METODOLOGI PENELITIAN
4. Menggali Secara Sistematis
Teknik yang digunakan pada langkah ini adalah pohon klasifikasi konsep. Pohon klasifikasi konsep digunakan untuk memisahkan keseluruhan penyelesaian yang mungkin menjadi beberapa kelas berbeda sehingga akan memudahkan perbandingan dan pemangkasan. Sebagai hasil dari pencarian eksternal dan
internal, terdapat puluhan atau ratusan penyelesaian konsep untuk
subpermasalahan-subpermasalahan. Pemeriksaan secara sistematis ini bertujuan untuk mengarahkan kemungkinan dengan mengelompokkan dan menyatukan fragmen-fragmen solusi tersebut. Terdapat dua alat spesifik yang dapat membantu tahapan ini yaitu the concept classification tree dan the concept combination
table. Alat ini membantu kita menemukan keseluruhan dari variasi produk dengan
commit to user
Pemilihan konsep produk adalah proses evaluasi dengan kriteria voice of
costumer dan kriteria lainnya, membandingkan kelebihan dan kekurangan relatif
dari masing-masing konsep, dan memilih satu atau lebih konsep untuk penelitian atau pengembangan lebih lanjut (Ulrich, 2001).
Sebuah perancangan yang sukses adalah yang menjalani pemilihan konsep yang terstruktur (Ulrich, 2001). Sebuah metode terstruktur yang banyak digunakan memiliki dua buah tahapan proses yaitu penyaringan konsep dan penilaian konsep yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Concept Screening (Penyaringan Konsep)
Penyaringan konsep menggunakan sebuah konsep referensi untuk mengevaluasi berbagai macam konsep berdasarkan kriteria pemilihan. Penyaringan konsep menggunakan sebuah sistem perbandingan kasar untuk memperkecil jumlah konsep yang dipertimbangkan lebih lanjut. Penyaringan konsep ini berdasarkan sebuah metode yang dibangun oleh Sturt Pugh pada tahun 1980-an dan disebut sebagai metode Pugh (Ulrich, 2001).
Penyaringan konsep melewati lima buah langkah pengerjaan, yaitu : a. Mempersiapkan matriks pemilihan
Untuk mempersiapkan matriks, dipilih media yang tepat untuk menuangkan konsep-konsep yang akan dibahas. Kemudian matriks diisi dengan inputnya yaitu konsep-konsep dan kriterianya. Konsep-konsep yang akan dibahas akan sangat baik bila digambarkan dengan deskripsi tertulis dan juga penggambaran secara grafis (Ulrich, 2001).
Konsep-konsep memasuki bagian atas dari matriks, dan kriteria memasuki bagian kiri. Kriteria-kriteria ini dipilih berdasarkan VoC (Voice
of Customer). Kriteria pemilihan sebaiknya dipilih karena mampu
membedakan konsep satu dengan yang lainnya. Setelah dipertimbangkan dengan teliti, kemudian dipilih sebuah konsep yang menjadi referensi perbandingan membangun konsep-konsep solusi. Pencarian internal ini dapat dilakukan oleh individu maupun tim. Terdapat empat buah acuan yang berguna untuk melakukan pencarian internal baik untuk individu maupun tim yaitu menunda keputusan, mengembangkan banyak ide (Ulrich, 2001).
commit to user
b. Menghitung nilai dari konsep
Nilai-nilai yaitu ”lebih baik” (+), ”sama” (0), atau ”lebih buruk” (-) diletakkan pada setiap sel pada matriks yang menunjukkan bagaimana perbandingan setiap konsep dengan konsep referensi terhadap setiap kriteria. Proses ini disarankan untuk menilai setiap konsep terhadap satu kriteria sebelum melangkah pada kriteria selanjutnya. Bagaimanapun, bila yang terjadi adalah jumlah konsep yang banyak, maka yang dilakukan adalah sebaliknya yaitu menilai konsep satu konsep pada setiap kriteria, baru melangkah ke konsep selanjutnya (Ulrich, 2001).
c. Memberi rangking pada tiap konsep
Setelah menilai semua konsep yang ada, kemudian dijumlahkan nilai ”lebih baik”, ”sama”, dan ”lebih buruk”. Kemudian nilai total pada setiap konsep dapat diperoleh dengan mengurangi jumlah nilai ”lebih baik” dengan nilai ”lebih buruk”. Setelah penjumlahan selesai, langkah selanjutnya adalah memberi rangking pada setiap konsep secara urut. Terlihat jelas, konsep-konsep dengan banyak nilai positif dan sedikit nilai negatif akan memiliki ranking yang lebih tinggi (Ulrich, 2001).
d. Menyatukan dan memperbaiki konsep
Setelah setiap konsep telah dinilai dan diranking, sebaiknya diperiksa apakah setiap konsep masuk akal dan kemudian mempertimbangkan kemungkinan adanya konsep-konsep yang dapat disatukan dan diperbaiki (Ulrich, 2001).
e. Memilih satu atau lebih konsep
Setelah puas dengan pengertian tentang setiap konsep dan kualitasnya, maka langkah selanjutnya adalah memilih konsep mana yang akan dilanjutkan pada penyaringan dan analisis lebih jauh (Ulrich, 2001).
3.3.1 Kebutuhan Berdasarkan Keluhan dan Keinginan (Need)
Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap lansia pengguna alat bantu tongkat yang sudah ada sebelumnya, maka diperoleh informasi tentang keluhan dan keinginan lansia terhadap tongkat yang sudah ada tersebut. Setelah diperoleh
commit to user
data keluhan dan keinginan, maka tahap selanjutnya adalah melakukan pengelompokan data berdasarkan keluhan dan keinginan kedalam sebuah tabel. Pengelompokan data tersebut nantinya dijadikan sebagai masukan dan pertimbangan dalam perancangan alat bantu tongkat.
3.3.2 Penentuan Ide Perancangan (Idea)
Berdasarkan kebutuhan perancangan yang telah dinyatakan dengan jelas, maka dapat dikembangkan suatu solusi pemecahan masalah. Penentuan solusi perancangan haruslah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan perancangan yang berasal dari engineer atau peneliti. Pada penjabaran kebutuhan, peneliti melihat adanya peluang untuk mengantisipasi timbulnya keluhan pada bagian tubuh yaitu dengan memberikan usulan rancangan alat bantu tongkat. Perancangan alat bantu tongkat tersebut bertujuan untuk mengurangi keluhan.
3.3.3 Pengembangan Ide Perancangan (Development)
Tahap ini merupakan penjelasan tentang perancangan alat bantu tongkat yang berisi tentang penentuan dimensi alat bantu jalan tongkat, spesifikasi komponen, serta memodelkan hasil rancangan ke dalam gambar yang kemudian diwujudkan dalam bentuk prototipe produk.
3.4 Pengolahan Data Anthropometri
Data mentah yang sudah didapatkan diuji terlebih dahulu dengan menggunakan metode statistik sederhana yaitu uji kecukupan data, uji keseragaman data dan uji kenormalan data. Hal tersebut dilakukan agar data yang diperoleh bersifat representatif, artinya data tersebut dapat mewakili populasi yang diharapkan (Walpole, 1995).
1. Uji Kecukupan Data
Uji kecukupan data berfungsi untuk mengetahui apakah data yang diperoleh sudah mencukupi untuk diolah. Sebelum dilakukan uji kecukupan data terlebih dahulu menentukan derajat kebebasan s = 0,05 yang menunjukkan penyimpangan maksimum hasil penelitian. Selain itu juga ditentukan tingkat kepercayaan 95% dengan k = 2 yang menunjukkan besarnya keyakinan pengukur akan ketelitian data anthropometri, artinya
commit to user
bahwa rata-rata data hasil pengukuran diperbolehkan menyimpang sebesar 5% dari rata-rata sebenarnya (Walpole, 1995). Rumusan uji kecukupan data, yaitu:
2 2 2
)
(
)
(
/
'
ú
ú
û
ù
ê
ê
ë
é
-=
å
å å
i i ix
x
x
N
s
k
N
...……….... persamaan 3.1 dengan; k = tingkat kepercayaan s = derajat ketelitian i x = data ke-i, i : 1, 2, 3, ... N N = jumlah data pengamatan. N’ = jumlah data teoritisData dianggap telah mencukupi jika memenuhi persyaratan N’<N, dengan kata lain jumlah data secara teotitis lebih kecil daripada jumlah data pengamatan (Walpole, 1995).
2. Uji keseragaman data
Uji keseragaman data berfungsi untuk memperkecil varian yang ada dengan membuang data ekstrim. Jika ada data yang berada di luar batas kendali atas ataupun batas kendali bawah maka data tersebut dibuang. Langkah pertama dalam uji keseragaman ini adalah perhitungan mean dan standar deviasi untuk mengetahui batas kendali atas dan bawah. Menurut Walpole (1995) rumus yang digunakan dalam uji ini yaitu:
n x n i i
x
å
= -= 1 ………....……. persamaan 3.2 = SD 1 ) ( 2-å
-n x xi ……….…... persamaan 3.3 BKA = x- +2.SD………... persamaan 3.4 BKB = x- -2.SD………... persamaan 3.5 dengan; SD = standar deviasi i x = data ke-i, i : 1, 2, 3, ... ncommit to user
-x = mean data
n = jumlah data
BKA = batas kendali atas
BKB = batas kendali bawah
Jika ada data yang berada di luar batas kendali atas maupun batas kendali bawah, maka data tersebut harus dieliminasi atau dihilangkan. Untuk dapat
melihat keseragaman data dapat digunakan peta kendali .
-x 3. Uji kenormalan data
x
x
x
c
X
å
i-=
2 2( )
……….…………... persamaan 3.6bila X2c<df (k -1),a maka data dikatakan normal. k = jumlah data
3.5 Estimasi Biaya
Estimasi biaya dilakukan untuk memperkirakan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk perancangan alat bantu tongkat. Biaya yang dihitung meliputi biaya material, dan biaya non material.
3.6 Tahap Analisis
Tahap análisis dilakukan untuk menganalisis hasil terhadap pengumpulan dan pengolahan data sebelumnya.
3.7 Tahap Kesimpulan dan Saran
Bagian terakhir penelitian berisi kesimpulan yang menjawab tujuan akhir dari penelitian berdasarkan hasil pengolahan dan analisa data yang telah dilakukan, serta saran-saran yang berisi masukan untuk penelitian-penelitian berikutnya agar lebih baik lagi.
commit to user