• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGADILI SENDIRI:

Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Hj. AISYAH MOCHTAR binti H. MOCHTAR IBRAHIM tersebut;

Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta Nomor 75/Pdt.G/2013/PTA.JK tanggal 1 Oktober 2013 M. bertepatan dengan tanggal 25 Dzulqaidah 1434 H. yang memperbaiki putusan Pengadilan Agama Nomor 1241/Pdt.G/2012/PA.JS tanggal 24 April 2013 M. Bertepatan dengan tanggal 13 Jumadilakhir 1434H.;

MENGADILI SENDIRI:

Dalam Eksepsi:

- Menolak eksepsi para Tergugat/para Terbanding; Dalam Pokok Perkara:

- Menolak gugatan Penggugat seluruhnya;

- Membebankan kepada Penggugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat pertama sejumlah Rp. 2.066.000,00 (dua juta enam puluh enam ribu rupiah);

68

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 telah dua kali diubah, yaitu dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009.

69

Laporan Tahunan Mahkamah Agung RI – Tahun 2014,

96

Membebankan kepada Pembanding untuk membayar biaya perkara dalam tingkat banding sejumlah Rp. 150.000,00 (seratus lima puluh ribu rupiah);

Membebankan kepada Pemohon Kasasi/Penggugat untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sejumlah Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah);

Perkara Hj. Aisyah Mochtar alias Machica dengan Drs. Moerdiono merupakan pengakuan secara paksaan atau tidak sukarela karena Drs. Moerdiono tidak mengakui Muhammad Iqbal Ramadhan (Pemohon II) sebagai anaknya sampai pada akhirnya Drs. Moerdiono meninggal. Terdapat upaya hukum yang dapat dilakukan oleh seorang anak luar kawin agar dapat diakui oleh ayah biologisnya.

Upaya hukum pengakuan secara paksaan atau tidak sukarela menurut Ibu Meta Natalie P, Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil upaya hukum yang dapat ditempuh oleh anak luar kawin jika tidak diakui secara sukarela oleh ayah biologisnya adalah dengan melakukan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) di rumah sakit terhadap anak dan ayah biologisnya,70 sedangkan Menurut Bapak Dewa Ketut Kartana,71 upaya hukum yang dapat ditempuh oleh anak luar kawin jika tidak diakui secara sukarela oleh ayah biologisnya adalah dengan mengajukan upaya gugatan kepada Pengadilan yang berwenang. Sistematika untuk mengajukan gugatan, yaitu ada identitas para pihak secara lengkap dan jelas, fundamentum petendi (dasar gugatan atau dasar tuntutan) dan petitum (tuntutan).72 Sesuai dengan Pasal 8 ayat (3) Reglement Op de Burgerlijke Rechts Vordering (RV):

70

Hasil wawancara dengan Ibu Meta Natalie P, Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil, pada hari Selasa, 23 Mei 2017.

71

Hasil wawancara dengan Bapak Dewa Ketut Kartana, Hakim Pengadilan Negeri Semarang, pada hari Kamis, 18 Mei 2017.

72

97

a. Ada identitas para pihak secara lengkap dan jelas. Harus tertera nama, pekerjaan, tempat tinggal, agama dan kewarganegaraan (jika perlu);

b. Fundamentum Petendi (dasar gugatan atau dasar tuntutan) berisikan tentang uraian peristiwa mulai dari awal hingga akhir peristiwa dengan jelas dan sesuai dengan kenyataan;

c. Petitum (tuntutan); tidak boleh melebihi materi pokok petitum primer, sehingga putusan yang dijatuhkan tidak melanggar ultra petitum partium yang digariskan Pasal 178 ayat (3) HIR (Het Herzien Indonesich Reglement).73 Pasal tersebut menentukan bahwa, “Hakim wajib mengadili seluruh gugatan

dan dilarang menjatuhkan keputusan atas perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih daripada yang dituntut”.

Dalam mengajukan gugatan, tidak hanya sistematika gugatan saja yang harus dipahami, prosedur untuk mengajukan gugatan juga harus dipahami. Prosedur untuk mengajukan gugatan, yaitu:74

a. Gugatan diajukan oleh anak luar kawin yang diwakili oleh walinya dan/atau kuasa hukum untuk ayahnya. Jika diwakilkan oleh kuasa hukum, maka harus menggunakan surat kuasa khusus dan didaftarkan kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri;

b. Staff Kepaniteraan Pengadilan Negeri memeriksa kelengkapan berkas. Jika sudah lengkap, ketua Pengadilan Negeri memberikan persetujuan;

73

Yahya Harahap,Op.Cit, hlm. 66.

74

98

c. Staff Kepaniteraan Pengadilan Negeri memberikan SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar) agar anak luar kawin yang diwakili oleh walinya membayar terlebih dahulu biaya perkara yang diajukan di kasir agar dapat segera diproses;

d. Anak luar kawin yang diwakili oleh walinya membayar di kasir dan diberikan nomor register perkara sesuai dengan tanggal perkara didaftarkan lalu memberikan bukti pembayaran kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri; e. Petugas pendaftaran menerima SKUM (Surat Kuasa Untuk Membayar) dan

menyiapkan blanko penetapan;

f. Panitera muda perdata memeriksa dan menandatangani tanda terima surat gugatan;

g. Petugas pendaftaran memberikan berkas perkara kepada anak luar kawin yang diwakili oleh walinya;

h. Panitera atau sekretaris memeriksa berkas perkara dan menunjuk panitera pengganti;

i. Ketua Pengadilan Negeri selambat-lambatnya tujuh hari sejak tanggal registrasi gugatan untuk mengeluarkan penetapan majelis hakim yang akan memeriksa dan memutus perkara gugatan;

j. Panitera muda perdata menunjuk jurusita pengganti;

k. Petugas pendaftaran memberikan berkas kepada Ketua Majelis;

l. Ketua Majelis memeriksa dan mempelajari berkas, serta menetapkan hari dan tanggal untuk melakukan persidangan. Hakim anggota mempelajari perkara

99

dan panitera pengganti menerima berkas perkara dan meminta jurusita untuk melakukan pemanggilan pada para pihak;

m. Setelah dipanggil oleh jurusita, para pihak dalam gugatan dipanggil untuk dipersidangkan pada sidang pertama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan;

Pihak yang bersangkutan hadir ke persidangan sesuai jadwal untuk melakukan mediasi. Jika mediasi yang dilakukan berhasil dalam arti mencapai kata sepakat untuk mengakui anak luar kawin tersebut, maka secara langsung majelis hakim akan memberikan putusan terhadap perkara tersebut. Tetapi, jika mediasi gagal, maka akan dilakukan pembacaan gugatan. Dalam pembacaan gugatan, jika ada eksepsi dalam jawaban harus diputuskan lebih dulu dalam putusan sela. Dilanjutkan dengan proses pembuktian dengan bukti minimal dua bukti. Syarat yang dibutuhkan dalam proses pembuktian, yaitu dengan memberikan alat bukti yang diatur di dalam Pasal 164 HIR (Het Herzien Indonesich Reglement), yaitu:

1) Surat (Pasal 165 sampai dengan Pasal 169); 2) Saksi (Pasal 169 sampai dengan Pasal 172); 3) Persangkaan (Pasal 173);

4) Pengakuan (Pasal 174 sampai dengan Pasal 176); dan 5) Sumpah (Pasal 177).

Selain kelima alat bukti tersebut, dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 ditentukan bahwa harus dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan atau bukti lainnya menurut hukum mempunyai

100

hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya. Untuk membuktikan seorang anak merupakan anak dari ayah biologis tersebut dapat menggunakan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) dari rumah sakit. Tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) ini dapat diajukan oleh anak luar kawin yang diwakili oleh walinya atau oleh perintah hakim.

Jika ayah biologis menolak permohonan anak luar kawin yang diwakili oleh walinya untuk tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), maka hakim akan memerintahkan ayah untuk melakukan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) menjadi penting dalam pembuktian perkara anak luar kawin yang tidak diakui secara sukarela karena tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) ini termasuk ke dalam bukti surat dan dapat dilengkapi dengan bukti keterangan ahli seperti ahli dokter yang melakukan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) terhadap anak dan ayah biologisnya, sehingga dapat menjadi bukti kuat daripada hanya bukti dari saksi. Bukti saksi merupakan bukti bebas yang artinya tidak dapat dipercaya jika tidak ada bukti lain yang lebih kuat dan dipercaya oleh hukum. Hal ini diatur di dalam Pasal 169 HIR (Het Herzien Indonesich Reglement)yang menentukan bahwa, “Keterangan dari seorang saksi saja, dengan

tidak ada sesuatu bukti yang lain, tidak dapat dipercaya di dalam hukum”.

Apabila hakim telah memerintahkan ayah biologis untuk melakukan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), tetapi jika ayah biologis tetap menolak untuk melakukan tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), maka hakim dapat menggunakan bukti persangkaan hakim. Ada dua persangkaan, yaitu persangkaan hakim dan persangkaan undang-undang. Persangkaan hakim diatur di dalam Pasal 173 HIR

101

(Het Herzien Indonesich Reglement) yang menentukan bahwa, “Sangka saja yang

tidak berdasar pada suatu peraturan undang-undang, hanya boleh diperhatikan oleh hakim waktu menjatuhkan keputusannya, jika sangka itu penting, saksama, tentu dan bersetujuan yang satu dengan yang lain”. Dapat disimpulkan bahwa

persangkaan hakim merupakan persangkaan yang berasal dari fakta yang terbukti dalam persidangan yang secara bebas diambil oleh hakim, baik dari pihak termohon maupun pemohon.

Jika Penggugat tidak puas dengan hasil amar putusan yang ditetapkan oleh Majelis Hakim, maka Penggugat dapat mengajukan banding kepada Pengadilan.75 Tata cara mengajukan banding kepada Pengadilan, yaitu:76

a. Permohonan banding diajukan kepada panitera Pengadilan Negeri yang memutus perkara. Dapat berbentuk surat atau berbentuk lisan. Banding diajukan dengan batas tenggang waktu 14 hari sejak putusan diucapkan atau sejak pemberitahuan putusan. Sesuai dengan yang digariskan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Peradilan Ulangan dan Pasal 199 ayat (1) RBG (Rechtsreglement Buitengewesten)77 Panitera mencatat permohonan banding tersebut;

b. Membayar biaya perkara banding agar permohonan banding sah menurut Pasal 199 ayat (4) RBG (Rechtsreglement Buitengewesten) dan Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Peradilan

75 Ibid. 76 Lihat Lampiran. 77

Yahya Harahap, Kekuasaan Pengadilan Tinggi dan Proses Pemeriksaan Perkara Perdata Dalam Tingkat Banding, Jakarta: Sinar Grafika, 2005, hlm. 44.

102

Ulangan juga sesuai dengan Pasal 121 ayat (4) HIR (Het Herzien Indonesich Reglement) dan Pasal 145 ayat (4) RBG (Rechtsreglement Buitengewesten); c. Panitera muda memeriksa permohonan banding dan menunjuk juru sita

pengganti. Panitera atau sekretaris memeriksa kembali serta menandatangani permohonan banding;

d. Juru sita pengganti mengirim pemberitahuan banding dan Inzage, yaitu pemeriksaan berkas untuk melihat dan mempelajari berkas perkara sebagai bahan untuk menyusun memori banding yang dibuat oleh Pembanding atau kontra memori yang dibuat oleh Terbanding. Hal ini diatur dalam Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Peradilan Ulangan yang menentukan bahwa:

“Kemudian selambat-lambatnya empat hari setelah permintaan

pemeriksaan ulang diterima, Panitera memberitahu kepada kedua belah pihak bahwa mereka dapat melihat surat-surat yang bersangkutan dengan perkaranya di kantor Pengadilan Negeri selama empat belas hari”.

e. Berkas perkara dikirim kepada panitera Pengadilan Tinggi setelah berkas perkara lengkap dengan tenggang waktu 30 hari sejak permohonan banding diajukan berdasarkan tanggal permohonan banding. Tenggang waktu ini sifatnya imperatif karena panitera Pengadilan Negeri harus sudah mengirimkan berkas perkara kepada Pengadilan Tinggi.78

78

103

b. Pengakuan Anak Luar Kawin Secara Sukarela

Pengakuan anak tidak hanya dapat dilakukan dengan pengakuan paksaan atau tidak sukarela, tetapi dapat juga dilakukan dengan pengakuan sukarela. Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan bahwa anak luar kawin hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibunya, sehingga pengakuan anak luar kawin hanya berasal dari ayah saja. Hal ini berbeda dengan Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata yang menentukan bahwa, “Dengan pengakuan yang dilakukan terhadap

seorang anak luar kawin, timbulah hubungan perdata antara si anak dan bapak

atau ibunya.” Ketentuan ini memberi penjelasan jika antara anak dengan ayah atau ibu tidak memiliki hubungan hukum, sehingga pengakuan anak harus mendapatkan pengakuan dari ayah juga ibunya.

Dalam perkara permohonan pengakuan anak Nomor 297/Pdt.P/2016/PNSmg di Pengadilan Negeri Semarang yang merupakan upaya hukum untuk memperoleh hubungan keperdataan antara FG dan HS dengan JRG dan BTG adalah bentuk pengakuan sukarela karena diajukan oleh ayah dan ibunya, FG dan HS. Perkara permohonan pengakuan anak Nomor 297/Pdt.P/2016/PNSmg ini telah memenuhi syarat administratif sesuai dengan Pasal 52 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil karena dalam permohonan pengakuan anak dijelaskan bukti surat berupa foto kopi KTP atas nama FG dan HS, kutipan akta kelahiran atas nama JRG dan BTG, kutipan akta perkawinan atas nama FG dan HS serta foto kopi kartu keluarga atas nama FG.

104

Upaya hukum untuk mengakui anak luar kawin secara sukarela dapat dilakukan dengan menggunakan akta otentik, dengan mengisi formulis pengakuan di Catatan Sipil dengan syarat diajukan oleh kedua orang tua dari anak luar kawin.

Pengakuan yang diberikan kepada seorang anak luar kawin dapat dilakukan menggunakan akta otentik atau dengan mengisi formulir pengakuan yang disediakan oleh Catatan Sipil. Proses pelaksanaan pengakuan seorang anak, yaitu:79

a. Orang tua biologis seorang anak menyerahkan akta otentik pengakuan anak atau mengisi formulir surat pengakuan yang telah diberikan oleh Catatan Sipil atas persetujuan dari ibu anak tersebut;

b. Setelah mengisi, akta pengakuan tersebut diberikan kepada Pegawai Catatan Sipil untuk dibuatkan akta pengakuan anak;

Proses pelaksananaan pengakuan anak ini sesuai dengan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang menentukan bahwa:

(1) Pengakuan anak wajib dilaporkan oleh orang tua pada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Pengakuan Anak oleh ayah dan disetujui oleh ibu dari anak yang bersangkutan;

(2) Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi rang tua yang agamanya tidak membenarkan pengakuan anak yang lahir diluar hubungan perkawinan yang sah; (3) Berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pejabat

Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Pengakuan Anak dan menerbitkan Kutipan Akta Pengakuan Anak.

79

Hasil wawancara dengan Ibu Meta Natalie P, Kabid Pelayanan Pencatatan Sipil, pada hari Selasa, 23 Mei 2017.

105

Pada Pasal 49 ayat (1) ditentukan bahwa pengakuan harus disetujui oleh ibu dari anak yang bersangkutan, setelah disetujui oleh ibunya, maka permohonan pengakuan anak diajukan bersama dengan ayah dan ibu sebagai bentuk persetujuan. Pada perkara permohonan pengakuan anak Nomor 297/Pdt.P/2016/PNSmg di Pengadilan Negeri Semarang, diajukan berdua bersama dengan FG dan HS.

Majelis hakim menyimpulkan dan melakukan sidang permusyawaratan yang bersifat rahasia untuk memberikan putusan pada perkara tersebut. Pada perkara permohonan pengakuan anak Nomor 297/Pdt.P/2016/PNSmg di Pengadilan Negeri Semarang, termasuk ke dalam putusan declaratoir (pernyataan) karena putusannya memberikan amar yang menyatakan bahwa anak yang tertera dalam kasus tersebut adalah anak sah dari masing-masing pasangan.

1) Menerima dan mengabulkan permohonan Pemohon;

2) Menetapkan pengakuan kedua anak yang bernama; 1. JRG, lahir Semarang, tanggal 5 November 2009. 2. BTG, lahir Semarang, tanggal 13 Juli 2011 ke dalam Akta Perkawinan Para Pemohon;

3) Memerintahkan kepada Para Pemohon untuk menyampaikan salinan Penetapan ini kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Semarang agar Pengakuan anak dalam perkawinan tersebut dicatat dalam akta perkawinan Para Pemohon;

4) Membebankan biaya permohonan ini kepada Pemohon sebesar Rp. 191.000,- (seratus sembilan puluh satu ribu rupiah).

Jika telah melakukan pengakuan, maka dapat dilanjutkan pada proses pengesahan. Pengesahan dari orang tua dilakukan di Catatan Sipil dengan mengisi formulir surat pengesahan anak yang diberikan oleh Catatan Sipil, sama seperti pengakuan anak. Jika tidak melaporkan kelahiran seorang anak, maka perlu dilakukan pengesahan anak. Syarat yang dibutuhkan adalah adanya penetapan dari

106

pengadilan dengan ketentuan yang mengajukan harus orang tua biologisnya yang sudah menikah lebih dulu dengan membawa bukti surat nikah.80

Pengakuan anak luar kawin dapat dipaksakan, tetapi berbeda dengan pengesahan. Pengesahan tidak dapat dipaksakan karena harus diikuti dengan perkawinan kedua orang tuanya. Hal ini diatur di dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang menentukan bahwa:

(1) Setiap pengesahan anak wajib dilaporkan oleh orang tua kepada Instansi Pelaksana paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak ayah dan ibu dari anak yang bersangkutan melakukan perkawinan dan mendapatkan akta perkawinan;

(2) Kewajiban melaporkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikecualikan bagi orang tua yang agamanya tidak membenarkan pengesahan anak yang lahir diluar hubungan perkawinan yang sah; (3) Berdasarkan laporan pengesahan anak sebagaimana dimaksud pada

ayat (1), Pejabat Pencatatan Sipil membuat catatan pinggir pada Akta Kelahiran.

Dalam perkara permohonan pengesahan anak nomor 269/Pdt.P/2016/PNSmg di Pengadilan Negeri Semarang. Kasus tersebut merupakan upaya hukum untuk memperoleh hubungan keperdataan antara YH (ayah) dan BECDH (ibu) dengan EADWH (anak). Perkara permohonan pengesahan anak Nomor 269/Pdt.P/2016/PNSmg ini telah memenuhi syarat administratif sesuai dengan Pasal 52 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil karena dalam permohonan pengakuan anak dijelaskan bukti surat berupa foto kopi KTP atas nama YH (ayah) dan BECDH (anak), kutipan akta kelahiran

80

Hasil wawancara dengan Bapak Ali Nuryahya, Kepaniteraan Hukum, pada hari Senin, 29 Mei 2017.

107

atas nama EADWH (anak), kutipan akta perkawinan atas nama YH (ayah) dan BECDH (anak) serta foto kopi kartu keluarga atas nama YH (ayah). Amar putusan perkara permohonan pengesahan anak nomor 269/Pdt.P/2016/PNSmg di Pengadilan Negeri Semarang ini memerintahkan kepada YH (ayah) dan BECDH (anak) untuk menyampaikan penetapan pengadilan kepada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Semarang.

1) Menerima dan mengabulkan permohonan Para Pemohon;

2) Menyatakan seorang anak perempuan yang bernama: EADWH, lahir di Semarang tanggal 26 Febuari 2015, adalah anak kandung para pemohon maka sah dimasukkan ke dalam akta perkawinan para pemohon;

3) Memerintahkan kepada Para Pemohon untuk menyampaikan salinan Penetapan ini kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Semarang agar Pengakuan anak dalam perkawinan tersebut dicatat dalam akta perkawinan Para Pemohon, serta untuk keperluan pembuatan akta kelahiran anak;

4) Membebankan biaya permohonan ini kepada Para Pemohon sebesar Rp. 291.000,- (Dua ratus sembilan puluh satu ribu rupiah).

Ada persamaan antara pengakuan anak dan pengesahan anak. Persamaan keduanya, yaitu di dalam akta kelahiran setelah diakui dan disahkan, maka nama ayah biologisnya akan di catatkan di bagian belakang akta kelahiran yang disebut dengan catatan pinggir. Catatan pinggir ini bukan mengganti akta tetapi hanya menambahkan data saja.81

81

Dokumen terkait