Bukti-Bukti Bahawa Qaradhawi Menyerukan Untuk Mencintai Yahudi Dan Nashrani
3. Mempropagandakan Penyatuan Agama dan Sering Menghadiri Muktamarnya
Dan di antara kesesatan Yusuf Al Qaradhawi adalah upayanya kepada pendekatan berbagai macam agama. Sebelum membeberkan kebatilan Qaradhawi dalam hal ini, terlebih dahulu penulis sampaikan informasi penting bahawa para aktivis gerakan wihdatul adyan (persatuan agama-agama) itu mengkampanyekan diri sebagai para pejuang Islam dan juru dakwah. Untuk menutupi korosakannya, mereka membungkus gerakannya dengan istilah Al Hiwar Bainai Adyan (dialog antaragama).
Para pembaca yang budiman, sebenarnya konsep penyatuan berbagai agama adalah gerakan yang diperjuangkan secara serius oleh yahudi dan Kristian. Upaya ini telah didukung sejak dahulu kala oleh para dai penganut paham wihdatul wujud (Jawa:
manunggaling kawula gusti, peny.) yang sempat padam beberapa waktu.
Pada masa berikutnya berdirilah freemasonry yang berkedok penyatuan tiga agama dan membuang fanatisme Islam dengan sebuah mediator iaitu persamaan iman kepada Allah kerana mereka semua adalah orang-orang yang beriman. (Syeikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Al Abthaal Ii Nazhariyyah Al Khaiath Bainai Islaam wa Ghairihi minal Adyaan
halaman 20)
Gerakan ini telah mengibarkan banyak nama, tokoh, dan simbol. Setiap kali nama-nama dan simbol-simbol tersebut redup maka mereka akan segera menggantinya dengan nama dan simbol yang baru. Maka dikenallah istilah Ad Da'wah Hat Taqaarub Bainai Adyan
(dakwah kepada pendekatan berbagai agama) yang kemudian berganti nama menjadi Al Ikha'ud Diiniy (persaudaraan lintas agama) yang bermarkas di Mesir. Kemudian memakai nama Majma'ul Adyan (organisasi lintas agama) yang bermarkas di Sinai, Mesir. Nama lain yang dipakai adalah Shadaaqah Al Islamiyah Al Masihiyah dan At Tadhamun Al Islami Al Masihiy Dhiddul Syuyu'iy (solidaritas Islam dan Kristian untuk menghadapi komunis).
Dari nama-nama tersebut yang paling populer di masyarakat adalah wihdatul adyan (persatuan agama-agama), tauhidul adyan (penyatuan agama-agama),
tauhidul adyan ats tsalatsah (penyatuan tiga agama), ibrahimiyah, al millatul ibrahimiyah (agama Nabi Ibrahim), al wihdatul ibrahimiyah (persatuan agama-agama Ibrahim), wihdatud diinil ilahil mu'min (persatuan orang-orang yang beriman kepada Tuhan), al mu'minuunal muttahiduun (orang-orang mukmin yang bersatu), an naasu muttahiduun (manusia yang bersatu), ad diyanatul alamiyah (agama-agama dunia),
at ta'ayisy baina adyan, al maliyun (miliaran), al 'alamiyah (globalisasi), dan tauhidul adyan (penyatuan agama). {Al Abthaal li Nazhariyyah Al Khalath Baina I Islaam wa Ghairihi Minat Adyaan halaman 22-23)
Belakangan, dalam Al Hiwar Bainal Adyan (dialog lintas agama) yang digelar dalam sebuah muktamar di Sudan tahun 1415 H/1994 M, Qaradhawi mengakui bahawa ia adalah tokoh yang ikut mempromosikan propaganda yang merusak ini —baik disebut sebagai penyatuan berbagai agama mahupun dialog lintas agama— ketika dia mengatakan:
Secara pribadi aku telah mengajak kepada dialog ini dalam kitab Aulawiyaat Al Harakah Al Islamiyah. Aku mengajak dialog bersama orang-orang barat pada tataran masalah agama dengan para pemuka agama katedral, uskup, dan pendeta. Aku juga menyeru untuk membuka dialog politik bersama orang-orang yang bersangkutan. Aku telah berusaha untuk bertemu muka dan menghubungi mereka sebagaimana telah dilakukan oleh Dr.
Hasan At Turabi
Aku yakin bahawa dialog dalam tataran agama, pemikiran, dan politik adalah dialog yang bermanfaat, dapat menyingkap asumsi negatif dan buruk sangka kepada orang-orang lain. {Al Islaam wal Gharb Ma'a Yuusuf Al Qaradhaawi halaman 86)
Kerana Qaradhawi adalah tokoh aktivis gerakan dialog lintas agama maka tidak menghairankan bila dia berpartisipasi langsung dalam berbagai muktamar di berbagai belahan dunia. Tanggal 26 Mei 1995 yang bertepatan dengan 26 Zulhijjah 1415 H, Qaradhawi hadir dalam muktamar di Moskow yang bertema Islam, Toleransi HAM, dan Agama di Negara Berkembang (Majalah Al Khairiyah nomor 63, Shafar 1416 H)
Kemudian Qaradhawi mengomentari berbagai muktamar yang dihadirinya:
Pada bulan Mei tahun ini aku menghadiri muktamar di Moskow. Muktamar tersebut membicarakan masalah-masalah yang menyangkut kesepahaman antara agama-agama dan bangsa-bangsa di dunia. Dalam acara itu, ikut andil pula tokoh-tokoh agama Kristian, yahudi, dan lain-lainnya. Di akhir musim panas aku juga menghadiri suatu acara penghormatan pertemuan orang-orang Kristian dengan sebahagian kaum Muslimin yang diselenggarakan oleh dewan gereja timur tengah.
(Harian Syarqul Ausath nomor 2789, Jumadil Tsaniyah 1416 H/1995 M)
Qaradhawi juga menghadiri muktamar Islam dan Kristian6 pada bulan Oktober tahun 1995 M. Terhadap muktamar di Jerman yang dihadirinya ia mengatakan:
Semenjak beberapa tahun yang lalu aku telah menghadiri pertemuan antara kaum Muslimin dengan orang-orang Kristian di Jerman. Dan aku ditemani oleh Syeikh Al Ghazali dan sebahagian ustaz-ustaz besar lainnya. (Harian Syarqul Ausath nomor 2789, Jumadil Tsaniyah 1416 H/1995 M)
Qaradhawi tidak membatasi kepada pendekatan bersama yahudi dan Kristian saja bahkan dia juga menyeru untuk mengadakan pendekatan dengan orang-orang nasionalis, ia pernah mengatakan:
Saya pernah menghadiri muktamar nasionalis-Islam di Beirut pada bulan Oktober yang lalu, saya termasuk salah seorang dari anggota tim yang menyampaikan ceramah dari kalangan Islam. Saya menganggap tiada halangan untuk mengadakan kajian antara peserta mengenai nasionalis dan keislaman khususnya di negeri kami negeri Arab. (Lihat referensi sebelumnya)
Kemudian, pendekatan yang dilakukan oleh Qaradhawi tidak terbatas hanya pada dirinya semata bahkan dia mengatasnamakan wakil kaum Muslimin seluruhnya dan menganggap dirinya sebagai juru bicara dengan nama kaum Muslimin semuanya. Ia mengatakan:
Dari pihak kami, kaum Muslimin siap untuk mengadakan pendekatan. Yang penting pada pihak lain ada semangat seperti yang ada pada diri kami dan berinteraksi dengan kami sebagaimana kami berinteraksi dengan mereka, mereka mestinya melakukan pendekatan sepadan dengan pendekatan yang kita lakukan terhadap mereka. {Al Islaam wal Gharb Ma'a Yuusuf Al Qaradhaawi halaman 18) Saya katakan: Benarlah perkataan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
"Jika kamu tidak punya malu maka berbuatlah apa yang kamu suka." (HR. Imam Ahmad dari Ibnu Mas'ud)
6
Begitulah mereka menamakannya, padahal Islam berlepas diri dari hal itu. Kemudian lihatlah kepada perhatian kristen terhadap muktamar-muktamar seperti itu dan semangatnya mereka terhadap orang-orang yang mendukungnya seperti Qaradhawi dan lain-lainnya.
Wahai Yusuf Al Qaradhawi! Siapakah yang mengangkat kamu sebagai wakil kaum Muslimin dan mengucapkan dengan lisan mereka tentang sesuatu yang tidak sesuai dengan agama mereka?
Benarlah pula yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:
"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang sarat dengan tipu daya, pendusta dipercaya, dan orang jujur didustakannya, si pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah dikhianati lalu pada saat itulah Ruwaibidhah berbicara." Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam ditanya: "Siapakah Ruwaibidhah tersebut?" Beliau Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab: "Dia adalah lelaki yang berbicara dengan mengatasnamakan orang banyak." Pada lafadh lain: "Fuwaisiq (orang fasik) yang berbicara tentang perkara orang umum.7"
Yang lebih pantas bagi Qaradhawi adalah menyandarkan kalimat 'Ikhwanul muslimin
kepada perkataannya: "Dari pihak kami, 'Ikhwanul muslimin ... ."
Maka selaraslah pengakuan dan ungkapan yang meluncur dari mulutnya kerana sudah banyak dikenal bahawa mereka (ikhwanul muslimin) adalah para penyeru kepada pendekatan semua kelompok sehingga kalau saja mereka mampu untuk berjumpa dengan iblis dan menyelenggarakan muktamar dan kesepahaman serta pendekatan dengan mereka (iblis) pasti mereka akan melakukannya.
Kemudian wahai para pembaca, kalau kita lebih teliti lagi terhadap ucapan Qaradhawi yang lalu pasti akan kita dapati bahawa ucapannya itu menunjukkan bahawa yahudi dan Kristian tidak berhasrat untuk melakukan pendekatan bersama kaum Muslimin kerana mereka menganggap dirinya lebih utama daripada kaum Muslimin. Hal ini bisa kita pahami dari ucapan Qaradhawi:
Yang penting pada pihak lain ada semangat seperti yang ada pada diri kami dan berinteraksi dengan kami sebagaimana kami berinteraksi dengan mereka, mereka mestinya melakukan pendekatan sepadan dengan pendekatan yang kita lakukan terhadap mereka.
Saudaraku para pembaca, sesungguhnya berbagai dialog dan muktamar yang dihadiri oleh Qaradhawi tidak bertujuan untuk berdakwah agar yahudi dan Kristian meninggalkan agamanya. Tujuan ini tidak ada sebagaimana ucapannya:
Kita berdialog dengan masing-masing kita berpegang kepada
prinsip-prinsipnya. {Al Islaam wal Gharb Ma'a Yuusuf AL Qaradhaawi halaman 18)
Bantahan saya, apakah faidah dari dialog tersebut? Jika motivasinya bukan pendekatan dan persatuan bersama mereka maka saya tidak tahu lagi apa itu? Hal yang memperjelas perkara ini adalah dalam dialog lintas agama tersebut Qaradhawi bertujuan untuk pendekatan kepada mereka baik yahudi mahupun Kristian. Ia mengatakan:
Kalau kita konsisten dengan etika dialog sebagaimana disyariatkan oleh Islam pasti tanpa ragu lagi bahawa hal itu akan mengantarkan kepada
pendekatan kepada orang-orang lain. {Al Islaam wal Gharb Ma'a Yuusuf Al
Qaradhaawi halaman 18)
7
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Imam Ahmad, Al Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahaadiits Shahiihah nomor 1887, juga dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Shahiihul Musnad Maa La isa Fish Shahiihain.