BAB II LANDASAN TEORI
B. Mengenai Takdir dan Nasib
Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, bahwa :
Kata takdir (taqdir) terambil dari kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata,
“Allah telah menakdirkan demikian,” maka itu berarti, “Allah
telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya.”12
“Menurut istilah tauhid, takdir adalah bentukan kata dari qadar. Qadar ialah sesuatu yang telah ditentukan Allah pada zaman azali (zaman belum diciptakan semua ciptaan Allah)”13
. Takdir adalah ketentuan/ketetapan Allah menurut ukuran/norma tertentu. Takdir merupakan rukun iman ke enam yang berasal dari sunnah Nabi. Dalam perkembangan zaman, Islam menemukan dua teori mengenai takdir. Teori pertama disebut Teori Fatalisme yakni meyakini manusia di kuasai nasib, menganggap kekeuasaan Allah itu Mutlak, manusia adalah alat
12
Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat, h. 61
13
Imam Nawawi Al-Bantani, Tsi arul Ya i ah Ala ‘iyadh Al-Badi ah, (Surabaya: Al-Hidayah), h. 4.
Tuhan yang tidak memiliki kebebasan dalam mengatur nasib.14 Dengan teori ini menolak dari teori dua yang berlandaskan surat al-Ra’d ayat 11
dalam Quran.
Dalam teori kedua ini manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Dengan akal manusia dapat menentukan pilihannya, jalan yang baik/benar dan jalan yang salah/sesat. Manusia memiliki kehendak bebas menentukan nasibnya. Jadi, singkat kata menurut penulis nasib adalah ketentuan Tuhan yang memiliki pilihan untuk dipilih manusia.
Mengenai dua teori mengenai takdir tadi merupakan teori yang dapat dibenarkan. Jabariah dan Qadariah ada di dalam hati manusia dan diselesaikan pula di dalam hati saat menghadapi realita kehidupan takdir yang sudah ditentukan Allah ada empat perkara. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang berbunyi :
Dari Abu Abdul Rahman, Abdullah bin Mas'ud r.a, katanya Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kami, sedangkan baginda seorang yang benar dan dibenarkan kata-katanya, sabdanya : 'Sesungguhnya sesaorang kamu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa setitik air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian seketul daging seperti yand demikian itu juga, yaitu 40 hari. Kemudian diutuskan kepadanya malaikat, lalu ditiupkan roh kepadanya dan diperintahkan menulis empat pekara : rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka dan bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain daripadaNya, sesungguhnya sesaorang kamu itu tetap akan beramal dengan amalan ahli syurga sehinggalah di antaranya dengan syurga itu jaraknya cuma sehasta saja. Tiba-tiba dia telah didahului oleh tulisannya ( suratan takdir ) sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan
14
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 231
sesungguhnya sesaorang kamu tetap akan beramal dengan amalan ahli neraka sehinggalah di antara dirinya dengan neraka cuma sehasta saja. Tiba-tiba dia telah didahului oleh tulisannya sehingga dia beramal dengan amalan ahli syurga, maka akhirnya masuklah dia ke dalam syurga itu.15
Berdasarkan hadits shahih di atas maka jelas sudah dalam kehidupan di dunia ini mengenai rezeki, umur, pekerjaan, dan kecelakaan atau kebahagiaan hidupnya sudah ditentukan oleh Allah. Ketentuan ini disebut qadla, mengenai jumlah, jenis atau sifat dari qadla tersebut disebut qadar. Walau sudah ditentukkan, manusia tetap bisa mengubahnya dengan bantuan akal dan qalbu.
Kita dapat memilih yang mana di antara takdir (ukuran-ukuran) yang ditetapkan Tuhan yang kita ambil. Uman bin Khaththab membatalkan rencana kunjungannya ke satu daerah karena mendengar adanya wabah di daerah tersebut.
Beliau ditanya: “Apakah Anda menghindar dari takdir Tuhan?” Umar Menjawab: “Saya menghindar dari takdir
yang satu ke takdir yang lain.16
Berjangkitnya penyakit akibat wabah merupakan takdir Tuhan. Bila menghindar sehingga terbebas dari wabah, ini juga takdir. Kalau begitu ada takdir baik dan takdir buruk. Tetapi ingat, Anda diberi takdir untuk memilih. Karenanya,
jangan hanya saat petaka terjadi, kita berucap: “Itu takdir.”
Ucapkanlah juga pada saat kita meraih sukses.17
Allah menentukan perjalanan manusia dan Dia pula yang memerintahkan agar manusia yang merubah nasibnya sendiri. Hal itu menunjukkan betapa adilnya Allah mengatur kehidupan ini. jika upaya perubahan yang dilakukan manusia menujurs kepada kebaikan, berarti perubahan itu sesuai skenario Allah. Tetapi, jika mengarah kepada keburukan, itu
15
http://islam-semua.blogspot.com/2012/07/hadist-arbain.html, diakses 18 September 2014
16
M. Quraish Shihab , Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan, (Bandung: Mizan, 1994), h. 99
17
M. Quraish Shihab , Lentera Hati: kisah dan hikmah kehidupan, (Bandung: Mizan, 1994), h. 99
berarti buah dari ulah manusia sendiri. Sebab, Allah hanya menghendaki kebaikan.18
Menurut buku 13 Cara Nyata Mengubah Takdir karya Jamal
Ma’mur Asmani, beliau menyatakan bahwa, “Selama nyawa masih di kandung badan, kita mempunyai peluang mengubah takdir yang buruk menuju takdir yang baik sesuai dengan tuntunan Islam. Mengapa? Karena takdir adalah rahasia Allah yang tidak diketahui oleh siapapun.”19
Perhatikan penjelasan berikut dalam kitab Tanwirul Qulub: “Imam Nawawi berkata dalam penjelasan hadits, ‘tidak
ada jiwa yang bernapas kecuali sungguh Allah telah menulis
tempatnya di surge dan neraka’.Imam Abu Al-Muzhaffar
Al-Sami’ani berkata,’Jalan mengetahui bab ini adalah cukup
menggantungkan kepada Al-Qur’an dan sunah, tidak hanya menggunakan qiyas (analogi) dan akal. Barangsiapa berpaling dari prosespenggantungan ini maka ia sesat dan hancur dalam samudra kebingungan. Ia tidak akan sampai kepada penyembuhan jiwa dan kepada sesuatu yang menenangkan hati, karena taqdir (qadar) Allah adalah rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang dilapisi di bawahnya beberapatutup, yang dikhususkan bagi Allah dan Dia menutupinya dari akal-akal manusia dan pengetahuan-pengetahuannya.karena Allah mengetahui hikmahnya. Dan kita wajib menggantungkan (menyerahkan) - hal ini hanya kepada Allah. Jika Allah sudah memberi batas kepada kita, janganlah melewatinya. Allah merahasiakan ilmu qadar kepada orang-orang berilmu. Maka, nabi yang diutus dan malaikat yang dekat sekalipun tidak mengetahuinya. Oleh sebab itu, hendaknya Anda memahami apa yang kami tetapkan, meyakini apa yang kami sampaikan, dan tidak tertipu dengan indahnya kebohongan orang-orang sesat dan menyesatkan, jika tidak, Anda akan binasa bersama orang-orang yang binasa. (Allah menunjukkan orang-orang yang Dia
18Ja al Ma’ ur As a i, 13 Cara Nyata Mengubah Takdir, (Jakarta: Wahyu Media, 2010), h. 15.
19Ja al Ma’ ur As a i, 13 Cara Nyata Mengubah Takdir, (Jakarta: Wahyu Media, 2010), h. 13.
kehendaki kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki, maka tidak ada baginya orang yang menyesatkan. Dan barangsiapa yang Allah menyesatkannya,
maka tidak ada baginya orang yang menunjukkan’.”20
Hidup ini sebenarnya tunduk pada hukum sebab-akibat. Ada asap karena ada api. Segala hal di kehidupan ini mengikuti sunnatullah, aturan-aturan (qadla) Allah yang memiliki ukuran (qadar) masing-masing. Manusia dengan akal dan qalbu adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki kemampuan dan kemauan dalam dirinya sendiri dalam memilih, memutuskan, dan berbuat mengenai sesuatu sesuai kemauan dan kehendaknya sendiri.
Barangsiapa yang menciptakan sebab, dia pulalah yang menciptakan akibat yang muncul karenanya. Inilah landasan berpikir mengenai takdir. Allah menciptakan manusia yang memiliki kehendak dan kemampuan. Walaupun kehendak dan kemampuan ini berjalan sesuai kehendak Allah. Kehendak manusia ada yang positif ada pula yang negatif. Kemampuan manusia ada yang super mampu dan kurang mampu melakukan suatu hal. Di sini letak krusialnya akal dan qalbu manusia, berpikir, memilih, dan memutuskan kehendak apa yang akan diambil, positif atau negatif. Hal ini yang menjadikan di bumi ini ada manusia baik dan manusia jahat.
Pada ayat 28-29 yang terdapat dalam Quran pada surat At-Takwir, kehendak manusia tidak lepas dari kehendak Allah, Sang Maha Pencipta.
20
Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi, Tanwirul Qulub Fi Mu ‘amalai ‘Allamil Ghuyub, (Surabaya: Al-Hidayah) h. 90
Ayat ini juga bisa menyimpulkan bahwa Allah mengatur kehidupan Manusia bukan seperti manusia bermain catur. Allah tidak mendikte manusia untuk melakukan hal a, b, c, d, dan lain sebagainya tanpa adanya freewill untuk manusia. Allah memberikann akal dan qalbu untuk manusia berpikir sebelum memutuskan dalam berikhtiar yang berujung pada nasib manusia itu sendiri.
Hemat saya sebagai penulis, Manusia memiliki kehendak dan pilihan dalam berikhtiar yang dilakukannya secara sadar dan dengan keadan tidak terpaksa. Manusia bukan robot yang tidak sadar dan dalam keadaan terpakasa bekerja sesuai pemegang remote control. Manusia memiliki akal dan qalbu dengan besar/kecilnya usaha manusia - yang dimana disebut ikhtiar ini - dalam mengikuti sunnatullah akan menentukan hasil. Hasil inilah yang kita sebut dengan nasib. Maka tak heran ada nasib baik dan buruk, hal ini ada karena keputusan manusia. Maka setiap manusia memiliki pertanggung jawaban masing-masing di hari akhir nanti untuk setiap perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan. Karena pelaku dari perbuatan manusia adalah manusia itu sendiri.