menggali pendapat dan keinginan petani
7.2 Bagaimana memahami petani?
Dalam usaha memahami petani, perlu disadari bahwa mereka tidak hanya menjalankan usahatani semata, tetapi mereka menjalankan sebuah rumah tangga -di mana usaha tani merupakan salah satu sumber pendapatan baik untuk dikonsumsi sendiri, dijual ataupun kombinasinya. Usaha tani pada suatu ketika bisa menjadi sumber pendapatan nomor satu, tetapi bisa jadi nomor dua atau tiga dan seterusnya, di mana prioritas ini dapat berubah-ubah dengan keadaan dan waktu. Tingkat prioritas keluarga terhadap usaha tani merupakan sumber keragaman yang sangat penting. Karenanya, dalam memahami petani idealnya perlu pendekatan “sistem rumah tangga” petani bukan sebatas pendekatan
“sistem usaha tani”.
7.2.1 Menggali informasi
Kita sebagai peneliti, perencana dan pelaksana proyek merupakan orang luar yang berperan sebagai agen pembangunan pertanian bagi para petani. Kita semua menjadi kelompok yang seakan-akan mengerti betul apa yang seharusnya diperbuat oleh para petani untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Untuk itu kita tidak bisa hanya sekedar tahu siapa petani itu melalui asumsi-asumsi menurut pikiran masing-masing, tetapi kita harus mengenal dan memahami semua aspek kehidupan petani itu. Oleh karena itu dalam bab ini dipilih istilah memahami petani bukan melihat atau mengenal. Istilah memahami mengandung pengertian yang lebih mendalam dan menyeluruh dibanding melihat dan mengenal.
Konsekuensinya, kita harus mempunyai dan menguasai cara atau metode untuk memahami petani sehingga dapat menjawab hal itu. Cara atau metode pemahaman petani meliputi proses menetapkan petani siapa, apa yang akan dipahami dan bagaimana pemahaman ini akan dilakukan.
• Pertanyaan pertama tentang petani siapa, tampaknya tidak perlu dipersoalkan lagi. Namun meski kelompok sasaran seolah-olah sudah jelas, tetapi dari uraian sebelum ini menunjukkan bahwa di antara petani itu sangat beragam, sehingga sangat perlu ditentukan lebih rinci petani yang mana. Istilah semacam “petani miskin” atau “petani kecil” saja adalah kurang jelas, oleh karena itu harus diberikan batasan atau kriteria yang lebih lengkap. Kelompok sasaran yang tepat harus ditentukan berdasarkan tujuan proyek yang akan dilaksanakan. Pemilihan petani ini dapat juga ditentukan belakangan (tetapi bukan pada tahap akhir), setelah diketahui tingkat keragaman setempat. Untuk ini perlu
dilakukan semacam proses pengenalan secara cepat terhadap keadaan di lapangan, misalnya melalui metoda pengenalan pedesaan secara cepat atau rapid rural appraisal.
• Pertanyaan kedua berkaitan dengan apa yang hendak dipahami
berkaitan dengan macam informasi yang ingin diketahui atau digali dari para petani. Macam informasi yang hendak diketahui juga sangat
penting dalam membuka diri petani untuk dipahami. Untuk memahami petani tentunya harus diketahui semua aspek kehidupan dan kegiatan dari petani, keluarga dan sekitarnya. Dengan kata lain, jenis informasi yang akan digali tidak dapat dibatasi dari satu aspek atau disiplin saja, melainkan bersifat interdisiplin. Dari berbagai literatur dapat dibaca tentang jenis-jenis informasi yang diperlukan beserta kegunaannya.
Karena banyaknya informasi yang hendak digali, sebaiknya dibuat daftar (check-list) jenis informasi yang diperlukan, yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam proses penggalian data.
• Pertanyaan ketiga adalah bagaimana cara memperoleh informasi dari kelompok sasaran yang sudah ditetapkan itu sehingga dapat memahami dengan baik petani yang dimaksud. Ada berbagai cara penelitian masyarakat yang telah dikembangkan untuk menggali data sehingga dapat dipilih di sini. Beberapa cara yang ada misalnya observasi (pengamatan), wawancara, penggunaan data pengalaman individu, penggunaan kuesioner, dan sebagainya. Dari pengalaman tidak ada satupun metode yang dapat menjawab semua kebutuhan dengan baik.
Oleh karena itu disarankan untuk memilih salah satu metode dan melengkapinya dengan beberapa metode lain.
Hal lain yang tidak boleh diabaikan dalam melaksanakan proses pemahaman petani adalah prinsip pengambilan contoh yang dapat mewakili kelompok sasaran serta isi informasi yang sahih (valid). Untuk mendapatkan informasi yang sahih dan mewakili serta nantinya dapat dipakai sebagai dasar ekstrapolasi hasil, maka setiap langkah perlu didasarkan pada prinsip-prinsip metode statistika. Dalam buku ini diberikan penekanan khusus pada cara-cara pendekatan kepada petani saja, sedangkan dasar-dasar metode statistika sengaja tidak dibahas.
7.2.2 Pendekatan sistem
Pendekatan sistem adalah metode ilmiah yang mencoba mengurai kerumitan suatu sistem melalui telaah berhubungan dan kesaling-tergantungan di antara komponen penyusun sistem tersebut. Penerapan pendekatan sistem pada sistem rumah tangga petani mengharuskan kita mengurai sebuah rumah tangga menjadi beberapa komponen yang salah satu di antaranya adalah subsistem usaha tani. Pendekatan ini memang ideal, akan tetapi menyebabkan analisis menjadi sangat sulit karena jumlah komponen dan interaksinya menjadi sangat kompleks. Dengan beberapa pertimbangan dan karena alasan-alasan tertentu maka pendekatan sistem rumah-tangga petani ini kurang praktis untuk diterapkan. Sebagai alternatifnya adalah menggunakan pendekatan (sub)sistem usaha tani, dengan tetap berpandangan secara holistik bahwa sistem usaha tani hanya merupakan salah satu komponen sistem rumah tangga petani.
Dalam analisis harus diperhatikan kaitannya dengan komponen (sub)sistem rumah tangga lainnya.
7.2.3 Metode wawancara
Seperti telah disebutkan bahwa dalam memahami petani diperlukan pendekatan sistem yang bersifat holistik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tentang proses pengambilan keputusan. Apa yang ada sekarang ini merupakan hasil dari proses pengambilan keputusan di antara berbagai pilihan yang memungkinkan pada saat tersebut dan terkait dengan pengambilan keputusan masa lalu serta pada gilirannya akan menentukan apa yang akan terjadi di masa mendatang.
Untuk menggali informasi tentang usaha tani dapat digunakan beberapa metode misalnya observasi, survei dengan menggunakan kuesioner, wawancara, diskusi, dsn sebagainya. Di antara metode tersebut yang paling sering digunakan adalah metode survei dengan menggunakan kuesioner. Namun cara ini cenderung dangkal, bersifat disipliner dan analisisnya bersifat partial, sehingga kurang bisa menggambarkan proses pengambilan keputusuan. Keragaman antar petani maupun pengaruh stadia perkembangan rumah-tangga petani terhadap peubah-peubah (variabel-variabel) yang diteliti menjadi terabaikan. Lagi pula dengan menggunakan kuesioner, pewawancara akan cenderung untuk menggunakan pertanyaan yang bersifat menjebak untuk mengiyakan jawaban tertentu (leading questions). Dalam menjawab pertanyaan seringkali petani menjawab dengan apa yang seharusnya dilakukannya bukan apa yang betul-betul dilakukannya. Selain itu karena berpedoman pada kuesioner tertulis yang sudah disiapkan, sering menyebabkan wawancara menjadi kaku. Apabila petani kurang suka dengan cara ini, mereka akan hanya menjawab sekedarnya dan bukan yang sebenarnya dalam usaha memenuhi keinginan pewawancara.
Untuk mendiskripsikan betapa komplek interaksi baik dalam sub-sistem usaha tani maupun antara sub-sistem usaha tani dengan sub-sistem lainnya sesuai dengan persepsi petani mau tidak mau harus mewawancarai mereka. Dari berbagai metode wawancara, tampaknya wawancara mendalam atau “indepth interview” berdimensi sejarah (histories=time frames), bersifat interdisiplin dan berwawasan pada proses pengambilan keputusan (decision making process) merupakan salah satu metoda penggalian data yang paling memadai. Wawancara mendalam adalah suatu bentuk wawancara yang hanya berpedoman pada beberapa topik pokok sebagai pedoman, dan masing-masing topik dikupas secara mendalam dengan mempertimbangkan interaksi antar topik. Sebagai pedoman kata tanya berikut dapat digunakan sebagai panduan untuk menggali informasi tentang sistem usahatani: siapa menanam apa, di mana, kapan, bagaimana, dan mengapa? Pendekatan tersebut diatas yang dipandu dengan kata tanya bantu tersebut di atas akan menyebabkan wawancara menjadi seperti “mengalir” sesuai perjalanan hidup petani, kita hanya mengarahkan ke topik pembicaraan sesuai daftar pertanyaan dan memancingnya jika pembicaraan berhenti, ataupun
meminta petani menjelaskan pada topik yang kita anggap penting untuk digali lebih mendalam.
Selain wawancara mendalam yang sangat tergantung dari jawaban petani, pewawancara harus memiliki gambaran yang lebih obyektif walaupun tidak lengkap yang diperoleh dari pengamatan atau observasi. Kedua metode ini dapat digunakan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Cara-cara konfirmasi suatu fakta atau pernyataan (cross-checking) sangat membantu untuk memperoleh gambaran yang lebih obyektif. Focal-group discussion atau diskusi kelompok yang terfokus juga membantu mendapatkan data yang lebih obyektif, karena konfirmasi lebih dari satu orang.
Sebetulnya tidak ada aturan yang baku tentang bagaimana wawancara yang baik, berikut hanya merupakan pedoman umum dalam melaksanakan wawancara dengan petani:
• Pilih saat yang tepat untuk wawancara, sebaiknya pada saat masa senggang responden.
• Sebelum wawancara awali dengan mengucapkan salam sesuai dengan kebiasaan setempat.
• Buka wawancara dengan memperkenalkan siapa anda dan terangkan maksud anda dengan bahasa yang sederhana tapi jelas. Utarakan bahwa maksud wawancara yang anda lakukan adalah dalam rangka proses belajar.
• Usahakan segera menciptakan suasana yang akrab, terbuka dan saling percaya di antara pewawancara dengan responden. Walaupun hal ini sulit tercipta pada pertemuan pertama, namun tidak ada salahnya bila dicoba. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mencari topik pembukaan yang bisa menarik perhatian responden, misalnya dengan menanyakan obyek yang kelihatan atau kegiatan yang sedang
dilaksanakan. Pembicaraan di lapangan seringkali lebih cepat dan mudah menciptakan suasana akrab dibanding di dalam ruang tamu yang cenderung formal.
• Dalam wawancara, pewawancara sebaiknya berperan sebagai seseorang yang ingin belajar dari responden, dengan menganggap responden yang paling tahu tentang usaha taninya, tetapi jangan sampai ada kesan bahwa pewawancara tidak tahu samasekali tentang topik yang sedang dibicarakan. Pembicaraan perlu diusahakan bersifat dua arah serta dalam suasana yang hidup.
• Pewawancara harus tanggap jika mungkin salah satu di antara pertanyaannya kurang berkenan dihati responden, dan segera
mengambil tindakan dengan mengalihkan ke topik pembicaraan lain.
Hati-hati dalam menformulasikan pertanyaan yang sensitif.
• Dalam wawancara, pewawancara harus mendengarkan segala yang diceritakan responden, meskipin sebetulnya informasi yang disampaikan tersebut tidak diperlukan oleh pewawancara. Jika
pembicaraan mulai sedikit menyimpang dari topik pembicaraan, usahakan dengan cara sopan dan halus untuk meluruskan kembali ke topik pembicaraan yang seharusnya.
• Hentikan wawancara jika responden sudah mulai kurang berkenan karena sudah mulai lelah, meskipun daftar pertanyaan belum selesai semuanya. Lebih baik melanjutkan wawancara di lain waktu dari pada harus memaksakan wawancara yang sudah mulai ngelantur.
• Sebelum mengakhiri wawancara lihat daftar pertanyaan (check list) apakah semuanya sudah dibicarakan.
• Akhiri wawancara dengan sopan, dan ucapkan terima kasih pada responden. Jika wawancara tidak cukup sekali saja, utarakan bahwa masih diperlukan wawancara berikutnya dan usahakan untuk membuat janji kapan wawancara berikut dilaksanakan.
Pemahaman petani tidak dapat dilakukan hanya dengan sekali bertemu saja, melainkan harus berkali-kali (Gambar 7.1). Apabila metode yang dilakukan hanya menggunakan kuesioner atau wawancara yang hanya sekali saja, maka hasil yang diperoleh hanyalah pengetahuan yang terbatas tentang petani. Oleh karena itu dalam perencanaan sudah harus diperhitungkan berapa lama penggalian data akan dilaksanakan. Biasanya untuk memberi gambaran umum yang lebih cepat dan menajamkan sasaran dan pertanyaan atau isu perlu dilakukan semacam pemahaman cepat (rapid appraisal). Pemahaman cepat merupakan survei dengan menggunakan kuesioner yang mencakup beberapa pertanyaan kunci untuk menjangkau sebanyak mungkin responden di daerah sasaran. Informasi yang diperoleh dapat dipakai untuk menyempurnakan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.
Gambar 7.1 Usaha peneliti dalam memahami kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi petani di lapangan. (Foto: Kurniatun Hairiah)
Dalam pelaksanaannya, pada wawancara pertama sebaiknya dibatasi pada hal-hal yang bersifat agak umum dan tidak sensitif. Sedangkan informasi yang lebih rinci dan agak sensitif bisa digali pada saat wawancara berikutnya, setelah
terbina hubungan yang lebih baik antara pewawancara dengan petani yang diwawancarai. Berbekal informasi dasar yang diperoleh pada wawancara sebelumnya, maka diharapkan wawancara berikutnya menjadi lebih mengarah.
Pada saat kedatangan kita pertama kali, kita adalah orang asing sehingga kurang pantas untuk menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi dan sensitif. Bagi banyak petani, usahataninya sering merupakan cerminan kisah perjalanan dalam mengarungi kehidupan rumah-tangganya. Dengan cara pandang seperti ini maka dimensi waktu, dinamika proses pengambilan keputusan, komponen sistem usahatani serta interaksinya yang terlibat dalam pengambilan keputusan akan tercermin pula.