• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bukankah hal itu akan membangkitkan amarah seluruh penghuni Bumi Pasundan?"

"Hal

itu tidak akan terjadi, Ramanda Ratu."

"Kenapa bisa de

mikia

n?"

"Menurut petunjuk arwah Ratu Stri Bhattari Prthiwi, segala Tu-ah clan Tu-lah yang memancar dari Kabhumian akan sirna jika yoni tempat memujanya ditutup dengan lingga suci yang terletak

di

puncak Gunung Pulasari

di

tanah Banten. Jika petunjuknya itu terlaksana maka tidak saja Tu-ah clan Tu-lah dari Kabhumian ini akan sirna, tetapi orang pun akan tersilap melupakan Kabhumian;' jelas Abdul Jalil.

"Kenapa harus lingga yang berada di puncak

Gunung Pulasari?"

"Karena yang menempatkan lingga itu adalah Sri Maharaja Jayabhupati, suami Ratu Stri Bhattari Prthiwi."

Sri Mangana termangu-mangu mendengar pen­

jelasan Abdul J

alil.

Dia tidak memikirkan tentang di­

sirnakannya

Tu-ah

dan

Tu-lah

dari Kabhumian, tetapi justru merenungkan syarat lingga suci dari puncak Gunung Pulasari di tanah Banten. Bukankah Gunung Pulasari dianggap gunung keramat tempat Dewa Syiwa bersemayam? Apakah ada rahasia di batik keberadaan yoni Caruban dan lingga di Banten sehingga keduanya memiliki ikatan yang kuat?

Caruban Larang sebagai samiddha jelas menyediakan kayu-kayu untuk persembahan kepada leluhur dan dewa-dewa. Sementara itu, upacara sesaji persembahan justru dilakukan di Banten dengan pusat di Gunung Pulasari, Gunung Karang, clan Gunung Lancar.

Abdul JaW yang melihat Sri Mangana termenung lama kemudian berkata, "Sesungguhnya, menguasai wilayah samiddha Caruban clan wilayah Banten sama artinya dengan mewarisi takhta kerajaan Sunda yang diwariskan oleh Sri Maharaja Jayabhupati dan Ratu Stri Bhattari Prthiwi. Sebab, tanpa wilayah Caruban Larang dan wilayah Banten, sesungguhnya kerajaan Sunda hanyalah hamparan bumi biasa, yakni tanah tak bertuan yang dihuni hewan dan manusia liar yang tak bisa diatur."

"Maksudnya?"

"Sekalipun Ramanda Ratu bukan putera mah­

kota, Ramanda Ratu akan menjadi pewaris takhta kerajaan Sunda jika Ramanda Ratu dapat menguasai Caruban Larang dan Banten. Dengan dikuasainya Caruban Larang dan Banten, sesungguhnya takhta kekuasaan raja-raja Sunda sudah kehila.ngan Tu-ahdan

Tu-lah.

Tanpa Caruban dan Banten, takhta kerajaan Sunda tidak memiliki wibawa apa-apa."

(j ?rt>�--

...

1�'

Selain Kabhumian, tempat bersejarah di Caruban Larang yang dikunjungi Abdul J alil dan Sri Mangana adalah Palimanan yang terletak di sebelah barat Kuta Caruban. Daerah itu, menurut Sri Mangana, disebut Palimanan karena digunakan orang sebagai tempat memuja Bhattara Ganesha. Menurut cerita, pada masa silam hewan gajah dipuja sebagai penjelmaan Ganesha, putera Parwati. Tempat pemujaan Ganesha yang dikeramatkan itu dibangun oleh Sri J ayabhupati, pemuja Syiwa, dan disebut dengan nama Palimanan (Jawa Kuno: tempat gajah). Di Palimanan gajah-gajah liar dilepas bebas dan terlarang untuk diganggu.

Seiring bergulirnya waktu, pemujaan terhadap Sang Ganesha pernah memudar selama berpuluh tahun.

Hal itu konon membuat marah Sang Ganesha. Lalu, terjadilah bencana terbunuhnya Prabu Lingga­

bhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda di Bubat beserta

para pengikut, termasuk permaisuri dan puterinya oleh Sang Gajah Mada, mahapatih Majapahit.

Para sesepuh Sunda yang tak menduga bakal ter­

j adi peristiwa memilukan itu meyakini bahwa peristiwa tragis di Bubat bukanlah peristiwa biasa,

melainkan memiliki kaitan dengan amarah Sang Ganesha yang murka akibat tidak lagi dipuja di Palimanan. Menurut keyakinan para sesepuh, Sang Ganesha, dewa gajah yang marah itu, menitis kepada Mahapatih Gajah Mada dan mengirim pesan kepada raja-raja Sunda agar mereka memuja kembali putera Syiwa itu.

Dengan keyakinan seperti itu, demi menolak bala bencana yang lebih dahsyat akibat amarah Sang Ganesha Sanghyang Ganapati, atas saran para sesepuh, putera Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maharaja Sunda Sang Mokteng Bubat, yaitu Prabu Niskala Wastu J(ancana, memperbaiki kembali tempat pemujaan bagi Sang Ganesha di Palimanan.

Para sesepuh berharap dengan diperbaiki dan di­

pujanya kembali Sang Ganesha di Palimanan, di­

harapkan amarah dewa gajah itu dapat diredam.

Sementara itu, untuk menangkal pengaruh buruk akibat kemarahan Sang Ganesha, gajah-gajah yang dipuja kembali di Palimanan sebagian ditangkap dan ditambat di Pagajahan untuk dijinakkan dengan man­

tra-mantra.

"Lepas benar atau tidak pandangan para sese­

puh itu," ujar Sri Mangana, "Sejak Sang Ganesha dipuja kembali di Palimanan dan kemudian ditambat dan dijinakkan dengan mantra-mantra di Pagajahan, terbukti pengaruh jahat dari Sang Gajah tidak terjadi lagi atas Bumi Pasundan. Sejarah mencatat, Sang Gajah Mada, mahapatih Majapahit, tidak pernah menginjakkan kaki ke Bumi Pasundan."

''Ananda memahami keyakinan itu, Ramanda Ratu," kata Abdul Jalil. "Namun jika ananda boleh tahu, pada masa pemerintahan kakek buyut Ramanda Ratu, yaitu Prabu Niskala Wastu Kancana, negeri Caruban Larang dijadikan samiddha dan Kerajaan Singhapura menjadi wilayah kecil. Apakah Kerajaan Singhapura yang pernah dipimpin Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya itu sudah

runtuh?"

''Ya, seperti kebiasaan raja-raja Sunda dan Jawa, runtuhnya kerajaan selalu disebabkan oleh perebutan takhta di antara keturunan sang raja. Kerajaan Galuh Singhapura yang besar pecah menjadi dua pada masa Prabu Bhattara Hyang Pumawijaya dan Sri Prabu Dharmaraja. Sepeninggal Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya terjadi perebutan di antara ke

turun

annya."

"Pada masa akhir pemerintahan Prabu Lingga

Wastu Sang Surugana, cucu dari Prabu Bhattara

Hyang Purnawijaya, terjadi perebutan sengit hingga

putera mahkota beserta pengikutnya melarikan diri ke barat clan membangun kerajaan baru. Putera mahkota itulah yang kemudian menjadi raja clengan gelar Prabu Susuk Tunggal Sang Haliwungan (penguasa Sungai Liwung). Sepeninggal Prabu Susuk Tunggal ternyata terjadi lagi perebutan takhta hingga putera mahkota Sang Pulanggana mendirikan kerajaan baru di sebelah timur, yaitu Galuh Pakuan. Sang Pulanggana bergelar Prabu Ban yak Larang. Dia itulah kakek

clari

Prabu Linggabhuwana Wisesa Sri Maha­

raja yang mangkat di Bubat."

"Jika clemikian, menurut hemat anancla, Kerajaan Singhapura yang besar akhirnya terlantar karena cliperintah oleh raja-raja yang lemah. Benarkah clemikian?"

"Begitulah aclanya sehingga pacla masa kakek buyutku berkuasa bukan saja kraton Singhapura menjadi ticlak terurus clan merana, melainkan pen­

dharmaan Prabu Stri Bhattari Prthi\vi di Kabhumian pun tak terawat. Kawasan itu benar-benar terlantar hingga ditumbuhi rumput alang-alang sehingga disebut Tegal Alang-Alang."

"Namun seingat anancla, belum pernah anancla menclengar nama Cerebon untuk claerah Caruban Larang ini. Apakah nama itu merupakan sebutan lama untuk Caruban?"

"Nama Cerebon memang digunakan pada masa

Prabu Bhattara Hyang Purnawijaya untuk membe­