• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menambah batasan periode masa jabatan Presiden

AMANDEMEN UUD 1945

B. BATASAN MASA JABATAN PRESIDEN SESUDAH AMANDEMEN UUD 1945 UUD 1945

1. Menambah batasan periode masa jabatan Presiden

Masa jabatan lima tahun dibatasi dua periode yang berlaku saat ini dianggap kurang untuk program kerja seorang Presiden Republik Indonesia. pemikiran tersebut yang melatarbelakangi munculnya ide untuk menambah batasan periode masa jabatan Presiden yang berlaku saat ini. dengan memperpanjang masa jabatan Presiden saat ini harapannya seorang yang menjabat sebagai Presiden dapat melaksanakan program-program yang telah direncanakan dengan waktu yang lebih lama. Akibatnya program-program yang telah direncanakan dapat diselesaikan dimasa jabatan yang panjang tersebut.

5 Yusuf Wibisono, Anomali Praktek Sistem Pemerintahan Pesidensial dan Multipartai di Awal Pemerintahan Jokowi Tahun 2014. Jurnal Unas Ilmu Budaya 40 (55), 2018

Menambah batasan periode masa jabatan Presiden menjadi 3 Periode itu artinya seorang boleh menjabat selama 15 tahun menjadi seorang Presiden dengan 3 kali memenangkan Pemilihan Presiden, turut ataupun tidak berturut-turut.

Merubah masa jabatan Presiden tampaknya menjadi tren di dunia beberapa tahun terakhir.

Pada tahun 2018 di Cina, sebuah Kongres Rakyat Nasional diadakan yang menghasilkan keputusan bahwa Xi Jinping menjadi Presiden seumur hidup.

Pada tahun 2008 setelah Medvedev menjadi Presiden menggantikan Putin. Medvedev mengajukan perpanjangan masa jabatan Presiden yang awalnya empat tahun menjadi enam tahun. Semua adalah langkah politik dari partai politik Rusia Bersatu agar melanggengkan jabatan Vladimir Putin selanjutnya.

Negara Bolivia juga pernah merubah konstitusi mereka terkait masa jabatan Presiden. Bolivia melakukan penambahan masa jabatan Presiden mereka yang awalnya maskimal tiga periode menjadi empat periode.

Dalam desertasi yang berjudul “Preventing Deviation From Presidential

Term Limits in Low and Middle Income Democracies” yang disusun oleh seorang

profesor hubungan internasional di Universitas San Francisco de Quito, Ekuador, yang bernama Bill Gelfeld, menyebutkan bahwa penyimpangan atau perubahan terhadap masa jabatan Presiden pada beberapa negara justru berdampak negatif bagi negara tersebut.

Bill Gelfeld menemukan fakta bahwa pada enam negara pecahan Soviet, Yaitu Turkmenistan, Rusia, Tajikistan, Azerbaijan, Uzbekistan, dan Kazakstan. Telah memperpanjang bahkan menghapus masa jabatan Presiden secara aspek hak politik mengalami kemunduran setelah empat tahun perpanjangan masa jabatan

Presiden dan secara aspek kebebasan sipil mengalami kemerosotan setelah 5-10 tahun.6

Jika dilihat peristiwa diatas bahwa para petahana berusaha memperpanjang masa kekuasaanya dengan merubah konstitusi untuk kembali menjabat. Itu dikarenakan petahana memiliki banyak fasilitas lebih untuk memenangkan pemilihan kembali.

Sejalan dengan sejarah Pemilihan Presiden Republik Indonesia. Sebanyak dua kali petahana memenangkan Pemilihan Presiden. Susilo Bambang Yudhoyono memenangkan Pemilihan Presiden tahun 2009 memenangkan Pemilihan Presiden sebagai petahana. Selanjutnya pada tahun 2019 Joko Widodo juga memenangkan Pemilihan Presiden sebagai petahana.

Menurut ahli Hukum Tata Negara Dr Bayu Dwi Anggono dalam praktik negara-negara yang menganut presidensil mayoritas mengatur paling banyak 2 periode. Secara praktik batasan periode masa jabatan Presiden selama tiga periode adalah hal yang tidak lazim dan dianggap terlalu lama. 7 Masa jabatan yang terlalu lama menurut Amin Rais dapat menyebabkan beberapa hal, yaitu :

a. Dapat melahirkan penyakit kultus individu. Seperti yang pernah dialami Indonesia, Indonesia sebagai bangsa pernah melakukan kultus Individu terhadap Soekarno. MPRS mengangkat Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. Hormat dan cinta tak boleh mematikan akal sehat.

b. Lapisan elit yang terlalu lama memegang kekuasaan, secara perlahan akan meyakini dirinya sebagai personifikasi stabilitas dan

6 H.41 Bill Geldfeld, Preventing Deviation From Presidential Term Limits in Low and Middle Income Democracie, (Ekuador: Rand, 2018) h., 41

7 Andi Saputra, “Alasan Tegas menolak wacana Presiden tiga periode”,

https://news.detik.com/berita/d-4796202/3-alasan-tegas-menolak-wacana-presiden-3-periode diakses pada 04 Juni 2020 pukul 19.40 WIB

eksistensi negara. Pemimpin yang seperti ini akan anti kritik yang akhirnya membahayakan sebuah negara.

Kultus diri ataupun seseorang dalam pandangan hukum Islam adalah seseuatu yang telah terlarang. Seorang Kepala Negara dalam pandangan Islam adalah layaknya manusia biasa. Mereka mengalami apapun yang dialami manusia biasa seperti berbuat salah, lemah, dan lupa. Mengkultuskan seseorang adalah sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas. Sesuatu yang berlebihan dan melampaui batas telah dilarang dalam Islam.

“Janganlah kamu melampaui batas dalam agama kamu” (an-nisaa’ : 171)

Sebagai masyatakat memiliki kewajiban sebagai masyarakat. masyarakat harus melaksanakan kewajiban ini dengan memberikan nasihat kepada seorang Kepala Negara jika mereka telah melakukan kesalahan. Sabda Nabi : “Agama itu nasihat”. Untuk siapa tanya sahabat. Beliau menjawab :

“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasulnya, imam-imam kaum muslimin dan kaum muslimin secara keseluruhan.”

Nasihat untuk imam-imam kaum muslimin artinya membantu dan mematuhi mereka dalam kebenaran, memerintahkan mereka melakukan kebaikan, mengingatkan mereka dengan lemah lembut, meberitahukan apa saja yang mereka lalaikan dan hak-hak kaum muslimin yang belum ia dengar.8

8 Abdullah Ad-Dumaiji, Imamah ‘Uzhma Konsep Kepemimpinan Dalam Islam

c. Dapat melahirkan penumpuan visi dan kreativitas. Hal tersebut bisa dipahami pemimpin yang telah terjebak dalam rutinitas akan menjadi kurang peka terhadap dinamika disekelilingnya.

Kepala Negara dalam Islam diharuskan peka terhadap keadaan rakyat. Kepala Negara harus bisa menjawab tantangan zaman berupa kesulitan-kesulitan yang menimpa kepada rakyatnya. Dengan pergantian kepemimpinan disetiap waktu tertentu merupakan suatu usaha untuk mencegah kebekuan visi dan kreativitas karena rutinitas selama kepemimpinan tersebut. Hal ini sejalan dengan tujuan syariah yaitu memelihara akal (hifdz al-aql).

d. Menyebabkan perilaku korup. Hal ini berangkat dari aksioma politik yang diungkapkan dari Lord Acton “powers tend to

corrupt and absolute power tend to corrupt absolutely” perilaku

korup adalah hal yang dilarang dalam Islam. Mencegah dari perilaku korup adalah sebuah kemaslahatan yang harus dilakukan. Hal tersebut dilakukan demi memelihara harta masyarakat banyak (hifdz mal). Selain itu menambah batasan periode masa jabatan Presiden menjadi tiga periode juga mengakibatkan proses regenerasi maupun proses pergiliran kepemimpinan akan menunggu waktu yang lama.

Pasal 7 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia diamandemen untuk memberikan batasan yang jelas terhadap masa jabatan Presiden. Selain itu amandemen pembatasan masa jabatan dilatarbelakangi oleh trauma karena kepemimpinan Presiden yang terlalu lama dan bermasalah. Menambah periode masa jabatan Presiden akan berbanding terbalik dengan semangat amandemen pertama Undang-Undang Dasar yang menginginkan pembatasan masa jabatan yang tidak terlalu lama.

2. Memperpanjang masa jabatan Presiden dengan batas satu periode