• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memperbaiki Hubungan Silaturrahim

Dalam dokumen Oase di Tengah Kegersangan (Halaman 103-107)

Islam mengajarkan kepada umatnya empat pedoman yang harus menjadi pegangan untuk kesempurnaan silaturrahim, mempererat hubungan dengan sesama. Keempat hal ini masing-masing terdiri dari dua hal yang harus selalu diingat dan dua hal yang harus segera dilupakan.

Hal pertama dari dua hal yang perlu diingat tersebut adalah kita harus banyak-banyak mengingat kebaikan yang diberikan oleh orang lain kepada kita. Yang kedua adalah kita perlu mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan terhadap orang lain. Sedangkan dua hal yang harus segera kita lupakan adalah pertama kita harus segera melupakan kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain. Yang kedua adalah kita harus segera melupakan kesalahan yang kebetulan dilakukan orang lain kepada kita.

Dengan mengingat kebaikan orang lain kita akan menjadi orang yang banyak berterima kasih. Sikap ini lebih jauh akan memunculkan kesadaran balas budi, membalas dengan yang lebih baik atau paling tidak memberikan kebaikan yang sepadan dengan kebaikan yang telah kita dapatkan. Masing-masing pribadi kemudian akan berusaha menjaga hubungan baik yang telah terjalin karena mereka merasa mendapatkan manfaat dari hubungan tersebut. Sedangkan yang kedua, mengingat kesalahan-kesalahan kita terhadap orang lain akan memunculkan sikap hati-hati, waspada agar tidak mengulang kesalahan tersebut. Rasa rendah hati tanpa kesombongan akan menghiasi perilaku kita karena kita menyadari ternyata kita sama dengan orang lain, tidak sempurna bahkan memiliki banyak kesalahan. Hal ini kemudian bisa mencetak pribadi yang bisa bersikap jujur, sportif dan kemudian banyak-banyak mengakui kesalahan dan berani meminta maaf.

Sedangkan dua hal yang perlu segera dilupakan adalah kebaikan kita dan kesalahan orang lain. Melupakan kebaikan yang telah kita berikan akan memberikan dampak positif yaitu menjadikan kita pribadi-pribadi ikhlas tanpa pamrih. Dengan melupakan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan kita akan segera terhindar dari godaan untuk membesar-besar diri dan berbangga dengan amal kebaikan tersebut. Bukankah mengingat-ingat kebaikan yang kita lakukan lebih jauh dapat menggiring kita kepada keinginan untuk dipuji? Dan bukankah gila pujian ini adalah salah satu senjata syaitan untuk menjatuhkan kita? Di samping itu ternyata orang lebih mudah jatuh karena pujian daripada kritikan.

Melupakan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain kepada kita akan menjadikan kita sebagai pribadi pemaaf. Dan sebuah hubungan yang dibangun dengan sikap saling memaafkan kesalahan dan kekurangan orang lain, menerima dengan lapang dada tanpa tersirat keinginan untuk balas dendam adalah hubungan yang Insya Allah diridhoi oleh Allah.

Dalam hidup ini kita senantiasa terlibat dalam empat keadaan ini. Suatu ketika orang berbuat baik kepada kita dan pada kesempatan lain mereka khilaf dan melakukan kesalahan kepada kita. Demikian juga suatu ketika kita pernah berbuat kebaikan kepada orang lain. Pernah juga mungkin tanpa sengaja kita melakukan kesalahan kepada mereka. Keempat hal inilah yang harus kita pegang untuk memperkuat tali silaturrahim. Tinggal sekarang bagaimana kita melatih diri kita untuk melakukan keempat panduan ini dengan baik. Artinya jangan sampai kita tertipu untuk melakukan sebaliknya. Jangan sampai kita tertipu untuk mengingat kebaikan-kebaikan kita dan mengingat kesalahan orang lain. Yang pertama kita bisa terperosok menjadi orang yang sombong, tidak ikhlas beribadah. Yang kedua bisa menjebak kita menjadi orang-orang pendendam. Jangan juga kita sampai melupakan kebaikan-kebaikan orang lain dan melupakan kesalahan-kesalahan kita. Bila kita melupakan kebaikan orang lain, kita akan menjadi pribadi gersang, kering tanpa kasih-sayang, tanpa niat balas-budi. Dan yang lebih parah, bila kita terbiasa melupakan kesalahan-kesalahan kita, kita akan menjadi orang-orang fasik, terlena tidak sadar dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Setelah menjadi besar, dan membahayakan, barulah kita tercengang dengan banyaknya kesalahan kita.

Mari kita banyak-banyak mengingat kebaikan yang telah dilakukan orang lain agar bisa kita membalas budi. Dan mari kita segera melupakan kebaikan yang pernah kita berikan kepada orang lain agar kita menjadi orang yang ikhlas. Insya Allah apabila hal ini bisa kita pedomani, maka akan tercipta hubungan silaturrahmi yang ikhlas tanpa arogansi, tanpa godaan membesar-besarkan diri.

Ya Allah tunjukilah kami selalu di Jalan-Mu. Amien.

Billahittaufiq Wal Hidayah Sumbawa, 18 Juni 2002

Sabar

Allah SWT pernah menjanjikan untuk menganugerahkan shalawat, keberkatan yang sempurna dan rahmat, serta petunjuk kepada orang-orang yang mampu berbuat sabar (QS. Al Baqarah [2]:157). Hebat kan? Padahal kalau dikaji, sebenarnya fasilitas shalawat ini kita dapati hanya diberikan kepada para nabi rasul. Bahkan secara khusus dalam surat Al Ahzab ayat 56, Allah berfirman ‘Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya’ (QS. Al Ahzab [33]: 56). Akan tetapi, pada ayat dalam surat Al Baqarah di atas, Allah SWT justru menegaskan bahwa fasilitas shalawat ini juga akan diberikan kepada orang-orang yang sabar.

Sekarang setelah mengetahui begitu besarnya balasan bagi orang yang mampu bersabar, tentu kita akan bertanya bagaimana yang dimaksud dengan orang-orang yang sabar. Jawaban atas rasa penasaran kita ini dapat kita temukan pada ayat berikutnya dalam surat Al Baqarah ini. Allah SWT menjelaskan yang dimaksud dengan orang-orang sabar adalah orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (QS. Al Baqarah

[2]:156). Terjemahan ucapan istirjaa’ ini adalah ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan

kepada-Nya-lah kami kembali.’

Untuk mendapatkan fasilitas shalawat ini, syaratnya cukup sederhana yaitu mengucapkan kalimat

istirjaa’ tiap kali mendapatkan musibah. Tentunya pengucapan yang diharapkan adalah pengucapan yang disertai kesadaran mendalam bahwa kita akan kembali kepada Allah. Karena pengucapan seperti inilah yang dapat dikategorikan sebagai pengakuan, kesadaran yang paling tinggi dari seorang hamba tanpa berburuk sangka terhadap musibah yang dihadapinya.

Coba sekarang kita menundukkan pandangan, mengintrospeksi diri sendiri. Kapan atau pada saat

bagaimana kita paling sering menggumamkan kalimat istirjaa’ ini? Mari kita jujur mengakui

bahwa kalimat Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun ini kita ucapkan hanya ketika mendengar

berita kematian saja! Atau dengan kata lain, maaf mari mentertawakan diri sendiri, kita hanya menganggap yang namanya musibah itu hanya berupa kematian. Sementara untuk kejadian-kejadian lain yang tidak mengenakkan, mana pernah kalimat ini terucapkan?

Jangan jauh-jauh, sekarang kita ambil contoh yang paling kecil. Insya Allah semua kita pernah

terantuk batu atau kepala kejedug di tembok. Kalimat apa yang paling sering muncul ketika

mendapat musibah seperti ini? Adakah kesadaran muncul bahwa kita akan kembali kepada Allah

bila kita mendapat musibah sekedar terantuk batu dan kejedug tembok? Maaf, mungkin yang

lebih sering terucap adalah makian kecil-kecilan. Atau paling rendah, kita menghujat, sial!

Kayaknya lebih sering kalimat-kalimat seperti ini ya daripada kalimat istirjaa’ Innaa lillahi wa

innaa ilaihi raaji'uun.

Padahal orang yang memaki ketika mendapat musibah kecil-kecilan seperti contoh di atas sebenarnya adalah orang yang rugi dua kali. Rugi pertama ia mendapat musibah, sakit, dan kerugian berikutnya ia mendapatkan dosa atas makian yang ia keluarkan. Jadi, sudah sakit, dosa lagi.

Terakhir, kalau dipikir-pikir kayaknya juga kita jarang, kalau tidak bisa dibilang tidak pernah, berusaha mendidik diri sendiri atau membiasakan anak kecil dengan sifat mulia yang bernilai tinggi ini. Bahkan lebih sering kita mendidik diri dengan pelampiasan. Bila suatu ketika,

umpamanya, kaki kita terantuk batu, selain tidak menimbulkan kesadaran istirjaa’

mengembalikan kepada Allah, kita juga lebih sering mencari kambing hitam. Kita ajarkan pada diri kita dan kepada anak-anak kita kebiasaan untuk mencari pelampiasan, bukannya ajaran kesabaran. Nah!

Mari kita mendidik diri menjadi hamba yang sabar yang terbiasa mengingat Allah dengan kesadaran akan kembali kepada-Nya setiap kali tertimpa musibah, musibah besar maupun kecil dan bukan mencari-cari orang yang akan disalahkan, bukan pula kambing hitam.

Billahittaufiq Wal Hidayah Sumbawa, 19 Juni 2002

Dalam dokumen Oase di Tengah Kegersangan (Halaman 103-107)

Dokumen terkait