• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANDI FAISAL BAKTI (2004)

TINJAUAN TEORITIS

C. Memaknai Folklor 1. Pengertian Folklor 1.Pengertian Folklor

Secara bahasa folklor berasal dari dua kata. Kata folklor berasal dari folk dan lore dalam bahasa Inggris. Folk dapat diartikan dengan rakyat, dan bangsa.44 Menurut James Dananjaya Folk berarti ciri-ciri pengenal yang ada pada sekelompok orang, sehingga ciri-ciri pengenal tersebut menjadi pembeda dengan kelompok lain. Ciri-ciri pengenal itu ada pada setiap sisi kehidupan kelompok tersebut, misalnya bentuk fisik, gaya hidup bersosial, terlebih lagi dalam kebudayaan.45

Sedangkan lore berarti adat dan pengetahuan.46 Dalam pengertian yang lebih luas lore diartikan sebagai bentuk tradisi dari kata folk. Tradisi tersebut menjadi semacam adat yang menggejala dan terus akan dipertahankan dalam kurun waktu yang cukup lama. Pada prosesnya, tradisi yang diturunkan biasanya melalui proses tradisional. Tradisi tersebut diturunkan melalui pranata sosial, misalnya, gerak tradisional rakyat, musik rakyat, kesenian rakyat, arsitektur rakyat, kepercayaan atau keyakinan, permainan rakyat, teater rakyat, nyanyian tradisional, legenda dan dongeng, teka-teki, ungkapan tradisional, bahasa rakyat dan sebagainya.47

44

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Amerika: Cornell

University Press, 1975; reprint, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), h. 250. 45

James Danandjaya, Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain (Jakarta:

Pustaka Utama Grafiti, 2007), h. 1-3. 46

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia,h. 366.

47 Setya Yuwana Sudikan, “Ragam Metode Pengumpulan Data: Mengulas Kembali

Pengamatan, Wawancara, Analisis Life History, Analisis Folklore,” dalam Burhan Bungin,

Metodologi Penelitian Kualitatif, Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer, (Jakarta: Karisma Putra Utama, 2004), h. 71.

Supanto dan kawan-kawan mendefinisikan bahwa folklor adalah bentuk penuturan cerita yang pada dasarnya tersebar secara lisan yang penyampaiannya melalui pewarisan secara tradisional bagi masyarakat pendukungnya dan disampaikan secara turun temurun.48

Dari pengertian di atas dapat didefinisiskan bahawa folklor adalah budaya tradisional yang dianut oleh sekelompok orang di mana budaya tersebut merupakan hasil peninggalan nenek moyang yang telah diwariskan secara turun temurun dalam kurun waktu yang cukup lama dengan cara tradisional pula.

2. Folklor Haul Cuci Pusaka

Secara bahasa Haul bermakna peringatan kematian yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Sedangkan kata cuci dalam KBBI pemaknaannya selalu digandengkan dengan kata lain. Misalnya, cuci darah bermakna kegiatan mencuci darah dengan teknik tertentu. Cuci muka adalah kegiatan membersihkan muka dengan cara membasuhnya dengan air. Cuci otak adalah sebuah peroses penghilangan pendapat dari otak seseorang bahkan proses penghilangan keyakinan untuk kemudian diisi dengan kekuatan argumen yang baru melalui pemaksaan pada jiwa dan fisik. Cuci perut adalah membersihkan perut dengan memakan obat pencahar, dan masih banyak contoh yang diberikan dalam KBBI.49

Sedangkan arti dari pusaka adalah pertama harta benda peninggalan orang yang telah meninggal yaitu warisan yang ditinggalkan keapada

48

Supanto dkk, Risalah; Sejarah dan Budaya Seri Folklor (Yogyakarta: Balai Penelitian Sejarah dan Budaya, 1981-1982), h. 48.

49

Departemen Pendidikan Nasional, Tim Penyusun Kamus, Pusat Bahasa, Kamus Besar

57

anaknya yang hanya berupa sawah lima petak. Kedua benda yang diturunkan dari nenek moyang biasanya berupa keris.50

Jadi Haul Cuci Pusaka adalah selamatan tahunan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memperingati hari wafatnya seseorang yang dilakukan setiap satu tahun sekali dan pada saat yang bersamaan pula dilakukan pencucian pusaka peninggalan orang yang telah meniggal tersebut.

Kegiatan Haul Cuci Pusaka merupakan bagian dari keragaman budaya Indonesia. Kegiatan tersebut dapat disebut juga dengan upacara tradisional. Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam acara ini sangat kental dengan unsur kepercayaan dan nilai. Mempunyai identitas tersendiri, seperti keunikan bahasa atau cara berkomunikasi, pakaian dan penampilan dalam keseharian, makanan yang disajikan pada saat perayaan dan termasuk cara mereka memakannya, waktu yang ditentukan untuk melaksanakan perayaan, penghargaan dan pengakuan dari pihak lain, hubungan-hubungan, nilai dan norma, rasa diri dan ruang, proses mental da belajar, kepercayaan dan sikap.51

Dalam upacara tradisi juga terdapat kandungan makna dari setiap tindak tanduk perayaan tersebut. Begitu juga dalam Haul Cuci Pusaka ini. Hal ini disebabkan karena setiap tradisi pasti menyisakan sebuah

50

Departemen Pendidikan Nasional, Tim Penyusun Kamus, Pusat Bahasa, Kamus Besar

Bahasa Indonesia,h.910.

51 Philiph R. Harris dan Robert T. Moran, “Memahami Perbedaan-perbedaan Budaya,”

dalam Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya: Panduan

Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), h. 58-62.

kebiasaan lama hasil dari peninggalan nenek moyang. Dalam kebiasaan tersebut juga terdapat hukum yang berlaku berdasarkan norma-norma tertentu.52

52

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Peneliti Mulyadi, dkk, Upacara

Tradisional Sebagai Kegiatan Sosialisasi di DIY (Yogyakarta: Poroyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan daerah, 1982-1983), h. 35.

59

BAB III

TUBAGUS ATIEF, FOLKLOR “HAUL CUCI PUSAKA KERAMAT

TAJUG,” DAN KELURAHAN CILENGGANG

Bagi setiap daerah sudah pasti mereka mempunyai cara sendiri dalam upacara tradisionalnya. Terlebih bagi masyarakat daerah yang hidup di pedesaan. Bahkan sebagian mereka ada pula yang mempunyai ritual kematian secara khusus, seperti masyarakat desa Kepoharjo, Yogyakarta, Jawa Tengah. Di kampung tersebut telah baku peraturan tentang bagaimana persiapan pemakaman jenazah, penguburannya sampai pada upacara-upacara setelah kematian. Masyarakat di desa tersebut telah menjalankan ritual upacara tradisional selama bertahun-tahun.1

Demikian pula yang terjadi dalam folklor “Haul Cuci Pusaka Keramat Tajug.” folklor “Haul Cuci Pusaka Keramat Tajug” tidak jauh berbeda dengan upacara-upacara tradisional daerah lainnya. Terdapat sistem nilai dan kepercayaan di dalamnya. Mereka seolah-olah kaku dan menganggap ucapan dan peninggalan sesepuh adalah petuah yang harus diikrarkan dalam diri mereka. Masyarakat pemilik folklor secara berlahan terus menggali serta mempertahankan budaya tersebut.

Dalam bab ini penulis akan memberikan gambaran sejarah perjuangan Tubagus Atief, serta akan dikupas pula bagaimana asal mula diadakannya “Haul Cuci Pusaka Keramat Tajug” sebagai gambaran bagi pembaca. Dalam bab ini pula penulis akan memberikan gambaran umum tentang kelurahan Cilenggang tempat terjadinya folklor “Haul Cuci Pusaka Keramat Tajug.”

1

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Peneliti Mulyadi, dkk., Upacara

Tradisional Sebagai Kegiatan Sosialisasi di DIY (Yogyakarta: Poroyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1982-1983), h. 38-69.