Mencari Ke-Cina-an: Identitas dalam Persimpangan

Dalam dokumen CIlik cilik Cina, suk gedhe arep dadi apa sebuah studi Autoetnografi mengenai pengalaman rasisme (Halaman 84-151)

Mencari Ke-Cina-an: Identitas dalam Persimpangan

Jam sepuluh malam, pemberitahuan masuk ke ponselku, ada seseorang yang mengirimkan surel di tengah asyiknya permainan candy crush-ku. Nama yang sudah berbulan-bulan menghilang dari hidupku muncul kembali menanyakan kabar. Tidak butuh waktu lama, aku pun menekan tanda balas, dan mengirimkan surelku.

Jumat, 4 November 2016

Hai, orang asing, masih ingat denganku ternyata? Berbulan-bulan tidak ada kabar. Berangkat ke Itali tidak pamit. Sesibuk apa sih persiapan untuk berangkat sekolah ke daratan Eropa itu? Lalu kenapa baru sekarang muncul dan menanyakan kabar?

Sabtu, 5 November 2016

Maaf semalam aku sudah tidur ketika emailmu masuk. Sekarang pasti kamu yang masih tidur, masih sekitar jam tiga pagi ya di sana?

Semalam Jakarta memang sempat mencekam dengan adanya kejadian pembakaran dan masa demonstrasi yang enggan dibubarkan itu. Daniel juga tidak berani pulang dari kantor karena kosnya harus melewati area demo itu.

74 Jogja baik-baik saja dan tidak ada kabar apa-apa dari Temanggung. Jadi kusimpulkan keadaan tenang-tenang saja.

Terima kasih sudah khawatir, aku malah baru ingat kalau aku dulu waktu pemilu itu pernah bercerita kepadamu kalau aku takut jika sampai terjadi kerusuhan lagi, karena jika itu sampai terjadi pasti orang Cina juga akan menjadi sasaran amuk masa. Waktu dulu pemilu dan masih terjadi perselisihan suara itu berita akan terjadi kerusuhan karena Prabowo tidak menerima kekalahannya memang terdengar kencang. Rasanya saat itu aku juga begitu ketakutan jika sampai terjadi kerusuhan. Kenapa ya dulu aku sempat begitu takut?

Demo kemarin, apalagi penyebab demonya itu adalah Ahok yang juga orang keturunan Cina, rasanya bisa menjadi alasan yang sangat kuat untukku takut akan terjadi kerusuhan lagi, anehnya kali ini aku lebih tenang dalam menghadapi ini. Mungkin karena daerahnya yang jauh, mungkin karena pemerintahannya yang kuanggap lebih baik, mungkin juga karena sekarang aku tidak punya TV sehingga tidak banyak berita yang aku akses. Berita tentang kerusuhan semalam juga aku dapatkan dari Twitter.

Semalam juga sempat tersebar foto dengan gambar seorang lelaki sedang

menuliskan ―anti Cina‖ dengan cat semprot berwarna merah. Ada kicauan dari

beberapa selebriti keturunan Cina yang mulai ketakutan karena ada berita mulai dilakukan sweeping terhadap orang-orang Cina. Berita lain menyatakan bahwa

75 ternyata ada beberapa orang keturunan Cina yang mengungsi karena takut kejadian 1998 terjadi lagi. Penjarahan yang dilakukan beberapa orang juga sempat terjadi, tetapi tidak lama sudah berhasil diredam oleh Polisi. Jadi sebenarnya para penegak hukum itu memang bisa mencegah agar tidak sampai terjadi kerusuhan besar ya, hal yang tidak terjadi di tahun 1998.

Sabtu, 12 November 2016

Setelah Minggu kemarin ada masalah Ahok di Indonesia, kemarin muncul Donald Trump di Amerika. Banyak dibicarakan juga ya ternyata di sana. Di sini media sosial juga menjadi sangat ramai dengan terpilihnya Trump. Aku sendiri tidak menyangka bahwa dia bisa terpilih kalau mengikuti isu-isu yang muncul selama masa kampanyenya. Selama ini Trump dianggap sebagai seorang yang rasis, seksis, homophobia, antiimigran, dan antimuslim. Banyak orang yang ketakutan dengan kemenangannya karena merasa keselamatan dan eksistensi diri dan kelompoknya terancam jika Trump menjadi pemimpin Amerika.

Kamu ingat Irene? Dia menuliskan di status facebooknya agar jangan sampai terjadi perang dunia ketiga. Ada yang mengumpamakan bahwa kemenangan Trump itu seperti kemenangan Ahmad Dhani jika terjadi di Indonesia.

Aku juga memperhatikan akan banyaknya aksi protes dengan langsung turun ke jalan di berbagai tempat di Amerika. Ada yang melakukan protes lewat media

76 sosial dengan menghitamkan bagian kepala halaman dan foto profil dengan taggar #twitterblackout. Ada twit dari seorang wanita muslim Amerika yang diminta oleh ibunya yang dianggapnya sangat taat untuk melepaskan hijab karena khawatir dengan keselamatan anaknya. Ada juga rencana dari Ku Klux Klan, organisasi anti kulit hitam di Amerika sana, yang akan melakukan parade kemenangan Trump. Entah mana yang hoax entah mana yang benar, tetapi kondisinya terasa sangat tidak nyaman.

Rasanya mau berkata, ―Haloo… sudah 2016 dan masih saja rasis???‖

Aku sempat merasa kalau isu rasisme itu sudah tidak lagi ada. Indonesia sudah lama tidak diguncang isu rasial yang besar, walau hanya digeser menjadi isu agama sebenarnya. Namun kenyataan yang terjadi sekarang malah menyatakan sebaliknya. Amerika yang dianggap negara yang maju dan modern itu, saat ini sedang terguncang isu rasial. Orang-orang minoritas di negara tersebut sedang tercekam ketakutan dengan pemimpin barunya. Sama seperti orang-orang Cina di Jakarta sana juga mengalami ketakutan dengan tidak kondusifnya keadaan ibukota, entah benar karena penistaan agama itu, atau karena agenda politik lainnya. Ketakutan yang sangat akrab dengan apa yang aku rasakan, ketakutan yang sudah kubawa seumur hidup.

77 Minggu, 13 November 2016

Aku heran ketika kamu bertanya ketakutan seperti apa yang aku alami

sebagai orang keturunan Cina. Iya ya… kamu bisa memahami ketika terjadi kegentingan politik dan takut akan terjadi kerusuhan, tetapi aku baru menyadari bahwa apa yang aku rasakan sebagai orang keturunan Cina itu ya hanya aku, kami yang merasakan.

Aku jadi ingat masa-masa kecilku dulu, sebelum kita bertemu dan berteman. Walaupun sudah lama tidak berkunjung, kamu pasti ingat kan bagaimana rumahku? Sejak lahir aku sudah tinggal di rumah itu. Rumah dengan toko yang menjual segala macam barang di depannya. Kampungku itu tidak terlalu besar, satu RT yang berbatasan dengan sekolah, gudang tembakau milik Gudang Garam Tbk., dan Kantor Telekom. RT yang agak terisolasi dengan RT yang lain. Keluarga kami satu-satunya orang Cina di tempat itu. Dengan empat keluarga Kristen di antara sekitar lima belas rumah lainnya.

Masa kecilku dulu sering kuhabiskan dengan bermain-main dan berlarian di jalan-jalan kecil di antara rumah-rumah itu. Melihat anak-anak lelaki memanjat pohon jambu di taman RT. Bersembunyi dalam gang-gang kecil dan celah antar rumah. Tidak banyak anak yang sebaya denganku, sekampung itu sebagian besar anak-anak lelaki yang lebih tua dariku.

78 Suatu hari, entah kapan, karena rasanya saat itu ingatanku masih kabur, ada yang bertanya kepadaku, ―Cilik-cilik Cino, suk gedhe arep dadi apa?‖15

Bagaimana ya rasanya? Kalau dibilang saat itu aku marah, rasanya tidak demikian juga. Aku hanya merasa heran dengan pertanyaan itu. Apa jawabannya? Cina itu apa?

Aku pulang dengan membawa pertanyaan itu ke rumah. Aku menanyakan ke Mamahku apa jawabannya. Aku bertanya ke Wak-ku, kakak perempuan Mamah, apa jawabannya? Kata mereka, itu dijawab dengan mau menjadi dokter atau mau menjadi koki, atau menjadi pramugari. Orang-orang itu bertanya dengan nada biasa, jadi rasanya jawaban itu juga tidak salah. Namun, rasanya juga bukan itu jawabannya.

Kalau aku ingat lagi, rasanya perkataan itu juga bukan suatu ujaran yang diungkapkan dengan kebencian. Ungkapan merendahkan yang mungkin terasa sudah sewajarnya untuk dikatakan begitu saja kepada anak-anak. Sama seperti

pertanyaan ―sudah makan apa belum‖, begitu biasa untuk diungkapkan.

Bagaimana denganmu? Pernah kamu mengungkapkan hal yang sama kepada teman-teman Cinamu yang lain? Waktu SD kamu malah bersekolah di sekolah swasta yang banyak Cinanya dan kamu malah menjadi minoritas di dalamnya ya.

79 Aku jadi mulai bertanya-tanya apa itu Cina? Kenapa aku tidak memanggil Daniel dengan sebutan Mas seperti anak-anak lain di sekitarku yang memanggil kakak lelakinya Mas. Kenapa tiap aku mengatakan Kokoh, aku seringkali ditertawakan. Aku tidak suka ditertawakan. Aku tidak suka menjadi tidak sama dengan orang-orang lain di sekitarku.

Ketika kamu mengenalku, aku sudah memanggil Daniel dengan nama saja ya? Ya, itu memang keputusanku. Aku pada akhinya memutuskan untuk menghilangkan sebutan Kokoh, menghilangkan kata-kata lain yang membuatku berbeda dengan orang-orang di sekitarku. Aku mulai memanggil Daniel dengan namanya di umurku yang ke enam. Rasanya itu keputusan yang sangat besar yang kuambil di saat itu. Aku seakan melakukan lompatan di mana aku menentang apa yang ada di dalam keluargaku dan memilih untuk menjadi sama dengan orang-orang di luar rumahku. Seingatku, hal itu berlangsung dengan mulus di rumah. Aku tidak ingat ada yang memarahiku dengan apa yang aku lakukan. Keluargaku menerima transisi begitu saja.

Jangan-jangan saat itu aku melepaskan tradisi berusia ratusan tahun yang sudah dijalani oleh keluargaku. Kamu tahu, aku merupakan generasi kelima yang tinggal di Indonesia dari pihak Papah dan generasi keempat dari pihak Mamah. Aku juga baru tahu tentang hal ini kemarin ketika membongkar-bongkar dokumen lama punya Papah.

80

Gambar 1. Surat Pernikahan

Aku menemukan surat nikah lama yang menarik, tertulis dalam bahasa Belanda. Suratnya aku lampirkan, mungkin kamu bisa membantuku memastikan apa isinya. Surat yang bertanggal 18 Desember 1905 itu, berisikan tentang perjanjian pernikahan antara Pang Tjoey Lay yang berusia 27 tahun, anak dari

81 Pang Djing Khe yang menikah dengan Bhe Pin Nio. Pang Djing Khe adalah generasi pertama yang ditemukan tercatat di Indonesia. Beliau yang kemudian memiliki anak bernama Pang Tjoey Lay, yang kemudian memiliki anak bernama Pang Tong Liem dan bercucu Pang Ting Ham, Papahku. Aku dan Daniel adalah generasi pertama yang tidak membawa marga Pang dalam nama kami. Ini adalah foto pernikahan dari Engkong Pang Tong Liem dan Emakku.

Gambar 2. Pernikahan Pang Tong Liem

Mau membawa nama juga kondisi saat itu rasanya sudah tidak memungkinkan. Nama Cina itu ternyata menuntut pemahaman tentang bahasa Cina dan aksara Cina. Karena kata yang diucapkan dengan cara yang sama, belum

82 tentu membawa arti yang sama. Aku juga pernah membaca suatu artikel di Intisari16 tentang bagaimana nama Cina itu dibuat. Pada umumnya nama Cina

terdiri dari dua sampai empat karakter, yang pertama adalah marga, dalam kasusku Pang. Lalu yang kedua adalah nama generasi yang biasanya namanya diambil dari suatu puisi atau bait dalam suatu puisi. Dalam satu bait puisi biasanya memiliki 16 sampai 24 karakter, jadi keturunan pertama sampai seterusnya akan dinamakan seperti yang sudah ditentukan. Penamaan ini biasanya diberikan dalam keluarga besar dan generasi yang setara atau sederajat akan mendapatkan nama yang sama. Dalam keluarga Papah, generasi pertama yang bisa aku ketahui bernama Djing, berikutnya adalah Tjoey, lalu Tong, dan generasi Papahku, Ting. Harusnya ada urutannya untuk nama di generasiku, tapi aku tidak tahu harus mencari di mana. Kata ketiga adalah namaku sendiri yang biasanya merupakan kata yang menjadi doa atau harapan dari orangtua untuk anak-anaknya.

Menurut cerita dari Papah, ternyata tidak semua nama mengikuti aturan yang demikian. Adik dari kakek buyutku itu ada yang dinamai Pang Seneng dan anak terakhirnya dinamai dengan Pang Soedah. Berarti ada percampuran budaya di situ. Aku sebenarnya juga baru mengetahui tentang berbagai hal ini ketika

16 Satria, J., Sulaeman, A., Christine, F., Nugrahani N., & Aqimuddin E. A. (2012) Mencari Jati Diri Peranakan Tionghoa. Intisari. No. 589, Februari

83 menuliskan skripsiku dulu. Memaksaku harus belajar banyak hal tentang kecinaan yang biasanya aku sangkal mati-matian.

Aku dan Daniel adalah generasi lahir di tahun delapan puluhan. Saat itu Orde Baru sedang jaya-jayanya. Kamu tahu kan kalau ada banyak undang- undang yang mengatur tentang orang-orang Cina? Dari undang-undang yang legendaris PP No. 10 tahun 1959 di mana orang Cina dilarang berjualan di daerah yang status administrasinya lebih rendah dari Kabupaten di era Soekarno, penutupan sekolah berbahasa Cina dan pelarangan penerbitan berbahasa Cina, perintah mengenai pergantian nama atas nama asimilasi tahun 196617, undang-

undang pelarangan agama dan kebudayaan pada tahun 196718, dan adanya

instruksi mengenai kebijaksanaan pokok penyelesaian masalah Cina19. Bahkan

sampai pada tahun 2014 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih mengeluarkan Keputusan Presiden mengenai penggunaan istilah Cina dan Tionghoa20. Keputusan yang memang bernada positif dan menunjukkan bahwa

negara sudah berpihak kepada orang-orang keturunan Cina, tetapi menurutku, ketika masih dibicarakan berarti masih ada permasalahan yang tersembunyi

17 Keputusan Presidium Kabinet No. 127/U/Kep/12/1966 18 Inpres No. 14 tahun 1967

19 Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IN/6/1967

20 Keputusan Presiden Republik Indoensia Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/PRES.KAB/6/1967, Tanggal 28 Juni 1967, diunduh dari http://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/174034/KEPPRES122014.pdf pada Jumat, 17 Oktober 2014

84 entah di mana. Melihat apa yang terjadi di tanggal 4 November kemarin, rasanya permasalahan itu masih ada di dalam kepala orang-orang Indonesia.

Ada beberapa dokumen yang kutemukan tentang berbagai peraturan itu. Ada surat melepaskan kewarganegaraan Tiongkok dari Engkongku, surat pergantian nama, Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia yang legendaris atas nama Papahku. Papah yang sudah memiliki nama Indoesia sejak lahirnya saja, juga dipaksa untuk memiliki surat bukti pergantian nama. Surat yang ditebusnya dengan harga Rp175.000,- di masa itu.

85

86

87

Gambar 6. Surat Bukti Ganti Nama

Aku dan kamu mungkin sangat beruntung. Kita bisa bersekolah sampai sejauh ini, bisa menempuh pendidikan sampai setinggi ini, kamu bahkan sudah

88 sampai di Itali untuk S2 sekali lagi. Bagi kita, ras, agama, kelas, itu bukan lagi sesuatu yang perlu dibicarakan. Aku merasa demikian ketika sekarang berada di kampus dan dengan teman-teman sekolahku. Namun, ternyata di masyarakat umum, di luar kampus, permasalahan ras itu masih ada, masih dirasakan, masih menjadi ketakutan.

Terakhir ketakutan akan dihabisi karena aku itu Cina terjadi beberapa bulan yang lalu ketika Indonesia saat itu sedang mengalami krisis ekonomi. Walaupun tidak terlalu berbahaya. Saat itu rupiah hampir menembus lima belas ribu rupiah jika aku tidak salah ingat. Lalu ada berita yang menjadi viral,

Gambar 7. Potongan Artikel Status Facebook

Ada status demikian yang tersebar dan orang-orang mulai membuat petisi

untuk menangkap orang itu. ―Babi Cina Keparat‖, sebutan itu yang melekat kepada kami, orang-orang keturunan Cina. Tidak peduli berapa lama kami

89 tinggal dan lahir di tempat ini. Tidak lama dari munculnya status itu, ada lagi hal lain yang beredar.

Majalah Tempo terbitan 31 Agustus-6 September 2015 terbit dengan warnanya yang merah menyala dengan judul utama dengan huruf kapital berwarna kuning yang tidak kalah mencolok mata Selamat Datang Buruh Cina. Gambar dari sampul majalah itu juga menarik perhatian dengan gambar seorang lelaki berkulit gelap dan bermata sipit yang membawa palu godam besar. Benar- benar menggambarkan kaum buruh dan Cina karena sipit. Aku tertarik dengan majalah Tempo terbitan kali ini karena pada malam hari sebelumnya aku melihat di facebook ada yang posting sampul majalah ini beserta dengan komentar- komentar yang pro dan kontra. Membaca postingan-postingan itu bulu kudukku langsung meremang. Kedua hal tersebut muncul di saat yang bersamaan. Bayangkan betapa takutnya aku!

Pikiran-pikiran buruk langsung menguasai otak. Bagaimana jika pemerintah mengizinkan orang-orang Cina itu masuk ke Indonesia dan mereka merebut lahan pekerjaan banyak orang di Indonesia ini? Bagaimana jika sampai terjadi kemarahan pada orang-orang pribumi yang rezeki mereka disunat oleh para buruh impor ini? Aku merasa pasti akan langsung diserang dan dibinasakan. Aku langsung memikirkan alternatif perlindungan jika terjadi kerusuhan atau bagaimana nasib toko dan Mamah-Papah di rumah.

90

―Mati! Mati!‖ isi kepalaku berteriak!

Seperti itulah hari-hari yang pernah aku lalui sebagai orang keturunan Cina. Rasanya hidupku itu diawali dari keadaan penuh ketakutan, di mana Mamah banyak memberikan peringatan akan apa yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan, apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan. Seperti tidak boleh bilang PKI karena nanti bisa ditangkap Polisi. Berada dalam perasaan takut akan diserang terus menerus jika sedikit saja ada isu mengenai kerusuhan atau gonjang-ganjing politik. Rasanya menakutkan.

Selasa, 15 November 2016

Kenapa ya aku mengalami ketakutan-ketakutan itu? Betul juga omonganmu, aku tidak pernah benar-benar mengalami kerusuhan itu sendiri, aku juga tidak mengalami diskriminasi yang parah sekali, dan seperti katamu, pertemananku juga baik-baik saja, tetapi aku merasakan ketakutan akan diserang.

Seumur hidup, kerusuhan yang aku lalui, ya hanya tahun 1998, tapi rasanya itu berlalu tanpa ada kesan bahwa keselamatanku terancam. Aku masih SD saat itu, 11 tahun. Yang aku ingat di saat itu adalah aku, pulang sekolah, dengan seragam merah putihku, melihat televisi dan di situ, Bapak Presiden yang aku kenal seumur hidupku mengundurkan dirinya di tengah kekacauan yang masif di ibu kota. Rasanya saat itu aku ikut senang karena orang-orang di sekitarku juga

91 menyambut hal itu dengan gembira. Aku tidak yakin aku paham betul dengan apa yang terjadi.

Kerusuhan itu juga datang di Temanggung. Apa yang kamu ingat dengan saat-saat itu? Yang aku ingat adalah aku berkeliling Temanggung dan beberapa rumah-rumah, yang kata orangtuaku milik orang-orang Cina yang lain, jendela- jendelanya pecah atau beberapa ditutup papan. Toko kami juga beberapa kali tutup.

Suatu malam, ada tetangga yang datang sambil berlari, ―Hura-hura!‖ katanya saking paniknya. Ada serombongan orang yang bergerak ke arah rumah kami. Kami sekeluarga langsung dengan panik menutup toko, memasukkan drum minyak tanah ke rumah, dan memalang pintu toko. Aku tidak ingat kemudian apa yang terjadi malam itu, tetapi pagi harinya, orangtuaku menemukan ada sebuah batang pohon besar yang tersisa di depan toko. Mungkin ada yang melempari toko kami dengan batu dan batang kayu itu. Yang menjadi ketakutan Mamahku saat itu adalah banyaknya drum minyak tanah di depan toko kami. Untunglah tidak terjadi hal yang lebih parah seperti pembakaran. Ingat CFC yang dulu ada di daerah Terminal Lama? Saat kerusuhan terjadi, tempat itu juga menjadi sasaran pelemparan batu, dinding luarnya yang banyak terbuat dari kaca itu pecah. Setelah itu, mereka langsung tutup dan tidak pernah buka lagi. Tamat sudah warung ayam goreng waralaba pertama dan satu-satunya di Temanggung.

92 Aku tidak benar-benar mengingat apakah aku mengalami ketakutan ataukah aku merasa terancam dengan keberadaanku sebagai orang keturunan Cina. Saat itu aku belum benar-benar menyadari apa yang sebenarnya terjadi di Negara ini. Aku masih anak-anak dan selama keluargaku baik-baik saja, maka dunia juga baik-baik saja.

Aku baru menyadari dan memahami kemasifan dari kejadian tahun 1998 tersebut dari buku-buku yang aku baca sekarang. Terutama sejak aku secara khusus melakukan penelitian yang mendalami tentang pengalaman rasisme yang dialami oleh orang Cina ini. Dari buku Jemma Purdey, Anti-Chinese Violence in Indonesia 1996-1999,21 aku menemukan bahwa banyak kerusuhan besar yang

terjadi sebelum memuncak pada Mei 1998 di Jakarta. Temuan yang menarik untukku adalah beberapa kerusuhan seperti di Situbondo dan Tasikmalaya, kerusuhan yang menyerang warga keturunan Cina itu sama sekali tidak ada keterlibatan orang Cina pada kejadian yang memicu kerusuhan. Tetapi akibat dari kerusuhan tersebut, banyak sekali orang keturunan Cina yang menjadi korban.

Banyak sekali sumber yang menuliskan mengenai apa yang terjadi di Mei 1998 itu. Aku membaca tulisan dari Rene L. Pattrirajawane dalam buku Harga yang Harus Dibayar, Sketsa Pergulatan Etnis Cina di Indonesia22, dalam tulisan

21 Jemma Purdey, (2006)

93 itu diceritakan tentang apa saja yang terjadi dari tanggal 13-15 Mei 1998 dan apa saja yang dikorbankan dalam peristiwa tersebut. Banyak bangunan yang rusak dan jumlah korban jiwa dan luka-luka, dan jumlah yang ditampilkan tidak sama dari masing masing sumber. Korban meninggal yang dicatat oleh Tim Relawan bisa mencapai angka 2.244 korban, sedangkan data dari Pemda DKI Jakarta hanya berjumlah 288 korban.23 Belum lagi jumlah wanita-wanita yang kabarnya

keturunan Cina yang diperkosa sepanjang kerusuhan terebut.

Aku belum membaca itu semua ketika aku sudah mulai merasakan berbagai ketakutan. Tidak berbicara terlalu vokal, tidak mencari-cari masalah dengan orang lain, tidak usah berurusan dengan polisi ataupun aparat pemerintahan,

Dalam dokumen CIlik cilik Cina, suk gedhe arep dadi apa sebuah studi Autoetnografi mengenai pengalaman rasisme (Halaman 84-151)