• Tidak ada hasil yang ditemukan

Elihu berdiri dalam rasa takut dan gentar saat dia memikirkan kuasa Allah yang ditunjukkan dalam alam. Guntur, salju, dan hujan semuanya berbicara kepada manusia tentang eksistensi Allah yang benar, kudus, dan mahakuasa (Ayb. 37:1–13; Kis. 14:17; Rm. 1:19–20).

Elihu menantang Ayub untuk memikirkan kebesaran Allah seperti yang ditunjukkan dalam karya penciptaan-Nya. Karena manusia tidak dapat memahami cara kerja Allah dalam alam atau alam semesta, bagaimanakah mungkin dia berharap untuk bisa memahami cara kerja-Nya sehubungan dengan penderitaan manusia? Kita telah melihat kebesaran Allah dalam karya penciptaan-Nya dan kita tidak mempertanyakan Dia dalam hal itu. Oleh karena itu, hak apakah yang kita miliki untuk mempertanyakan Dia tentang perkara lain apa pun (Ayb. 37:14–20)? Kita tidak dapat memahami pemikiran, kuasa, atau cara Allah beroperasi—Dia terlalu besar untuk bisa dipahami secara tuntas oleh pikiran manusia (Rm. 11:33). Namun, Allah itu adil dan akan berurusan dengan manusia sesuai dengan belas kasih-Nya. Dan jika manusia mau menjumpai-Nya dengan iman, dia dapat menemukan pengampunan (Ibr. 11:6). Maka, kita harus menyembah Dia dalam ketaatan (Ayb.

37:23–24; Mzm. 134).

Dengan ayat-ayat ini, pidato Elihu diakhiri. Berbeda dengan ketiga sahabat Ayub, Elihu tidak bersikeras bahwa penderitaan Ayub terjadi karena dosa yang tersembunyi. Elihu mengklaim bahwa penderitaan Ayub diperpanjang karena dia kurang rendah hati. Ayub telah berdosa karena tidak menerima penderitaannya dan menuduh Allah telah bertindak terlalu keras. Dia menantang Ayub untuk bertobat dan menerima upaya Allah untuk mengajarinya. Jika dia mau melakukan ini, akan ada pemulihan dan berkat dari Tuhan. Elihu tidak membahas alasan bagi penderitaan Ayub, tetapi dia meyakinkan Ayub bahwa Allah selalu adil dan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan umat-Nya (Ibr. 12:11).

Dalam menunjukkan kepada Ayub apa yang menjadi dosanya, Elihu menuntunnya kepada

pertobatan. Kita menduga, dengan tidak adanya tanggapan Ayub kepada Elihu, bahwa Ayub telah melihat kesalahannya dan siap untuk mendengar suara Allah.

RENUNGKAN: Apakah tantangan utama Elihu kepada Ayub?

DOAKAN: Bapa, tolonglah aku untuk tunduk kepada kehendak-Mu karena jalan-Mu adalah jalan yang terbaik.

SABTU, 18 JUNI 2022 AYUB 38:1–11 MAZMUR 73:24–28

Takut akan Allah adalah jiwa dari kesalehan. (J Murray) ALLAH BERBICARA

Melalui hampir seluruh Kitab Ayub, kita telah melihat orang-orang memberi argumen-argumen bagi pendirian mereka. Ketiga teman Ayub begitu yakin bahwa pendirian mereka benar sehingga mereka berseru kepada Allah untuk menghakimi mereka yang memiliki pandangan-pandangan yang berbeda (Ayb. 11:5). Ayub begitu yakin bahwa dirinya benar sehingga dia secara aktual

mempertanyakan tindakan-tindakan Allah.

Ayub begitu menginginkan agar Allah berbicara, tetapi sekarang, ketika Dia melakukan itu, Dia tidak mengatakan apa yang Ayub harapkan. Dia tidak berbicara mengenai kebenaran-Nya atau membiarkan Ayub menanyai Dia tentang penderitaannya. Sebaliknya, suara Tuhan mengguntur dari badai dan mempertanyakan perkataan Ayub yang tidak bijaksana. Allah menuntut agar Ayub

bersiap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Dia miliki untuknya (Ayb. 38:1–3).

Ayub memiliki kebijaksanaannya sendiri dan kebijaksanaan teman-temannya, tetapi dia tidak memiliki nasihat Allah yang merupakan satu-satunya jalan menuju kebenaran yang kekal. Tuhan akan memberikan nasihat-Nya jika kita mau mendengarkan Dia (Ams. 19:21).

Dua pertanyaan ditujukan kepada Ayub oleh Allah yang Mahakuasa. Pertama: Ayub, di manakah kamu ketika dasar bumi diletakkan? Kedua: Ayub, siapakah yang menentukan batas-batas lautan dan menahannya di tempatnya (Ayb. 38:4–11)? Kita mengingat dari Kitab Suci bahwa kuasa dari suara Allahlah yang mengunci lautan pada tempatnya (Kej. 1:9). Kesadaran akan kuasa yang perkasa ini seharusnya membuat manusia berdiri dalam perasaan takjub dan menyembah Allah yang Mahakuasa. Allah bertanya kepada Yeremia, “Masakan kamu tidak takut kepada-Ku?” (Yer.

5:22). Ayub dan teman-temannya telah kehilangan rasa takut yang penuh hormat akan Allah.

Padahal dalam rasa takut inilah kita menemukan permulaan hikmat.

Saat kita melintasi sepanjang jalan kehidupan, kiranya kita berhati-hati untuk tidak kehilangan kepercayaan kita yang penuh hormat kepada Allah. Semoga kita terus-menerus memikirkan

kuasa-Nya yang perkasa dalam penciptaan dan mengingat bahwa kuasa ini sedang bekerja demi kita.

Hal ini seharusnya membuat kita memiliki roh kerendahan hati sehingga kita bisa belajar dari Firman Allah yang kudus.

RENUNGKAN: Dua pertanyaan apakah yang Allah ajukan kepada Ayub?

DOAKAN: Bapa, jagalah kepercayaanku yang penuh hormat kepada-Mu. Kiranya aku jangan pernah kehilangan itu.

HARI TUHAN, 19 JUNI 2022 (PAGI) AYUB 38:12–39:3 (TB)

MAZMUR 135:1-7

Tingginya Allah pasti membuat manusia merendah. (G Swinnock) KEAGUNGAN ALLAH

Allah terus menanyai Ayub untuk menyatakan keagungan-Nya dan ketidakberartian Ayub sejauh menyangkut penciptaan. Allah menanyai Ayub apakah dia pernah menerbitkan matahari sehingga terangnya akan mengganggu orang yang jahat. Atau apakah dia pernah menyebabkan cahaya matahari bersinar di muka bumi seperti meterai di permukaan tanah liat. Kiasan-kiasan ini menggambarkan efek matahari yang bergerak melintasi langit, menandai dunia seperti segel dan menyebabkan fitur-fitur dunia menonjol seperti gambar-gambar pada pakaian.

Kita memperhatikan bahwa matahari memiliki efek lain karena merampas terang milik orang-orang yang fasik. Terang mereka, kata Kitab Suci, sebenarnya adalah kegelapan yang menyembunyikan perbuatan jahat mereka. Manusia lebih mencintai kegelapan daripada terang karena perbuatan mereka jahat (Ayb. 38:12–15; 24:16–17; Yoh. 3:19).

Tuhan mengajukan sebuah pertanyaan lain, “Apakah Ayub mengerti luasnya bumi, atau kuasa Allah yang membagi siang dan malam” (Ayb. 38:18–21; Kej. 1:16–18)?

Allah meminta Ayub untuk memikirkan siklus alam. Kitab kuno ini memberikan kepada kita deskripsi yang terperinci tentang bagaimana bumi diairi, sesuatu yang tidak ditemukan oleh para ilmuwan entah selama berapa abad, yang menunjukkan sekali lagi pengilhaman Allah atas Firman-Nya (Ayb. 38:22–30).

Allah bertanya kepada Ayub tentang langit. Bisakah dia memahami kuasa yang ajaib yang

mengendalikan alam semesta? Saat ini, para ilmuwan yang diperlengkapi dengan perangkat teknis paling modern mengagumi benda-benda langit yang terlalu banyak untuk dihitung. Namun, Allah bukan hanya mengetahui berapa jumlahnya, tetapi juga mengetahui nama masing-masing (Ayb.

38:31–33; Mzm. 147:4). Allah melanjutkan dengan serangkaian pertanyaan lain tentang naluri yang Dia ciptakan pada binatang. Dapatkah seseorang memahami hikmat yang seperti demikian (Ayb.

39:1–3; Mzm. 147:9)?

Tidak diragukan lagi, ketika Ayub memikirkan keagungan dan kuasa Tuhan, dia merasa sangat rendah hati. Kita juga harus merasakan ketakjuban terhadap keagungan Tuhan dan kasih-Nya kepada ciptaan-ciptaan seperti diri kita sendiri (Mzm 8:4).

RENUNGKAN: Mengapakah Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada Ayub?

DOAKAN: Bapa, kiranya aku menggunakan lebih banyak waktu untuk merenungkan keagungan-Mu.

HARI TUHAN, 19 JUNI 2022 (MALAM) AYUB 39:4–33 (TB)

MAZMUR 8:1–9

Mencipta memperlukan kuasa yang tidak terbatas. Segenap dunia pun tidak mampu menjadikan seekor lalat. (T Watson)

Dokumen terkait