• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membedakan Jumlah Hibah Antara Ahli Waris

BAB III KEDUDUKAN AHLI WARIS LAIN DARI HIBAH YANG

B. Membedakan Jumlah Hibah Antara Ahli Waris

Melindungi anak yang dalam keadaan lemah baik dalam bidang kesehatan, perekonomian dan lain sebagainya adalah merupakan kewajiban orang tua. Anak yang lemah berhak mendapatkan perlindungan bukan saja dari orang tuanya, tetapi juga dari saudara kandungnya serta kaum muslimin pada umumnya. Kedudukan

orang lemah sangat dilindungi dalam Islam. Ia tidak boleh dihina ataupun disengsarakan. Orang lemah dalam Islam berhak mendapatkan bagian dari zakat, shadaqah, hibah, wasiat dan lain sebagainya. Berkenaan dengan ini Allah berfirman, yang artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bahagian.131

Ayat tersebut menjelaskan bahwa harta yang dikeluarkan oleh orang kaya itu adalah milik orang miskin. Jadi harta yang ia keluarkan itu, sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik orang miskin yang dititipkan Allah kepadanya. Allah SWT hendak menguji hambanya, apakah ia berkenan mengeluarkannya dalam bentuk zakat, hibah atau tidak. Jika ia mau mengeluarkan zakatnya, Allah akan memberikan ganjaran pahala baginya, jika ia enggan mengeluarkannya, maka ia mengingkari nikmat yang Allah berikan padanya.

Kewajiban membantu orang lemah harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan, selama kondisi kelemahan itu masih melekat padanya Jika kelemahan tersebut tidak lagi terdapat padanya, maka kewajiban membantunya juga tidak ada. Hal ini sesuai dengan bunyi kaidah: Hukum itu berputar bersamaillatnya132 dalam mewujudkan dan meniadakan hukum.

Sifat lemah di sini bertindak sebagai illat, sedangkan kewajiban membatu orang lemah adalah bertindak sebagai hukum yang lahir. Jikaillat-nya hilang, maka hukumnyapun hilang, begitu sebaliknya.

131Qur'an Surat Az Zariyat ayat 19.

Fuqaha telah Sepakat bahwa seseorang itu boleh menghibahkan seluruh hartanya kepada orang lain (bukan ahli waris). Selanjutnya mereka berselisih pendapat tentang orang tua yang mengutamakan (pilih kasih) terhadap sebagian anaknya atas sebagian yang lain dalam soal penghibahan sebagian atau seluruh hartanya kepada sebagian anak.

Menurut Malik, boleh membedakan pemberian hibah di antara anak-anak. Jumhur fuqaha amsar (negeri-negeri besar) berpendapat bahwa hibah seperti itu makruh hukumnya. Tetapi apabila terjadi, maka sah pula.133

Ahmad Rofiq berpendapat bahwa orang tua boleh melebihkan hibah kepada satu anak, asal dalam pemberian hibah tersebut, dilakukan secara musyawarah dan atas persetujuan anak-anak yang ada. Ini penting, agar tidak terjadi perpecahan antara keluarga.134 Sedangkan ulama Jumhur berpendapat, tidak wajib mempersamakan hibah antara anak kandung, melainkan hukumnya sunat saja.

Dalam masalah hibah barang, kalau ada orang tua yang menghibahkan dalam keadaan sakit, hibahnya dibatasi maksimal 1/3 saja dari keseluruhan harta yang dimiliki. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Imran ibnu Husain yang menjelaskan tindakan Nabi SAW ketika (lmran ibnu Husain) memerdekakan enam orang hamba dalam saat menjelang kematiannya, maka Rasulullah SAW memerintahkan (agar dimerdekakan 1/3nya saja). Maka ia memerdekakan sepertiganya.135 Dalam KHI Pasal 210 ayat (1) juga dinyatakan seseorang dapat menghibahkan sebanyakbanyaknya 1/3 harta bendanya kepada orang lain atau lembaga di hadapan dua orang saksi untuk dimiliki.

133Ahmad Rofiq,Hukum Islam di Indonesia,(Jakarta: Rajawali Pers, 1995), hal. 472.

134Ibid.,hal. 473.

Dalam masalah hibah barang, sebaiknya orang tua tidak membedakan pemberiannya di antara sesama anak. Tidak dihalalkan bagi seorangpun untuk melebihkan sebagian anak-anaknya dalam hal pemberian di atas anak-anaknya yang lain, karena hal demikian akan menanamkan permusuhan dan memutuskan hubungan silaturrahmi yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya. Imam Ishak As Tsauri dan sebagian orang-orang Maliki berpendapat bahwa sesungguhnya melebihkan sebagian anak-anak di atas sebagian yang lain itu perbuatan yang batil dan curang. Maka orang yang melakukan perbuatan itu hendaklah membatalkannya, karena Al Bukhari pun telah menjelaskan hal ini.136 Dalam hal ini ada sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW bersabda: Persamakanlah di antara anak-anakmu di dalam pemberian. Seandainya aku hendak melebihkan seseorang, tentulah aku lebihkan anak-anak perempuan.

Orang-orang Hanafi, Syafi.i, Malik dan Jumhurul Ulama berpendapat bahwa mempersamakan di antara anak-anak itu sunat dan pelebihan di antara mereka itu makruh walaupun dapat dijalankan. Mereka menjawab hadist An Numan Walaupun demikian, orang tua tetap diperbolehkan menghibahkan hartanya kepada seluruh anak-anaknya dengan jumlah yang berbeda satu sama lain. Karena di dalam hibah itu sendiri, tidak ada ketentuan ukuran minimal dan maksimalnya. Syariat Islam memberikan kebebasan penuh kepada pemilik harta untuk menentukan berapa jumlah hibah yang akan diberikannya dan kepada siapa hibah tersebut diserahkan, asalkan didasarkan pada prinsip keadilan. Hanya saja dalam hibah barang ini, kalau orang tua membedakan jumlah hibah yang akan diberikan kepada anak-anaknya, perlu diadakan musyawarah dengan seluruh anak kandung, agar tidak terjadi permasalahan

yang tidak diinginkan dikemudian hari. Pelaksanaan musyawarah tersebut bukan merupakan perintah nash, tetapi hanya merupakan pertimbangan kemaslahatan semata di antara keluarga.

Selanjutnya, dalam masalah hibah manfaat, orang tua dibolehkan secara mutlak memberikannya kepada anak tertentu saja dan tanpa memberikannya sama sekali kepada anak yang lain atas dasar pertimbangan keadilan. Dalam pemberian hibah manfaat ini, tidak mesti jumlahnya sama antara sesama anak. Siapa yang dianggap paling membutuhkan, maka kepadanya diberikan seluruh manfaat yang terdapat dalam harta milik orang tua tersebut.

Dalam hibah manfaat, bendanya tetap milik orang tua, yang dihibahkannya hanya manfaatnya saja. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi anak yang lain yang sudah mapan merasa dirugikan atau merasa diperlakukan tidak adil, karena zat benda tersebut masih ada, yang dihibahkan adalah manfaatnya saja. Sebagai contoh, seseorang menghibahkan hasil dari seluruh perkebunannya kepada anak yang paling kecil untuk kepentingan sekolahnya. Jika, kelak dia sudah berhasil menamatkan sekolahnya, maka manfaat harta tersebut kembali kepada orang tua. Dan jika orang tuanya telah meninggal terlebih dahulu, maka manfaat harta tersebut, kembali kepada keluarganya.

Dalam masalah hibah manfaat ini, orang tua seharusnya menyediakan sebagian hartanya, baik berupa pertanian, perkebunan dan lain sebagainya sebagai harta produktif bagi kepentingan anak-anaknya. Artinya, segala hasil yang didapat dari harta produktif tadi dapat dipergunakan oleh anak yang membutuhkan. Dana

tersebut memang khusus disediakan bagi anak-anak yang dalam posisi lemah, baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang kesehatan. Harta produktif tadi sangat penting keberadaannya bagi kehidupan keluarga. Sebab dengan adanya harta produktif tadi, kepentingan anak yang dalam keadaan membutuhkan dapat terlindungi dengan tidak mengurangi harta benda milik orang tuanya. Yang dipakainya hanya hasil yang didapat dari harta produktif tadi, bukan dengan menjual sebagian harta orang tuanya. Cara seperti ini sangat baik dikembangkan demi kemaslahatan kehidupan suatu rumah tangga.137

Dengan demikian, pada umumnya hibah itu ada dua macam, yakni hibah barang dan hibah manfaat. Dalam hibah barang, orang tua dapat memberikannya kepada sebagian anaknya dengan pertimbangan keadilan. Adil bukan berarti harus sama, namun disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak. Inilah di antara ajaran kebijakan syariat Islam, dimana orang mendapatkan bagian dan perlindungan sesuai dengan kebutuhannya.

C. Pembatalan Akta Hibah Yang Diberikan Ketika Pemberi Hibah Dalam

Dokumen terkait