• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSELINGKUHAN DAN AKIBAT HUKUMNYA DALAM ISLAM

MENGADILI 1. Mengabulkan gugatan Penggugat;

2. Menjatuhkan talak satu bain sughra , dari Tergugat terhadap Penggugat 3. Membebankan kepada penggugat untuk membayar seluruh biaya perkara

sebesar Rp. 271.000,- (Dua ratus tujuh puluh satu Ribu Rupiah);

Demikian putusan ini dijatuhkan di Jakarta Selatan pada hari senin, tanggal 3 mei 2010 M, bertepatan dengan tanggal 18 Jumadil Awwal 1431 H, oleh kami Tamah, S.H. sebagai Hakim Ketua majelis, H. Muh. Kailani, S.H., M.H. dan Dra. Hj. Farchanah M.M.Hum masing – masing sebagai Hakim Anggota dengan dibantu oleh Rahmi, S.H. sebagai Panitera pengganti;

Kemudian pada hari itu juga diucapkan Ketua Majelis dalam sidang terbuka untuk umum dengan di hadiri oleh para Hakim Anggota tersebut, Panitera Pengganti, Penggugat dan Tergugat;

43

Perkawinan merupakan pranata sosial yang pernah ada sejak manusia diciptakan oleh Allah SWT, yakni antara Adam dengan Siti Hawa. Dari sini dapat kita pahami bahwa sudah menjadi fitrah manusia untuk saling berpasang – pasangan, sehingga Allah menetapkan jalan yang sah untuk itu, yakni melalui pranata yang dinamakan perkawinan.

Dalam UU No. 1 Tahun 1974 Pasal 1 disebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir batin baik antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam, dinyatakan dalam Pasal 2, Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat (misaqon gholidhon) untuk menaati perintah Allah dan menjalankannya merupakan ibadah. 43

Dalam kitab Fiqh, pengertian perkawinan dibedakan secara bahasa dan secara syar‟i (hukum). Menurut bahasa perkawinan adalah pengumpulan, sedangkan menurut syar‟i (hukum) perkawinan adalah suatu akad yang mengandung kebolehan – kebolehan untuk bersenang – senang bagi masing – masing pasangan (suami istri) atas dasar yang disyariatkan.

Namun dalam perjalaan perkawinan tersebut terdapat persoalan – persoalan yang sangat pelik dan tidak dapat dihindari dan mengancam putusnya suatu ikatan perkawinan, seringkali persoalan yang ada dalam rumah tangga yang sering terjadi adalah hak dan kewajiban salah satu pihak (suami atau istri) tidak dapat dipenuhi atau dijalankan.

43 Lutfi Surkalam, Kawin Kontrak dalam Hukum Nasional Kita, (Tangerang:CV Pamulang,

44

Seperti dalam perkara perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan Nomor Perkara xxxx/Pdt.G/2010/PA.JS yang disebabkan karena sering berselisih dan bertengkar, tetapi dalam replik duplik suami berselingkuh dengan wanita lain dan SMS dan Facebook menjadi pemicu terjadinya perselingkuhan tersebut.

Perkara ini istri menggugat cerai suaminya pada tanggal 25 Februari 2010. Penggugat menyatakan dalam surat gugatannya yang menjadi alasan utama menggugat cerai suaminya dikarenakan sudah tidak ada kebaikan dan keharmonisan lagi, sering berselisih dan bertengkar terus menerus yang disebabkan karena Tergugat berselingkuh dengan wanita lain dan SMS dan Facebook sebagai pemicu terjadinya perselingkuhan tersebut.

Dalam gugatan penggugat dalam primernya tidak terbukti Tergugat melanggar Taklik Talak, namun berdasarkan faktanya dalam kehidupan rumah tangga penggugat sering terjadi pertengkaran karena perselingkuhan dengan wanita lain baik melalui Sms ataupun facebook yang mengakibaatkan perselisihan diantara Penggugat dan Terguggat.

Dalam berdasarkan alasan diatas, Penggugat memohon kepada Majelis Hakim yakni :

1. Mengabulkan gugatan Penggugat;

2. Menjatuhkan talak satu ba‟in sughra , dari Tergugat terhadap Penggugat

45

Talak Ba‟in Sughra (Ba‟in kecil) memutus ikatan perkawinan sesaat talak tersebut berlaku. Dengan terputusnya ikatan perkawinan, maka status istri yang telah dicerai menjadi wanita asing. Bekas suami tidak diperbolehkan hubungan mesra dengannya dan keduanya tidak saling mewarisi, jika suami meninggal ditengan masa „iddah ataupun setelahnya. Sisi yang diperbolehkan adalah batas waktu pelunasan mahar yang ditangguhkan hingga batas paling jauh, yaitu kematian atau talak. Suami boleh kembali hidup bersama istri yang telah ditalaknya dengan talak ba‟in kecil itu dengan akad baru dan memberi mahar baru, tanpa dia harus menikah dulu dengan lelaki lain. Jika itu terjadi, maka sang istri kembali kepadanya dengan sisa talak yang dimilikinya. Jika sebelumnya ditalak satu, maka setelah pernikahan kedua tersebut tersisa dua talak lagi. Tapi jika sebelumnya ditalak dua, maka hanya tersisa satu talak lagi.44

Mengenai pembuktian Penggugat mengajukan bukti surat dalam foto copy kutipan akta nikah, foto copy Kartu Keluarga, foto copy kutipan Akta Kelahiran anak Penggugat dan Terguggat sebanyak 2 orang anak, saksi – saksi adalah keluarga Penggugat dan Tergugat dan keterangan saksi – saksi tersebut saling berhubungan dan bersesuaian satu sama lain, yang antara lain menjelaskan, bahwa Penggugat dan Tergugat benar suami istri yang sah dan memiliki 2 orang anak, benar telah terjadi perselisihan sejak 2001 bahwa awalnya penyebab perselisihan tersebut karena sudah tidak ada kebaikan dan keharmonisan lagi sering menuduh tergugat berselingkuh. Hemat penulis mengenai alat bukti surat sudah sesuai dengan pasal 165 HIR yang bukti surat

44

46

tersebut adalah bukti otentik yang telah memenuhi syarat formil dan materil sehingga mempunyai kekuatan pembuktian yang kuat, sedangkan alat bukti yg sudah sesuai dengan pasal 22 ayat 2 dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975, yaitu :

“Gugatan tersebut dapat diterima apabila cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebeb – sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang yg dekat dengan suami istri itu” Lalu Majelis Hakim berusaha memberikan nasehat bagi Penggugat dan Tergugat untuk rukun kembali, namun tidak berhasil, karena Penggugat telah menyatakan sikapnya dengan tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk tetap bercderai kepada Tergugat. Hal ini sesuai dengan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang perceraian:

1. Hakim yang memeriksa perceraian telah berusaha mendamaikan kedua pihak

2. Selama perkara belum diputuskan, usaha mendamaikan dapat dilakukan pada setiap sidang pemeriksaan.

Oleh sebab itu penggugat tetap ingin bercerai maka dapat melakukan perceraian harus ada cukup alasan suami istri itu tidak dapat hidup rukun lagi sebagai suami istri sebagaimana dimaksud pada Pasal 39 Undang – undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Adapun alasan – alasan melakukan perceraian terdapat dalam Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam, sebagai berikut :

47

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, prmandat, penjudi, dan lain sebagaainya yang sukar disembuhkan

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut – turut tanpa izin pihak lain tanpa alasan yang sah atau karena hal lain sesuai kemampuannya

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara selama 5 (lima) tahun atau hukuman yang lenih berat setelah perkawinan berlangsung

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalakan kewajiban suami istri

f. Antara suami istri terus menurus terjadi perselisihan atau pertengkaran dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga

g. Suami melanggar taklik talak

h. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya keharmonisan dalam rumah tangga

Dalam alasan – alasan yang dikemukakan diatas telah diperolehnya fakta serta bukti – bukti yang berkaitan dengan duduk perkara antara Pengggat dan Tergugat telah terjadi perselisihan terus menerus dan pertengkaran dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga, maka dalam Putusan Majelis Hakim sudah dapat dan hanya cukup mendalilkan Pasal 9 huruf (f) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 maupun berdasarkan

48

ketentuan Hukum Islam dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 116 huruf (f), berkaitan dengan perkara nomor xxxx/Pdt.G/2010/PA.JS.

Hemat penulis tentang dalil hukum hakim yang dikemukakan diatas sudah tepat, karena inti dari permasalahan perkara ini adalah antara suami istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga, dan sudah melanggar Kompilasi Hukum Islam Pasal 3 mengenai dasar dan tujuan perkawinan.

Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga

yang sakinah, mawadah, warahmah”

Berdasarkan alasan – alasan dalam gugatan penggugat dalam primernya tidak terbukti melanggar taklik talak, namun pada faktanya dalam kehidupan rumah tangga Penggugat sering terjadi pertengkaran dan dalam replik duplik bahwa penggugat telah mengakui berselingkuh yang bermula dari SMS dan Facebook.

Mengenai nafkah iddah dalam perkara cerai gugat suami tidak diwajibkan memberi nafkah iddah kepada istri, terkecuali hakim dapat memberikan kewajiban kepada suami apabila pada saat perceraian istri sedang mengandung, maka hakim berhak menentukan dan membebankan kepada mantan suami untuk biaya persalinan atau melahirkan. Hemat penulis, seharusnya mantan suami diberi kewajiban nafkah iddah kepada mantan istrinya dengan mengambil keputusan yurisprudensi Pengadilan Tinggi Agama yang mentafsirkan pasal 14 huruf c Undang – undang Nomor 1tahun 1974 tentang perkawinan. Nafkah iddah yang diberikan mantan istri oleh mantan suami disesuaikan dengan kemapuannya.

49

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan dengan judul “ Perselingkuhan melalui Facebook dan Sms sebagai Penyebab Perceraian (Studi Analisa Pada Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan)” serta penelitian yang penulis lakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Perselingkuhan melalui media jejaring sosial seperti Facebook dapat terjadi, umumnya skenarionya di mulai seseorang mempunyai akun Facebook, lalu menemukan seseorang lawan jenis yang keliatannya menarik lalu “add friend”, setelah diterima lalu mereka saling mengirim berita di “wall” mulai dari formal lalu masuk keranah pribadi dan menjadi akraab dan masuk kebagian “chatting room” , kemudian mengirim gambar – gambar kemudian berbagi info, dan nomor kontak Handphone dan seterusnya. Bila dua pribadi yang berlainan jenis sudah terus menerus saling sharing terjadilah keakraban emosional bahkan bisa dikatagorikan “perselingkuhan emosional”. Itu terjadi apabila sudah saling panggil dengan kata yang hanya untuk suami istri, misalnya : sayang, papi-mami, manisku dan banyaak panggilan yang eksklusif lainnya yang hanya untuk pasangan. Apalagi semua kegiatan diceritakan dan kemudian tercurah kepada teman “facebook” ini ada juga seseorang yang menemukan

50

seseorang yang merupakan cinta lamanya dan kemudian berpisah dengan berbagai sebab. Walau sudah masing – masing berkeluarga, tetap merasa tidak apa – apa kalau chatting. Lalu dimulailah percekapan seperti di atas, dan akhirnya muncul cinta lagi yang hilang. Ada kerinduan untuk kembali pada kenangan indah sewaktu dulu. Ini dinamakan “retrosexsual”. Ada banyak definisi retroseksual, tetapi salah satunya adalah berseminya cinta yang dulu pernah ada ketika seseorang yang dulu pernah mencintai berjumpa kembali dan melanjutkan hubungannya. Perselingkuhan ini bisa terjadi karena memang “pria terangsang secara visual, wanita terangsang secara emosional”. Mungkin karena gambar – gambar cantik yang di taruh di facebook.

2. Pertimbangan hakim dalam menyelesaikan perkara cerai gugat yang disebabkan perselisihan dan pertengkaran adalah karena suami yang berselingkuh. Majelis Hakimpun memasukan Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 jo, Pasal 116 huruf f Kompilasi Hukum Islam sebagai pertimbangan hukumnya. Hanya saja Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan selain menggunakan Undang – undang sebagai pertimbangan Hukum. Majelis Hakim pun menggunakan pendekatan konsep dan Ushul Fiqh sebagai pertimbangan hukumnya.

3. Talak Ba‟in Sughra (Ba‟in kecil) memutus ikatan perkawinan sesaat talak tersebut berlaku. Dengan terputusnya ikatan perkawinan, maka status istri yang telah dicerai menjadi wanita asing. Bekas suami tidak diperbolehkan hubungan mesra dengannya dan keduanya tidak saling mewarisi, jika suami meninggal ditengan masa „iddah ataupun setelahnya. Sisi yang

51

diperbolehkan adalah batas waktu pelunasan mahar yang ditangguhkan hingga batas paling jauh, yaitu kematian atau talak. Suami boleh kembali hidup bersama istri yang telah ditalaknya dengan talak ba‟in kecil itu dengan akad baru dan memberi mahar baru, tanpa dia harus menikah dulu dengan lelaki lain. Jika itu terjadi, maka sang istri kembali kepadanya dengan sisa talak yang dimilikinya. Jika sebelumnya ditalak satu, maka setelah pernikahan kedua tersebut tersisa dua talak lagi. Tapi jika sebelumnya ditalak dua, maka hanya tersisa satu talak lagi.

B. Saran

1. Pernikahan adalah momen membangun kehidupan baru bersama pasangan. Suka duka akan dihadapi berdua, sebisa mungkin tidak melibatkan pihak lain untuk menyelesaikan masalah. Namun, masalah rumah tangga kadang tidak sesederhana yang dihadapi ketika masih pacaran. Bukan cinta lagi yang dibutuhkan tetapi komitmen, untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Salah satu penyebab retaknya rumah tangga adalah perselingkuhan. Perselingkuhan itu sendiri biasanya disebabkan oleh beberapa factor seperti : kemajuan teknologi, workaholic, dan sifat progresif. Teknologi bukan hal yang menjadi asal usul perselingkuhan, namun bisa memicu perselingkuhan. Ketakutan bahwa kemajuan teknologi bisa membuat pasangan selingkuh, bisa membuat seseorang melanggar privasi pasangannya.

2. Pengguna situs jejaring pertemanan tidak hanya menimbulkan pengaruh dan dampak secara langsung kepada oaring yang sedang menggnakan fasilitas ini, tetapi juga secara tidak langsung kepada orang lain dan

52

lingkungannya. Sama dengan hal lain penggna Facebook tidak akan menimbulkan dampak yang buruk jika digunakan sebagaimana mestinya, normal dan tidak berlebihan. Namun, jika terlalu sering menggunakan fasilitas ini, dikhawatirkan bisa terjadi ketergantungan yang tidak sehat, karena penyalahgunaan fasilitas yang tidak benar dapat menyebabkan putusnya hubungan asmara atau perceraian, situs pertemanan facebook

juga dapat menimbulkan kecemburuan dan perselingkuhan.

3. Dengan memperhatikan tujuan perkawinan sebagaimana yang tercantung dalam Pasal 1 Undang – undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, sebaiknya dibuat undang – undang tersendiri yang khusus mengatur, memeriksa dan mengadili perceraian yang sifatnya mempersulit terjadinya perceraian dengan cara misalnya lebih mengedepankan proses mediasi yang lebih kuat lagi, atau gugatan perceraian yang tidak dapat diperiksa oleh pengadilan apabila kedua belah pihak tidak hadir di persidangan.

53

DAFTAR PUSTAKA

Dokumen terkait