• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. TERM TAKWA DALAM AL-QUR’AN

6. Menahan Amarah

Diantara sifat al-Muttaqi>n (Orang-orang yang bertakwa) yang disebutkan dalam surat Ali Imran: 134 adalah orang-orang yang menahan amarahnya. Kalimat ini ma’thûf (bersambung) dengan kalimat sebelumnya. Adanya perubahan shîghah dari yang sebelumnya berbentuk fi’l menjadi fâ’il mengandung makna li al-istimrâ>r, yakni keadaan yang berlangsung terus-menerus.47 Artinya, perilakunya yang dapat menahan marah itu tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, namun telah menjadi bagian dari karakter yang melekat pada diri mereka.

Menurut sebagian besar para mufassir, kata al-ghayzh berarti al-ghadhab (marah).48 Perasaan marah biasanya dilampiaskan dalam bentuk ucapan seperti umpatan, celaan, dan semacamnya; atau dalam bentuk perbuatan seperti memukul, menendang, dan semacamnya. Menahan marah berarti menahan diri dari ucapan atau perbuatan yang menjadi bentuk pelampiasan marah tersebut.

Al-Kha>zin menjelaskan, kata al-kazhm berarti menahan sesuatu ketika sesuatu itu telah penuh. Dengan demikian, ungkapan al-kâzhimîn al-ghayzh memberikan makna

47Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 2 (Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), h. 272.

bahwa ketika seseorang dipenuhi oleh kemarahan, maka kemarahan itu hanya tertahan dalam rongga perutnya; tidak ditampakkan dalam ucapan dan perbuatan; tetap bersabar dan diam atasnya. Artinya, ayat ini mengandung makna, “Mereka menahan diri untuk melampiaskan kemarahannya dan mampu menahan kemarahan hanya dalam rongga perutnya. Ini adalah salah satu jenis sifat sabar dan al-hilm (sabar, murah hati).”49 Sifat demikian juga digambarkan dalam surat al-Syura: 37.

Perasaan marah tentu amat manusiawi. Apalagi kepada orang yang berbuat salah dan jahat. Akan tetapi, Islam mengajarkan, tidak sepatutnya seorang Muslim melampiaskan kemarahannya. Apalagi, pelampiasan kemarahan itu dapat mengantarkan pelakunya menabrak ketentuan syariah. Menahan marah jauh lebih baik daripada melampiaskannya. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa suatu saat ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta nasihat. Beliau pun bersabda, “Lâ taghdhab (Jangan marah)!” Ketika pertanyaan itu diulangi, Beliau pun memberikan jawaban yang sama. Dengan demikian, menahan marah merupakan akhlak terpuji yang diperintahkan. Sebagai balasannya, pelakunya dijanjikan mendapat pahala yang amat besar. Sahal bin Muadz, dari Anas al-Jahni, dari bapaknya, menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

ىَّتَح ِقِئَلاَخْلا ِسوُء ُر ىَلَع ِةَماَيِقْلا َم ْوَي ُالله ُهاَعَي ُهَذِ فَنُي ْنَأ ُعيِطَتْسَي َوُه َو ا ظْيَغ َمَظَك ْنَم

ِ يَأ يِف ُه َرِ يَخُي

َءاَش ِروُحْلا

Siapa saja yang menahan marah, padahal dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada Hari Kiamat di atas kepala para makhluk hingga dipilihkan baginya bidadari yang dia sukai (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).50

49 Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fî Ma’ânîal-Tanzîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), h.298.

50 Lihat Sulaima>n ibn Ash’ats al-Sijista>ni, Sunan Abi> Da>wu>d, Juz VII, (Bairut: Dar al-Risa>lah al=Ilmiah, 2099), 127. Bandingkan dengan Muhmmad ibn yazid al-Qazwaini, Sunan Ibn Majah, Juz V, (Beirut: Dar al-Risa>lah al-Ilmiah, 2009), h.280.

Berkenaan dengan marah, Islam tak hanya memerintahkan umatnya untuk menahannya. Lebih dari itu, syariah juga mengajarkan metode untuk meredakan kemarahan. Rasulullah saw. bersabda:

ُت اَمَّنِإ َو ِراَّنلا ْنِم َقِلُخ َناَطْيَّشلا َّنِإ َو ِناَطْيَّشلا ْنِم َبَضَغْلا َّنِإ

َب ِضَغ اَُِإَف ِءاَمْلاِب ُراَّنلا ُأَفْط

ْأَّض َوَتَيْلَف ْمُكُدَحَأ

Sesungguhnya marah itu dari setan dan sesungguhnya setan itu diciptakan dari api, sementara api bisa dipadamkan oleh air. Karena itu, jika salah seorang di antara kalian sedang marah, hendaklah dia berwudhu (HR Abu Dawud).51

7. Pemaaf

Diantara sifat al-Muttaqin (orang-orang yang bertakwa) adalah pemaaf. Sifat ini dijelaskan dalam surat Ali Imran: 134. Pada surat ini Allah menggunakan kata turunannya al-‘afin terambil dari kata al-‘afn.52 yang biasa diterjemahkan dengan kata maaf. Kata ini antara lain berarti menghapus. Seorang yang memaafkan orang lain adalah menghapus bekas luka di dalam hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya. Tahapan menahan amarah di atas, yang bersangkutan baru sampai tahap menahan amarah, kendati bekas-bekas itu masih memenuhi hatinya, pada tahap memaafkan ini yang bersangkutan telah menghapus bekas luka-luka itu. Kondisi ini seakan-akan tidak pernah terjadi kesalahan atau sesuatu apapun.53

Namun pada tahap ini bisa saja tidak terjalin hubungan. Untuk mencapai tingkat yang lebih baik lagi, maka masuk kepada as-safhu, karena perpindahan untuk lebih baik lagi merupakan perbuatan baik disebut sebagai penutup pada ayat ini.

Memberikan maaf berarti memberikan ampunan dari menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang sebenarnya berhak mendapatkan hukuman. Di antara contoh

51 Sulaiman, Sunan Abi> Da>wud, Juz VII, 163.

52 M. Quraish Shihab. Membumikan al-Quran, (Bandung: Mizan, 1999), h.303.

pemberian maaf adalah yang disebutkan dalam surat a-Baqarah: 178. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa seorang pembunuh bisa mendapatkan maaf dari keluarga korban. Ketika dia mendapatkan pemaafan dari keluarga korban, dia tidak lagi dijatuhi hukuman qishâsh yang seharusnya dijatuhkan atasnya. Perlu dicatat, membalas kejahatan yang dilakukan seseorang memang dibolehkan. Akan tetapi, syariah menetapkan bahwa memberikan maaf lebih diutamakan hal ini sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Syura: 40.

Dalam surat al-A’raf: 199 Allah Swt. secara tegas memerintahkan hamba-Nya untuk memberikan maaf. Dalam surat al-Baqarah: 237 dinyatakan bahwa memberikan maaf itu lebih dekat dengan ketakwaan. Adapun orang dimaafkan meliputi semua manusia. Sebab, dalam ayat itu disebutkan an-nâs. Bentuk kata jamak yang disertai dengan al-lâm li al-jins ini memberikan makna umum sehingga mencakup seluruh manusia. Surat Ali Imran ayat 134 ditutup dengan firman-Nya: Wallâh yuhibb muhsinîn (Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan). Sebagaimana huruf al-lâm pada kata an-nâs, kata al-muhsinîn juga menunjukkan li al-jins sehingga berlaku umum. Artinya, orang muhsin yang dicintai Allah Swt. itu meliputi setiap orang yang terkatagori muhsin, baik yang disebutkan dalam ayat ini maupun yang lainnya.12 Ungkapan wallâh yuhibb al-muhsinîn menunjukkan diperintahkannya perbuatan tersebut. Selain ayat ini, ungkapan yang sama juga terdapat dalam surat Ali Imran: 195, 148; al-Maidah: 13, 93.

Dokumen terkait