1.6 Kerangka Konsep dan Teori
1.6.2 Mengenai teori
1.6.2.4 Mengenai Strukturalisme Levi-Strauss
1.6.2.4 Mengenai Strukturalisme Levi-Strauss
Teori strukturalisme dilandasi oleh beberapa asumsi dasar. Pertama, anggapan bahwa manusia adalah animal symbolicum (Cassirer: 1979), yakni makhluk yang mampu menggunakan, menciptakan, dan mengembangkan berbagai media simbolik untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak lain. Kedua, meskipun fenomena sosial-budaya merupakan fenomena simbolik, yakni fenomena yang diberi makna oleh para pelakunya, namun para pelaku tersebut tidak dapat memberikan penjelasan rasional atau justifikasi moral yang melandasinya (Lévi-Strauss, 1963:18). Dengan demikian, berbagai fenomena sosial budaya seperti sistem kekerabatan, aktivitas ritual, ekonomi, politik dan lain sebagainya yang dilakukan manusia tidak diketahui bagaimana asal-usulnya dan tidak dapat dijelaskan mekanismenya. Kehadirannya bersifatnya unconsious, alias tidak disadari, tetapi mampu menjadi pengendali tingkah laku manusia. Fenomena kebudayaan semacam itu, dalam pandangan Lévi Strauss (1963:19), mirip dengan fenomena bahasa. Dalam berbahasa, orang tidak selalu dapat menjelaskan aturan-aturan bahasa tersebut. Aturan ada, namun keberadaannya tidak
42 disadari oleh orang yang sedang berbahasa. Ketiga, anggapan bahwa dalam diri manusia terdapat suatu kemampuan untuk membangun suatu struktur (a structuring force), dan kemampuan seperti itu berada pada tataran yang tidak disadari dan bersifat genetis atau bisa diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Lane, 1970: 15).
Contoh aktual adanya kapasitas untuk membuat suatu struktur dalam diri manusia dapat dilihat pada kasus orang belajar bahasa. Setiap orang yang sehat dan normal pasti dapat belajar bahasa, dan bahasa itu sendiri tidak lain adalah sebuah struktur tertentu yang dimulai dari relasi fonem-fonem. Struktur paling dasar yang dibuat oleh manusia adalah oposisi berpasangan atau binary opposition (Lane, 1970: 16). Keempat, adanya anggapan bahwa fenomena sosial budaya itu bersifat diskontinyu. Artinya, aneka peristiwa yang terjadi di berbagai tempat dan waktu tidak memiliki kesinambungan antara yang satu dengan yang lain. Peristiwa-peristiwa tersebut bersifat diskontinyu dan ahistoris. Fenomena sosial budaya yang demikian itu mirip dengan fenomena bahasa, sehingga strukturalisme menjadikan konsep-konsep yang terdapat dalam linguistik sebagai model untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial budaya.
Selama ini persinggungan intens antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah merangsang lahirnya perspektif baru yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa memantapkan perkembangannya berkat penemuan teori-teori baru di bidang antropologi, demikian juga yang terjadi pada ilmu sosial atau antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh teori-teori dan kajian-kajian linguistik. Fenomena inilah yang mendasari kemunculan strukturalisme Lévi-Strauss. Bagi Lévi-Strauss, strukturalisme lebih tepat didefinisikan sebagai penerapan
43 model-model linguistik yang dipengaruhi oleh linguistik struktural untuk menjabarkan fenomena sosial dan kultural. Lévi Strauss (1963: 33) berpandangan bahwa linguistik merupakan disiplin ilmu budaya yang sudah mencapai tingkat “sains”, tingkat yang
“ilmiah, dan hal itu dimungkinkan karena linguistik telah melakukan analisis gejala bahasa pada tingkat nirsadar (unconscious); linguistik tidak lagi mempelajari elemen-elemen, tetapi relasi antar elemen; linguistik memperkenalkan konsep sistem; dan linguistik juga berusaha mencari hukum-hukum universal baik dengan cara induksi maupun deduksi. Adapun hubungan antara bahasa dan kebudayaan, menurut Lévi Strauss (1963: 68--69), dapat dilihat dari tiga sisi, yakni: (1) bahasa merupakan refleksi dari keseluruhan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; (2) bahasa bagian dari kebudayaan; dan (3) bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan dalam arti diakronis, artinya bahasa mendahului kebudayaan karena melalui bahasalah manusia mengetahui budaya masyarakatnya. Juga bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang sama tipe/jenisnya dengan material yang membentuk kebudayaan itu sendiri.
Dari linguistik Lévi-Strauss diperoleh dua pelajaran. Pertama, bahwa metode analisis struktural yang telah dia kembangkan dalam studi kekerabatan dapat dimanfaatkan untuk mempelajari semua fenomena budaya sebagai metode yang tepat untuk kajian obyektif makna. Kedua, bahwa di balik makna dan budaya terletak kapasitas struktur bawah sadar manusia. Pelajaran pertama mengarahkan Lévi-Strauss untuk mengembangkan analisis struktural terhadap mitos, yang kedua mengarahkannya untuk mengembangkan filsafat manusia (Clarke, 1981:184). Upaya
44 pemaknaan sebuah bagian cerita merupakan langkah untuk menentukan makna-makna yang disajikan dalam bingkai hubungan paradigmatik dan kemudian ditentukan oleh sistem relasinya (struktur) dengan miteme lain dalam hubungan sintagmatik.
Hubungan sintagmatik sebuah kata adalah hubungan horisontal antara kata tersebut dengan kata-kata lainnya yang berada di depan atau di belakangnya dalam sebuah kalimat. Sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan vertikal antara kata tersebut dengan makna kata yang berkaitan dengan pilihan kata tersebut, sehingga dengan pemilihan kata tersebut menimbulkan makna asosiatif tertentu. Berdasarkan pemahaman tersebut dapat dikatakan bahwa makna cerita dalam sendratari Ramayana tidak ditentukan oleh satu tokoh atau satu adegan saja melainkan ditentukan oleh antar-relasi masing-masing unsur pokok cerita tersebut dibangun (dalam hal ini lirik dan pelantunannya), seperti halnya makna sebuah kalimat tidak ditentukan oleh satu fonem ataupun satu kata saja, melainkan ditentukan oleh kerangka relasional atas keseluruhan unsur pokok pembangunnya (Lévi-Strauss, 1963: 210-211). Makna dalam lirik dibangun atas unsur-unsur pokok yang berada dalam suatu hubungan sintagmatik dan paradigmatik dengan pelantunannya (pola nada/jenis tembang). Sebuah lirik akan berkaitan dengan pelantunan, tokoh, setting, episode, dan lain-lain yang menjalin sebuah makna.
Perihal struktur, Lévi-Strauss (1963: 279) menjelaskan bahwa (1) struktur memiliki ciri sistem, yaitu terdiri atas unsur-unsur hingga perubahan terjadi pada salah satu di antara unsur-unsur itu membawa perubahan bagi semua unsur lain. Jadi seluruh organisasi intern dan koheresinya berubah. (2) Tiap model tercantum pada seperangkat
45 transformasi yang semua bersesuaian dengan satu model serumpun. (3) Sifat-sifat tersebut memungkinkan pembaca dapat meramalkan bagaimana model akan bereaksi bila salah satu unsurnya berubah. (4) Model harus disusun sedemikian rupa sehingga cara berfungsinya dapat mencakup semua fakta yang diobservasi.
Struktur yang dimaksudkan di atas dibedakan menjadi dua macam, yakni struktur lahir atau struktur luar (surface structure) dan struktur batin atau struktur dalam (deep structure). Struktur luar adalah relasi-relasi antar unsur yang dapat dibuat atau dibangun berdasarkan atas ciri-ciri empiris dari relasi-relasi tersebut sedangkan struktur dalam adalah susunan tertentu yang dibangun berdasarkan atas struktur lahir yang telah berhasil dibuat, namun tidak selalu tampak pada sisi empiris dari fenomena yang dipelajari. Struktur dalam tersebut dapat disusun dengan menganalisis dan membandingkan beberapa struktur luar yang berhasil ditemukan atau dibangun.
Struktur dalam inilah yang lebih tepat disebut sebagai model untuk memahami fenomena yang diteliti, karena melalui struktur inilah penelitian kemudian dapat memahami berbagai fenomena budaya yang dipelajarinya (Ahimsa-Putra, 2012: 61--62). Transformasi dalam bidang simbol dapat saja terjadi perubahan ataupun pengurangan elemen pembentuknya berkurang, tetapi makna yang dikandung tetap sama. Pada perubahan ataupun pengurangan kalimat dengan makna yang sama, apabila dibuatkan tabel perubahan akan dapat dilihat struktur tertentu yang bersifat tetap, diam tidak berubah sama sekali. Struktur inilah yang disebut sebagai struktur dalam dari berbagai simbol dan proses simbolisasi fenomena sosial budaya yang dipelajari.
Struktur dalam merupakan model yang dibuat oleh peneliti untuk memahami
46 kebudayaan yang dikajinya. Analisis struktur seperti di atas pada dasarnya dapat diterapkan pada setiap gejala budaya atau unsur-unsurnya yang lebih kecil.
Dengan hadirnya model yang dibuat oleh peneliti, analisis struktural juga membuka kemungkinan untuk dikemukakannya prakiraan mengenai trasnformasi-transformasi budaya yang pernah terjadi dalam berbagai masyarakat di masa lampau maupun yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Untuk itu lirik dan pelantunannya dalam sendratari sebagai bagian transformasi ditempatkan dalam bagian-bagiannya secara linear, dipotong-potong dalam beberapa bagian/episode yang masing-masing berisi satu deskripsi mengenai suatu hal atau memiliki sesuatu tema tertentu. Makna masing-masing episode tergantung kepada keseluruhan teks dengan memperhatikan isi lirik dan lantunannya pada setiap episode itu sendiri dalam keseluruhan cerita. Tokoh, tempat, dan peristiwa diidentifikasi dengan cermat untuk mendapatkan persamaan dan perbedaan yang bukan pola dan dikaitkan dengan lirik yang dilantunkan. Selanjutnya dicari unit-unit dalam susunan sintagmatik dan paradigmatik agar pesan dapat disusun dan ditangkap dengan mudah. Hal ini didahului dengan pengetahuan bahwa jenis tembang tertentu mempunyai makna tertentu meski tanpa lirik. Hubungan sintagmatik sebuah kata/lirik adalah hubungan yang dimilikinya dengan kata-kata yang dapat berada dari depan atau di belakangnya dalam sebuah kalimat lirik dan pelantunannya. Hubungan paradigmatik adalah berhubungan dengan makna kata berkait dengan pilihan kata dan pilihan tembangnya/cara pelantunannya sehingga pemilihan kata/lirik dan cara pelantunan tersebut menimbulkan makna asosiatif tertentu. Selanjutnya, dicari relasi-relasi antara lirik dan pelantunannya
47 dengan tokoh, episode, setting, dan lain-lain sehingga kemudian menampakkan makna-makna tertentu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Lévi-Strauss (1963: 210), jika mitos memiliki sebuah makna, maka makna itu tidak bisa berpegang pada elemen-elemen terisolasi yang masuk ke dalam komposisinya namun hanya bisa berpegang pada cara elemen-elemen itu berkombinasi. Dalam hal ini, penelitian ini akan memperlakukan lirik dan cara pelantunannya seperti mitosnya Lévi-Strauss. Teknik yang digunakan Lévi-Strauss (1963: 211-212) adalah menganalisis setiap mitos secara independen, sambil berusaha menerjemahkan suksesi atau urut-urutan peristiwa melalui kalimat-kalimat sependek mungkin, sehingga akhirnya dapat diketahui bahwa setiap satuan konstitutif yang penting memiliki sifat atau tabiat sebagai sebuah hubungan. Lévi-Strauss mengingatkan bahwa hubungan antarsatuan konstitutif yang dia maksudkan bukanlah hubungan yang bersifat terisolasi melainkan berupa paket hubungan (bundels of such relations), dan hanya dalam bentuk kombinasi paket-paket semacam inilah satuan-satuan konstitutif tersebut memperoleh fungsi yang berarti. Sistem semacam itu memiliki dua dimensi sekaligus, yakni diakronis dan sinkronis, yang berarti menyatukan karakteristik bahasa (langue) di satu sisi dan pengucapan (parole) di sisi yang lain. Dalam sendratari Ramayana, paket-paket tersebut tercermin dalam kehadiran lirik dan cara pelantunannya. Lirik gerong sebagai parole dan lantunan nada dalam pathêt sebagai langue. Mereka menjadi sebuah paket hubungan yang tidak bisa dipisahkan atau dimaknai sendiri-sendiri.
48 1.6.2.5 Mengenai Teori Formula Lord
Oleh karena penelitian ini berbasis kajian kelisanan, selain teori struktural, penelitian ini juga memperhatikan teori formula yang dikemukakan Lord (1976). Teori kelisanan berawal dari kajian formula terhadap komposisi epik Homerus yang dilakukan oleh Milman Parry pada tahun 1930-an. Selanjutnya, Albert Lord meneruskan serta mengembangkan karya Parry tersebut yang kemudian dibukukan dengan judul The Singer of The Tales (1976 [1960]). Ide dasar konsep formula yang dicetuskan Parry tersebut dikembangkan Lord dan digunakannya untuk mengkaji puisi lisan Yugoslavia, dalam rangka menjelaskan kelisanan Iliad dan Odyssey karya Homer.
Kedua karya itu “dihafalkan” dan ditransmisikan turun-temurun secara lisan. Dalam buku tersebut Lord membicarakan lima hal pokok, yakni (1) formula, yang berhubungan erat dengan frasa, (2) tema, (3) hubungan antara menciptakan, menyanyikan, dan mempertunjukkan, (4) pola cerita, dan (5) genre.
Melalui penelitiannya, Lord mengungkapkan bagaimana seorang guslar dapat menyanyikan lagu yang panjangnya ribuan baris tanpa perlu menyiapkan teks terlebih dulu. Artinya, komposisi dan pertunjukan (performance) bukan merupakan tahapan terpisah tetapi terjadi bersamaan. Lord lebih banyak memperhatikan teknik penciptaan larik (pada karya komposisi lisan setelah karya tersebut dituliskan) yang secara ketat harus selaras antara diksi dan pola metrum. Cerita yang dilantunkan guslar bukan hanya disampaikan secara lisan, melainkan komposisinya dan ceritanya juga dibuat secara lisan saat pertunjukan berlangsung (oral composition in performance). Si guslar memanfaatkan bentuk yang disebut sebagai formula. Sementara itu, Lord (1976:4)
49 menjelaskan formula sebagai “kelompok kata yang secara teratur dimanfaatkan dalam kondisi matra yang sama untuk mengungkapkan suatu ide pokok”. Formula dapat berupa kata-kata, frasa, klausa, atau larik dan muncul berkali-kali dalam cerita.
Menurut Lord, para penutur tradisi lisan tidak biasa menghafalkan. Kata-kata dan baris-baris dalam komposisi cerita lisan disusun oleh para pencerita dengan menggunakan pola formula. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan menempatkan formula pada komposisi cerita pada saat pertunjukan sedang berlangsung. Mereka mencoba mengingat frasa-frasa yang didengarnya dari pencerita lain dan yang telah berkali-kali digunakan dalam menuturkan suatu cerita. Mereka menggunakan ingatan (remembering) dan bukan menggunakan hafalan (memorization) (Lord, 1976). Dua cara yang ditempuh oleh pencerita dalam menghasilkan perulangan adalah mengingat dan menciptakannya kembali melalui analogi perulangan kata-kata, frasa, klausa, dan larik yang sudah ada. Dengan menyusun baris berdasarkan pola formula, terjadilah proses penggantian, kombinasi, pembentukan model, dan penambahan kata atau ungkapan baru pada formula sesuai dengan kebutuhan. Lord (1976:34) juga menyatakan bahwa setiap penyair tradisional membawakan ceritanya dengan menciptakan kembali secara spontan dan menggunakan sejumlah unsur bahasa (kata, kata majemuk, frasa) yang telah tersedia dan siap digunakan. Dengan demikian, para pencerita dalam bercerita tidak pernah sepenuhnya terikat pada teks terdahulu yang pernah didengarnya. Bagian yang tetap adalah inti cerita (Lord, 1976:99).
50 Dalam teori formula, konsep kelisanan tidak hanya dimaknai sebagai presentasi lisan, tetapi juga komposisi lisan selama berlangsungnya pertunjukan (Lord, 1976:5).
Karena itu, dalam teori formula, prinsip kelisanan berorientasi pada proses pembelajaran tertentu, yakni komposisi dan transmisi lisan yang muncul hampir bersamaan sehingga tampak sebagai sisi-sisi yang berbeda dari proses yang sama.
Peristiwa komposisi adalah peristiwa pertunjukan, sementara itu, peristiwa komposisi dan peristiwa pertunjukan berlangsung dalam waktu yang sama (Lord, 1976:13-25).
Selanjutnya Lord (1976:13-14) menjabarkan bahwa (1) pelantunan puisi lisan dalam masyarakat Yugoslavia bersifat spontan, dilantunkan langsung di tempat pertunjukkan tanpa catatan; (2) pelantunan hanya berbekal plot dan tema yang telah dipersiapkan dari rumah; (3) pelantunan didominasi oleh repetisi dan paralelisme; (4) lantunan diperkaya dengan stock epithet, yaitu frasa siap pakai yang telah tersedia; (5) lantunan terbentuk atas formula, yaitu kata atau frasa yang dipakai sebagai pengisi ruang kosong pada bait-bait berikutnya yang memiliki kesejajaran semantik tertentu;
(6) terdapat kesatuan singer-composer-performer dalam pelantunan; dan (7) tidak ada istilah original dan variant untuk lantunan karena setiap lantunan adalah asli (selalu diproduksi kembali).