• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memantau dan Mengevaluasi Kinerja Kebijakan dan Governansi

Sasaran Pembangunan

6.3 Memantau dan Mengevaluasi Kinerja Kebijakan dan Governansi

Menurut OECD (2018), pemantauan kinerja merupakan fungsi berkelanjutan yang memanfaatkan pengumpulan data sistematis untuk indikator-indikator tertentu agar pemerintah dapat menyediakan indikasi kemajuan dan pencapaian tujuan dalam penggunaan dana publik terkait kebijakan yang sedang diimplementasikan. Pemantauan kinerja menjadi alat yang penting bagi pemerintah untuk mengetahui kemajuan dan pencapaian tujuan kebijakan yang telah ditetapkan.

Pemantauan kinerja kebijakan dan governansi memastikan implementasi kebijakan publik berlangsung dengan baik. Adanya informasi pemantauan kebijakan dapat meningkatkan kualitas perencanaan, pengambilan keputusan, dan kinerja. Selain itu, informasi ini mampu menjadi alat untuk memperbaiki proses implementasi maupun fungsi organisasi sektor publik dengan menyediakan pandangan yang lebih luas bagi pemerintah agar dapat meningkatkan efisiensi dan kapasitas organisasi sektor publik. Informasi yang terbuka dan dapat diakses siapapun juga akan meningkatkan akuntabilitas pemerintah kepada pemangku kepentingan terkait penggunaan sumber daya untuk proses internal, output, dan outcome dari suatu kebijakan.

Dalam jangka panjang, akumulasi data dan informasi selama implementasi melalui pemantauan dan evaluasi dapat melengkapi informasi yang didapatkan dari proses evaluasi. Dengan evaluasi yang ada, akumulasi data dan informasi akan membantu perumusan dan pengambilan kebijakan, contohnya adalah terkait kebijakan implementasi penganggaran berbasis kinerja. Pemantauan kebijakan mampu mengidentifikasi area yang memerlukan pemeriksaan dan evaluasi lebih lanjut sebagai suatu dasar untuk evaluasi berbasis data. Dalam peninjauan berbasis data, data kualitatif akan berkontribusi dalam menggambarkan konteks atas perkembangan indikator-indikator kinerja, yang akan membantu organisasi untuk memperbaiki atau menyesuaikan indikator kinerja utama (IKU/Key Performance Indicators) maupun menetapkan indikator-indikator baru.

Pembuat kebijakan harus menentukan unsur-unsur yang akan dipantau dan cara penelusurannya.

Oleh karena itu, pemerintah wajib:

1. Menetapkan tujuan dan target kebijakan dalam dokumen perencanaan.

2. Mendefinisikan indikator kinerja yang sesuai dengan tujuan kebijakan.

3. Memastikan indikator kinerja dapat diukur dan relevan dengan tujuan serta mendukung sistem akuntabilitas yang ada.

4. Membangun sistem pengumpulan data untuk seluruh indikator yang telah diidentifikasi, yang menyediakan data relevan dan akurat bagi Menteri, pejabat pemerintah lainnya, dan para ASN.

5. Melaksanakan pelaporan perkembangan setiap dua tahun sekali dan memastikan bahwa laporan dapat diakses oleh publik dan menjadi bahan dasar diskusi dari implementasi kebijakan secara politik dan pada level administratif puncak.

6. Menerapkan proses pengendalian terpusat dan peninjauan ulang (review) strategi.

7. Melibatkan publik dan komunitas bisnis dalam proses pemantauan dan evaluasi dengan memastikan adanya transparansi dan akses informasi serta memberikan input terkait implementasi kinerja dan tantangan yang dihadapi.

6.3.1 Memantau dan Mengevaluasi Prioritas Kebijakan Seluruh Pemerintah

Pemantauan prioritas kebijakan di seluruh pemerintah merupakan salah satu prioritas utama untuk memastikan bahwa tujuan operasional dan strategis tercapai, serta implementasi kebijakan dilakukan secara efektif dan terkoordinasi. Tujuan utama dari pemantauan adalah untuk memastikan bahwa dampak yang diinginkan dan kebijakan yang diimplementasikan selaras, serta terdapat koordinasi lintas kebijakan multidimensional, dan menunjukkan kemajuan dan pencapaian kepada para pemangku kepentingan. Survei terhadap organisasi dan fungsi Centre-of-Government (CoG) yang dilakukan oleh OECD pada tahun 2017 menunjukkan bahwa pemantauan dilakukan oleh unit pemantauan khusus seperti Delivery Units (DUs) (OECD, 2018). DU dapat menjadi perangkat strategis dan harus mengadopsi pendekatan kepada seluruh pemerintahan untuk memantau dan mengevaluasi kinerja kebijakan. Oleh karena itu, DU dapat dilengkapi dengan indikator kinerja utama (IKU/Key Performance Indicators) untuk menghubungkan kebijakan dengan outcome yang dihasilkan.

6.3.2 Memantau dan Mengevaluasi Kinerja Keuangan dan Realisasi Anggaran

Pembuatan kebijakan yang efisien dapat membantu pemerintah dalam menilai tingkat efektivitas pengeluaran organisasi sektor publik untuk mencapai tujuan strategis, sekaligus untuk mengalokasikan sumber daya keuangan apabila terdapat kejadian tak terduga atau kesalahan alokasi anggaran pada tahap implementasi kebijakan. Target kinerja dan mekanisme pengendalian harus jelas dan layak untuk dapat memantau kinerja pemerintah dengan baik. Hal ini akan memampukan para pejabat pemerintahan untuk memantau kinerja setiap organisasi sektor publik. Selain itu, hubungan antara tujuan strategis pemerintah dan hasil dari pengeluaran tersebut harus dapat teridentifikasi.

Agenda nasional suatu negara harus mengejar dan merefleksikan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), sehingga setiap keputusan dapat dinilai berdasarkan pencapaiannya dan tingkat kontribusinya dalam merealisasikan agenda-agenda SDG. Penyelarasan ini memampukan pemerintah untuk menilai apakah alokasi keuangan dan keputusan pengeluaran yang dilakukan berkontribusi kepada pencapaian SDG yang telah ditetapkan.

6.3.3 Mengukur Kinerja Regulasi dan Memastikan Implementasi Kebijakan

Mengukur kinerja regulasi merupakan alat untuk mempertajam proses pembuatan kebijakan dan pemberian pelayanan publik dengan membantu pemerintah mengidentifikasi hambatan dan memperbaiki regulasi secara umum. Secara spesifik, pengukuran kinerja regulasi mampu memaksimalkan manfaat dari pelaksanaan kebijakan, menurunkan biaya kepatuhan, dan memastikan adanya transparansi dan akses bagi masyarakat atas regulasi yang ada. Pemerintah harus membentuk mekanisme dan lembaga yang menyediakan pengawasan terhadap prosedur dan tujuan kebijakan serta mendukung dan mengimplementasikan kebijakan untuk meningkatkan kualitas kebijakan suatu negara. Inspeksi menjadi salah satu cara utama untuk memastikan bahwa regulasi ditegakkan dan dipatuhi. Inspeksi perlu direncanakan, ditargetkan, dan dikomunikasikan dengan baik untuk memastikan bahwa implementasi kebijakan dilakukan secara efektif. Standar etika dan independensi juga menjadi salah satu faktor utama yang menentukan bagaimana para inspektur kebijakan menjalankan mandat yang mereka dapatkan.

Terdapat 11 prinsip yang dikembangkan oleh OECD yang menentukan dasar dari penegakan kebijakan dan inspeksi yang efektif dan efisien dalam mencapai outcome kepatuhan yang terbaik dan kualitas kebijakan yang tinggi, yaitu 1) penegakkan berbasis bukti, 2) selektif, 3) fokus dan proporsionalitas risiko, 4) kebijakan yang responsif, 5) visi jangka panjang, 6) koordinasi dan konsolidasi, 7) governansi yang transparan, 8) integrasi informasi, 9) proses yang jelas dan adil, 10) pelaksanaan kepatuhan, dan 11) profesionalisme.

6.3.4 Mengembangkan Indikator Governansi yang Kokoh

Penggunaan indikator kinerja utama (IKU/Key Performance Indicators) oleh pemerintah memampukan pengukuran perkembangan negara dalam mencapai agenda strategis SDGs.

Beberapa dari IKU yang ditetapkan juga dapat mengukur dampak dari reformasi pemerintah da-lam meningkatkan kapasitas pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan negara. OECD (2018) merekomendasikan indikator yang sesuai dengan kriteria SMART: spesifik (specific), terukur (measurable), dapat tercapai (attainable), relevan (relevant), dan memiliki batas waktu (time-bound). Berikut merupakan indikator governansi:

1. Indikator input: mengukur jumlah dan tipe sumber daya yang diinvestasikan oleh pemerintah untuk mencapai kebijakan publik tertentu seperti jumlah pegawai, uang, waktu, peralatan, dan sebagainya.

2. Indikator proses: mengacu kepada penggunaan proses aktual dan sering kali dilaksanakan dengan penilaian efektivitas individu-individu yang terlibat dalam pembuatan kebijakan.

3. Indikator keluaran (output): mengacu kepada jumlah, tipe, dan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan oleh kebijakan pemerintah serta dapat memuat tujuan operasional.

4. Indikator hasil (outcome): mengukur pengaruh dan perubahan strategis yang dihasilkan dari implementasi kebijakan. Indikator hasil umumnya dibedakan menjadi dua yaitu pengaruh jangka pendek atau pengaruh langsung, dan pengaruh hasil jangka panjang.

5. Indikator dampak (impact): mengukur kemajuan yang dicapai menuju tujuan yang luas.

Indikator dampak juga mengukur manfaat yang diperoleh dari kebijakan pemerintah serta memberikan mekanisme yang penting untuk menyelaraskan kebijakan yang dibuat dengan peraturan-peraturan lainnya maupun pembangunan nasional.

6.3.5 Value for Public Money Audit

Salah satu bentuk evaluasi kinerja organisasi pemerintahan yang bertujuan untuk mempertanggung-jawabkan penggunaan dana publik adalah melalui value for public money audit. Value for Public Money Audit adalah audit yang dilaksanakan untuk mengevaluasi pelaksanaan lembaga sektor publik berdasarkan prinsip ekonomi, efisiensi, efektivitas, equality, dan equity seperti yang telah dijabarkan pada bagian awal bab ini.

Audit atas ekonomi dan efisiensi (management audit) dilakukan dengan tujuan untuk menilai kehematan dan efisiensi perizinan, perlindungan, dan penggunaan sumber daya; menganalisis penyebab ketidakhematan dan ketidakefisienan; serta menilai kepatuhan entitas terhadap peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan kehematan dan efisiensi. Audit atas efektivitas (program audit) dilaksanakan untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil program yang diinginkan atau manfaat yang telah ditetapkan oleh undang-undang atau badan lain yang

Gambar 6.4. Skema Value for Public Money (diadaptasi dari Mardiasmo, 2018)

Meminimalkan biaya sumber daya yang digunakan dengan tetap memperhatikan kualitas

Hubungan antara output dan input yang digunakan untuk

menghasilkannya

Sejauh mana tujuan organisasi dapat tercapai dengan output

yang dihasilkan

Ekonomi

Nilai Input (Rp) Input Output Outcome Impact

Efisiensi Efektivitas

Kesempatan sosial yang sama dalam mendapatkan pelayanan

publik yang berkualitas serta penggunaan sumber daya

publik secara merata

Equity dan Equality

Proses

berwenang; efektivitas kegiatan entitas, pelaksanaan program, kegiatan, atau fungsi instansi yang bersangkutan; dan kepatuhan entitas terhadap peraturan perundang-undangan yang ber-kaitan dengan pelaksanaan program atau kegiatan.

Pelaksanaan Value for Public Money Audit dapat dilakukan oleh auditor eksternal (seperti BPK) atau auditor internal (seperti APIP, BPKP, atau Inspektorat pada tingkat pemerintahan yang sesuai). Tujuan dari dilaksanakannya Value for Public Money Audit adalah untuk meningkatkan akuntabilitas lembaga sektor publik yang krusial bagi pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Hal-hal yang tercakup dalam audit kinerja atas pengelolaan keuangan negara antara lain berupa audit atas penyusunan dan pelaksanaan anggaran; audit atas penerimaan, penyaluran, dan penggunaan dana; serta audit atas pengelolaan aset dan kewajiban.

Urgensi pelaksanaan Value for Public Money Audit didorong oleh perubahan tatanan politik, ekonomi, dan sosial di Indonesia. Secara global, telah timbul kesadaran pelaksanaan Value for Public Money Audit sebagai akibat dari globalisasi perekonomian, liberalisasi perdagangan, dan keterbukaan ekonomi. Tantangan dari dalam negeri berupa pemerataan pendapatan, pemberantasan kemiskinan, pembangunan sumber daya manusia (SDM), dan sebagainya secara tidak langsung menuntut pegawai/aparatur pemerintah untuk lebih terbuka, transparan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Pegawai/aparatur pemerintah dituntut untuk lebih terbuka, transparan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat. Salah satu upaya peningkatan ketiga sifat tersebut ditempuh melalui pemberian wewenang kepada auditor untuk melaksanakan Value for Public Money Audit pada unit-unit kerja pemerintah daerah.

Pelaksanaan Value for Public Money Audit juga diharapkan dapat bermanfaat sebagai instrumen pengawasan dan pencegahan timbulnya praktik-praktik korupsi, inefisiensi, dan kebocoran dana yang mungkin terjadi pada alur perpindahan pemerintah pusat ke daerah; sehingga pemerintah daerah dapat melaksanakan fungsi pelayanan masyarakat secara sungguh-sungguh berdasarkan konsep value for public money.

Dokumen terkait