BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
V. Menetapkan biaya perkara dibebankan kepada Negara.
7.
PembahasanBahwa terdakwa dalam kasus perkara No 256/Pid.B/2010/PN.Jkt.Tim, Terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO didakwakan dengan dakwaan yang disusun secara alternatif artinya pilihan, yaitu melanggar pasal :
Pertama : Melanggar Pasal 12 ayat (1) Jo. Pasal 26 ayat (4) UU No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman, atau
Kedua : Melanggar Pasal 167 ayat (1) KUHP.
Sehingga dengan dakwaan yang disusun secara alternatif tersebut, Majelis Hakim dapat mempertimbangkan lebih dahulu dakwaan yang dianggap lebih terbukti sesuai hasil pemeriksaan dipersidangan dan apabila dakwaan tersebut terbukti maka dakwaan alternatif yang lain tidak perlu dipertimbangkan lagi, akan tetapi bila tidak terbukti maka dakwaan yang lain akan dipertimbangkan pula.
Dalam pengamatan Majelis Hakim setelah membaca dan meneliti surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum Nomor Register Perkara : PDM- 113/JKTM/01/2010 tanggal 29 Januari 2010, Majelis Hakim terlebih dahulu membuktikan dakwaan pertama melanggar Pasal 12 ayat (1) Jo. Pasal 26 ayat (4) UU No.4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. Penuntut Umum dalam tuntutannya juga menganggap bahwa dalam surat tuntutannya menuntut supaya terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO, dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan pertama, yaitu : Pasal 12 ayat (1) Jo. Pasal 36 ayat (4) UU No.4 Tahun 1992, sehingga dengan
commit to user
demikian antara Majelis Hakim dengan Penuntut Umum satu pendapat tentang terbuktinya pasal dakwaan terhadap terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO. Sedangkan Penasihat Hukum terdakwa menyatakan terdakwa tidak terbukti bersalah. Dari keterangan para saksi dan para ahli serta bukti-bukti surat dan keterangan terdakwa dipersidangan dihubungkan pula dengan barang bukti yang diajukan dipersidangan telah diperoleh fakta hukum antara lain sebagai berikut :
1. Bahwa Perusahaan Umum Pegadaian memiliki 38 unit rumah dinas diatas tanah dengan status Hak Guna Bangunan (HGB) Sertifikat No.512 dengan luas tanah 10.450 M2 yang terletak di Desa/Kelurahan Cipinang Besar Selatan, Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur.
2. Bahwa rumah-rumah dinas tersebut diserahkan kepada para karyawan Perum Pegadaian untuk ditempati melalui Surat Penunjukan.
3. Bahwa suami terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO yang bernama R. SOEKARNO, selaku karyawan Perum Pegadaian memperoleh fasilitas rumah dinas di Jln. Cipinang Jaya II No.38, Rt.007/007, Kel. Cipinang Besar Selatan, Kec. Jatinegara Jakarta Timur melalui Surat Penunjukan No.BM.7/28/19, tanggal 21 Februari 1987
4. Bahwa berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perum Pegadaian No.Bg.4/11/29, Tanggal 24 April 1996 hak suami tedakwa untuk menempati rumah dinas tersebut dicabut terhitung tanggal 24 April 1996 5. Bahwa walaupun suami terdakwa telah pensiun pada Oktober 1987 dan
meninggal dunia pada tanggal 21 Maret 2003, Terdakwa beserta anak-anak dan cucunya masih menempati rumah dinas Perum Pegadaian tersebut sampai dengan sekarang. Perum Pegadaian telah melakukan langkah- langkah persuasif untuk membujuk supaya terdakwa dan keluarganya meninggalkan rumah dinas karena akan dipakai oleh karyawan yang masih aktif, dan juga telah pula mengeluarkan surat perintah pengosongan ( Surat
commit to user
tertanggal 24 April 1996 No.BG.4/11/29 dan tanggal 19 Agustus 2008 No.235/Log.300.313/08).
Apabila ditilik atau ditinjau dari pasal dakwaan kesatu Jaksa Penuntut Umum Pasal 12 ayat (1) Jo. Pasal 36 ayat (4) UU No.4 Tahun 1992 adalah :
1. Setiap orang atau badan.
2. Dengan sengaja menghuni rumah yang bukan miliknya. 3. Tanpa adanya persetujuan atau izin dari pemiliknya.
Sesuai dengan fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan diatas Majelis Hakim menyimpulkan bahwa sampai dengan tanggal 24 April 1996, keberadaan tedakwa menempati rumah dinas milik pegadaian adalah sah karena ada surat penunjukan rumah dinas, sedangkan setelah terbitnya surat pencabutan menempati rumah dinas dari Direksi Perum Pegadaian No.Bg.4/11/29 tanggal 24 April 1996 tersebut. Sehingga berdasarkan fakta- fakta hukum diatas maka perbuatan terdakwa telah memenui seluruh unsure delik dari ketentuan hukum yang didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama, yaitu, sengaja menghuni atau menempati rumah yang bukan miliknya tanpa persetujuan atau izin pemiliknya.
Dari uraian pertimbangan hukum Majelis Hakim tersebut diatas meskipun terdakwa dianggap telah terbukti melakukan perbuatan memenuhi unsur delik dari ketentuan hukum yang didakwakan. Dalam dakwaan alternatif pertama ternyata Majelis Hakim dalam pertimbangan hukum selanjutnya masih mempertimbangkan lagi apakah dengan terbuktinya terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO (sebagaimana dalam dakwaan alternatif pertama), apakah terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO dapat dipertanggung jawabkan atas perbuatannya dan dinyatakan bersalah serta harus dijatuhi pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 36 ayat (4) UU No.4 Tahun 1992 tersebut, sehingga oleh karenanya Majelis Hakim mempertimbangkan sebagaimana dibawah ini :
1. Bahwa Pasal 12 ayat (7) UU No.4 Tahun 1992 menentukan bahwa Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2),
commit to user
ayat (3), ayat (4), ayat (5) dan ayat (6), diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
2. Bahwa Peraturan Pemerintah yang dimaksud sebagai peraturan Pelaksanaan UU No.4 Tahun 1992 itu adalah Peraturan Pemerintah No.40 Tahun 1994 Tentang Rumah Negara, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah No.31 Tahun 2005.
3. Bahwa Pasal 16 PP No.31 Tahun 2005 Jo. Pasal 16 PP no.40 Tahun 1994 menyatakan bahwa : Rumah Negara golongan III sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) beserta atau tidak beserta tanahnya hanya dapat dialihkan haknya kepada penghuni atas permohonan penghuni.
4. Bahwa pasal 17 kedua PP tersebut mengatur bahwa yang dapat mengajukan permohonan pengalihan hak adalah : Pegawai Negeri, Pensiunan Pegawai Negeri, Janda/Duda Pegawai Negeri, Janda/Duda Pahlawan dan Pejabat Negara, Janda/Duda Pejabat Negara.
Didalam persidangan terungkap fakta berupa suami terdakwa, Ny. SOETARTI SOEKARNO yang bernama R. SOEKARNO. Sedangkan berdasarkan surat Direksi Perum Pegadaian tanggal 10 September 2008 No :235/Log.300.313/08, permohonan terdakwa dan kawan-kawannya itu tidak dapat dikabulkan oleh Direksi Perum Pegadaian, maka terdakwa bersama kawan-kawannya mengajukan Gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara antara Terdakwa dan kawan-kawan melawan Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Perum Pegadaian ini masih dalam proses pemeriksaan ditingkat kasasi dan terdaftar di Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tanggal, 19 Nopember 2009 dibawah Nomor :406 K/TUN/2009. Yang sampai perkara ini disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur belum ada putusan kasasi tersebut. Atas keadaan tersebut Majelis Hakim dengan mendasarkan pada ketentuan Pasal 12 ayat (7 ) UU No. 4 Tahun 1992 yang menentukan bahwa ketentuan pelaksanaan Pasal 12 ayat (7) UU No. 4 Tahun 1992 tersebut menentukan bahwa pelaksanaan ketentuan Pasal 12 ayat (1)
commit to user
tersebut diatur dengan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Pemerintah yang dimaksud member hak kepada terdakwa dan kawan-kawannya untuk mengajukan permohonan peralihan hak atas rumah dinas itu dan permohonan yang dimaksud telah dilakukan oleh terdakwa, sementara sengketa mengenai permohonan peralihan hak ini masih digelar di Pengadilan Tata Usaha Negara, dimana proses pemeriksaannya masih berjalan pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung, sehingga demikian penuntutan terhadap terdakwa menempati dan atau menghuni rumah dinas pegadaian tersebut secara causalitas masih digantungkan kepada putusan yang bersifat tetap dari Peradilan Tata Usaha Negara. Sehingga karena penuntutan pidana terhadap terdakwa masih digantungkan kepada hasil pemeriksaan dan putusan yang bersifat tetap dari badan peradilan lain, maka penuntutan pidana dari penuntut umum terhadap terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO adalah terlalu cepat atau telalu dini ( Prematur ). Sehingga karenanya terhadap penuntutan pidana yang dinyatakan prematur, maka penuntutan pidana terhadap terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO haruslah dinyatakan tidak dapat diterima dan terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO harus dinyatakan lepas dari tuntutan hukum ( Ontslag van alle rechtsvervolging). Mencermati apa yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim tersebut, sesungguhnya bahwa pengajuan terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO dalam perkara ini seharusnya terhadap diri terdakwa Ny. SOETARTI SOEKARNO baik sejak berstatus sebagai tersangka ( masih dalam tingkat penyidikan ), tingkat penuntutan, tingkat pemeriksaan di Pengadilan Negeri ( sebagai terdakwa ) adalah belum waktunya ( Prematur ) karena penuntutan pidana terhadap terdakwa masih digantungkan pada hasil pemeriksaan dari hasil yang bersifat tetap.
commit to user
BAB IV. PENUTUP