Melontar jumrah dilakukan pada tanggal sepuluh dengan melontar jumrah aqabah saja dan pada tanggal sebelas, dua belas, serta tiga belas melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah yang masing-masing tujuh kali lontaran.
Melontar jumrah merupakan simbol melepaskan diri dari segala sifat- sifat yang buruk, dan permusuhan abadi dengan setan, serta siap menolak segala godaan setan dan bisikan setan dalam menjalani tugas dari Allah SWT.
Permusuhan terhadap setan dan menjadikan setan sebagai musuh merupakan indikator keberhasilan manasik ini. Allah berfirman:
"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu mak a anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (QS. al-Fathir: 5-6)
Memusuhi setan dengan cara masuk Islam secara utuh, dan tidak terjatuh kepada jebakan langkah-langkah setan. Islam itu utuh dan sempurna, dan setiap kali meninggalkan sebagian dari Islam ketika itu sudah terperangkap dalam jebakan setan maka haruslah melakukan Islamisasi kehidupan, dan meninggalkan segala bentuk jahiliyah dan kemaksiatan.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah k amu k e dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. al-Baqarah: 208)
Langkah-langkah setan bisa berupa berbagai jebakan untuk melakukan dosa-dosa kecil yang mengarah dosa besar seperti pandangan haram yang dilanjutkan khalwat dan zina. Bisa berupa logika-logika batil untuk menolak kebenaran, seperti yang menghalalkan bangkai dengan alasan apa bedanya antara yang mati disembelih manusia dan mati sendiri. Bukankah yang mati sendiri dibunuh oleh Allah, dia lupa bahwa yang mengharamkan bangkai adalah Allah sendiri, bukan manusia. Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan- kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik." (QS. al- An'am:121)
Melempar jumrah adalah simbol wala' (loyalitas) kepada Allah dan bara' dari setan, thaghut, dan jahiliyah, dengan segala bentuknya. Sebab orang yang bara' dari setan akan berlepas diri dari segala tipuannya. Tipuan setan adalah jebakan jahiliyah. Jahiliyah adalah sikap menolak berhukum dengan hukum Allah dan mengambil petunjuk selain petunjuk Rasulullah. Jahiliyah meliputi jahiliyah ibadah. Allah berfirman:
“Katakanlah, 'Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’” (QS. az-Zumar: 64)
Ada juga hamiyyah jahiliyyah, fanatik jahiliyyah, yaitu membela dan memusuhi atas dasar fanatik terhadap golongan. Allah berfirman:
"Ketika orang-orang kafir menanamk an dalam hati mereka kesom- bongan (yaitu) kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa. Adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Fath: 26)
Termasuk jahiliyyah ialah tabarruj jahiliyyah, yakni memamerkan kecantikan kepada orang yang tidak halal kepadanya, seperti yang dilakukan kebanyakan wanita sekarang dengan memakai pakaian yang transparan atau ketat, walaupun memakai kerudung. Allah berfirman:
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu30 dan janganlah kamu berhias
dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu31." (QS. al-
Ahzab: 33)
Di antara jahiliyah adalah sangkaan buruk kepada Allah, Islam, dan kaum muslimin. Seperti menyangka kalau kaum muslimin hancur, atau kalah dan senang terhadap kesusahan yang menimpa kaum muslimin, Al- lah berfirman:
"Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah32. Mereka berkata,
'Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?' Katakanlah, 'Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyik an dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangk an kepadamu; mereka berkata, 'Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak cam pur tangan) dala m urusan ini, niscaya k ita tidak a k an dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati." (QS. Ali Imran: 154)
Perkara jahiliyah sedikit atau banyak sering didapatkan pada diri seorang muslim maka perlu diwaspadai agar dapat terhindar dari penyakit ini. Pernah Abu Dzar berkata kepada Bilal, "Wahai anak perempuan hitam." Bilal tidak terima perkataan ini, dan beliau melapor kepada Nabi, "Wahai
30. Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara’. Perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
31. Yang dimaksud jahiliyah yang dahulu ialah jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad saw. dan yang dimaksud jahiliyah sekarang ialah jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
32. Ialah: sangkaan bahwa kalau Muhammad saw. itu benar-benar Nabi dan Rasul Allah, tentu Dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.
Rasulullah Abu Dzar telah menghinaku dengan ibuku." Maka Rasulullah segera memanggil Abu Dzar dan bersabda, "Kenapa engkau cela Bilal dengan ibunya, sungguh engkau seseorang yang ada dalam dirinya jahiliyah." Abu Dzar segera menyadari kesalahannya, dan menemui Bilal dan meletakkan pipinya di tanah sambil berkata, "Injakklah pipiku, sungguh akulah yang hina." dan Bilalpun memaafkan dan tidak mau menginjakkan melainkan mengangkat dan memeluk Abu Dzar.