BAB III SEJARAH KEBERADAAN MASJID DAN
2. Menara Banten
Gambar 3.3 menara Masjid Agung Banten
Menara berasal dari kata bahasa Arab, nar yang berarti api, kemudian diberi awalan ma, sehingga membentuk kata tempat manaroh yang berarti tempat menaruh api atau cahaya di atas.13 Namun dalam bahasa Indonesia, kata manaroh diucapkan menjadi menara. Dalam literatur Arab dan Persia, cahaya diidentikkan dengan kegembiraan jiwa dan kepandaian.
Adanya menara lazimnya seperti masjid-masjid yang ada di luar Indonesia. Contohnya masjid-masjid di Mesir dan Masjid Abas di Karbala, Irak, memiliki menara yang sangat tinggi dan megah. Dan menara masjid yang pertama dikenal adalah menara Masjid Sidi Ukba di Khairawan, Tunisia.14 Di sana Menara menjadi bagian penting, karena merupakan tempat muadzin menyerukan adzan sebagai panggilan orang untuk shalat. Jika di Indonesia, pemberitahuan waktu
13Juliadi, Masjid Agung Banten: Nafas Sejarah dan Budaya, h. 96.
14
shalat di samping dengan seruan adzan, juga dilakukan dengan pemukulan sebuah bedug atau kentongan. Ini dikarenakan menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa. Menurut Jaenal, menara ini adalah simbol peradaban Islam juga bukti toleransi antar umat beragama di masa lampau sangat harmoni.
Beberapa ahli sejarah seperti Kemal C.F Wolff Schoemaker, dalam karangannya yang berjudul “Architectuur Islam”, mengemukakan bahwa bangunan menara yang ada di dekat masjid itu diilhami dari sebuah mercusuar.15 Seperti mercusuar peninggalan Belanda yang ada di pantai Anyer. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya (puncaknya) memiliki dua tingkat.
Berita itu menunjukkan pula bahwa menara dibangun tidak lama setelah bangunan Masjid Agung Banten. Menurut hasil penelusuran Dr K.C Crucq, yang karangannya berjudul Aanteekeningen Over de Manara te Banten (beberapa catatan tentang menara di Banten) pernah dimuat dan dipublikasikan dalam
Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and Volkenkunde van Nederlandsch Indie,
menyebutkan bahwa menara dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan menikah.
Menara yang terletak di sebelah timur masjid itu berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan serta tempat untuk memantau keadaan di Teluk Banten tersebut, dibangun oleh arsitek asal Cina yaitu Tjek Ban Cut yang
15
diberi gelar “Pangeran Wiraguna” oleh Sultan Ageng Tirtayasa kemudian direnovasi oleh Hendrick Lucas Cardeel dari Belanda pada tahun 1683 dan pada saat itulah masuk pengaruh budaya Eropa yang sebelumnya banyak dipengaruhi agama Buddha yaitu dengan adanya padma (bunga teratai) pada puncak menara. Bunga teratai adalah lambang agama Buddha. Dalam ajaran agama Buddha, bunga teratai melambangkan panna (kebijaksanaan).16 Juga bentuk badan menara memiliki denah segi delapan yang merupakan bentuk bangunan Indonesia pra Islam (Hindu-Buddha). Sangat terlihat jelas akulturasi budaya yang kuat dalam komplek Masjid Agung Banten tersebut.
Catatan Dirk Van Lier di tahun 1659 maupun Wouter yang datang pada tahun 1661 menyebut, menara masih digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata atau amunisi orang Banten. Kemudian baru antara lain tulisan Stavorinus yang menulis tentang Banten tahun 1769 menyebut menara sebagai tempat memanggil orang untuk sembahyang (solat).
Namun dewasa ini, menara ini tidak lagi digunakan oleh para muadzin, karena pengeras suaralah yang dipasang di atas menara dan muadzin cukup bertugas (adzan) di dalam masjid. Kini menara itu dijadikan sebagai tujuan wisata bersejarah oleh para pengunjung. Dari atas menara masjid yang bergaya Eropa ini, para pengunjung dapat melihat keindahan alam sekitarnya, bekas reruntuhan Kesultanan Banten, bahkan Pelabuhan Karangantu serta perahu-perahu nelayan.17
Dan menurut catatan sejarah Banten (baik dalam babad Banten maupun catatan Belanda) pun, menara yang menjadi ciri khas masjid ini selalu menjadi
16
Eka-Citta Bersatu Dalam Dharma: Simbol Dalam Budhisme (Yogyakarta: Kamadhis
UGM, 2008), h. 12. Terdapat berbagai macam sikap patung Buddha Sakyamuni, dan ada patung Sakyamuni yang duduk di atas bunga teratai.
17
pusat perhatian para pengunjung pada masa lampau, bahkan sampai saat ini. Para pengunjung selalu menyempatkan diri untuk berfoto dan naik ke atas menara yang terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Dan untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai dapat terlihat di atas menara, karena jarak antara menara dengan laut yang hanya sekitar 1,5 km.
Menara ini memiliki dua fungsi. Dimana fungsi religius merupakan fungsi utamanya yaitu untuk mengumandangkan suara adzan dari atas menara. Fungsi spiritual ditunjukkan sebagai daya tarik para peziarah. Fungsi sosial ditampilkan oleh menara sebagai bentuk pengakuan pada umunya masyarakat Banten sebagai simbol kesatuan kultural yang paten. Adapun terakhir fungsi komunikasinya adalah menara Masjid Agung Banten tidak hanya sebagai petunjuk letak Banten, tetapi menara ini mampu memberi informasi tentang dirinya yang bermakna bagi keseluruhan. Fungsi komunikasi ini dapat diketahui dengan memahami simbol-simbol yang ada pada menaranya.
Menara Masjid Agung Banten digunakan sebagai simbol atau lambang atau logo pemerintahan Provinsi Banten. Bahkan beberapa kabupaten dan lembaga pemerintah dan non pemerintah di provinsi Banten juga menggunakan menara Masjid Agung Banten sebagai logonya.18Menurut catatan Badan Pusat Statistik Provinsi Banten (BPS), simbol menara Masjid Agung Banten yang bertingkat dua berwarna putih dengan memolo (puncak) berwarna merah,
18
menjulang tinggi ke angkasa melambangkan masyarakat Banten mempunyai semangat yang tinggi untuk mewujudkan masyarakat madani, serta adanya tujuan mulia yang senantiasa berpedoman pada petunjuk Allah SWT, menara Masjid Agung Banten juga melambangkan budaya dan historis Banten yang kokoh pada pendirian zaman kesultanan19dan lebih jelasnya akan dibahas pada bab IV.