• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Menyatakan Terdakwa SYAFRUDDIN ARSYAD TEMENGGUNG terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana;

2. Melepaskan Terdakwa tersebut oleh karena itu dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging);”

3. Memulihkan hak Terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya;

4. Memerintahkan agar Terdakwa dikeluarkan dari tahanan;

5. Menetapkan barang bukti berupa:

- Nomor 746 berupa : 3 (tiga) buah buku paspor a.n. Syafruddin Arsyad Temenggung, dikembalikan kepada Terdakwa;

- Nomor 768 berupa : 1 (satu) handphone Merk Samsung warna Gold, Model SM-G925F, S/N: RR8G400QS6F, IMEI:359667064080503 beserta Simcard Indosat Ooredoo dengan nomor kode 6201 3000 2245 16358-U, Dikembalikan kepada Herman Kartadinata;

- Selainnya yaitu barang bukti Nomor 1 sampai dengan Nomor 745, Nomor 747 sampai dengan Nomor 767 dan Nomor 769 sampai dengan Nomor 776, selengkapnya sebagaimana dalam amar Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 39/PID.SUS/TPK/

2018/PN. JKT.PST. tanggal 24 September 2018;

6. Membebankan biaya perkara pada seluruh tingkat peradilan dan pada tingkat kasasi kepada Negara;

9. Pembahasan

Upaya kasasi adalah hak yang diberikan kepada terdakwa maupun kepada penuntut umum. Tergantung pada mereka unuk mempergunakan hak tersebut.

Seandainya mereka dapat menerima putusan yang dijatuhkan, dapat mengesampingkan hak itu, tetapi apabila keberatan atas putusan yang diambil,

commit to user

114

dapat mempergunakan hak tersebut untuk mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung (M. Yahya Harahap, 2012; 537)

Syarat materiil Kasasi diatur dalam Pasal 253 ayat (1) KUHAP yaitu Pemeriksaan dalam tingkat Kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung atas permintaan para pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 dan Pasal 248 guna menentukan (Imanunggal Adhi Saputro,2014:37):

a. apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya;

b.apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang;

c. apakah benar pengadilan telah melampaui batas wewenangnya.

Dalam putusan 1555 K/Pid.Sus/2019 menurut penulis telah memenuhi unsur dari pasal 253 ayat (1) KUHAP. Mahkamah Agung dalam pertimbangannya membenarkan jika judex factie telah salah dan keliru dalam menerapkan hukum dan telah salah menerapkan hukum dengan tidak semestinya. Dua orang hakim anggota membenarkan alasan pengajuan kasasi tersebut yang dalam pertimbangannya karena perbuatan yang dilakukan oleh Terdakwa bukan merupakan suatu tindak pidana, maka dari itu tidak dibenarkan jika didakwakan dengan pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 Ayat (1) jo. Pasal 55 ayat Ke-1 KUHPidana.

Kemudian dalam putusan Mahkamah Agung Nomor 1555K/Pid.Sus/2019 terdapat dissenting opinion dari para Majelis Hakim mengenai ranah yang tepat sesuai dengan perbuatan terdakwa.

Dissenting opinion yaitu pendapat dari satu atau lebih anggota Majelis Hakim dalam membuat pernyataan yang memperlihatkan ketidak setujuan terhadap putusan dari mayoritas anggota Majelis Hakim yang membuat keputusan di dalam sebuah sidang pengadilan, dan perbedaan pendapat ini akan dicantumkan dalam amar putusan (Pontang Moerad, 2005;111). Adanya commit to user

115

perbedaan pendapat (dissenting opinion) dari seorang hakim tidak terlepas dari unsur pertimbangan hukum (legal reasoning), keyakinan, dan kepribadian hakim yang merupakan aspek psikologi hukum. Hakim memiliki cara atau mekanisme yang berbeda-beda dalam memutus suatu perkara (M. Natsir Asnawi, 2013;181).

Salman Luthan selaku Hakim Ketua Majelis Hakim telah mengajukan dissenting opinion dan menyampaikan bahwa judex factie telah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan undang-undang yang berlaku dan tidak salah menerapkan hukum atau sudah menerapkan hukum sebagaimana mestinya dalam mengadili Terdakwa. Pembuktian yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menerapkan dan sesuai dengan sistem pembuktian dalam hukum acara pidana yang diatur dalam Pasal 183 dan 184 KUHAP. Dalam pertimbangannya Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah mempertimbangkan hal-hal yang dapat meringankan atau memberatkan terdakwa selama berlangsungnya persidangan.

Hakim Ketua Majelis yaitu Salman Luthan berpendapat bahwa alasan kasasi Terdakwa yang mendalilkan bahwa judex facti tidak berwenang atau melampaui batas wewenang mengadili, dengan alasan perkara Terdakwa merupakan wewenang Peradilan Hukum Perdata dan merupakan sengketa hukum perdata, berdasarkan adanya perjanjian Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA) tidak dapat dibenarkan, karena perjanjian MSSA tersebut mengandung cacat yuridis karena adanya misrepresentasi, informasi yang menyesatkan atau informasi yang benar yang tidak diungkap.

Dalam alasan kasasi terdakwa disebutkan bahwa Perbuatan terdakwa menerbitkan menerbikan surat keterangan lunas tersebut berdasarkan wewenang formal yang dimilikinya namun pada kenyataanya hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan pemberian wewenang kepada Terdakwa, yaitu untuk menyehatkan perbankan dan untuk mengusahakan penyelamatan uang negara sebagaimana ditentukan Pasal 3 Ayat (1) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1999 tentang Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Sehingga menurut Hakim Ketua alasan kasasi terdakwa yang mendalilkan bahwa judex commit to user

116

factie tidak berwenang atau melampaui batas wewenang dengan alasan perkara terdakwa merupakan wewenang Peradilan Hukum Administrasi Negara juga tidak dapat dibenarkan.

Salman Luthan selaku Hakim Ketua Majelis yang mengajukan dissenting opinion juga berpendapat bahwa judex facti telah mengadili Terdakwa sesuai dengan kewenangannya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan tidak salah menerapkan hukum. Mengingat bahwa putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta (judex factie) sudah tepat, maka sudah seharusnya Mahkamah Agung menjatuhkan putusan menolak permohonan kasasi yang diajukan oleh Terdakwa.

Perbuatan terdakwa dalam penerbitan SKL tentang pemenuhan kewajiban Pemegang Saham didasarkan atas perintah jabatan karena kedudukan Terdakwa sebagai Ketua BPPN yang diangkat oleh Presiden Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Nomor 73/M tahun 2002 pada tanggal 22 April 2002. Dalam pertimbangannya, Hakim Anggota Mohamad Askin berpendapat bahwa perkara ini adalah wewenang Peradilan Hukum Administrasi Negara karena pada saat penerbitan SKL didasarkan atas kewenanganya selaku ketua BPPN yang diatur dalam Pasal 37A Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Perbuatan Terdakwa dalam penerbitan SKL tidak dapat dikatakan telah melakukan tindak pidana karena Terdakwa telah menjalankan kewajibannya dan melaksanakan perintah jabatan. Oleh karenanya, Judex factie keliru dalam menerapkan Undang-Undang Perbendaharaan Negara sebagai dasar hukum meletakkan penerbitan SKL sebagai perbuatan melawan hukum. Judex factie juga keliru menentukan waktu terjadinya kerugian keuangan negara.

Hakim Anggota 1 (satu) H. Syamsul Rakan Chaniago dalam pertimbangannya berpendapat bahwa perkara ini merupakan sengketa hukum perdata dan yang berwenang adalah Peradilan Hukum Perdata karena adanya perjanjian MSSA. Beliau menyatakan bahwa diterbitkannya SKL didasarkan oleh adanya perjanjian MSSA dan debitur yang telah memenuhi kewajibannya.

Penerbitan SKL dianggap sebagai penegasan atas kebijakan Pemerintah dalam commit to user

117

rangka pemberian jaminan kepastian hukum sehubungan dengan penyelesaian BLBI melalui penandatanganan perjanjian Pemenuhan Kewajiban Pemegang Saham yang tertuang dalam MSSA. Bahwa dengan demikian kebijakan yang ditempuh melalui mekanisme di luar Pengadilan (out of court settlement) tersebut, jika di dalam proses ada kesalahan dalam perhitungan atau penerapan aturan, atau kekeliruan dalam penyampaian data (misrepresentation), maka haruslah diselesaikan melalui mekanisme keperdataan dan/atau pembuktian menurut norma-norma hukum perdata.

Sementara itu, dalam putusan ini, Hakim Anggota 1 yaitu H. Syamsul Rakan Chaniago dan Hakim Anggota 2 yaitu Mohammad Askin, mempertimbangkan bahwa terdapat kekhilafan hakim serta kesalahan dalam penerapan hukum pada putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta (judex factie). Mayoritas Majelis Hakim sepakat menyatakan bahwa Terdakwa terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana.

Putusan tersebut menggambarkan bahwa pertimbangan Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa judex factie tidak memperhatikan aspek darurat dan permintaan sesekali yang mendorong kronologi kelahiran dan pembentukan BPPN sebagai legislasi yang dilimpahkan berdasarkan Pasal 37A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang kemudian memiliki alasan untuk diterima sebagai salah satu solusi yang tidak dapat dilakukan dihindari oleh Pemerintah untuk menyelesaikan masalah BLBI. Dalam pertimbangannya Terdakwa dinilai bersalah karena menerbitkan SKL BLBI untuk Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) pada 2004. Seyogianya, pada waktu itu Terdakwa tidak menerbitkan SKL tersebut karena Sjamsul Nursalim selaku pemilik BDNI (kini tersangka), belum menyetor semua kewajibannya.

Padahal, inti pokok masalah dalam perkara ini adalah ada tidaknya unsur merugikan keuangan negara. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai pihak yang memiliki otoritas untuk menentukan adanya kerugian negara, memastikan telah terpenuhi unsur merugikan keuangan negara, dengan besaran kerugian kuangan negara sebesar 4,58 triliun rupiah. Jelas telah disimpulkan dari kerugian commit to user

118

finansial (ekonomi) yang ditimbulkan dikaitkan dengan aspek keuangan negara.

Secara hukum acara hakim semestinya terikat dengan bukti berupa fakta hukum.

Sementara keterangan ahli hanyalah bukti tambahan yang menguatkan fakta hukum.(Dr. Kadi Sukarna, SH., M.Hum,2016;15)

Menurut penulis, mayoritas Majelis Hakim Mahkamah Agung kurang cermat memperhatikan unsur yuridis di mana dalam perjanjian tersebut mengandung cacat yuridis karena adanya misrepresentasi, informasi yang menyesatkan atau informasi yang benar yang tidak diungkap, khususnya mengenai ketidakbenaran informasi tentang piutang BDNI yang diinformasikan oleh Sjamsul Nursalim kepada BPPN sebagai piutang lancar, tetapi sesungguhnya merupakan piutang macet. Hakim Anggota 2 (dua) Mohamad Askin seharusnya juga lebih cermat memperhatikan bahwa penggunaan wewenang oleh Terdakwa tidak sesuai dengan tujuan pemberian wewenang kepada Terdakwa, yaitu untuk menyehatkan perbankan dan untuk mengusahakan penyelamatan uang negara sebagaimana dalam Pasal 3 Ayat (1) huruf c PP No. 17 Tahun 1999 tentang BPPN.

Berdasarkan Pasal 182 ayat (6) jo. Pasal 256 KUHAP yaitu

Pada dasarnya putusan dalam musyawarah majelis merupakan hasil permufakatan bulat kecuali jika hal itu setelah diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak dapat dicapai, maka berlaku ketentuan sebagai berikut;

a. putusan diambil dengan suara terbanyak;

b. jika ketentuan tersebut huruf a tidak juga dapat diperoleh putusan yang dipilih adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan bagi terdakwa.

Maka berdasarkan pasal 182 ayat (6) jo. Pasal 256 KUHAP, putusan diambil dengan suara terbanyak yaitu dengan memutus lepas Terdakwa karena judex factie telah keliru dan menurut pertimbangan Hakim perbuatan Terdakwa bukan merupakan tindak pidana dan pengadilan tidak memiliki kewenangan untuk menjatuhkan pidana kepada Terdakwa.

Sebagaimana diatur dalam Pasal 182 ayat (6) KUHAP apabila apabila dalam suatu penjatuhan putusan tidak terjadi pemufakatan bulat, maka penjatuhan putusan dilakukan dengan cara diambil berdasarkan suara terbanyak commit to user

119

(voting), dan jika cara voting tidak berhasil maka penjatuhan putusan diambil yang paling meringankan Terdakwa. Mayoritas Majelis Hakim yang terdiri dari Hakim Anggota 1 (satu) dan Hakim Anggota 2 (dua) sepakat menyatakan bahwa judex facti telah salah dan keliru dalam menerapkan hukum dan judex facti terbukti telah menerapkan hukum tidak sebagaimana mestinya dalam mengadili Terdakwa. Sementara Hakim Ketua Majelis yang mengajukan dissenting opinion, berpendapat bahwa judex facti telah mengadili Terdakwa sesuai dengan kewenangannya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan tidak salah menerapkan hukum atau menerapkan hukum sudah sebagaimana mestinya dalam mengadili Terdakwa.

Perbedaan pendapat tersebut membuat penjatuhan putusan dalam perkara ini dilakukan dengan cara voting atau mengambil berdasarkan suara terbanyak, yang kemudian dari suara terbanyak diperoleh bahwa Terdakwa terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana. Berbeda halnya jika votting gagal karena jumlah suara seimbang, maka baru ada akibat hukum lainnya yaitu diambil putusan yang paling meringankan Terdakwa, sebagaimana diatur dalam Pasal 182 Ayat (6) KUHAP. Berkaitan dengan hal tersebut, putusan Mahkamah Agung nomor 1555 K/Pid.sus/2019 menunjukkan adanya majority opinion dan minority opinion, sehingga yang diambil adalah suara yang terbanyak di mana berpendapat bahwa perbuatan Terdakwa bukanlah suatu tindak pidana. Oleh karenanya hal ini mengakibatkan permohonan kasasi diterima dan putusan ontslag van alle rechtsvervolging.

Mahkamah Agung dalam putusannya juga mengadili sendiri perkara tersebut dengan menyatakan Terdakwa Syafruddin Arsyad Temenggung terbukti melakukan perbuatan sebagaimana didakwakan kepadanya, akan tetapi perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana dan melepaskan Terdakwa tersebut oleh karena itu dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging). Hakim dalam menjatuhkan putusan lepas dari segala tuntutan hukum, mangacu pada Pasal 191 Ayat (2) KUHAP yang mengatur jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada Terdakwa commit to user

120

terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka Terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum (Anak Agung Gede Wiweka Narendra dkk,2020;245). Dan diterimanya permohonan kasasi dari Terdakwa karena terpenuhinya syarat formil dan alasan-alasan kasasi, maka Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi Terdakwa dan membatalkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 29/PID.SUS-TPK/2018/PT.DKI yang mengubah amar Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 39/PID.SUS/TPK/2018/PN.JKT.PST.

Akibat hukum lainnya dari putusan lepas dari segala tuntutan tindak pidana dalam putusan Mahkamah Agung nomor 1555 K/Pid.sus/2019 yaitu putusan tersebut tidak bisa dilakukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Hal ini ditegaskan dalam Pasal 263 Ayat (1) KUHAP yang mengatur bahwa:

“Terhadap putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum. Terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permintaan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung.”

Dengan demikian, kebekuan Pasal 263 yang dianggap tidak memberi hak kepada penuntut umum mengajukan peninjauan kembali baik terhadap putusan pemidanaan maupun putusan bebas dan putusan lepas telah dicairkan oleh putusan yang dimaksud. (Yahya Harahap,2001;656)

Pada hakikatnya, walaupun secara tersirat adanya upaya hukum yang dapat dilakukan oleh korban kejahatan dalam hal ini negara dan juga masyarakat selaku korban dalam perkara korupsi. Khusus terhadap upaya hukum Peninjauan Kembali, dalam praktiknya telah dilakukan baik oleh saksi korban, pihak ketiga yang berkepentingan, penasihat hukum maupun oleh jaksa penuntut umum (Parman Soeparman,2007:84). Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang mengubah Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 juga tidak jauh berbeda yaitu bersifat formalistis yuridis dan tidak memperhatikan kepentingan korban. Menurut Putusan MK No. 33/PUU-XIV/2016 bagian 3.11 melarang Jaksa Penuntut Umum melakukan Upaya Peninjauan Kembali:

commit to user

121

“Upaya Peninjauan Kembali dilandasi filosofi pengembalian hak dan keadilan seseorang yang meyakini dirinya mendapat perlakuan yang tidak berkeadilan yang dilakukan oleh negara berdasarkan putusan hakim, oleh karena itu hukum positif yang berlaku di Indonesia memberikan hak kepada terpidana atau ahli warisnya untuk mengajukan upaya hukum luar biasa yang dinamakan dengan Peninjauan Kembali.

Dengan kata lain, lembaga Peninjauan Kembali ditujukan untuk kepentingan terpidana guna melakukan upaya hukum luar biasa, bukan kepentingan negara maupun kepentingan korban, sebagai upaya hukum luar biasa yang dilakukan oleh terpidana, maka subjek yang berhak mengajukan Peninjauan Kembali adalah hanya terpidana ataupun ahli warisnya,sedangkan objek dari pengajuan Peninjauan Kembali adalah putusan yang menyatakan perbuatan yang didakwakan dinyatakan terbukti dan dijatuhi pidana, oleh karena itu sebagai sebuah konsep upaya hukum bagi kepentingan terpidana yang merasa tidak puas terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum tidaklah termasuk ke dalam objek pengajuan Peninjauan Kembali, karena putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum pastilah menguntungkan terpidana; pranata Peninjauan Kembali diadopsi semata-mata untuk kepentingan terpidana atau ahli warisnya dan hal tersebut merupakan esensi dari lembaga Peninjauan Kembali. Apabila esensi ini ditiadakan maka lembaga Peninjauan Kembali akan kehilangan maknanya atau menjadi tidak berarti;”

Sebagai upaya hukum luar biasa yang dilakukan oleh terpidana, maka subjek yang berhak mengajukan Peninjauan Kembali adalah hanya terpidana ataupun ahli warisnya, sedangkan objek dari pengajuan Peninjauan Kembali adalah putusan yang menyatakan perbuatan yang didakwakan dinyatakan terbukti dan dijatuhi pidana (Adi Harsanto dkk, 2017; 5).Oleh karena itu, sebagai sebuah konsep upaya hukum bagi kepentingan terpidana yang merasa tidak puas terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, maka putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum tidaklah termasuk ke dalam objek pengajuan Peninjauan Kembali, karena putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum pastilah menguntungkan terpidana.

Dengan adanya Putusan MK No. 33/ PUU-XIV/2016 mempertegas bahwa Jaksa Penuntut Umum tidak bisa lagi mewakili korban dalam mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali. Putusan MK No. 33/PUU-XIV/2016 telah mengesampingkan Yurisprudensi yang merupakan pembaharuan hukum dan

commit to user

122

tentunya tidak menjamin hak korban kejahatan dalam mengajukan Peninjauan Kembali yang diwakili oleh Jaksa Penuntut Umum. (Ajie Ramdan;2017:190)

Terhadap suatu putusan hakim berlaku asas putusan hakim harus dianggap benar. Asas ini mengajak kita semua untuk tetap menghormati apapun bunyi dan konsekuensi yang ditimbulkan dari putusan tersebut. Selain itu, menegaskan kembali bahwa kekuasaan kehakiman adalah bebas dan merdeka. Menurut Yahya Harahap makna kebebasan Hakim jangan diartikan sebagai kebebasan yang tanpa batas, dengan menonjolkan sikap sombong akan kekuasaanya (arrogance of power) dengan memperalat kebebasan tersebut untuk menghalalkan segala cara. Namun kebebasan tersebut harus mengacu pada penerapan hukum yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang tepat dan benar, menafsirkan hukum dengan tepat melalui pendekatan yang dibenarkan, dan kebebasan untuk mencari dan menemukan hukum. (M. Yahya Harahap, 2001;17)

commit to user

Dokumen terkait