• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Tim Kreatif dan Inovatif Di Sekolah

Dalam dokumen 22 Kewirausahaan Sekolah (Halaman 37-44)

KEPEMIMPINAN KREATIF DAN INOVATIF KEPALA SEKOLAH

O. Membangun Tim Kreatif dan Inovatif Di Sekolah

Dalam mengembangkan kerjasama tim yang kreatif dan inovatif kepala sekolah perlu mengkaji secara komprehensif tujuan kerjasama tim yang dibentuk agar sesuai dengan visi dan misi sekolah. Dengan demikian, tim harus mempunyai satu visi untuk memberikan fokus dan pengarahan pada energi kreatif.

Selanjutnya, dalam membangun tim terdapat sejumlah dimensi yang harus dipahami bersama agar dapat mencapai hasil yang optimal. Dimensi tersebut adalah; (a) kejelasan visi, (b) visi bersama, (c) visi yang berevolusi, (d) partisipasi tim, (e) pengaruh atas pembuatan keputusan, (f) berbagai informasi, (g) frekuensi interaksi, dan (h) keamanan

P. Teknik Pemecahan Masalah Kreatif

Teknik kreatif dalam pemecahan masalah diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan (Treffinger dalam Munandar, 1999). Pada tingkat pertama diperkenalkan teknik sumbang saran dan teknik daftar periksa atau daftar pertanyaan yang memacu gagasan. Prakondisi yang diperlukan adalah terciptanya suasana atau iklim yang kondusif bagi pemikiran dan sifat kreatif, yaitu dengan melakukan pemanasan (Warning – Up), mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempatan timbulnya berbagai macam jawaban atau mendorong partisipan mengajukan pertanyaan terhadap suatu masalah.

Teknik tingkat kedua adalah melatih proses pemikiran yang lebih majemuk, seperti yang dituntut pada teknik sinektik dan teknik futuristik. Pada teknik sinektik orang akan dilatih berpikir berdasarkan analogi dalam pemecahan masalah, diperkenalkan dalam penggunaan analogi fantasi, analogi langsung dan analogi pribadi. Teknik futuristik membantu orang untuk mengantisipasi dan menciptakan masa depannya, antara lain dengan menggambarkan garis besar waktu yang mencakup masa lalu, masa kini dan masa depan.

Teknik tingkat ketiga adalah menghadapkan orang pada tantangan dan masalah nyata. Pendekatan pertama ialah pemecahan

masalah secara kreatif yang meliputi lima tahap, yaitu tahap: penemuan fakta, penemuan masalah, penemuan gagasan, penemuan solusi dan implementasi.

Dengan melihat tahapan pemecahan masalah menurut Treffinger, teknik pemecahan masalah persekolahan secara kreatif merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga suatu masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif dalam konteks persekolahan. Sidneu Parnes, Ruth Noller, M.O. Edwards (1997), mengemukakan bahwa pemecahan masalah secara kreatif perlu dilaksanakan melalui lima tahap, yaitu; (1) Menentukan fakta, (2) Menemukan masalah, (3) Menemukan gagasan, (4) Menemukan jawaban, dan (5) Menemukan penerimaan.

Dalam fase konvergen dilakukan seleksi langkah mana yang betul-betul diperlukan, kemudian disusun secara berurutan yang tepat, berikut kapan, siapa dan dimana kegiatan tersebut dilakukan. Perlu diperhatikan bahwa setiap tahap pemecahan masalah ada dua fase, yaitu fase divergen dan fase konvergen.

LATIHAN

Cobalah menjawab pertanyaan berikut dengan cermat, sebelum Bapak/Ibu melanjutkan ke sub-pokok bahasan berikutnya.

1. Kemukakan minimal tujuh dimensi yang perlu diperhatikan dalam membangun tim kreatif di sekolah?

Q. Perspektif Kepala Sekolah Selaku Knowledge Leader

Mengedepankan peran kepala sekolah selaku pemimpin pengetahuan merupakan satu langkah maju dalam mengarahkan perubahan budaya organisasi sekolah. Pemimpin pengetahuan berperan sebagai penghubung antara pekerja dan pengetahuan. Keberadaan pemimpin pengetahuan merupakan percobaan dalam akselerasi transformasi budaya. Oleh karena itu, peran pemimpin pengetahuan berada dalam perkembangan. Secara khusus, keberadaan kelompok pemimpin ini baru sekitar enam tahunan. Pemimpin pengetahuan berasal dari berbagai latar belakang seperti konsultan, akademisi, bagian keuangan, pemasaran, keteknikan, teknologi informasi, penelitian dan pengembangan, pelayanan pelanggan, termasuk dari bagian SDM. Pemimpin pengetahuan memiliki pengalaman dan kepakaran dalam berbagai bidang seperti bidang pemrograman, statistik, pelibatan pegawai, pengembangan organisasi, pelatihan, pemasaran dan penelitian. Pemimpin pengetahuan juga memiliki kepekaan terhadap apa yang terjadi di pasar, dampak perubahan yang terjadi dengan cepat dan perubahan sifat hubungan pekerja dan pelanggan.

Keberadan pemimpin pengetahuan merupakan strategi baru dan peran formal dan informal orang-orang dalam bagian sumber daya manusia. Pemimpin pengetahuan merupakan fungsi dan peran senior dengan segala kewenangannya. Perbedaan pemimpin pengetahuan dengan pengarah pengetahuan lainnya dapat dipahami. Biasanya, keberadaan pemimpin pengetahuan dimaksudkan sebagai katalisator kreasi pengetahuan. Dalam banyak hal, pemimpin pengetahuan ini didelegasi oleh kepala eksekutif organisasi dan melapor ke manajemen puncak. Pemimpin pengetahuan seringkali lebih berperan

sebagai penyebar ajaran agama, pendidik dan penata forum dari pada sebagai manajer proyek manajemen pengetahuan. Berbagai titel atau simbol – seperti kepala bagian pembelajaran, kepala bagian pengetahuan, arsitek pengetahuan, insinyur pengetahuan - digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan komunitas ini. Sebutan ini digunakan karena pada kenyataannya ada perbedaan dalam cakupan tugas yang diemban, alasan yang mendasari mengapa melaksanakan tugas tertentu dan seberapa besar pengaruh yang dipegang oleh anggota komunitas tersebut.

Pemimpin pengetahuan seringkali bertindak sebagai visionaris dan penghubung. Oleh karena itu, ada tiga cara efektif untuk membangun kapabilitas dan menjadikan organisasinya terintegrasi, yakni: uang yang beredar, orang-orang yang bergerak dan gagasan yang bergulir ke seluruh organisasi. Pekerjaan pemimpin pengetahuan adalah membantu mematahkan sekat antar unit-unit kegiatan, fungsi-fungsi dan lokasi geografis, serta langit-langgit di antara lapisan hirarkis. Pemimpin pengetahuan juga bekerja untuk meruntuhkan sekat yang membatasi organisasi dengan lingkungan – pemerintah, dunia usaha dan industri, pelanggan, pemasok (sekolah yang lebih rendah), pembuat aturan dan sebagainya.

Uraian di atas memberi pemahaman bahwa deskripsi para profesional manajemen pengetahuan boleh jadi lebih banyak diceritakan dari pada titel jabatan formalnya. Peran pemimpin pengetahuan itu diisi oleh orang yang mau menjembatani gagasan orang-orang pada keseluruhan “silos” dan alur bisnis dan membuat organisasinya adaptif dan bereaksi terhadap persaingan yang lebih baru dan lebih jelimet.

1. Tugas Kepala Sekolah selaku Pemimpin Pengetahuan

Pada prinsipnya, tugas kepala sekolah sebagai pemimpin pengetahuan adalah mempercepat pertumbuhan organisasi sekolah berbasis pengetahuan. Organisasi berbasis pengetahuan adalah nama yang diberikan kepada organisasi yang menjadikan pengetahuan sebagai sumber daya saingnya (Ruggles dan Holtshouse, 1999). Peran pemimpin pengetahuan dalam organisasi berbasis pengetahuan, khususnya yang diberi gelar Chief Knowledge Organization (CKO) sangat kompleks dan multi-segi. Dari semua tanggung jawab CKO yang ditetapkan, ada tiga di antaranya yang dianggap paling penting, yakni membangun budaya pengetahuan, menciptakan infrastruktur manajemen pengetahuan dan menjadikan semua tugas CKO terlaksana secara ekonomis (Davenprot dan Prusak).

2. Kepala Sekolah Selaku Pemimpin Pengembangan

Kepala sekolah yang kreatif membuat asumsi yang dapat mengarahkan tindakan dan perilakunya. Hal ini sesuai pemikiran Maslow (1998) dalam Gilley dan Maycunich (2001) bahwa pemimpin pengembangan membuat asumsi mengenai pekerjanya.

Pemimpin pengembangan dipercaya untuk memerankan keahlian dan kemampuan yang terbaik; Berhak memperoleh informasi mengenai keputusan, misi dan strategi organisasi; Berkeinginan menjadi kontributor lebih dari sekedar selaku pengamat pasif; Berkeinginan mengatasi resiko jika organisasi mengembangkan jaring pengaman; Menikmati kerjasama tim dan harmonitas kelompok; Kemampuannya dapat ditingkatkan; Berkeinginan untuk tumbuh dan berkembang; Ingin dianggap penting, dibutuhkan, berguna, sukses,

dihargai dan direspek; Ingin mengembangkan hubungan baik dengan pemimpin, manajer dan koleganya; Menginginkan pekerjaan yang bermakna; Berkeinginan memperoleh penghargaan dan pengakuan atas prestasi yang dicapai; Menginginkan tanggung jawab atas ketergantungan dan kepasifannya; Menginginkan pendekatan kepemimpinan yang diarahkan oleh dirinya sendiri terhadap pendekatan otoritas; Menginginkan organisasinya berhasil dan mencapai tujuan dan sasaran bisnisnya. Agar pendekatan kepelayanan dapat terwujud, pemimpin tersebut menerapkan kesepuluh prinsip kepemimpinan pengembangan yang dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu: Prinsip yang berorientasi pada aspek intrinsik, Prinsip yang berorientasi pada pekerja, Prinsip yang berorientasi pada kinerja, dan Prinsip yang beroientasi pada organisasi.

BAB V

BEST PRACTICE KEWIRAUSAHAAN SEKOLAH

Dalam dokumen 22 Kewirausahaan Sekolah (Halaman 37-44)

Dokumen terkait