Perubahan Dalam Pemerintahan Desa
Kotak 7 Mengatur hutan adat di Sipahit Lidah, Jambi
6.4. Meminta pemerintahan desa akuntabel
Protes terbuka menyangkut kinerja yang tidak menggembirakan telah berkurang, dibandingkan LLI2. Dalam LLI2, di tengah perjuangan untuk “reformasi”, hampir 40% desa yang mengalami pergantian pemimpin memiliki cerita mengenai upaya mereka menuntut akuntabilitas – baik dengan melakukan demonstrasi terbuka terhadap orang-orang tertentu dalam pemerintahan desa atau tidak memilih petahana dalam pilkades. Sekarang proporsi desa seperti ini turun menjadi 23%: yang 15% kalah di periode kedua karena kepemimpinannya dinilai lemah, dan yang 8% dihentikan di tengah jalan lantaran terlibat kasus korupsi.
Data rumah tangga juga menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih rendah. Prosentase responden rumah tangga yang menyatakan bahwa penduduk mengungkapkan ketidaksenangan kepada pemerintahan desanya (dalam empat tahun terakhir) telah turun dari sekitar satu per tiga menjadi sekitar satu per empat dari LLI2 ke LLI3 (Tabel 19). Meskipun pemerintah desa bekerja relatif lebih baik, tetap ada sekitar 26% responden yang mengaku tidak puas – tidak begitu rendah dibandingkan dengan proporsi pada LLI2 di kala ketidakpuasan politik mencapai puncaknya dan biasanya dinyatakan secara terbuka. Bagi responden yang menyatakan tidak ada ungkapan ketidakpuasan, rasa puas terhadap pemerintah tampak meningkat. Jumlah yang menjawab bahwa “Tidak ada masalah dengan kepemimpinan” di desanya, naik 20 poin persentase menjadi sekitar 90%. Para warga desa juga tidak melakukan protes terbuka seperti pada LLI2 karena menurut mereka itu tidak efektif, sulit mengorganisasi protes, atau takut akan akibatnya.
Tabel 19. Pernyataan ketidakpuasan
Apakah penduduk menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah desa?
LLI2 LLI3
% %
Total Jambi Jawa NTT Total Jambi Jawa NTT
Menyatakan ketidakpuasan? Ya 32 33 20 54 26 34 12 41 Tidak 68 67 80 46 74 66 88 59 Kenapa tidak? (jika tidak)
1. Tidak ada masalah dengan para pemimpin di sini
71 63 82 55 91 85 98 82 2. Ada masalah dengan
pemimpin ini, tetapi tidak akan terjadi perubahan jika kami protes
8 10 4 13 3 6 0 2 3. Ada masalah dengan
pemimpin ini, tetapi sulit untuk mengorganisasi penduduk desa ini
2 4 1 2 0 0 4. Ada masalah dengan
pemimpin ini, tapi penduduk takut untuk menyatakan ketidakpuasan mereka karena khawatir konsekuensinya. 14 19 9 17 5 5 1 16 5. Lainnya 5 4 4 13 0 1 Tentang apa? (jika ya 1. Korupsi dana pembangunan 39 32 23 61 15 8 19 23 2. Layanan pemerintah yang buruk 7 5 7 8 13 2 29 21 3.Tidak jujur/intervensi
dalam pemilihan kepala desa
2 1 4 1 1 4. Tidak puas pada
keputusan pemerintah 10 8 18 9 24 25 17 27 5. Tidak puas pada kinerja
pemerintah 16 15 23 11 38 56 19 21 6. Nepotisme 5 8 2 3 1 1 1
Sumber: Survei rumah tangga LLI2 dan LLI3
Bagi mereka yang menyatakan ketidakpuasan, data survei menunjukkan bahwa fokus ketidakpuasan mereka telah berubah jauh sejak LLI2, dari korupsi ke layanan pemerintah. Dalam LLI2, “korupsi dana pembangunan desa” merupakan bagian terbesar (sekitar 40%) dari semua ketidakpuasan yang terlontar. Pada LLI3, hanya 15% dari semua ketidakpuasan yang dinyatakan berkaitan dengan korupsi. Sementara proporsi ketidakpuasan terhadap kualitas layanan, keputusan pemerintah, dan kinerja pemerintah desa, masing-masing meningkat setidaknya dua kali lipat. Dilihat per wilayah, pola alasan bagi ketidakpuasan yang diekspresikan jauh berbeda antara wilayah satu dengan yang lain, namun di ketiga provinsi ada penurunan persentase korupsi sebagai motivasi untuk melakukan protes (meski korupsi tetap merupakan alasan yang paling umum di NTT dan Jawa
96 STUDI KELEMBAGAAN TINGKAT LOKAL KE-3
LAPORAN AKHIR
Tengah). Ada serangkaian penjelasan yang mungkin bisa diberikan di sini, di antaranya penurunan angka korupsi atau cara-cara sogok kian canggih. Bisa juga diinterpretasikan bahwa masyarakat semakin dewasa dalam menyuarakan protes – lebih pada hal-hal yang terkait dengan hak mereka sebagai warga (untuk mendapatkan layanan yang baik, memberi masukan dalam keputusan-keputusan, dan mendapatkan pemerintah yang efektif ), daripada menanggapi tindakan yang memang sudah jelas salah atau bahkan tindakan kriminal.
Untuk kasus-kasus ketidakpuasan yang diekspresikan, ada perubahan yang patut dicatat (dari LLI2 ke LLI3) dalam hal metode ekspresi, dari demonstrasi ke “diskusi dengan teman-teman”. Diskusi dengan teman-teman bahkan telah menjadi pilihan yang lebih populer (cara ini telah menjadi cara menyampaikan ketidakpuasan yang paling sering dilakukan pada LLI2), khususnya di Jawa dan Jambi (Tabel 4). Demonstrasi tidak lagi merupakan pilihan yang populer untuk menyatakan ketidakpuasan, khususnya di Jambi dan Jawa. Pada LLI3, masyarakat yang tidak puas mulai lebih sering berbicara dengan petugas pemerintah, terutama di NTT.
Manakala ketidakpuasan dinyatakan, tampaknya semakin sulit mengajak orang lain untuk terlibat yang barangkali merefl eksikan penurunan aktifi tas kelompok masyarakat secara keseluruhan. Kalau ada yang lain terlibat dalam pemecahan masalah pada LLI3, kebanyakan mereka adalah warga lain, sebagaimana pada LLI2. Meski demikian, dalam LLI3 kelompok lain yang paling sering adalah “anggota rumah tangga lain”, sementara frekuensi kumulatif dari “Kelompok Masyarakat”, “Pemuka Masyarakat”, dan “Pemerintah Desa” hanya setengah dari yang ditemukan pada LLI2. Dengan kata lain, pada LLI3, semakin kecil kemungkinan kelompok masyarakat dan tokoh masyarakat telibat dalam penyataan ketidakpuasan dibandingkan dengan masa LLI2.
Tabel 20. Jenis-jenis pernyataan ketidakpuasan
Kapan penduduk menyampaikan rasa tidak puas kepada pemerintah desa
LLI2 LLI3
Total Jambi Jawa NTT Total Jambi Jawa NTT
% %
Bagaimana itu dinyatakan ?
1. Diskusi dengan teman 49 58 53 34 67 81 83 35 2. Demonstrasi/ protes terbuka 20 10 9 41 8 4 18 3. Mengontak pemuka masyarakat 7 4 16 3 5 5 2 8 4. Mengontak petugas lain 4 7 2 1 14 9 9 27 5. Lainnya 19 19 17 21 2 7 1 Apakah yang lain ikut ? Ya 58 48 63 66 41 46 24 44 Tidak 42 52 43 34 59 54 76 56
Jika ya, siapa ?
1. Anggota rumah tangga ini 6 9 2 6 18 7 14 40 2. Kelompok masyarakat 15 19 13 14 5 1 7 12 3. Tokoh publik 22 14 24 28 9 7 14 12 4. Pemerintah desa 8 1 8 14 7 1 19 5. Warga lain 29 20 46 24 59 82 57 19 6. Orang luar 1 7. Lainnya 2 7 8. Tidak tahu 11 20 6 6 2 1 7
Kapan penduduk menyampaikan rasa tidak puas kepada pemerintah desa
LLI2 LLI3
Total Jambi Jawa NTT Total Jambi Jawa NTT
% % Apakah masalahnya terselesaikan? 1. Ya 23 18 30 24 29 22 21 46 2. Ya, sebagian terselesaikan 12 16 7 11 9 7 16 8 3. Ya terselesaikan tetapi akan muncul lagi
4 6 1 5 12 15 16 6
4. Tidak 61 61 62 60 49 55 48 39
Sumber: Survei rumah tangga LLI2 and LLI3
Lepas dari turunnya tingkat pernyataan ketidakpuasan, desa-desa tampaknya lebih efektif dalam mengarahkan ketidakpuasan mereka kepada pihak-pihak yang dapat menyelesaikan masalah. Masalah-masalah terselesaikan (secara tuntas) kira-kira 30% pada LLI3, naik dari sekitar 23% pada saat LLI2. Meskipun ada banyak alternatif penjelasan, temuan ini dapat mendukung lebih jauh mengenai kemungkinan telah terjadi pendewasaan dalam menyuarakan pendapat. Penduduk desa barangkali menggunakan pernyataan ketidakpuasan secara lebih hati-hati, karena yang terpenting bagi mereka adalah meningkatkan hasil, daripada hanya sekadar sebagai alat untuk menyatakan frustasi terhadap para pemimpin yang korup.
Protes lebih sedikit tidak berarti bahwa semuanya baik. Data kualitatif menemukan tiga kasus di mana kepala desa bertanggungjawab atas protes-protes (protes menentang pengenaan pungutan pada dua desa di Jambi dan Jawa Tengah dan protes terhadap seorang kepala dusun di sebuah desa di Jawa Tengah). Dalam kasus lain, penduduk bisa jadi takut atau apatis, sebagaimana yang terjadi di desa-desa dengan kepala desa yang memiliki jejaring kuat atau mendapat dukungan dari klan tetapi tidak bekerja untuk kepentingan masyarakat desa. Hal yang sama terjadi pada desa yang tidak mengalami pergantian kepala desa. “Warga desa tampaknya tidak terlalu peduli bagaimana pemerintah desa bekerja. Mereka terlalu sibuk mengurus pekerjaan mereka sendiri,” kata seorang warga desa di Jambi. Mekanisme akuntabilitas melalui pilkades barangkali telah menggantikan protes terbuka sebagai alat untuk mengganti kepala desa yang tidak memuaskan. Barangkali ini merupakan pilihan “paling pragmatis” yang tertinggal manakala, seperti yang dibicarakan di depan, penduduk desa dibatasi oleh patronase, segan, atau memang tidak memiliki fi gur pemimpin yang bisa memprakarsai protes-protes.
Peluang untuk menyingkirkan keluarga atau klan yang berkuasa adalah melalui pilkades. Meskipun kebanyakan kepala desa baru terpilih karena mendapatkan dukungan yang kuat dari klan mereka (khususnya di Jambi), atau memiliki keluarga besar yang relatif berada, atau karena dianggap lebih baik dari para pesaingnya, tetap muncul sejumlah pemimpin baru. Pada satu desa di Jambi, kepala desa baru merupakan pemimpin pertama di desa itu yang bukan berasal dari klan yang berkuasa. Ini mengindikasikan ketidaksukaan masyarakat desa atau kelompok yang lebih kecil terhadap kelompok yang mereka lihat sebagai “orang-orang sombong”. Masih di Jambi, di desa lain, anak pendatang (seorang pendatang dari Bengkulu yang menikah dengan perempuan dari desa tersebut) terpilih dua kali berturut-turut, 2003 dan 2009. Di salah satu desa Jawa Tengah, kepala
98 STUDI KELEMBAGAAN TINGKAT LOKAL KE-3
LAPORAN AKHIR
desa yang baru berasal dari sebuah dusun kecil dan dari kelompok agama “marjinal” (“abangan” – Islam yang lebih sinkretik; lihat Kotak 6) dan di desa yang lain anak dari kepala desa yang lama, yang ayah dan abangnya pernah menjadi kepala desa, kalah karena para penduduk desa menginginkan perubahan (meskipun kepala desa yang baru juga masih merupakan kerabat – dikenal sebagai orang saleh tapi ternyata menjadi pemimpin yang lemah). Kecuali yang terakhir, semua kepala desa baru tersebut mewakili kelompok yang membawa perbaikan dalam tata kelola di desa (Tabel 2).
Singkatnya, penduduk desa berani mengganti pemimpin mereka lewat kotak suara. Barangkali mereka tidak selalu mendapatkan kandidat yang tepat – banyak juga kepala desa baru yang tidak responsif, transparan dan partisipatif – tapi jelas mereka tidak seotokratik pendahulu mereka di LLI2.