lain.”
EPILOG
Pagi hari yang mendung, hujan rintik-rintik turun di luar sana, membuat suasana pagi gelap dan temaram. Nessa menarik selimutnya sampai ke pundak, merasa lelah dan mengantuk luar biasa.
Lalu dia merasakan lengan itu melingkari pinggangnya, lengan yang kuat, memeluknya dengan posesif. Nessa mengerutkan kening, membuka matanya pelan dan menunduk melihat lengan itu, kesadarannya kembali... Itu lengan Kevin, suaminya.
Suaminya. Pipi Nessa memerah dan dadanya dipenuhi oleh perasaan hangat. Kevin benar-benar telah menjadi suaminya yang sesungguhnya, semalam. Ingatannya melayang kepada malam sebelumnya dimana Kevin berlaku sangat lembut kepadanya, menyentuhnya dengan hati-hati dan penuh penghormatan, lalu Kevin memberinya pengalaman luar biasa dan membuat mereka benar-benar menjadi suami isteri.
Lengan Kevin yang memeluknya bergerak, lelaki itu rupanya terbangun dan langsung mengecup pipi Nessa dari belakang dengan lembut.
“Selamat pagi.” bisiknya serak di telinga Nessa. Nessa menolehkan kepalanya dan tersenyum malu-malu kepada Kevin, “Selamat pagi juga.”
Kevin melirik ke arah hujan yang mulai turun dengan deras di luar, “Hari ini hari minggu dan diawali dengan hujan yang turun deras.” lelaki itu mengedipkan matanya, “Sepertinya kita akan berada di atas ranjang seharian.”
Nessa sempat tertawa geli ketika Kevin menariknya setengah menggoda ke dalam pelukannya dan menciuminya. Dan memang benar, mereka baru turun dari ranjang lama sekali sesudahnya.
♥♥♥
Ketika Nessa dan Kevin turun untuk makan siang dan melewatkan sarapan, mereka bertemu dengan Delina dan Ervan yang sedang duduk di ruang makan, menikmati makan siang mereka. Ervan memang sengaja datang untuk menjemput Delina ke sebuah acara kampus di hari minggu.
Delina mengangkat alisnya melihat pasangan itu dan tersenyum menggoda.
“Aku pikir kalian tidak akan bangun seharian.” gumamnya penuh arti, membuat pipi Nessa merah padam karena malu.
Kevin hanya terkekeh menanggapinya dan merangkul pinggang Nessa erat-erat, “Kau tidak boleh protes, kami kan masih bisa disebut pengantin baru.”
“Kevin!” Nessa berbisik pelan sambil menyikut pinggang suaminya pelan, membuat Kevin tergelak dan Delina serta Ervan ikut tertawa.
Masih tersenyum Kevin menarikkan kursi makan untuk Nessa dan duduk di sebelahnya. Mereka lalu makan bersama.
“Ibu di rumah sendirian?” Nessa melirik ke arah Ervan, memikirkan ibunya dan tiba-tiba ingin tersenyum, ibunya akan sangat bahagia dengan perkembangan ini, bahwa Nessa dan Kevin benar-benar berbahagia dalam arti yang sesungguhnya.
“Ibu ada acara dengan ibu-ibu sekitar rumah, tadi aku sudah mengajaknya ke sini tetapi dia tidak bisa karena sudah berjanji akan datang ke acara itu.”
“Oh.” Nessa menganggukkan kepalanya dan memusatkan perhatiannya kembali kepada makanannya.
“Kami akan berbulan madu ke Paris.” gumam Kevin memecah keheningan.
Delina yang menanggapi pertama dengan senyum lebarnya, “Akhirnya kalian berbulan madu juga.” desahnya. “Kapan kak Nessa?” tanyanya bersemangat.
Nessa menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu rencana ini, dia memang mendengar Kevin sempat mengatakannya kemarin, tetapi dipikirnya waktu itu Kevin masih akan melakukannya beberapa bulan lagi.
Nessa menoleh ke arah Kevin dengan penuh pertanyaan, “Aku juga tidak tahu...” jawabnya kepada Delina, “Memangnya kita akan berbulan madu kapan Kevin?”
Kevin tersenyum penuh rahasia, “Segera.” gumamnya, “Minggu depan.”
Delina tersenyum makin lebar, “Dan kuharap kalian membawakanku oleh-oleh calon keponakan sepulangnya kalian dari sana.”
Pipi Nessa memerah mendengarnya, dan Kevin tersenyum lembut.
“Ada yang harus kukatakan kepada kalian,” Kevin menatap Nessa meminta persetujuan, ketika Nessa mengangguk, Kevin melanjutkan. “Aku harap kalian tidak marah kepada kami.”
Delina dan Ervan saling bertukar pandang, lalu menatap Kevin dengan bingung.
“Tentang apa kak?” gumam Delina penasaran.
“Tentang pernikahan kami.” Kevin menghela napas panjang. “Semula kami menikah hanya berdasarkan perjanjian.” “Perjanjian?” kali ini Ervan yang menyela, menatap Nessa dengan was-was.
Kevin mengangguk dan menatap Ervan dengan serius, “Jangan menyalahkan Nessa karena berbohong kepada kalian selama ini, sebenarnya akulah yang mengusulkan perjanjian ini kepadanya.” Dia menghela napas, “Kau mungkin belum tahu Ervan karena aku yakin Delina tidak cerita kepadamu... Kau pasti sudah tahu bahwa aku adalah anak angkat keluarga ini, bahwa aku dan Delina tidak ada hubungan darah. Jadi karena
ingin menjaga keutuhan keluarga, Mama kami ingin menjodohkan kami. Aku dan Delina ke dalam sebuah pernikahan. Tentu saja waktu itu mama kami belum mengenalmu, Ervan.”
Ervan menoleh kepada Delina dengan pandangan bertanya-tanya, dan Delina mengangguk, membenarkan perkataan Kevin.
“Aku berpikir aku tidak mungkin menikahi Delina, dia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, dan aku yakin begitu pula sebaliknya.” Kevin melempar senyum kepada Delina. “Kami berdua sangat ingin menolak pernikahan ini, tetapi mengingat kondisi mama waktu itu, kami sangat bingung dan tidak ingin membuat mama kecewa. Aku juga pusing memikirkan jalan keluar dari polemik ini, sampai kemudian kau membawa Nessa ke pesta itu dan mengenalkannya sebagai kakakmu.” Kevin menggenggam tangan Nessa, menatap mata isterinya dengan lembut, “Ide itu muncul begitu saja. Aku dan Nessa berkompromi untuk menjalankan hubungan pura-pura ini, supaya kalian bisa menentukan kisah cinta kalian sendiri.”
Ervan terperangah, “Jadi kalian berdua benar-benar baru mengenal pertama kali di pesta itu? Bukan sudah mengenal lama seperti yang kalian katakan?”
Kevin mengangguk, “Sekali lagi aku minta maaf karena kami telah membohongi kalian semua, tetapi waktu itu kami pikir itulah jalan yang terbaik.” Kevin meremas jemari Nessa semakin erat, “Pernikahan itu pada awalnya hanyalah sebuah perjanjian. Tetapi kemudian kami saling mencintai. Dan kami mensyukuri perjanjian pernikahan itu.”
Mata Delina berkaca-kaca, “Kalian... Kalian terlah berkorban demi kami berdua... Kalian mengikat diri agar kami bisa bebas menentukan cinta kami.” ditatapnya Ervan yang berusaha menelaah semua ini, suaranya serak penuh perasaan, “Terima kasih kakak.”
Kevin tersenyum lembut kepada adiknya, “Sama-sama sayang, pada akhirnya aku menemukan perempuan yang akan aku cintai selamanya, isteriku.”
Ervan menghela napas panjang, “Aku juga harus mengucapkan terima kasih... Dan aku senang kalian akhirnya berujung bahagia.” matanya menatap lembut ke arah Nessa, “Selamat kakak.”
Nessa tersenyum kepada adiknya, “Sama-sama Ervan.” bisiknya tulus. Ternyata begitu mudah berterus terang kepada kedua adik mereka. Tidak ada kebohongan lagi sehingga Nessa akan lebih mudah melangkah ke depannya bersama Kevin
♥♥♥
“Aku mencintaimu.” Kevin memeluk Nessa dari belakang dengan menggoda, dia baru pulang dari kantor dan memeluk isterinya dari belakang dan menggelitiknya setengah menggoda.
“Kevin!” Nessa berteriak kegelian dan menerima kecupan-kecupan sayang Kevin di pipinya.
Kevin terkekeh sambil masih menciumi Nessa, menghirup aroma isterinya yang sangat dirindukannya seharian ini, “Apakah kau merindukanku selama aku tidak ada di rumah?” bisiknya lembut, “Dan kau harus menjawab ‘ya’ kalau tidak aku akan marah.”
“Ya Kevin.” Nessa membalikkan badannya dan memeluk Kevin, membiarkan dahinya dikecup dengan lembut.
“Aku juga.” Kevin mengaku. “Setiap saat yang kupikirkan hanya kau, aku tidak sabar untuk cepat-cepat pulang.”
Pipi Nessa bersemu merah dan menatap suaminya penuh cinta. “Aku sangat bahagia bersamamu.” bisiknya kemudian membuat Kevin langsung memeluknya semakin erat.
“Syukurlah.” gumam Kevin penuh perasaan, “Kau tahu kebahagiaanmu telah menjadi obsesi pribadiku. Aku berjanji akan menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk membahagiakanmu.” dikecupnya ujung hidung Nessa, “Ngomong-ngomong tentang berbahagia, kita akan berangkat ke Paris Sabtu ini. Aku sudah menyiapkan semuanya.”
Mata Nessa berbinar, “Kau sudah bisa melepaskan diri dari kegiatan kantormu?” Nessa tahu Kevin sibuk luar biasa,
karena lelaki itu bisa dibilang mengendalikan seluruh perusahaan dengan kepandaiannya. Dia adalah orang inti di perusahaan dan sangat sibuk, sehingga berbulan madu hampir sebulan di Paris tentunya memerlukan persiapan yang cukup lama bagi perusahaannya.
Kevin tersenyum, “Sesibuk-sibuknya aku, kaulah prioritasku, lagipula aku sudah membagi semua tugas kepada para asistenku, aku yakin mereka semua memiliki kemampuan yang baik untuk mengelola perusahaan selama aku tidak ada.”
Nessa mendesah lega, “Jadi, kita akan berbulan madu?” Kevin menganggukkan kepalanya, “Kita akan meneruskan usaha untuk menciptakan Kevin Junior di Paris.” godanya, membuat pipi Nessa bersemu merah
Lelaki itu terpesona melihat kecantikan isterinya, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menunduk dan mengecup bibir isterinya dengan penuh gairah. Disesapnya bibir yang lembut itu dengan penuh kasih sayang.
Ketika mereka berdua mengangkat matanya, binar-binar kebahagiaan memancar dari mata mereka, penuh dengan cinta.