K
etersediaan layanan kesehatan yang berkualitas adalah kebutuhan yang sangat mendesak sebagai bentuk akuntabilitas sosial dan perlindungan negara terhadap masyarakat. Salah satu faktor yang menentukan kualitas pelayanan itu adalah kompetensi tenaga kesehatan. Saat ini ketimpangan kompetensi atau kualitas tenaga kesehatan terjadi karena beragamnya jenis dan kualitas sistem pendidikan tinggi kesehatan. Selain itu penjaminan pemenuhan standar kompetensi profesi kesehatan melalui uji kompetensi yang sudah dimulai oleh profesi kedokteran dan kedokteran gigi sejak 2007 belum diikuti oleh profesi lain.Untuk melengkapi usaha dalam mengontrol kualitas tersebut, Lembaga Pengembangan Uji Kompetensi (LPUK) hadir sebagai lembaga mandiri yang bertanggung jawab terhadap pengembangan uji kompetensi tenaga profesional kesehatan yang diakui secara nasional, regional dan internasional serta memiliki mekanisme penjaminan mutu internal. Lembaga ini terdiri dari berbagai unsur mulai dari asosiasi institusi pendidikan, organisasi profesi, perwakilan masyarakat yang relevan, serta pemerintah, baik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementerian Kesehatan yang bekerja sama dalam penyelenggaraan uji kompetensi.
Uji Kompetensi
Berbicara mengenai LPUK, sangat perlu kiranya membahas apa itu uji kompetensi. Uji kompetensi dalam hal ini adalah ujian
yang dilaksanakan pada tahap akhir pendidikan yang mencakup proses pengukuran pengetahuan, keterampilan, dan perilaku peserta didik pada perguruan tinggi kesehatan.
Landasan hukum yang digunakan sebagai pedoman melaksanakan uji kompetensi bagi seluruh peserta didik yang diluluskan dari sebuah institusi pendidikan diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 61. Undang-undang ini menegaskan bahwa sertifikat kompetensi sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi. Selanjutnya Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran mengatur dan menyebutkan bahwa ujian dan sertifikasi kompetensi sebagai syarat untuk pengurusan surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi. Landasan hukum uji kompetensi bagi tenaga kesehatan, selain dokter dan dokter gigi, diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 1796 Tahun 2011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi juga mengatur tentang sertifikat profesi dan sertifikat kompetensi yang memperkuat keberadaan uji kompetensi ini. Landasan hukum yang dikemukakan tersebut, ditambah dengan landasan hukum lainnya yang relevan, menunjukkan bahwa uji kompetensi bagi seluruh peserta didik termasuk peserta program pendidikan calon tenaga profesi kesehatan wajib dilakukan. Khusus untuk tenaga kesehatan
dan tenaga medik ditambah dengan kewajiban teregistrasi yang salah satu syaratnya adalah memiliki sertifikat kompetensi. Untuk mendapatkan sertifikat uji kompetensi peserta diharuskan lulus uji kompetensi sesuai standar kompetensi profesi masing-masing.
Dilihat dari sejarahnya, uji kompetensi telah diterapkan pada dokter dan dokter gigi yang dimulai sejak tahun 2007 sebagai amanah dari UU Praktik Kedokteran. Sedangkan untuk tenaga kesehatan lain, uji kompetensi sedang dikembangkan khususnya tenaga keperawatan dan kebidanan. Sejak tahun 2007 tersebut, masing-masing profesi yakni dokter dan dokter gigi, melaksanakan uji kompetensi setiap 3 bulan dengan jadwal yang telah ditentukan sejak satu 1 tahun sebelumnya.
Penguatan Sistem Uji Kompetensi
Sebagai penguatan sistem uji kompetensi yang telah berjalan dan tentunya sebagai penjaminan mutu lulusan pendidikan tinggi khususnya pendidikan tinggi kedokteran secara merata, maka dikeluarkan Surat Edaran Dirjen Dikti No. 88/E/DT/2013. Dalam surat edaran tersebut uji kompetensi menjadi bagian dari proses evaluasi pembelajaran yang terintegrasi dalam sistem pendidikan, sehingga pelaksanaan uji kompetensi dilaksanakan sebelum kelulusan peserta didik dan oleh sebabnya pembiayaan uji kompetensi merupakan bagian dari pembiayaan pendidikan. Uji kompetensi sebagai exit exam tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal, yaitu pentingnya academic
professional environment; peran uji kompetensi sebagai feedback mutu proses pembelajaran; dan untuk mendukung integrasi sistem pendidikan-pelayanan.
Selain itu sejak pertengahan tahun 2011 telah disusun rancangan Peraturan Bersama (PB) antara Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait uji kompetensi bagi peserta didik pada perguruan tinggi bidang kesehatan di luar dokter dan dokter gigi. Untuk pengaturan detail teknis pelaksanaan uji kompetensi bagi tenaga kesehatan akan ditindaklanjuti dalam Perjanjian Kerja Sama antara Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDMKes) dan Dirjen Dikti.
Sistem uji kompetensi yang sekarang sedang dikembangkan oleh Komponen 2 Proyek HPEQ dan LPUK mencakup metode pengembangan soal, metode penelaahan soal, hingga mutu analisis soal ujian. Dengan perbaikan pada sistem uji kompetensi ini, diharapkan mutu lulusan institusi dapat lebih terjamin dan sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Untuk lebih jelasnya, berikut tabel perbandingan sistem uji kompetensi lama dan baru:
Tabel 4.1 Perbandingan Sistem Uji Kompetensi Lama dan Baru
Parameter
SDM
Material (Soal Ujian)
Sistem Lama Sistem Baru Kualitas penulis
soal, pengkaji soal, pengawas uji dan juri tidak standar
Penulis soal, peng-kaji soal, koordina-tor CBT & OSCE, pengawas uji dan juri lebih kredibel melalui pelatihan sesuai standar nasional
t Soal uji belum terstandar t Blue print uji
kompetensi untuk dokter dan dokter gigi belum sempur-na, sedangkan untuk bidang kesehatan lain masih belum tersusun t Penyusunan soal berbasis blue print masing-masing profesi oleh penulis soal yang sudah dilatih dan ter-standar
Metode t Metode uji belum sesuai dengan standar kompetensi t Pelaksanaan uji belum ter-standar t Penentuan NBL belum menggu-nakan metode standar setting yang tepat t Penyusunan blue print sesuai standar kompe-tensi masing-masing profesi dan dibutuhkan aliansi strategis antarmasyarakat profesi untuk menyepakati blue print yang disusun oleh panel expert. t
Pengemban-gan metode uji sesuai standar pendidikan dan standar kompe-tensi masing-masing profesi
Pembiayaan Pembiayaan untuk pelaksanaan ujian dari peserta uji kompetensi
t Penyusunan dan penerapan pedoman pelak-sanaan uji yang berstandar na-sional, termasuk pengelolaan bank soal yang kredibel t Divisi R & D
pada LPUK yang updated dengan perkembangan metode as-sessment, serta menguatkan kapasitas juri yang terstandar t Pembiayaan un-tuk pelaksanaan ujian: t Terintegrasi pada biaya pen-didikan (uji kom-petensi sebagai exit exam)
Sumber: Draft Buku LPUK (2012)
Lembaga Pengembangan Uji Kompetensi (LPUK)
Demi memaksimalkan fungsi uji kompetensi sebagai alat menjaga mutu lulusan tenaga kesehatan dan upaya untuk terus mengembangkannya, maka HPEQ Project Dikti mendirikan LPUK dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan. Dalam Rancangan Naskah Akademik LPUK dijelaskan bahwa LPUK ialah lembaga ujian nasional mandiri berbadan hukum yang bertanggung jawab terhadap pengembangan strategi, metodologi serta perangkat uji dalam mengevaluasi kompetensi peserta didik institusi pendidikan dokter, dokter gigi, perawat dan bidan serta tidak menutup kemungkinan profesi kesehatan lain untuk bergabung di dalamnya.
t Berasal dari peserta uji kom-petensi (untuk retaker) *dalam pembahasan Pengukuran (Monitoring & Evaluasi) Pengawasan lembaga dilakukan oleh kolegium dan asosiasi institusi pendidikan Pengawasan lemba-ga dilakukan oleh Dewan Pengawas melalui komite yang dibentuk
Dalam hal metode pelaksanaan ujian, LPUK mengembangkan bentuk ujian berbasis komputer atau Computer Based Test (CBT) untuk mengevaluasi ranah pengetahuan, dan ujian keterampilan klinik atau Objective Structured Clinical Examination (OSCE). Metode pelaksanaan ujian ini secara teoretis dan metodologis mengacu kepada model atau taksonomi pengetahuan dan keterampilan mengenai assessment dalam pendidikan profesi kesehatan, yaitu Piramida Miller.
Secara sistematis metode uji kompetensi dapat disesuaikan dengan Piramida Miller tersebut dan digambarkan dengan suatu tingkatan kompetensi tertentu. Seperti tertuang dalam Naskah Akademik LPUK, penyesuaian dari Piramida Miller tersebut dapat dilihat sebagai berikut: pertama, untuk kompetensi yang bersifat knowledge dapat diuji dengan pilihan ganda (Multiple Choice
Gambar 4.1 Piramida George Miller
Question/MCQ). Kedua, untuk menilai kompetensi tingkatan knows how dapat diuji dengan metode MCQ yang fokusnya menanyakan tentang penerapan konsep pada penanganan pasien di bidang kesehatan yang penting untuk praktik sehari-hari. Ketiga, untuk menilai kompetensi tingkat shows how, dapat diuji dengan Objective Structure Clinical Examination (OSCE) yang merupakan metode uji untuk menilai kemampuan keterampilan klinik dan komunikasi. Terakhir yaitu untuk menilai kompetensi tingkat does yang dapat dilakukan dengan menilai kompetensi tenaga kesehatan sehari-hari dengan menggunakan metode portofolio, Direct Observational Procedural Skill atau 360 degree evaluation. Pelaksanaan uji kompetensi dokter dan dokter gigi saat ini dilakukan dengan 2 metode, pertama yaitu MCQ dalam bentuk Computer Based Test (CBT) setelah melalui perjalanan panjang dari Paper Based Test (PBT) pada tahap awal pelaksanaan uji kompetensi, dan yang kedua ialah OSCE. Selain itu, reliabilitas dan keabsahan soal ujian juga difasilitasi LPUK melalui mekanisme sistem bank soal (Item Bank Networking System). Secara umum LPUK memiliki peran pelayanan dan akademik. Di sisi pelayanan, LPUK bekerja sama dengan institusi pendidikan tenaga kesehatan dalam menyusun dan mengembangkan ujian nasional kompetensi tenaga kesehatan bagi lulusan di tiap profesi, sesuai dengan standar kompetensi nasional profesi. Masing-masing profesi menjadi narasumber dalam penentuan dan penetapan substansi ujian yang terdiri dari pengembangan blue print dan pengelolaan soal sampai dengan standar kelulusan dari peserta ujian serta ditunjang oleh teknologi informasi. Di sisi
akademik, LPUK berperan dalam memajukan penyelenggaraan ujian pada masing-masing profesi tenaga kesehatan di Indonesia melalui penelitian di bidang assessment.
Pada fase awal pengembangan, LPUK dimulai dengan pembentukan berbagai lembaga uji kompetensi untuk tenaga kesehatan seperti Komite Bersama Uji Kompetensi Dokter Indonesia (KB UKDI) dan Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) yang telah terbentuk sejak tahun 2007, serta Komite Nasional Uji Kompetensi Perawat (KNUKP), berbagai Majelis Tinggi Kesehatan Provinsi (MTKP) yang telah melaksanakan uji kompetensi di provinsi masing-masing atau komite lain yang dibentuk khusus untuk menyiapkan dan melaksanakan uji kompetensi.
Sejak tahun 2011, Health Professional Education Quality (HPEQ) Project yang berjalan di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan mendapatkan bantuan dana dari Bank Dunia dimulai. Melalui proyek ini terjadi percepatan pencapaian kegiatan pembentukan LPUK. Profesi kesehatan yang terlibat pada tahap awal terdiri dari dokter, dokter gigi, perawat dan bidan. Dengan komunikasi dan kerja sama dengan MTKI, diharapkan LPUK bisa membantu pengembangan uji kompetensi untuk tenaga kesehatan lain. Sebagai salah satu dasar pengembangannya, telah dilaksanakan studi banding ke berbagai lembaga yang sejenis di luar negeri seperti NBME untuk profesi dokter dan NCSBN untuk perawat. Hasil dari kunjungan ini menjadi salah satu sumber informasi dalam pengelolaan lembaga yang lebih profesional. LPUK juga diharapkan
memperoleh standar mutu dari organisasi penjaminan mutu baik nasional maupun internasional sehingga akan membuka kesempatan melakukan kolaborasi dengan lembaga yang sama secara regional maupun internasional. HPEQ Project berlangsung selama 2011-2014. Selanjutnya LPUK diharapkan bisa menjadi suatu lembaga mandiri yang berkelanjutan dengan meneruskan program yang telah berlangsung serta melakukan berbagai pengembangan sistem ujian.
Upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat salah satunya ialah melalui sertifikasi individual. Oleh karenanya, dengan adanya LPUK sebagai lembaga pengembang uji kompetensi yang merupakan salah satu dari sertifikasi individual tersebut, diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas pendidikan, menghasilkan tenaga kesehatan yang berkualitas dan pada akhirnya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Sejak tahun 2011, HPEQ dimulai dan melalui ini terjadi percepatan pencapaian kegiatan pembentukan LPUK. Diharapkan setelah HPEQ Project selesai, LPUK menjadi suatu lembaga mandiri yang berkelanjutan dengan meneruskan program yang telah berlangsung sebelumnya dan terus melakukan peningkatan ke arah yang lebih baik.