• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mencegah Kecurangan Dalam Pemilu

Dalam dokumen Pemilihan umum sebuah studi (1) (Halaman 33-35)

Setelah diperoleh kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemilu dengan

kesediaan mendatangi TPS dan melakukan pencoblosan untuk menentukan pilihan harapan dan keterwakilan aspirasinya pada sebuah tanda gambar sesorang atau tanda gambar partai politik peserta pemilu, lalu timbul sebuah pertanyaan penuh keraguan; apakah pemilu legislatif ini akan benar-benar berjalan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan aman?

Ikrar Nusa Bakti misalnya mengungkap pengamatannya pada Pemilu 2009 lalu. Kecemasan ini muncul karena tidak sedikit dari partai politik dan khalayak pemilih yang menilai betapa banyak kekurangan pada pelaksanaan pemilu legislatif ini. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai oleh banyak pihak sebagai KPU paling buruk dalam sejarah pemilu di Indonesia.

Tiga hari menjelang hari-H masih ada soal pengiriman kertas suara yang belum sampai ke seluruh pelosok Nusantara.Kertas suara yang rusak juga amat banyak. Sosialisasi bahwa kertas suara yang rusak masih dapat digunakan juga tidak diterima secara lengkap di setiap tempat pemberian suara.

Sosialisasi mengenai cara pencontrengan juga tidak berjalan secara masif dan berjangka panjang. Berbagai simulasi di daerah menunjukkan betapa banyak rakyat yang salah dalam memberikan suara. Belum lagi soal daftar pemilih tetap (DPT) yang diduga menggelembung di sejumlah daerah.Kasus penggelembungan DPT diduga bukan saja terjadi di Jawa Timur, melainkan secara sistematis juga terdapat di 14 provinsi lain.

Secara teoretis, amat sulit bagi seorang pemilih untuk mencontreng dua kali pada Pemilu Legislatif 2009 ini karena adanya sistem pencelupan jari tangan ke tinta yang sulit dibasuh. Namun ada kecurigaan, DPT digelembungkan dengan cara amat canggih,melalui teknologi informasi (IT) yang memungkinkan nomor induk penduduk diperbanyak di beberapa daerah pemilihan. Tinta China yang katanya lekat dan sulit dibasuh itu ternyata juga dapat dikalahkan dengan teknologi kimiawi untuk menghilangkannya.

Ada dua cara agar salah satu partai peserta pemilu dapat memenangkan pemilu legislatif secara signifikan. Pertama, di daerah di mana partai itu kuat, penggelembungan perolehan suara bagi partai itu dapat dilakukan. Kedua, di daerah di mana partai pemerintah itu lemah, surat panggilan untuk memilih pun tidak disampaikan kepada para pemilih yang sudah pasti tidak akan memilih partai itu atau mereka tidak terdaftar di dalam DPT.

3.5.1. Pangkal Kecurangan

Kita patut bertanya di mana pangkal kecurangan ini? Selama ini beredar rumor politik bahwa Departemen Dalam Negeri bertanggung jawab atas penggelembungan DPT itu karena pada Pemilu 2014 data pemilih amat tergantung pada data penduduk yang dibuat oleh Departemen ini.

Terlepas dari kelemahan yang dimiliki partai-partai politik peserta pemilu dan rakyat pemilih yang kurang aktif mendaftarkan diri, pemerintah dan KPU tetap harus bertanggung jawab atas proses pemilu yang luber dan jurdil ini. Ada akibat lain dari penggelembungan DPT itu, yakni kemungkinan penggelembungan suara pemilih pada partai tertentu.

Caranya, DPT digelembungkan dan jika ternyata banyak yang tidak menggunakan hak pilihnya, suara golput itu dimasukkan sebagai suara pendukung salah satu partai tertentu. Kita tahu bahwa kecurangan dapat terjadi pada tingkatan terendah, yaitu tempat pemungutan suara (TPS). Hasil pemilu di tingkat TPS itu kemudian digabungkan ke tingkat desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, gabungan provinsi sampai ke tingkat nasional.

Mulai dari Pemilu 2009 lalu memang ada pusat pemrosesan suara di KPU, tapi kita tak lagi memiliki pusat penghitungan suara tingkat nasional (national tally room) yang setiap saat dapat dipantau publik secara langsung seperti pada Pemilu 2004 di Hotel Borobudur.

3.5.2. Pencegahan Kecurangan

Kecurangan mungkin saja terjadi. Caranya memang berbeda dengan pada era Orde Baru di mana rakyat tidak dapat mengungkapkan kecurangan-kecurangan pemilu yang hasilnya sudah

ditentukan, bahkan sebelum pemilu itu sendiri berlangsung.

Orang dulu tidak peduli pada kecurangan karena pemilu bukanlah sarana demokratis untuk penggantian pemimpin nasional,melainkan sekadar “pesta demokrasi” atau legitimasi politik bagi rezim yang berkuasa saat itu.

Pada Pemilu 2009, rakyat begitu peduli soal kecurangan ini karena mereka tidak mau suaranya dipermainkan pada penghitungan suara. Masih banyak cara untuk mencegah terjadinya

kecurangan pada proses pemilu legislatif ini.

Pertama dan yang utama, para saksi yang ditunjuk oleh partai atau gabungan partai politik harus terus mengikuti jalannya penghitungan suara dari tingkat TPS sampai ke tingkat tertinggi.

Kedua, organisasi-organisasi masyarakat sipil (CSO) harus berani dan aktif dalam

mengungkapkan apakah aparat Departemen Dalam Negeri, TNI, Polri, dan jajaran intelijen menjadi aparat negara yang memihak atau bersifat imparsial?

Ketiga, media massa juga dapat menjadi watchdog dari pelaksanaan pemilu ini. Mereka sepatutnya menjadi salah satu tiang demokrasi yang dipercayai rakyat.

Keempat, para caleg dan partai-partai politik juga harus aktif memantau apakah terjadi kecurangan pada proses pemilu ini?

Kita berharap proses Pemilu Legislatif 2014 ini benar-benar berlangsung secara luber, jurdil, dan damai dengan hail yang memuaskan elegan dan minim dari sengketa Pemilu. Ini merupakan pertaruhan bagi citra politik negara kita di mata internasional dan di mata rakyatnya sendiri. Dan bagi KPU sendiri menjadi catatan sejarah penyelenggaraan Pemilu yang betul-betul terencana dengan persiapan yang matang dan pola manajemen yang mantap dan didukung oleh

penggunaan IT yang tepat serta aparatur yang taat azas.

Sejak reformasi Mei 1998, Indonesia dipandang sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang dapat menyandingkan demokrasi dan Islam. Indonesia juga negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika Serikat. Pada tingkatan Asia Tenggara, Indonesia adalah negara paling demokratis dan paling bebas mengemukakan pendapat di muka umum.

Melalui demokrasi pula kita dapat mempertahankan NKRI tanpa harus melalui penerapan “politik ketakutan” seperti era Orde Baru. Janganlah hanya karena nafsu kekuasaan, ada peserta pemilu yang menghalalkan segala cara untuk memenangi pemilu. Jika ini terjadi, runtuh sudah citra Indonesia yang dalam dua pemilu sebelumnya terbukti amat demokratis, luber, jurdil, dan aman.

Dalam dokumen Pemilihan umum sebuah studi (1) (Halaman 33-35)

Dokumen terkait