• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN TEORI TENTANG ETIKA BERSUCI DAN PERILAKU

B. Memahami Etika dan Perilaku Hukum Masyarakat

Suatu kaidah hukum merupakan patokan untuk bertingkah laku sebagaimana diharapkan. Orang-orang akan memilih dan melakukan suatu perbuatan, oleh karena adanya kepercayaan bahwa mereka menghayati perilaku yang diharapkan dari pihak-pihak lain, dan bagaimana reaksi pihak-pihak-pihak-pihak lain terhadap perilakunya. Kaidah-kaidah menghubungkan segi batiniyah dari pribadi-pribadi yang memilih dengan masyarakat sekelilingnya.25

Hukum sebagai suatu kontrol sosial dan berhubungan dengan pembentukan dan pemeliharaan aturan-aturan sosial. Analisa ini berpijak pada kemampuan hukum untuk mengontrol perilaku-perilaku manusia dan menciptakan suatu kesesuaian di dalam perilaku-perilaku tersebut. Sering dikatakan bahwa salah satu dari karakteristik hukum yang membedakannya dari aturan-aturan yang bersifat normatif ialah adanya mekanisme kontrol yaitu yang disebut dengan sanksi. Hukum berfungsi untuk menciptakan aturan-aturan sosial, dan sanksi digunakan sebagai alat untuk

25

Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi Tentang Pribadi dalam Masyarakat, (Jakarta: Ghalia

mengontrol mereka yang menyimpang dan juga digunakan untuk menakut-nakuti agar orang tetap patuh kepada aturan-aturan sosial yang sudah ditentukan.

Sudah tentu mungkin ada orang-orang yang tunduk hukum bukannya karena takut, melainkan ada alasan-alasan lain, dan selain itu tidak cukup bagi kita untuk mengukur sampai sejauh mana fungsi kontrol dari hukum dapat berjalan dengan hanya melihat banyaknya orang yang patuh kepada aturan-aturan hukum yang telah ditentukan. Sesungguhnya rasa takut terhadap hukum dalam arti yang positif mungkin hanya merupakan sebagian dari alasan orang-orang untuk selalu patuh kepada aturan-aturan hukum. 26

Di dalam hubungan antara hukum dengan perilaku masyarakat, terdapat adanya unsur pervasive socially (penyerapan sosial). Artinya, bahwa kepatuhan dan ketidakpatuhan terhadap hukum serta hubungannya dengan sanksi atau rasa takut terhadap sanksi dikatakan saling relevant atau memiliki suatu pertalian yang jelas, apabila aturan-aturan hukum dengan sanksi-sanksinya atau dengan perlengkapannya untuk melakukan tindakan paksaan (polisi, hakim, jaksa, dan sebagainya) sudah diketahui atau dipahami arti dan kegunaannya oleh individu atau masyarakat yang terlibat dengan hukum itu. 27

26

David N. Schiff, Hukum sebagai Fenomena Sosial, dalam Pendekatan Sosiologis terhadap Hukum, Adam Podgorecki dan Christopher J. Whelan, eds, Jakarta: Bina Aksara, 1987, h. 253

27

2. Etika dan Norma Hukum

Etika adalah bagian filsafat yang meliputi hidup baik, menjadi manusia yang baik, berbuat baik, dan menginginkan hal-hal yang baik dalam hidup bermasyarakat.

Kata “etika” menunjuk dua hal. Yang pertama, aspek disiplin ilmu yang mempelajari nilai-nilai dan pembenarannya. Kedua, pokok permasalahan disiplin ilmu itu sendiri yaitu nilai-nilai hidup yang sesungguhnya dan hukum-hukum tingkah laku. Kedua hal ini berpadu dalam kenyataan bahwa bertingkah laku sesuai dengan hukum-hukum, adat dan harapan-harapan yang kompleks dan terus berubah. Akibatnya berdampak kepada perenungan tingkah laku dan sikap, membenarkannya dan kadang-kadang memperbaikinya.28

Supaya hubungan antar manusia di dalam suatu masyarakat terlaksana sebagaimana yang diharapkan, maka dirumuskannlah norma-norma masyarakat. Mula-mula norma-norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja. Namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar. Misalnya dahulu di dalam jual beli, seorang perantara tidak harus diberi bagian dari keuntungan. Akan tetapi lama-kelamaan terjadi kebiasaan bahwa perantara harus mendapat bagiannya, dimana sekaligus ditetapkan siapa yang menanggung itu, yaitu pembeli ataukah penjual.29

Norma atau kaidah-kaidah adalah ketentuan atau peraturan-peraturan yang memberi batasan dan kebebasan kepada anggota masyarakat dan bagaimana

28

R. Andre Karo-karo, Pengantar ke Etika, (Jakarta: Erlangga, 1984), h. 2 29

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), Cet. 25, h. 220

hubungan antara seorang anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya dalam pergaulan hidup sesamanya. Norma atau peraturan hidup itu mulai tumbuh sejak manusia mengenal hidup bermasyarakat, pertumbuhan dan perkembangannya akan melahirkan beberapa macam norma sesuai dengan sumbernya.30

Ajaran agama atau aliran kepercayaan yang masuk atau timbul dalam masyarakat sangat menunjang tegaknya tata tertib kehidupan dalam masyarakat itu. Perintah dan larangan yang dikembangkan oleh ajarannya akan menebalkan iman setiap penganutnya mematuhi segala perintah dan larangannya seperti yang diajarkan oleh agama demi keselamatan hidup manusia.31

Socrates sebagaimana dikutip oleh Dr. Ahmad Mahmud Shubhi mengatakan tidak memisahkan antara etika dan agama. Kehidupan etika, bagi Socrates bertumpu pada dua sendi: hukum negara yang tertulis dan hukum tuhan yang tidak tertulis. Ia mengisyaratkan pentingnya kepercayaan atas kekekalan jiwa dalam tema etika. Kekekalan jiwa adalah masalah metafisika, atau lebih tepanya agama. Socrates menjelaskan bahwa adanya kehidupan lain menampakkan kepada jiwa adanya keadilan yang dapat mengurai segala kepelikan, dan menerangi jalan, sehingga banyak jiwa dapat menelusurinya secara nyaman.32

30

Rien G. Kartasapoetra, S.H, Pengantar Ilmu Hukum Lengkap, (Jakarta: Bina Aksara, 1988), cet. I, h. 5

31

Ibid., h. 6 32

Ahmad Mahmud shubhi, Filsafat Etika; Tanggapan Kaum Rasionalis dan Intuisionalis

Islam, Penerjemah Yunan Askaruzzaman Ahmad, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2001), Cet. Ke 1, h. 23

Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional diperlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari pertumbuhan dan perkembangan etika di masyarakat yang terikat dengan norma hukum, kaidah hukum dan norma masyarakat. Norma hukum adalah hasil dari keseluruhan tingkah laku dari orang-orang yang hidup dalam ikatan kemasyarakatan yang harus ditaati. Kaidah hukum adalah kaidah yang diciptakan oleh lembaga masyarakat atau negara yang sedapat mungkin memenuhi segala kepentingan hidup para anggota masyarakat seluruhnya. Kalau norma agama hanya berlaku bagi penganut agama itu, maka norma hukum berlaku lebih luas, bagi seluruh anggota masyarakat dan organ-organ masyarakatnya. Norma atau kaidah hukum bertujuan mengadakan tata tertib dalam pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat, sehingga keamanan, ketertiban, serta keadilan dalam masyarakat/negara dapat terpelihara atau terjamin dengan sebaik-baiknya.33

33

3. Motivasi dan Perilaku Hukum

Motivasi dapat diartikan suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan organnya. Sedangkan kata motif adalah suatu alasan/dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu/melakukan tindakan tertentu. Dalam suatu motif umumnya terdapat dua unsur pokok, yaitu unsur dorongan/kebutuhan, dan unsur tujuan. Proses interaksi timbal balik antara kedua unsur di atas terjadi di dalam diri manusia, misalnya keadaan cuaca, kondisi lingkungan dan sebagainya. Oleh karena itu dapat saja terjadi suatu perubahan motivasi yang pertama mendapat hambatan atau tidak mungkin dipengaruhi. 34

Menurut Soejono Soekanto mengutip pendapat Talcott Parsons35, aksi

(”action”) mempunyai empat karakteristik, yakni: Suatu tujuan, suatu motivasi yang menyangkut penggunaan energi, suatu situasi, dan pengaturan normatif.

Soerjono menjelaskan bahwa Parsons mengadakan klasifikasi terhadap sistem-sistem aksi, ke dalam dua hal, yakni: 1. sistem kepribadian (”personality systems”), 2. sistem-sistem sosial (”social systems”). Sistem kepribadian mencakup

motivasi-motivasi dan tujuan-tujuan dari pribadi-pribadi. Artinya, hal itu mencakup isi dan cara integrasi dari motivasi-motivasi serta tujuan-tujuan. Sistem sosial mencakup interaksi antara aktor-aktor dengan norma-norma situasional yang

34

Martin Handoko, Motivasi Daya Penggerak Tingkah Laku, (Yogyakarta: Kanisus, 1992), h. 10

35

mengatur proses interaksi tersebut. Dengan demikian, maka tempat karakteristik dari sistem-sistem aksi diterapkan pada sistem kepribadian dan sistem sosial; kedua sistem tersebut saling pengaruh mempengaruhi.36

Adapun pengertian perilaku dalam kamus ilmiah adalah tindakan,perbuatan,

atau sikap.37 Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar.

Lawrence M. Friedman menjelaskan ada tiga model Perilaku Hukum.38Pertama, model cost-benefit (model biaya-manfaat atau untung-rugi). Sebelum seseorang bertindak ia menghitung-hitung apa untung ruginya. Ia hanya akan bertindak jika dalam pendapatnya ia akan mendapatkan untung dari perilakunya. Bagi aktor ini, sanksi amat penting artinya. Ia melihat perilakunya dari kacamata imbalan dan hukuman.

Kedua, model peer group didasarkan bahwa tentu saja tidak seorang ahli pun yang akan mencoba memangkas semua perilaku hukum menjadi hitung-hitungan seperti ini. Jelas terlihat bahwa faktor-faktor sosial, ”hubungan-hubungan sosial” - kultur sekeliling dan kelompok sebaya (peer Group)- berpengaruh terhadap perilaku hukum, dengan ancaman pengucilan, misalnya, atau dengan pujian dan celaan.

36 Ibid.

37

Achmad Maulana, Kamus Ilmiah Populer Lengkap, (Yogyakarta: Absolut, 2004), h. 394 38

Lawrence M. Friedman, Sitem Hukum Perspektif Ilmu Sosial, Penerjemah M. Khozim,

Ketiga, model perilaku yang menjelaskan atas dasar norma-norma yang tertanam dalam diri aktor. Untuk singkatnya M. Friedman menamakan model ini sebagai kesadaran nurani. Dalam masyarakat-masyarakat yang tak bernegara, sarana penegak hukumnya mungkin hanya kelompok sebaya –sebagai opini publik- dan kesadaran nurani.39

Semua model perilaku hukum ini secara keseluruhan tidak bertentangan dengan yang lainnya. Sebagai tindakan hukum lebih menghasilkan dampak dalam satu tipe daripada yang lainnya. Imbalan dan hukuman ada di mana-mana di dalam hukum. Para pembuat hukum jelas berasumsi bahwa orang-orang akan berpikir dua kali sebelum mengambil risiko masuk penjara atau dikenai denda dan bahwa mereka akan tergugah untuk memperoleh umpan uang dan lainnya.

Propaganda pemerintah jelas berpijak pada kekuatan kesadaran nurani dan opini publik. Segenap sistem hukum mengandalkan munculnya tindakan sukarela. Uang yang dikeluarkan dan yang tidak dikeluarkan untuk inspektor, detektif, polisi dan pengadilan mengasumsikan bahwa masyarakat menghendaki kepatuhan tanpa paksaan. 40

4. Kesadaran dan Kepatuhan Hukum

Di dalam hidup bermasyarakat diperlukan aturan-aturan dan atau ketentuan-ketentuan. Ketentuan dan aturan dimaksud dapat berbentuk Undang-undang Dasar

39

Ibid., h. 81 40

dan Aturan-aturan Dasar. Aturan-aturan dasar merupakan sadar kehendak yang dirasakan pengekangan dari dalam di mana dirasakan sebagai suatu kesadaran untuk berbuat demikian. Tidak didasarkan sebagai suatu paksaan. Ini terjelma di dalam adat dan kebiasaan dalam masyarakat dan diakui kemanfaatannya baik oleh manusia pribadi maupun oleh masyarakat secara keseluruhan.

Sedangkan Undang-undang Dasar merupakan sadar hukum yang dirasakan sebagai penekangan dari luar diri (ekstern) dimana dirasakan sebagai suatu kesadaran untuk berbuat demikian seolah-olah dipaksakan untuk menyenangkan pihak lain. Ini terjadi dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat secara formal, walaupun secara pribadi kurang berkenan, tetapi harus dilaksanakan untuk menyenangkan orang lain dalam masyarakat tersebut. 41

Berbicara mengenai sadar dan kesadaran dikaitkan dengan manusia dan masyarakat adalah sadar (kesadaran) kehendak dan sadar (kesadaran) hukum. Sadar diartikan merasa, tahu, ingat kepada keadaan yang sebenarnya, atau ingat (tahu) akan keadaan dirinya. Kesadaran diartikan keadaan tahu, mengerti dan merasa. Misalnya tentang harga diri, kehendak, (karsa) hukum dan lain-lainnya.

Kesadaran hukum menurut Dr. Saifullah, mengutip pendapat Paul Scholten bahwa kesadaran hukum merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia tentang hukum yang ada atau hukum yang diharapkan ada, sebenarnya

41

Ibid. Aw. Widjaja, Kesadaran Hukum Manusia dan Masyarakat Pancasila, (Jakarta: CV. Era Swasta, 1984), cet. I, h. 14

ditekannkan adalah nilai-nilai tentang fungsi hukum dan bukan suatu penilaian hukum terhadap kejadian yang konkrit dalam masyarakat yang bersangkutan.42

Faham kesadaran hukum menurut Soejono Soekanto sebenarnya berkisar pada diri warga-warga masyarakat merupakan suatu faktor yang menentukan bagi kesahihan hukum. Pada awalnya masalah kesadaran hukum timbul di dalam proses penerapan dari pada hukum positif tertulis. Di dalam kerangka proses tersebut timbul masalah, oleh karena adanya ketidak sesuaian antara dasar kesahihan hukum (yaitu pengendalian sosial dari penguasa atau kesadaran warga masyarakat) dengan kenyataan-kenyataan dipatuhinya (atau tidak ditaatinya) hukum positif tertulis tersebut. Merupakan suatu keadaan yang dicita-citakan atau dikehendaki, bahwa ada keserasian proporsional antara pengendalian sosial oleh penguasa, kesadaran warga masyarakat dan kenyataan dipatuhinya hukum positif.43

Munculnya kesadaran hukum didorong oleh sejauhmana kepatuhan kepada hukum yang menurut Saifullah mengutip Biersted didasari oleh: indoctrination, habituation, utility, dan group identification . Proses itu terjadi melalui internalisasi dalam diri manusia. Kadar internalisasi inilah yang selanjutnya memberikan motivasi yang kuat dalam diri manusia atas persoalan penegakan hukum. 44

42

Saifullah, Refleksi Sosiologi Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2007), cet. Ke-1, h. 105 43

Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, (Jakarta: CV. Rajawali,

1982), cet ke-1, h. 145 44

Soekanto mengutip pendapat Hoefnagels membedakan bermacam-macam derajat kepatuhan hukum sebagai berikut:45

1. Seseorang berperilakuan sebagaimana diharapkan oleh hukum dan menyetujuinya halmana sesuai dengan sistem nilai-nilai dari mereka yang berwenang.

2. Seseorang berperilakuan sebagaimana diharapkan oleh hukum dan menyetujuinya, akan tetapi dia tidak setuju dengan penilaian yang diberikan oleh yang berwenang terhadap hukum yang bersangkutan. 3. Seseorang mematuhi hukum, akan tetapi dia tidak setuju dengan

kaidah-kaidah tersebut maupun pada nilai-nilai penguasa.

4. Seseorang tidak patuh pada hukum, akan tetapi dia menyetujui hukum tersebut dan nilai-nilai daripada mereka yang mempunyai wewenang. 5. Seseorang sama sekali tidak menyetujui kesemuanya dan diapun tidak

patuh pada hukum (melakukan protes).

Soerjono Soekanto menyimpulkan bahwa kesadaran hukum merupakan konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, tentang keserasian antara ketertiban dengan ketentraman yang dikehendaki atau yang sepantasnya. Terdapat empat indikator kesadaran hukum yang masing-masing merupakan suatu tahapan bagi tahapan berikutnya, yaitu: pengetahuan hukum, pemahaman hukum, sikap hukum, dan pola perilaku hukum. 46

45

Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, h. 234 46

Dalam hukum Islam kepatuhan hukum hanya diberlakukan bagi manusia yang sudah mukallaf. Pengertian hukum Islam menurut Amir Syarifuddin, adalah seperangkat aturan berdasarkan wahyu Allah dan sunah termasuk tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama Islam.47

Mukallaf adalah orang yang telah dianggap mampu bertindak hukum , baik yang berhubungan dengan perintah Allah SWT maupun dengan larangan-Nya. Seluruh sikap dan tindakan hukum mukallaf harus dipertanggungjawabkan. Apabila ia mengerjakan perintah Allah SWT, maka ia mendapat imbalan pahala dan kewajibannya terpenuhi, sedangkan apabila ia mengerjakan larangan Allah SWT, maka ia mendapat resiko dosa dan kewajibannya belum terpenuhi.48 Dalam kajian ushul fiqh, istilah mukallah disebut juga al-mahkum ’alaih (subjek hukum), yaitu

seorang mukallaf yang perbuatannya berhubungan dengan hukum syari’.49

Seseorang belum dikenakan taklif (pembebanan hukum) sebelum ia cakap untuk bertindak hukum. Untuk itu, ulama ushul fiqh, mengemukakan bahwa dasar pembebanan hukum tersebut adalah akal dan pemahaman. Maksudnya, seseorang baru bisa dibebani hukum apabila ia berakal dan dapat memahami secara baik taklif yang ditujukan kepadanya. Menurut Jalaluddin al-Suyuti mengutip pendapat Abu

47

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Jilid I, cet. Ke-1, h. 5 48

Abdul Aziz Dahlan, Ed. Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,

1996), cet. III, h. 1219 49

Ishaq akal adalah sifat yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.50 Pertumbuhan akal merupakan hal yang abstrak, dan berproses sejalan dengan perkembangan waktu sampai batas kesempurnaanya. Sebagai tanda yang kongkrit adalah umur baligh yang memisahkan antara kesempurnaan dan kekurangan akal. Pada saat sampai batas umur itulah taklif mulai berlaku.51

Dengan demikian, orang yang tidak atau belum berakal, seperti orang gila dan anak kecil tidak dikenakan taklif. Oleh karena mereka tidak atau belum berakal, sehingga mereka dianggap tidak bisa memahami taklif dari syara. Termasuk dalam hal ini adalah orang yang dalam keadaan tidur, orang mabuk, dan orang pelupa, tidak dikenai taklif karena ia sedang tidak sadar (hilang akal).

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw yang mengatakan:”

Diangkatkan pembebanan hukum dari tiga (jenis orang): orang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai dia baligh dan orang gila sampai ia sembuh”. (HR Bukhari )

Berdasarkan hadis tersebut disimpulkan bahwa kepatuhan hukum diberlakukan kepada orang yang sadar dengan hukum. Karena kepatuhan hukum akan mendapat pahala, sedangkan ketidakpatuhan hukum akan berdampak kepada dosa. Sadar yang dikehendaki dalam Islam adalah orang yang sudah baligh (dewasa) dengan ditandai bermimpi keluar sperma, bagi laki-laki dan sudah datang haid bagi perempuan.

50

Jalaluddin al-Suyuti, al-asybah wa al-Nazhair, (Bairut, Muassasah al-Kutub al-Tsiqafah,

1994), cet I, h. 270 51

Muhammad abu Zahrah, Ushul Fiqih, Penerjemah Saefullah Ma’sum, (Jakarta: Pustaka

36

JAKARTA TIMUR

Dokumen terkait