Tema I. Mengalami dampak psikologis dari diagnosa kanker serviks
Tema 2. Mengalami perubahan fisik setelah kemoterapi
KATEGORI SUB TEMA TEMA
Gambar 8. Mengalami perubahan fisik setelah kemoterapi Rambut rontok
Kemoterapi adalah cara pengobatan kanker dengan mematikan sel kanker menggunakan obat-obatan. Pada partisipan yang mengalami kemoterapi pastilah mengalami perubahan baik bentuk dan fungsi tubuh mereka walau tiap individu berbeda satu dengan yang lain. Dari analisa tersebut peneliti menemukan dua sub tema yang ada yaitu perubahan pada bentuk ( anatomi) dan perubahan pada fungsi (fisiologi). Hal yang terjadi pada perubahan bentuk (anatomi) dapat tergambar dari kategori, yaitu rambut rontok, berat badan menurun, bibir pecah-pecah, kulit kering dan hitam sedangkan perubahan pada fungsi (fisiologi) yang terjadi dapat tergambar pada kategori, yaitu : mual muntah, tidak selera makan, lemas , menstruasi terganggu dan anemia. Perubahan bentuk dan fungsi dari partisipan dijelaskan seperti dibawah ini :
Perubahan bentuk (anatomi). Rambut rontok, berat badan menurun, bibir pecah-pecah, kulit kering dan hitam. Pada partisipan yang menjalani pengobatan kemoterapi pada umumnya mengalami kerontokan pada rambut di kepala dan di seluruh tubuh, berat badan yang turun, bibir pecah dan lidah kering serta kulit yang kering dan hitam. Hal ini diungkapkan oleh seluruh partisipan dan hanya beberapa ungkapan partisipan dapat dilihat seperti berikut :
“Selama dikemoterapi rambut mudah rontok dan semua bulu rontok”.(P2L49-50)
“Setelah masuk kemo pertama, saya sudah ada perubahan. Tapi pada kemo kedua masuk, sudahlah rambut rontok sehingga saya pake wig..ha..ha..ha”(P4L69-70)
“Berat badan turun, makin kurus,lidah pahit dan tidak ada rasa, rambut rontok..”.(P9L55-56)
”...inilah kak, rambut dan bulu-bulu jadi rontok”.(P11L72)
“Inilah rambut rontok dah abis semuanya”.(P14L43)
“ makanya mukanya tambah hitam, rambutnyapun udah abis semua...ng bibir pecah-pecah dan lidah kering..ng dan kurus”.(P16L27)
Gambar 9. Partisipan yang mengalami kerontokan rambut setelah kemoterapi sesuai dengan ungkapan (P14L43)
Gambar 10. Partisipan yang memakai rambut palsu (wig) sesuai dengan ungkapan (P4L68-70)
Perubahan fungsi (fisiologi). Mual muntah, tidak ada nafsu makan, tidak berdaya, Hb menurun dan siklus menstruasi berubah. Perubahan fisiologi pada partisipan juga terjadi diakibatkan dampak dari kemoterapi. Perubahan fisiologi tersebut juga berbeda-beda yang dialami tiap partisipan karena kondisi tubuh partisipan dalam menghadapi kemoterapi juga berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan beberapa ungkapan berikut :
“Selama dikemoterapi, saya lemas, kaki pegal, perasaan mau muntah”.(P2L49-50).
“setelah masuk kemo pertama, saya sudah ada perubahan....Tapi yang paling nampak adalah nafsu makan saya yang berkurang, lutut rasanya mau lepas, muntah dan mual-mual...ya sama sekalilah gak ada selera makan. Badan rasanya lemah”.(P4L69-75)
”kemo kedua dan keempat, badan rasanya dihantam, gak karu-karuan, berdenyut, rasanya panas,....tulang-tulang rasanya ingin bercopotan sampai kitapun tidak menstruasi lagi”.(P11L71-73)
“ya otomatislah Hb turun tapi saya gak pernah ditransfusi. Selera makan kurang tapi kupaksakan”.(P12L27-28)
”inilah rambut rontok, lemah, gak selera makan.Inilah baru selesai ditransfusi darah banyaknya dua kantong.”.(P15L43-44)
“Ada.,dua kantong darah. Kalau ibu golongan darah A”.(P17L39)
“kemo pertama pun sudah ada tapi masuk kemo kedua makinlah terasa...gak suka makan, badan kurus, pucat tak bertenaga...aahhh semuanyalah jadi gak karuanlah badan ini”.(P18L31-33)
Gambar 11. Partisipan memiliki Hb rendah dan ditransfusi (P15L43-44)
Pembahasan yang dapat peneliti lakukan pada tema kedua yaitu, mengalami perubahan fisik setelah kemoterapi yaitu, penanganan kanker secara umum melalui tindakan operasi (pembedahan), radioterapi (penyinaran) dan dengan kemoterapi. Partisipan yang menjalani pengobatan kemoterapi pasti mengalami perubahan fisik secara nyata. Hal ini diakibatkan dampak dari kemoterapi sendiri. Dimana obat dari kemoterapi ini diberikan melalui pembuluh darah dengan cara memasukkan alat medis/infus. Hasil penelitian terkait menyatakan bahwa pemberian obat kemoterapi melalui pembuluh darah sehingga lebih efektif untuk menjangkau sel-sel kanker yang telah bermetastase ke jaringan lainnya. Kemoterapi adalah pemberian obat anti kanker pada pasien yang diberikan melalui infus atau suntikan. Kemoterapi diberikan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh dokter dan dilakukan secara berkelanjutan.
Kuantitas pemberian kemoterapi masing-masing pasien berbeda sesuai dengan kondisi pasien dan jenis obat anti kanker yang digunakan (Conti dkk, 2013).
Seluruh partisipan yang sudah menerima pengobatan kemoterapi mengatakan adanya perubahan fisik yang dialami mereka akibat efek obat kemoterapi tersebut. Walaupun perubahan fisik secara bentuk dan fungsi bagi seluruh partisipan berbeda-beda. Adapun perubahan fisik yang dikeluhkan partisipan adalah rambut rontok, bibir pecah-pecah, berat badan menurun, mual muntah, tidak ada selera makan, penurunan Hb dan tidak adanya menstruasi selama pengobatan tersebut. Menurut Sudoyo (2009) menyatakan bahwa rangkaian program kemoterapi yang berkelanjutan dapat menimbulkan berbagai efek samping pada pasien, diantaranya mukositis, mual dan muntah, diare, alopesia atau kerontokan pada rambut dan infertilitas. Aspek lain pada pasien juga
akan mengalami perubahan yaitu pasien akan mengalamai distres karena berbagai perubahan yang dialami setelah menjalani kemoterapi dan aspek sosialnya yaitu pasien akan mengalami perubahan status pada pekerjaan, perubahan peran pada keluarga dan menarik diri dari lingkungan masyarakat akibat perubahan yang telah dialami (Suyanto, 2017).
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tunas (2016) yang dilakukan pada 12 orang pasien yang menderita kanker serviks dan telah melakukan kemoterapi seri dua dan tiga. Ditemukan adanya keterkaitan antara efek obat kemoterapi dengan penurunan kualitas hidup, adapun domain efek obat kemoterapi yang diuji terhadap penurunan kualitas hidup pasien adalah domain fungsi sosial, domain fatique, domain mual muntah, dan domain penurunan nafsu makan. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian Nimas (2012) yangn dilakukan dengan cara wawancara mendalam kepada dua orang subjek yang menderita kanker serviks yang telah melakukan pengobatan menyatakan, bahwa secara fisik penderita mengalami penurunan seperti mual, tidak nafsu makan, penurunan Hb yang signifikan dan penurunan berat badan yang drastis.
Tidak berbeda dengan hasil penelitian Wardani (2014) di Semarang terhadap delapan orang wanita yang terdiagnosa kanker serviks pada stadium IIB sampai IVA yang telah menerima kemoterapi minimal dua kali dengan cara wawancara mendalam atau in-depth interview menyatakan bahwa terjadi perubahan secara fisik yang meliputi mual dan muntah, konstipasi, kebotakan (alopecia), penurunan berat badan, adanya rasa kebas-kebas (neuropati perifer), kelelahan (fatigue), penurunan nafsu makan, toksisitas kulit (perubahan warna vena), nyeri dan perubahan rasa. Demikian pula pada penelitian yang dilakukan
Octaviani (2013) dengan melakukan uji dengan p value sebesar 0,003 menyatakan bahwa mayoritas penderita kanker serviks mengalami perubahan fisik setelah kemoterapi kategori berat sebesar 69,6 persen dan ringan sebesar 30,4 persen.
Penelitian ini juga sejalan dengan yang dilakukan penelitian sebelumnya oleh Ambarwati (2017) dengan cara wawancara mendalam dan adanya catatan lapangan (field note) yang terkait pada partisipan. Penelitian ini dilakukan di Surakarta kepada delapan orang wanita kanker serviks sebagai partisipan yang memiliki stadium IIB, IIIA dan IIIB dan sudah melakukan kemoterapi bahwa terjadi perubahan fisik akibat pengobatan kemoterapi pada partisipan seperti mual muntah, konstipasi, neuropati perifer, toksisitas kulit, alopecia, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, nyeri, kelelahan dan perubahan rasa.