• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Kepercayaan Masyarakat

Dalam dokumen &rtodul. Penyuluhan Zakat. I r (Halaman 95-100)

BAB VI AMIL PROFESIONAL

H. Membangun Kepercayaan Masyarakat

Kemiskinan dengan segala dimensinya merupakan permasalahan yang harus diatasi secara bersama melalui program pemerintah dan partisipasi semua elemen masyarakat. Miskin adalah keadaan seseorang yang serba kekurangan bahkan melarat dan kaya adalah keadaan seseorang yang berkecukupan dan berkemampuan.

Memperhatikan dua kutub yang berbeda ini, dimana seorang muslim harus berada disalah satunya, maka adalah sesuatu hal yang mudah dipahami jika zakat merupakan salah satu dari kebijakan strategis yang ditetapkan Allah SWT bagi hambanya. Ada dua hal mengapa kewajiban ini

dibebankan kepada orang muslim yang berkecukupan (kaya), yaitu agar perbedaan atau jarak antara dua kutub tersebut tidak semakin jauh dan melebar dan dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas kehkalifahan manusia di muka bumi yang telah diterima sebagai tugas primordial Zakat dapat dikatakan sebagai suatu fasilitas yang akan memberikan kesuksesan bagi manusia dalam mengemban amanat kekhalifahannya dan menjaga kemuliaan serta memelihara kehormatannya. Sebab semakin jauh jurang pemisah antara kelompok yang kaya dan iniskin. Adalah keyakinan bagi seseorang yang baik bahwa zakat adalah kewajiban yang yang tidak akan membuat orang jatuh miskin, bahwa zakat akan membawa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Namun demikian, keyakinan itu seolah-olah hanya tinggal keyakinan. Betapa banyak orang yang kaya tapi tidak menunaikan kewajibannya berzakat.

Oleh karena itu,berbagai pertimbangan dalam menarik perhatian dan keinginan berzakat harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar tidak menimbulkan kesan apalagi perasaan tidak nyaman atau merugikan bagi para muzakki.

Untuk memberikan pemahaman yang memadai kepada para muzakki seyogyanya pada pengelola zakat melakukan beberapa langkah sebagai berikut :

a. Sosialisasi

dan penyuluhan

Sosia]isasi dan penyuluhan masih sangat diperlu-kan karena beragamnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai zakat. Merupakan realita bahwa zakat dan permasalahannya masih sangat kurang dibicarakan dan dibahas dalam berbagai pertemuan, baik di lembaga pendidikan formal maupun non formal. Sebagai contoh, tema dan materi khutbah jumat dalam setahun yang berjumlah 52 kali, hanya berapa tema yang mengenai zakat.

Program sosialisasi dan penyuluhan zakat perlu terns dikembangkan ke semua kalangan masyarakat, baik di kota maupun di desa dan juga melibatkan semua komponen masyarakat, seperti pejabat peme-rintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, profesional dan prakatisi.

Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan zakat dapat menggunakan berbagai metode Jangsung dan tidak Jangsung. Metode langsung seperti ceramah, seminar, diskusidan dan di berbagai kesempatan lainnya.

Kemudian metode tidak langsung seperti melalui media, baik media cetak dan media elektronik. Media cetak meliputi buku, majalah, Koran, leaflet, brosur, spanduk, billboard, dan lain-lain. Media elektronik meliputi televisi, radio, audio visual dan lain-lain.

Materi - materi kegiatan sosialisasi dan penyu-luhan zakat meliputi harta yang wajib dizakati, siapa yang wajib berzakat, berapa kadar yang harus dizakati, untuk apa zakat diwajibkan, dan kemana sebaiknya para muzakki itu menyerahkan zakatnya, bagaimana pentingnya zakat untuk pemberdayaan ekonorni umat.

b. Menumbuhkan motivasi

Kesuksesan mendorong orang yang kaya untuk menl:lnaikan kewajiban berzakatnya banyak ditentukan oleh kemampuan kita membangun motivasi pada diri yang bersangkutan. Langkah dan teknis memotivasi para calon muzakki hams mempertimbangkan masing-masing individu, karena mereka berbeda dalam banyak hal, seperti budaya dan pendidikan.

c. Komunikasi

Komunikasi merupakan sarana efektif untuk

melakukan upaya sosialisasi dan memotivasi. Untuk mengkomuni kasi kan zakat dapat menggunakan bera-gam media yang tersedia. Model komunikasi yang dikembangkan lebih tepat persuasif, bukan informatif atau koersif.

d. Membangun Silaturrahim

Menjalin hubungan silaturrahim dengan para mu-zakki dengan cara atau mengadakan pertemuan ber-kala dan berkelompok antara pengelola dengan semua komponen masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, akademisi, praktisi, para muzakki atau mustahiq. Silaturrahim dilak-sanakan dalam rangka meminta masukan pemikiran dan saran untuk pengembangan zakat ke depan. Dari para muzakki, diharapkan mendapat informasi tentang mustahiq yang tidak terjangkau oleh Amil Zakat.

e. Transparansi

Kepercayaan adalah kunci suksesnya pengum-pulan, pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat.

Untuk membangun kepercayaan masyarakat terutama para muzakki terhadap Lembaga Pengelola Zakat, maka pengelolaan zakat perlu dilakukan secara trans-paran. Bentuk nyata transparansi pengelolaan zakat adalah dengan membuat laporan secara terbuka kepada masyarakat luas, membuka kesempatan kepada ma-syarakat untuk mengetahui dana zakat yang dikelola, melaksanakan audit pelaporan dana zakat dan lain-lain.

I.

Membangun Dukungan Pemerintah

Pada awal Islam yaitu pada masa Rasulullah SAW dan

para Khulafa' Ar-Rasyidin, pengumpuJan zakat diJakukan oleh pemerintah. Pemerintah bertindak sebagai Amil Zakat. Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk mengambiJ atau memungut zakat dari orang-orang yang mampu secara ekonomi dan memenuhi syarat tertentu. Ketika itu RasuJullah SAW disamping berkedu-dukan sebagai kepaJa pemerintahan,juga diberi wewenang untuk memungut zakat dari warganya yang berkemampuan ekonomi dan memenuhi syarat-syarat yang teJah di tetapkan.

Di da]am prakteknya, Rasu]uJlah SAW memberikan tugas kepada peminpin-peminpin di daerah untuk memungut zakat. Dalam perkembangannya, di negara-negara Islam atau negara-negara berpenduduk mayoritas beragama Islam, pemerintah tidak semuanya mengelola zakat. Ada yang berperan sebagai pengelola zakat dan banyak juga yang hanya berperan sebagai pembina, regulator, motiva-tor dan koordinamotiva-tor, sedangkan sebagai pelaksana pengelola zakat adalah para Amil Zakat yang diangkat oleh pemerintah. Dari uraian di atas, bahwa pengelolaan zakat tidak pemah lepas dari peran pemerintah. Ini berarti para pengelola zakat adalah perpanjangan tangan dari pemerintah. Dengan demikian, dapat diketahui betapa besamya peranan pemerintah dalam pengelolaan zakat.

Beberapa Ulama berpendapat bahwa idealnya pengelolaan zakat dilakukan lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, dengan beberapa alasan sebagai berikut:

a. Lebih sesuai dengan petunjuk Al-Qur'an dan As-Sunnah.

b. Untuk menjamin kepastian dan disiplin membayar zakat.

c. Untuk menjaga perasaan rendah diri para mustahiq apabila berhadapan langsung untuk menerima zakat

dari muzakki

d. Untuk mcncapai efesiensi dan efektifitas serta sasaran yang tepat dalam pendayagunaan zakat, menurut skala prioritas yang ada pada suatu tempat.

e. Untuk memperlihatkan syiar Islam dalam semangat penyelenggaraan pemerintah yang Islami.

Dalam kebijakan Pemerintah Indonesia, bahwa pemerintah tidak dalam kapasitas mengelola dana zakat.

Pemerintah hanya berperan sebagai regulator, motivator, faslitator dan koordinator, sedangkan yang mengelola zakat adalah Badan Ami I Zakat dan Lembaga Amil Zakat yang dibentuk dan dikukuhkan oleh pemerintah. Sebagai regu-lator, pemerintah membuat peraturan dan kebijakan yang terkait dengan pengelolaan zakat serta memberikan legalitas kepada BAZ dan LAZ. Sebagai motivator, peme-rintah melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya membayar zakat, kemudian sebagai fasilitator, pemerintah memberikan bantuan SDM, sarana kerja, biaya operasional. Sebagai koordinator, pemerintah mengkoor-dinasikan pengumpulan, pendistribusian dan pendaya-gunaan zakat agar lebih tepat sasaran dan tepat guna.

Untuk mendapat dukungan pemerintah, perlu dijelaskan progran1 optimalisasi pengelolaan zakat adalah program membantu pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi umat dan masyarakat. Kemudian melibatkan unsur pemerintah dalam kepengurusan Lembaga Pengelola Zakat.

Dalam dokumen &rtodul. Penyuluhan Zakat. I r (Halaman 95-100)