑡𝑡𝑡

=12× (𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏) × 𝑡𝑡𝑡𝑡

karena a dan b merupakan sisi – sisi sejajar dan t merupakan tinggi trapesium, luas trapesium ABCD dapat ditulis = 12 ×

𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎 × 𝑡𝑡𝑡𝑡 .

2. Layang – layang

Layang – layang adalah segiempat yang dua pasang sisi berdekatannya sama panjang.

A

B

C

D

Gambar 2.2: Layang - layang b

a

a. Sifat – sifat Layang – layang

1) Memiliki dua pasang sisi yang sama panjang

= dan =

2) Sudut – sudut yang berhadapan sama besar.

= dan =

3) Memiliki satu sumbu simetri yang merupakan diagonal terpanjang.

4) Salah satu diagonalnya membagi dua sama panjang dan tegak lurus diagonal lain.

b. Keliling dan Luas Layang – layang

1) Keliling layang – layang adalah panjang kurva tertutup yang melingkupi layang – layang tersebut. Berdasarkan gambar di atas, maka keliling layang – layang =𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏 + 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏.

Berdasarkan sifat yang telah disebut bahwa layang – layang memiliki dua pasang sisi yang sama panjang, maka:

=𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏 + 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏

= 2(𝑎𝑎𝑎𝑎) + 2(𝑏𝑏𝑏𝑏)

= 2(𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏)

2) Luas dari suatu bangun datar merupakan banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun datar tersebut. Oleh sebab itu, luas layang – layang adalah banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun layang - layang tersebut.

A B D C

t

a

Gambar 2.3: Jajargenjang b Luas layang – layang = 1

2× 𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎 1 × 𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎 2.

= 12 × 1 × 2 3. Jajargenjang

jajargenjang adalah segiempat yang memiliki dua pasang sisi sejajar.

a. Sifat – sifat Jajargenjang

1) Sisi – sisi yang berhadapan sama panjang

= dan =

2) Sudut – sudut yang berhadapan sama besar

= dan =

3) Mempunyai dua diagonal yang berpotongan di satu titik dan saling membagi sama panjang

= dan =

4) Jumlah pasangan sudut yang saling berdekatan 180°

5) Tidak mempunyai simetri lipat 6) Mempunyai simetri putar tingkat dua b. Keliling dan Luas Jajargenjang

1) Keliling jajargenjang adalah panjang kurva tertutup yang melingkupi jajargenjang tersebut. Berdasarkan gambar di atas, maka keliling jajargenjang = 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏 + 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏. Berdasarkan sifat yang telah disebut bahwa sisi – sisi yang berhadapan pada setiap jajargenjang sama panjang, maka:

=𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏 + 𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏

= 2(𝑎𝑎𝑎𝑎) + 2(𝑏𝑏𝑏𝑏)

= 2(𝑎𝑎𝑎𝑎 + 𝑏𝑏𝑏𝑏) O

A B

D C

l p

Gambar 2.4: Persegi Panjang

2) Luas dari suatu bangun datar merupakan banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun datar tersebut. oleh sebab itu, luas jajargenjang adalah banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun jajargenjang.

Luas jajargenjang 𝑎𝑎𝑎𝑎𝑡𝑡𝑡𝑡𝑎𝑎𝑎𝑎 = 𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎 × 𝑡𝑡𝑡𝑡 = 𝑎𝑎𝑎𝑎 × 𝑡𝑡𝑡𝑡 4. Persegi Panjang

Persegi panjang adalah jajargenjang yang keempat sudutnya siku – siku.

a. Sifat – sifat Persegi Panjang

1) Sisi – sisi yang berhadapan sama panjang dan sejajar

= dan = 2) Semua sudutnya 90°

= = = = 90°

3) Kedua diagonalnya sama panjang

= dan =

4) Mempunyai dua simetri putar dan dua simetri lipat b. Keliling dan Luas Persegi Panjang

1) Keliling persegi panjang adalah panjang kurva tertutup yang melingkupi persegi panjang tersebut. Berdasarkan gambar di atas, maka keliling persegi panjang = + + + . Berdasarkan sifat yang telah disebut bahwa sisi – sisi yang berhadapan sama dan sejajar pada setiap persegi panjang, maka:

= + + +

= 2( ) + 2( )

= 2 + 2 O

A

D

C

B

s s

Gambar 2.5: Belah Ketupat

2) Luas dari suatu bangun datar merupakan banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun datar tersebut. Oleh sebab itu, luas persegi panjang adalah banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun persegi panjang tersebut.

Luas persegi panjang ABCD = panjang × lebar = × 5. Belah Ketupat

Belah ketupat adalah jajargenjang yang sisi – sisi berdekatannya sama panjang. Selain definisi tersebut belah ketupat juga dapat didefinisikan sebagai layang – layang yang keempat sisinya sama panjang.

a. Sifat – sifat Belah Ketupat

1) Semua sisi sama panjang dan sepasang – sepasang sejajar

= = = dan ,

2) Sudut – sudut yang berhadapan sama besar dan dibagi dua sama besar oleh diagonal – diagonalnya.

= dan =

3) Mempunyai dua diagonal, diagonal tersebut merupakan sumbu simetri dan kedua diagonalnya saling membagi dua sama panjang dan tegak lurus.

= = = dan b. Keliling dan Luas Belah Ketupat

1) Keliling belah ketupat adalah panjang kurva tertutup yang melingkupi belah ketupat tersebut. Berdasarkan gambar di atas, maka keliling belah ketupat = + + + . Berdasarkan sifat yang telah disebut bahwa semua sisi sama panjang dan sepasang – sepasang sejajar pada setiap belah ketupat, maka:

O

A B D C

s s

Gambar 2.6: Persegi

= + + +

= 4( )

2) Luas dari suatu bangun datar merupakan banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun datar tersebut. Oleh sebab itu, luas belah ketupat adalah banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun belah ketupat tersebut.

Luas belah ketupat = 12× 𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎 1 × 𝑎𝑎𝑎𝑎 𝑎𝑎𝑎𝑎

= 1

2 × 1 × 2 6. Persegi

persegi adalah persegi panjang yang sisi - sisi berdekatannya sama panjang.

a. Sifat – sifat Persegi

1) Keempat sisinya sama panjang dan sisi – sisi yang berhadapan sejajar.

= = = dan ,

2) Semua sudutnya 90°

= = = = 90°

3) Kedua diagonalnya sama panjang dan saling membagi dua sama panjang

= dan =

4) Mempunyai empat simetri putar dan empat simetri lipat b. Keliling dan Luas Persegi

1) Keliling persegi adalah panjang kurva tertutup yang melingkupi persegi tersebut. Berdasarkan gambar di atas, maka keliling persegi = + + + . Berdasarkan sifat yang telah

O

disebut bahwa keempat sisinya sama panjang dan sisi – sisi yang berhadapan sejajar pada setiap persegi, maka:

= + + +

= 4( )

2) Luas dari suatu bangun datar merupakan banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun datar tersebut. Oleh sebab itu, luas persegi adalah banyaknya persegi satuan yang tepat menutupi bangun persegi tersebut.

Luas persegi ABCD = × = × .

F. PENELITIAN RELEVAN

1. Ricky Antonius Leohani melakukan penelitian yang berjudul

“Diagnostik Kesulitan Belajar Siswa dan Pembelajaran Remidial dalam Penyelesaian Soal – Soal Aplikasi Segiempat Kelas VII SMP Aloysius Turi Tahun Ajaran 2013/2014.” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang apa saja kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam mengerjakan soal – soal aplikasi luas dan keliling segiempat, dan bagaimana hasil pembelajaran remedial yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam mengerjakan soal – soal aplikasi luas dan keliling segiempat. Subjek dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas VII-A SMP Aloysius Turi tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 26 siswa. Penelitian ini menggunakan instrumen hasil tes awal yang dianalisis dengan cara skoring dan menentukan rata – rata sebagai hasil belajar siswa, wawancara yang dianalisis dengan cara mengkaji kembali hasil tanya jawab kepada siswa mengenai kesulitan – kesulitan yang dialami siswa, dan tes remediasi yang dianalisis dengan cara skoring dan menentukan rata – rata sebagai hasil belajar siswa. Kemudian untuk melihat hasil dari pembelajaran remidial, peneliti membandingkan hasil tes awal dan tes remidiasi siswa. Hasil dari penelitian ini, menunjukkan bahwa 16 dari 26 siswa mengalami kesulitan belajar.

Ada 4 jenis kesalahan umum yang dilakukan siswa, yaitu kesalahan memahami soal, kesalahan memodelkan, kesalahan komputasi, dan kesalahan menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua siswa mengalami peningkatan setelah mengikuti pembelajaran remedial dan disimpulkan bahwa kegiatan remedial cukup membantu siswa untuk mengatasi kesulitan dalam menyelesaikan soal – soal aplikasi segiempat.

2. Yuseba Liatianingsih Sudarsono melakukan penelitian yang berjudul

“Diagnostik Kesulitan Belajar Siswa kelas X MIA SMA Negeri 3 Magelang pada Pokok Bahasan Trigonometri Tahun Ajaran 2016/2017.” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesalahan – kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa, untuk mengetahui jenis – jenis kesulitan belajar siswa, dan untuk mengetahui faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa pada pokok bahasan trigonometri. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X MIA SMA Negeri 3 Magelang yang memperoleh nilai rendah pada tes diagnostik dan mewakili subjek lain yang memiliki kesalahan yang sama. Subjek yang peneliti pilih sebanyak 3 siswa berasal dari kelas yang berbeda. Penelitian ini menggunakan 3 teknik dalam pengumpulan data, yaitu tes diagnostik yang digunakan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang aturan, konsep, langkah – langkah pengerjaan siswa, dan kasalahan – kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal trigonometri yang diberikan, observasi pembelajaran yang digunakan untuk mengetahui situasi kelas, siswa, guru, dan sekolah secara menyeluruh, wawancara yang digunakan untuk menemukan permasalahan secara terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kesalahan – kesalahan yang dialami siswa, yaitu kesalahan data, kesalahan penggunaan proses yang keliru, kesalahan menuliskan rumus, kesalahan perhitungan, dan kesalahan simbol. Faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa, yaitu siswa kurang berminat dalam belajar, siswa kurang bersemangat, siswa

malas belajar, siswa jarang berlatih mengerjakan soal, siswa kurang menguasai pengetahuan dasar, situasi pembelajaran, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah. Kategori jenis kesulitan belajar yang dihadapai siswa adalah kesulitan pencapaian rendah.

3. Penelitian oleh Theresia Imawati yang berjudul “Diagnostik Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas VIII E SMP Negeri 2 Jatinom pada Materi Luas dan Keliling Lingkaran.” Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesulitan – kesulitan belajar matematika yang dialami siswa, mengetahui faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa, dan mengetahui rekomendasi pemecahan masalah yang dapat dilakukan dalam menghadapi kesulitan belajar matematika pada materi luas dan keliling lingkaran. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa yang mengalami kesulitan belajar di kelas VIII E SMP Negeri 2 Jatinom.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu metode tes dan wawancara dengan menggunakan instrumen penelitian berupa tes diagnostik dan pedoman wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kesulitan yang dilakukan siswa adalah kesulitan dalam penggunaan rumus, kesulitan dalam menghitung bilangan desimal, dan kesulitan dalam diri siswa sendiri. Faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa terbagi dalam 2 kategori.

Pertama faktor yang menyebabkan kesalahan dalam mengerjakan soal, terdiri dari faktor kesulitan dalam menggunakan rumus dan kesulitan dalam menghitung bilangan desimal. Kedua faktor internal yang mempengaruhi, terdiri dari faktor kemampuan intelektual siswa, cara belajar siswa, motivasi belajar, kebiasaan belajar, konsentrasi belajar, kemampuan mengingat, dan kesehatan tubuh. Rekomendasi pemecahan masalah kesulitan belajar siswa yaitu perlunya pengajaran khusus sebagai pengayaan dan penyembuhan, menggunakan metode yang inovatif dan kreatif, dan menciptakan kondisi belajar yang mendukung siswa dalam pembelajaran serta latihan – latihan soal.

G. KERANGKA BERPIKIR

Matematika merupakan mata pelajaran yang sering dinilai sulit oleh para siswa. Kenyataan yang terjadi di dalam kelas, ada siswa yang mampu mempelajari materi matematika dengan baik, ada pula yang dikatakan gagal dalam mempelajari materi matematika. Siswa yang gagal dalam mempelajari matematika ditandai dengan rendahnya nilai matematika yang diperolehnya. Siswa yang gagal dalam mempelajari matematika dan kurang mampu dalam menyelesaikan tes matematika diindikasi siswa tersebut mengalami kesulitan belajar matematika. Ciri – ciri siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika dapat dilihat dari perolehan nilai yang jauh dari nilai KKM, sulitnya siswa memahami suatu materi pembelajaran, serta sulitnya siswa menguasai suatu materi pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran di sekolah, guru perlu untuk mengetahui kesulitan belajar siswa dan berupaya membantu kesulitan belajar siswa tersebut. Oleh karena itu, dalam membantu siswa untuk mengatasi kesulitan belajarnya guru perlu melakukan kegiatan diagnosis, yaitu menemukan letak kesulitan – kesulitan siswa dan faktor – faktor penyebab kesulitan belajar siswa. Kegiatan diagnostik ini bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan mendalam tentang kesulitan siswa dan faktor penyebab kesulitan siswa dalam pembelajaran matematika sehingga guru dapat melakukan tindakan lebih lanjut dengan sangat tepat untuk membantu siswa dalam menyelesaikan kesulitan belajarnya.

Kesulitan belajar siswa dalam pelajaran matematika hampir terjadi pada setiap pokok bahasan materi matematika dan kesulitan belajar ini pun terjadi pada materi keliling dan luas segiempat. Oleh karena itu, penelitian ini mengarah pada kegiatan diagnosis untuk mengetahui letak kesulitan dan faktor internal penyebab kesulitan belajar matematika yang dialami siswa pada materi keliling dan luas segiempat. Penelitian ini memberikan gambaran langkah – langkah kegiatan diagnosis serta mendeskripsikan kesulitan belajar yang dialami siswa pada pokok materi keliling dan luas segiempat yang ditinjau dari penyelesaian soal – soal keliling dan luas

segiempat. Alur dari penelitian ini dapat dilihat dari gambar 7 pada bagan di bawah ini.

Pada akhirnya, hasil yang diharapkan dalam penelitian ini adalah kegiatan diagnosis yang dilakukan oleh peneliti dapat membantu siswa untuk menemukan letak kesulitan dan faktor internal penyebab kesulitan siswa dalam materi keliling dan luas segiempat serta dapat memberikan rekomendasi kegiatan yang tepat untuk mengatasi kesulitan belajar pada materi keliling dan luas segiempat yang dialaminya siswa tersebut.

Wawancara terkait kesulitan siswa

Membuat kemungkinan kesulitan siswa dalam materi segiempat berdasarkan kesulitan matematika menurut ahli dan berdasarkan hasil wawancara dengan guru sebagai acuan untuk kisi – kisi soal tes diagnostik

Wawancara Tes diagnostik

Gambar 2.7: Bagan Alur Penelitian

41

BAB III

METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Azwar (1997) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskriptif, yaitu yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar faktualnya. Uraian kesimpulan didasari oleh angka yang diolah tidak terlalu dalam. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2007) penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan prilaku yang dapat diamati. Menurut Azwar (1997) penelitian kuantitatif menekankan analisisnya pada data – data numerikal. Pada penelitian ini, pendekatan penelitian kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kesulitan belajar siswa dan faktor – faktor internal yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal terkait keliling dan

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Azwar (1997) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskriptif, yaitu yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Kesimpulan yang diberikan selalu jelas dasar faktualnya. Uraian kesimpulan didasari oleh angka yang diolah tidak terlalu dalam. Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2007) penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan prilaku yang dapat diamati. Menurut Azwar (1997) penelitian kuantitatif menekankan analisisnya pada data – data numerikal. Pada penelitian ini, pendekatan penelitian kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kesulitan belajar siswa dan faktor – faktor internal yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal terkait keliling dan

Dokumen terkait