• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

3) Menembakkan Bola (Shooting Ball)

Shooting ball adalah teknik menembakkan bola ke dalam ring basket yang dapat dilakukan dengan cara diam di tempat atau gerakan melompat dengan jarak tertentu. Keberhasilan regu dalam permainan selalu ditentukan oleh keberhasilan dalam menembak. Muhajir (2007 : 126) menjelaskan bentuk-bentuk teknik gerakan menembak dalam permainan bola basket antara lain : (1) tembakan satu tangan di atas kepala, (2) tembakan lay-up, (3) menangkap bola dilanjutkan menembak (lay-up), (4) tembakan meloncat dengan dua tangan (jump shot) dan (5) tembakan kaitan.

Gambar 6. Teknik menembakkan bola (Roji, 2007 : 40)

d. Peraturan Permainan Bola Basket

Awal permainan ditandai dengan pertandingan dimulai jika kedua regu sudah siap di lapangan. Pertandingan resmi dimulai saat wasit dengan memegang bola, melangkah ke lingkaran tengah untuk melaksanakan bola loncat dan pertandingan di mulai dengan bola loncat di lingkaran tengah. Kedudukan bola yaitu bola berada dalam permainan pada saat bola dilepaskan dari tangan wasit. Pada saat lemparan bebas, wasit memberikan bola kepada pemain yang akan melaksanakan lemparan bebas dan pada saat throw-in dari luar garis bebas bola berada di tangan pemain yang akan melaksanakan throw-in (lemparan ke dalam)

Bola menjadi mati apabila terjadi gol atau lemparan bebas yang sah, wasit meniup peluitnya ketika bola ada dalam permainan, dan secara jelas bahwa bola tidak akan masuk ke jaring pada saat melakukan tembakan bebas. Cara memainkan bola antara lain bola dimainkan dengan dua tangan, mengontrol bola dengan berbagai cara yaitu melempar, menangkap, memantulkan dan menggiring bola, apabila bola ditendang atau ditinju dengan sengaja maka disebut dengan pelanggaran, dan menyentuh bola dengan kaki tanpa sengaja bukan merupakan pelanggaran.

Penilaian dalam permainan adalah perolehan angka terjadi pada saat bola hidup masuk keranjang dari atas, gol yang terjadi di lapangan diberi nilai untuk regunya yang sedang melakukan serangan ke jaring sebagai berikut : (1) gol dari lemparan bebas dihitung 1 angka, (2) gol dari lapangan dihitung 2

angka, (3) gol yang dibuat dari daerah 3 angka dihitung 3 angka, dan (4) angka dapat diperoleh sebanyak-banyaknya dalam waktu yang dientukan. e. Perwasitan Permainan Bola basket

Pertandingan bola basket dipimpin oleh dua orang wasit yang mempunyai tugas sebagai berikut : (1) Memimpin jalannya pertandingan, (2) Melaksanakan bola loncat pada setiap permulaan babak, (3) Memeriksa dan mengesahkan semua perlengkapan alat pertandingan, (4) Menetapkan jam permainan yang resmi, (5) Melarang pemain menggunakan alat-alat yang membahayakan, (6) Mengesahkan atau tidak mengesahkan gol, dan (7) Berhak menghentikan pertandingan setiap saat.

Pedoman dalam mewasiti yaitu setiap terjadi pelanggaran, wasit meniup peluit sambil mengangkat tangan dan telapak tangan terbuka, bila terjadi lemparan ke dalam, wasit yang terdekat harus mengacungkan tangan ke atas dengan telapak tangan terbuka, wasit harus selalu mengingat kedudukan dan posisinya sebagai wasit pemandu dan wasit penyerta, dan wasit harus selalu bergerak untuk memeperoleh tempat dalam mengamati bola dengan tepat dan memelihara konsentrasi.

f. Evaluasi Permainan Bola Basket

Evaluasi yang dipakai dalam pembelajaran bola basket ada dua yaitu : (1) Evaluasi proses, adalah penilaian terhadap cara-cara yang ditempuh untuk memperoleh informasi mengenai proses kegiatan pembelajaran dan produk yang dihasilkan dalam pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik.

Menurut Rusli Lutan dan Adang Suherman, (2000 : 1) ”sebagai sebuah proses yang berencana, evaluasi juga merupakan upaya sadar untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan dan diharapkan berhasil dicapai. Evaluasi pendidikan jasmani sejalan dengan upaya untuk meningkatkan ,mutu dan kemajuan program”, dan (2) Evaluasi hasil, adalah penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan indikator dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Menurut Rusli Lutan dan Adang Suherman, (2000 : 22) ”evaluasi merupakan proses penentuan nilai atau kelayakan data yang terhimpun, evaluasi mencakup pemanfaatan tes dan pengukuran atau sebagai proses penilaian kualitatif data yang telah diperoleh melaui pengukuran”. Di dalam kegiatan penilaian ini terdapat tiga aspek yang harus dievaluasi meliputi 1) Aspek Kognitif

Menurut Bloom dalam Rusli Lutan dan Adang Suherman, (2000 : 77) ”domain kognitif mencakup tujuan yang berkenaan dengan kemampuan untuk mengingat atau menguraikan kembali pengetahuan dan perkembangan kemampuan oleh keterampilan intelektual:. Meskipun Pendidikan jasmani berorientasi pada pembinaan perkembangan kemampuan motorik sebagai tujuan yang utama, evaluasi terhadap aspek pengetahuan dalam pendidikan jasmani dan kesehatan juga dilaksanakan, dengan catatan pelaksanaannya sesuai dengan proporsi yang direncanakan danmememenuhi kesahihan isi. Menurut Rusli Lutan dan Adang Suherman, (2000 : 89), ”tes kognitif menekankan power tes dan performa dalam tes kognitif yang dipengaruhi oleh faktor budaya, psikologi,

kecanggihan tes, pola respon pelatihan dan pembinaan serta pengadministrasian tes”.

Menurut Adang Suherman dan Agus Mahendra (2001 : 116) menyebutkan “isi atau materi aspek kognitif dalam penjas bukan hanya yang berkaitan dengan apa dan bagaimana tentang fenomena gerak, tetapi meliputi pula aspek mengapa hal itu bisa terjadi, termasuk faktor apa yang berpengaruh.” Selanjutnya Adang Suherman dan Agus Mahendra (2001 : 116-117) menagtakan “Para ahli sepakat, bahwa pengetahuan yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan relevan, akan bertahan lebih lama dari pada hanya melalui mendengar atau membaca.” Berkaitan dengan pengetahuan yang lengkap tersebut, guru dapat mengajarkannya langsung dilapangan ketika siswa sedang menagalami gerak. Harus diyakini pula bahwa pembelajaran akan lebih cepat terjadi ketika siswa mengerti prinsip-prinsip yang terlibat dalam pelaksanaan keterampilan. 2) Aspek Afektif

Menurut Krathwoohl, Bloom dan Maria dalam Rusli Lutan dan Adang Suherman, (200 : 78), ”Aspek afektif mencakup tujuan yang berkenaan perubahan dalam minat, sikap dan nilai serta perkembangan apresiasi dan penyesuaian”. Dalam pendidikan jasmani pengembangan aspek afektif menjadi salah satu tujuan pendidikan yang sangat penting karena pendidikan jasmani dan olahraga memang menyangkut sikap, perhatian dan nilai yang melandasi perilaku seseorang untuk membentuk watak atau perlunya pengembangan ”fair play” dalam pertandingan yang merupakan

sifat untuk mengendalikan kehidupan. Menurut Rusli Lutan dan Adang Suherman, (2000 : 123) ”Pengembangan sikap dalam domain afektif melekat dalam setiap tugas ajar pendidikan jasmani, perkembangan afektif berlangsung melalui suatu proses sebagai atribut psikologi, sifat-sifat afektif dapat diukur perorangan”.

Strategi pembelajaran afektif yang sudah digunakan dalam program pendidikan jasmani selama ini, baru terbatas pada upaya membangkitkan sikap dan minat siswa terhadap pendidikan jasmani, walaupun tanpa pegangan yang jelas. Penilaian aspek afektif dapat diguankan untuk memfokuskan perhatian, memelihara konsentrasi, menimbulkan dan menjaga motivasi, mengelola kecemasan, mengembangkan harga diri, dan mempelajari etika, serta perilaku sosial.