• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Memperingati perjalanan seorang nabi

 

masuk kategori dalam beriman kepada Nabi merupakan salah satu bentuk kepercayaan manusia terhadap utusan Allah (nabi). Wujud hubungan tersebut diciptakan dalam tembang macapat Asmarandana dan Pocung. Di mana tembang di atas merupakan wadah dalam pembuatan tembang dengan unsur agama. Oleh karena itu pengarang berusaha untuk menceriterakan keadaan di sekitarnya salah satunya, yaitu memperingati perjalanan seorang nabi. Berbagai topik, tema, dan amanat di naikkan oleh pengarang sebagai pendukung dalam tembang, agar dapat dikatakan bahwa tembang macapat tersebut dapat dimasukkan dalam ajaran spiritual.

Iman kepada nabi kata arab nabi yang berasal dari kata naba’, yang artinya, pemberitahuan yang besar faedahnya, yang menyebabkan orang mengetahui sesuatu. Kata naba’ hanya diterapkan terhadap pemberitahuan yang tidak mungkin salah. Seorang ahli bahasa arab menjelaskan bahwa kata nabi artinya duta besar antara Allah dan mahkluk yang berakal. Menurut ulama lain, artinya kata nabi ialah orang yang memberikan informasi tentang Allah, dan ini diberi penjelasan lebih lanjut bahwa nabi ialah orang yang diberi informasi oleh Allah tentang keesaan-Nya, dan dibukakan kepadanya rahasia zaman yang akan datang, dan diberitahukan bahwa ia adalah utusan-Nya. Nabi juga disebut dengan rosul yang artinya utusan (Ali 1996: 257-258).

1. Memperingati Perjalanan Seorang Nabi

Allah SWT menyediakan bahan-bahan material untuk merawat jasmani manusia dan menyediakan bahan-bahan rohaniah untuk merawat batin atau jiwa manusia. Bahan-bahan rohani itu berbentuk ajaran yang diturunkan Allah sebagai wahyu melalui Nabi dan Rasul-Nya. Allah SWT mengutus Nabi dan Rasul terdahulu untuk memperbaiki dan membimbing rohani manusia untuk tempat dan waktu

 

tertentu maka ajaran yang dibawanya hanya sesuai dan berlaku untuk tempat dan waktu tertentu itu saja. Meskipun hukum-hukum (syariah)Nya berbeda-beda, akan tetapi aqidah yang dibawahnya sama, yaitu tauhid. Setelah para Nabi dan Rasul membawa syariah yang berlaku setempat dan temporer, Allah mengutus Rasul terakhir yang membawa syariah bagi seluruh manusia dimanapun dan kapanpun mereka berada. Rasul terakhir itu ialah Muhammad SAW yang lahir tahun 53 sebelum Hijriyah di Makkah dan wafat tahun 10 H di Madinah (Depag RI, 1999: 108-110). Seperti pada tembang macapat Pocung dengan judul Prastawa Agung dengan pengarang H. Riyadi Afiat, sebagai berikut.

Muslim sagung mengeti prastawa agung, ing ratri minulya, tindakipun kanjeng Nabi, kanthi wening sowan mangarsi ing Allah. (no. 11 edisi 10)

Terjemahan:

Para muslim memperingati hari besar, malam yang bahagia, perjalanan sang Nabi, dengan tenang datang kehadapan-Nya Allah.

Indikator di atas menekankan bahwa, tema yang terdapat pada larik tembang “Muslim sagung mengeti prastawa agung” menunjukkan tentang peristiwa agung seorang muslim wajib untuk melaksanakan dan memperingati hari besar yang sangat dimuliakan yaitu perjalanan seorang Nabi di malam yang bahagia, untuk memperjuangkan cita-cita yang luhur yaitu menyebarkan agama. Dengan rasa tenang Nabi menghadap Allah. memperingati perjalanan Nabi, Para muslim memperingati dengan senang dan suka cita. Seperti yang terdapat pada tembang macapat Asmarandana dengan pengarang NN yang berjudul Isra’ Mi’raj, sebagai berikut.

Kasmaran arsa mengeti, dhumateng pra rawuh samya, amemuji rahayune, mung ngajab Lilahing Allah, ngelingi ‘njeng Muhammad, amrih tambah rasa syukur, tambah iman maring Allah. (No. 12edisi 15/16)

63   

 

Dengan rasa kasih sayang semua memperingati, untuk semua para penikmat, menyembah dan memohon, hanya dengan restu Allah, mengingat Nabi Muhammad, supaya mendapatkan lebih dalam rasa syukur, serta tambah dalam iman kepada Allah.

Indikator di atas menekankan bahwa, tema yang terdapat pada larik tembang “Kasmaran arsa mengeti” menunjukkan adapun para manusia dalam memperingati perjalanan nabi Muhammad dengan penuh kasih sayang. Para pengikutnya menyembah dan memohon kepada Allah SWT meminta restu-Nya untuk mengenang perjalan seorang Nabi Muhammad yang ditempuh hanya satu malam dengan bahagia berkorban demi cita-citanya pada agama yang disebut dengan Isra’ Mi’raj. Para ciptaan-Nya berharap dengan memperingati hari perjalanan Nabi yaitu Isra’ Mi’raj dapat menambah rasa syukur dan menambah keimanan kepada Allah dan Nabi.

d. Iman kepada Hari Akhir

Iman kepada Hari Akhir adalah salah satu hasil penelitian tema ketuhanan yang terdapat pada tembang macapat dalam majalah Djaka Lodang dengan judul Ajining Sholat dan Eling ing Pati. Tembang macapat dalam majalah Djaka Lodang yang masuk kategori dalam iman kepada hari akhir merupakan salah satu bentuk kehidupan di alam baka. Wujud kehidupan yang diciptakan dalam tembang macapat Dhandhanggula dan Pangkur. Di mana tembang di atas merupakan wadah dalam pembuatan tembang dengan unsur agama. Oleh karena itu pengarang berusaha untuk menceriterakan keadaan di sekitarnya salah satunya yaitu amal dan sedekah dihitung pada hari akhir. Berbagai topik, tema, dan amanat dinaikkan oleh pengarang sebagai

 

pendukung dalam tembang, agar dapat dikatakan bahwa tembang macapat tersebut dapat dimasukkan dalam ajaran spiritual.

Kehidupan di dunia tidak kekal. Akan datang masanya, suatu saat kelak, hari yang dinamakan hari Akhir (hari Kiamat). Pada hari itu, semua makhluk akan mati (terutama manusia) dan akan diminta pertanggungjawabannya, atas apa yang dia lakukan selama hidup di dunia. Menurut Al-Qur’an kehidupan di akhirat adalah lanjutan daripada kehidupan di dunia ini. Barang siapa yang bertaqwa dan mengerjakan amal-amalan saleh di dunia, maka di akhirat mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya barang siapa yang berbuat jahat, di dunia ini mendapat siksaan dan di akhirat demikian pula (Depag RI, 2000: 93-94).

Dokumen terkait