• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menarik Keterlibatan Politik TNI dari Lembaga Legislatif

Dalam dokumen idea penilaian demokratisasi di indonesia (Halaman 101-104)

Hubungan Sipil-Militer

3. Menilai Tingkat Otoritas Sipil Atas Militer

3.2 Menarik Keterlibatan Politik TNI dari Lembaga Legislatif

Sidang tahunan MPR pada Agustus 2000 merupakan sebuah kesempatan yang krusial bagi sipil untuk menghapus keterlibatan politik militer di parlemen tingkat nasional dan regional. Walaupun ada tekanan-tekanan luar biasa besar dari masyarakat untuk melakukan itu, sidang tahunan MPR ternyata telah menyia-nyiakan kesempatan itu ketika partai-partai besar tidak mendukung terwujudnya tonggak sejarah dalam konsolidasi supremasi sipil atas kekuatan bersenjata ini.

Rezim Orde Baru menempatkan badan pembuat undang-undang pada posisi yang bisa dikontrol oleh militer, baik di DPR tingkat nasional dan parlemen tingkat propinsi dan daerah, DPRD I dan DPRD II. Peran legislator sebagai pengawas lembaga eksekutif, termasuk militer, tidak pernah ada selama ini. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa di masa Soeharto, legislator tidak pernah bisa mendiskusikan persoalan-persoalan militer seperti anggaran militer.

Walaupun tahun pertama reformasi menghasilkan pengurangan jatah atau jumlah kursi TNI di DPR dari 75 menjadi 38, sudah ada tanda-tanda bahwa penarikan keterlibatan TNI dari politik akan menjadi sebuah proses yang berlarut-larut dan menuntut kompromi-kompromi dari sipil. Sebagai contoh, meskipun wakil TNI di DPR dikurangi, justru peran TNI menguat di DPR tingkat regional, dengan total 10 persen kursi DPRD dijatahkan untuk wakil-wakil TNI. Karena itu usaha terus memelihara momentum untuk mencabut militer dari badan

pembuat undang-undang, khususnya pada tingkat sub-nasional menjadi sangat penting.

Konsesi oleh TNI pada tingkat nasional nampaknya menjadi semacam penukaran atas kondisi yang lebih baik pada tingkat regional. TNI tampaknya memiliki antisipasi bahwa pelaksanaan desentralisasi sejak 1 Januari 2001 akan menghasilkan pergeseran kekuasaan yang substansial dari pusat ke daerah-daerah. Dengan fokus utama peralihan adalah daerah, di kabupaten atau kotamadya, jelas terlihat bahwa sejumlah perwira TNI telah benar-benar sukses untuk dipilih sebagai ketua DPRD.

Citra TNI yang relatif baik di daerah-daerah, walaupun menjadi sesuatu hal yang mengherankan, merupakan insentif lain bagi TNI untuk mendapatkan kembali kekuasaan politiknya di luar wilayah Jakarta. Jajak pendapat baru-baru ini tentang persepsi publik terhadap angkatan bersenjata menunjukkan dengan jelas bahwa penduduk di daerah Jawa dan kota-kota besar lebih bermusuhan dengan TNI dibanding penduduk yang tinggal di luar pulau, dengan pengecualian Irian Jaya.

Mungkin saja merupakan suatu kebetulan bahwa TNI mempunya wakil yang lebih banyak pada lembaga politik di daerah-daerah Indonesia di mana kondisinya lebih kondusif untuk memainkan peran politik. Meskipun beberapa unsur improvisasi tidak bisa dikesampingkan dalam langkah TNI untuk memperluas pengaruhnya di daerah-daerah, fakta bahwa struktur komando teritorial militer angkatan darat tetap utuh setelah dua tahun transisi mengisyaratkan bahwa militer benar-benar berada di tempat yang luar biasa bagus untuk tetap menjadi pemain politik kunci di daerah-daerah. Sesungguhnya, tidak ada organisasi lain, apalagi partai politik atau organisasi masyarakat, bisa mengklaim sebagai sebuah struktur yang menjangkau dari provinsi turun ke tingkat pedesaan. Satu-satunya pengecualian adalah birokrasi negara itu sendiri.

Dengan kendala keuangan yang dihadapi negara, kapasitas partai-partai politik untuk membuka cabang-cabang lokal masih sangat rendah. Pengorganisasian model struktur teritorial TNI mungkin menjadi aset yang didambakan oleh partai-partai politik pada masa pemilu. Ini bisa membuka prospek bagi angkatan bersenjata untuk menjadi pemenang yang berkuasa dalam beberapa tahun mendatang. Maka, alih-alih segera “kembali ke barak”, angkatan bersenjata

Rekomendasi:

Menghapus jatah kursi untuk militer pada tingkat nasional di DPR dan di badan legislatif propinsi, DPRD I, dan badan legislatif daerah, DPRD II.

Memulihkan hak-hak kewarganegaraan personel angkatan bersenjata melalui hak untuk memilih dalam pemilihan umum.

Rintangan yang jarang dilihat dalam mengefektifkan kontrol sipil adalah ketidakseriusnya pengabaian parlemen dalam menangani persoalan-persoalan militer dan pertahanan. Keputusan tentang angka-angka anggaran pertahanan yang menyeluruh, dan pembagian pengeluaran pertahanan untuk personel, peralatan, biaya pemeliharaan, dan pembangunan, ada dalam wewenang DPR yang sebenarnya sangat penting untuk menjalankan kontrol demokrasi terhadap militer oleh sebuah otoritas sipil. Tetapi masih sedikit anggota parlemen Indonesia yang menunjukkan minat yang murni dan sungguh-sungguh terhadap soal-soal pertahanan. Kalaupun berminat, mereka terfokus pada aspek tertentu militer, dan bukan pada isu-isu keamanan nasional yang menyeluruh atau restrukturisasi pertahanan. Anggota parlemen juga memperlihatkan kurangnya wawasan tentang bagaimana militer beroperasi.

Menempatkan militer pada konteks politik yang tepat, supaya militer memenuhi tuntutan-tuntutan nasional Indonesia baru, adalah sebuah tugas yang panjang dan sulit yang mensyaratkan kerja parlementer secara substansial. Kerja ini harus memberikan prioritas tinggi pada pembatasan peran dan tempat angkatan bersenjata dalam masyarakat, menentukan jumlah, struktur dan tuntutan-tuntutan strategis mereka, dan mengindentiikasikan prioritas pertahanan nasional. Sebuah wilayah kunci yang menuntut akuntabilitas dan transparansi adalah pembiayaan pertahanan. Menjalankan pengawasan terhadap anggaran pertahanan mungkin adalah cara paling efektif untuk mengawasi militer.

Parlemen juga bertanggungjawab untuk menjaga militer tetap dalam struktur masyarakat dan memperbaiki citranya di mata publik. Pengawasan sipil terhadap militer harus menjadi sebuah upaya kebijakan nasional dan di atas politik partai-partai. Efektivitas parlemen tergantung banyak faktor, tetapi mustahil tanpa anggota parlemen yang mengerti dan berwawasan dalam komisi parlemen yang terkait.

Rekomendasi:

Memperkuat keahlian anggota-anggota terpilih di DPR, terutama yang tergabung dalam Komisi I bidang pertahanan, untuk menguasai urusan-urusan militer dan pertahanan agar bisa memainkan peran sebagai legislator dan pengawas untuk bidang pertahanan dan keamanan nasional.

Dalam dokumen idea penilaian demokratisasi di indonesia (Halaman 101-104)