• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa dan Kapan Melakukan Penelitian Kualitatif?

Sebuah pertanyaan mendasar yang sering muncul bagi peneliti, terlebih bagi peneliti pemula atau peneliti yang sedang ingin memperdalam metodologi penelitian kualitatif adalah, “Kapan saya harus memilih dan menggunakan penelitian kualitatif?” Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang berkaitan dengan alasan memilih penelitian kualitatif.

Ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Creswell (1998) mengemukakan delapan alasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, kita memilih untuk menggunakan penelitian kualitatif karena pertanyaan penelitian yang kita ajukan. Dalam penelitian kualitatif, pertanyaan penelitian sering kali dimulai dengan kata how dan atau what. Kata-kata tersebut mengarah kepada suatu alur berpikir

Bab 1— “Tak Kenal Maka Tak Sayang” | 15

“Apa yang terjadi . . . .”, “Bagaimana bisa terjadi . . . .” Alur berpikir tersebut tentu saja menginginkan informasi yang berkaitan dengan alasan dan penjabaran dari suatu fenomena yang terjadi yang menggelitik peneliti untuk mencari tahu secara mendalam (bahkan sampai pada inti atau esensi) dari fenomena tersebut.

Ini pula salah satu hal lain yang membedakan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Umumnya, penelitian kuantitatif menekankan pada kata why dan mencari perbandingan dari beberapa variabel yang diangkat (contohnya: apakah X lebih baik dalam suatu hal daripada Y, mengapa (why) hal tersebut dapat terjadi) atau mencari hubungan antara variabel-variabel (contohnya, apakah A berhubungan dalam suatu hal dengan B, mengapa hubungan tersebut dapat terjadi).

Kedua, alasan yang merujuk kepada peneliti untuk memilih penelitian kualitatif adalah topik yang diangkat benar-benar perlu untuk dieksplorasi secara mendalam.

Creswell (1998) menyatakan bahwa ada beberapa kemungkinan mengapa suatu topik perlu dieksplorasi, yaitu karena bisa jadi topik tersebut tidak mudah untuk diidentifikasi, tidak tersedianya teori yang dapat dijadikan landasan untuk menjelaskan suatu perilaku subjek atau sekelompok subjek, untuk keperluan pengembangan suatu teori tertentu yang sudah ada sebelumnya.

Ketiga, peneliti memutuskan untuk menggunakan penelitian kualitatif karena adanya kebutuhan untuk menyajikan suatu topik atau fenomena secara lebih detail dan terperinci. Alasan ketiga ini hampir mirip dan bahkan sangat terkait dengan alasan kedua.

Perbedaannya terdapat pada alasan kedua. Alasan kedua bertujuan pada pendalaman topik yang diangkat, sedangkan alasan ketiga lebih pada penyajian topik tersebut menjadi hal yang enak dicerna, enak dibaca, dan menarik untuk “dinikmati”.

Keempat, alasan peneliti untuk menggunakan penelitian kualitatif adalah untuk mempelajari subjek dalam latar alamiah. Latar alamiah yang dimaksud adalah lingkungan alami, normal, dan tanpa adanya intervensi atau perlakuan yang diberikan oleh peneliti.

Situasi yang diteliti benar-benar natural dan apa adanya. Dalam hal ini, penelitian kualitatif beranggapan bahwa manusia pada dasarnya memiliki interaksi terhadap lingkungan sekitar tempat ia berada. Manusia dapat memengaruhi lingkungan sekitarnya, demikian pula halnya dengan lingkungan yang juga dapat memengaruhi manusia atau sekelompok manusia yang berada di dalamnya. Penelitian kualitatif beranggapan bahwa jika manusia dipisahkan dari lingkungannya, maka yang terjadi adalah respons yang sifatnya palsu, dibuat-buat, dan artifisial serta dianggap keluar konteks (out of context).

melakukan analisis data kualitatif secara tepat. Fenomena atau topik yang dipilih dalam penelitian kualitatif biasanya memiliki ciri khas atau keunikan tersendiri, serta subjek yang terlibat pun umumnya sangat khas dan unik (misalnya, kaum waria, gelandangan, korban kesurupan massal, korban bencana alam, dan lain sebagainya), sehingga tidak semua orang atau peneliti mampu membangun hubungan baik dengan subjek yang ingin diteliti karena membangun hubungan dengan orang yang memiliki keunikan dan kekhasan tertentu sangat berbeda dengan orang pada umumnya.

Ketujuh, alasan peneliti untuk memilih penelitian kualitatif adalah karena keinginan pembaca itu sendiri. Alasan yang satu ini memang agak unik karena hampir mirip dengan teori ekonomi pasar, yaitu teori permintaan dan persediaan. Barang-barang yang tersedia di pasaran muncul karena adanya permintaan pasar. Bahkan, contohnya, salah satu alasan mengapa pelacuran tetap saja ada di dunia ini adalah karena adanya konsumen atau permintaan “pasar” itu sendiri. Atau contoh lainnya adalah mengapa kasus pemberantasan narkoba sulit untuk dilakukan, salah satu jawabannya adalah karena fokus pemberantasan hanya berpusat pada penangkapan dan pemberantasan pengedar atau bandar narkoba semata, sedangkan demand atau permintaan (pasar) dari pengguna narkoba tidak begitu dihiraukan. Oleh sebab itu, dengan suburnya permintaan akan narkoba, pengedar akan tetap memasarkan barang dagangannya tersebut dengan berbagai macam cara. Begitu pun halnya dengan penelitian kualitatif. Banyak peneliti atau pembaca yang fanatik terhadap perkembangan penelitian kualitatif. Atas dasar hal tersebut, banyak orang yang memang mendalami dan mengembangkan banyak penelitiannya yang menggunakan metodologi penelitian kualitatif.

Kedelapan, alasan memilih penelitian kualitatif adalah bahwa pendekatan ini menjadikan peneliti sebagai active learner yang menceritakan fenomena yang dialami murni dari sudut pandang subjek daripada bercerita atas nama dirinya sebagai seorang

“ahli”. Hal ini berhubungan dengan salah satu fungsi peneliti dalam penelitian kualitatif adalah sebagai “katalisator”, yaitu walaupun lebur menjadi satu dengan subjek dan lingkungan yang diteliti, tetapi tidak ikut larut dalam hal penyajian data. Kaitan lainnya, yaitu dengan perspektif penelitian kualitatif, yaitu perspektif “emic” yang berarti bahwa apa yang disajikan dari penelitian yang telah dilakukan, murni dari kacamata subjek.

Kesimpulan

Metodologi penelitian adalah serangkaian hukum, aturan, dan tata cara tertentu yang diatur dan ditentukan berdasarkan kaidah ilmiah dalam menyelenggarakan suatu penelitian dalam koridor keilmuan tertentu yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Esensi dari penelitian kualitatif adalah memahami yang diartikan sebagai memahami apa yang dirasakan orang lain, memahami pola pikir dan sudut pandang orang lain, memahami sebuah fenomena (central phenomenon) berdasarkan sudut pandang sekelompok orang atau komunitas tertentu dalam latar alamiah. Memahami yang

Bab 1— “Tak Kenal Maka Tak Sayang” | 17 dimaksud adalah benar-benar memahami dari sudut pandang subjek atau sekelompok

subjek, dan fungsi peneliti hanya sebagai orang yang “mengemas” apa yang dilihat oleh subjek alamat sekelompok subjek.

Secara definisi, penelitian kualitatif adalah suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti.

Menurut beberapa ahli penelitian kualitatif, setidaknya terdapat tujuh ciri penelitian kualitatif: 1) konteks dan setting-nya bersifat alamiah, 2) tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman tentang suatu fenomena tertentu, 3) adanya keterlibatan dan hubungan erat yang terjalin antara peneliti dengan subjek penelitian, 4) tanpa adanya perlakuan atau manipulasi variabel, 5) adanya usaha penggalian nilai, 6) bersifat fleksibel, dan 7) hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian sangat memengaruhi tingkat akurasi data.

Dokumen terkait