mengenai Pendamaian?
Untuk membantu orang lain memahami konsep yang sulit dipahami dan ro-hani seperti Pendamaian, adalah membantu untuk membandingkannya de-ngan sesuatu yang nyata dan familier. Tuhan dan para nabi-Nya sering merujuk pada objek atau pengalaman familier untuk membantu orang-orang yang mereka ajar memahami asas-asas rohani. Sewaktu kita menelaah perban-dingan ini, kita jadi dapat memahami Pendamaian dengan lebih baik bagi diri kita sendiri, dan kita dapat menjadi lebih efektif dalam mengajarkannya ke-pada orang lain.
Yesaya 1:18 (Yesaya merujuk salju dan wol untuk mengajar mengenai pertobatan)
Matius 11:28–30 (Juruselamat mem-bandingkan bantuan yang Dia beri-kan kepada kita dengan sebuah kuk) Lukas 15:11–32 (Perumpamaan ten-tang anak yang hilang)
2 Nefi 1:15 (Lehi membandingkan pe-nebusan dengan dipeluk dalam le-ngan kasih Allah)
James e. Faust, “Kurban Tebusan: Pengharapan Terbesar Kita,” Ensign, Januari 2002, 18–20
Dallin H. Oaks, “Pendamaian dan Iman,” Liahona, April 2010, 30–34. “Perbandingan dan Pelajaran dengan Benda,” Mengajar, Tiada Pemanggilan
yang Lebih Mulia (1999), 163–164
Video: “The Mediator”; lihat juga Book
of Mormon Presentations
Membuat koneksi
Selama beberapa menit pertama dari setiap pelajaran, bantulah remaja membuat hu-bungan antara hal-hal yang mereka pelajari dalam berbagai tatanan (misalnya penela-ahan pribadi, seminari, kelas-kelas Gereja lainnya, atau pengalaman bersama
teman-teman mereka). Bagaimana Anda dapat membantu mereka melihat relevansi In-jil dalam kehidupan sehari-hari? Gagasan berikut dapat membantu Anda:
• Tanyakan kepada para remaja apa yang guru, pemimpin, dan orang tua mereka telah lakukan untuk
membantu mereka memahami Pendamaian.
Persiapkanlah diri Anda secara rohani
Apa perbandingan atau pelajaran dengan benda yang telah membantu Anda memahami Penda-maian dengan lebih baik? Apa kesempatan yang para remaja miliki untuk mengajarkan kepada orang lain mengenai Pen-damaian? Bagaimana menggunakan perban-dingan dapat membantu para remaja mengajar de-ngan lebih efektif?
• Sebagai kelas, bacalah Perban-dingan” dari Mengajar, Tiada
Pemang-gilan yang Lebih Mulia (halaman
163–164). Mengapa para guru meng-gunakan perbandingan untuk
mengajarkan kebenaran-kebenaran Injil? Undanglah para remaja untuk membagikan contoh-contoh perban-dingan yang telah membantu mereka memahami Injil dengan lebih baik.
Belajar bersama
Setiap kegiatan berikut dapat membantu remaja belajar bagaimana menggunakan perban-dingan untuk mengajar orang lain mengenai Pendamaian. Dengan mengikuti bimbingan dari Roh, pilihlah satu atau lebih yang akan paling baik bermanfaat bagi kelas Anda:
• Tayangkan video “The Mediator.” Undanglah remaja untuk bekerja se-cara pribadi untuk mendaftar berba-gai komponen dari perbandingan yang Presiden Boyk K. Packer guna-kan (seperti kreditor, orang yang ber-utang, ber-utang, dan sebagainya) dan tulislah apa yang masing-masing lam-bangkan. Bagilah anggota kelas men-jadi pasangan-pasangan, dan
mintalah mereka untuk saling menga-jar mengenai Pendamaian dengan menggunakan perbandingan Presiden Packer. Bagaimana perbandingan ini membantu para remaja memahami Pendamaian dengan lebih baik? • Mintalah para remaja untuk memi-kirkan tentang dan membagikan con-toh tentang perbandingan dalam tulisan suci yang dapat digunakan untuk mengajarkan mengenai Penda-maian (lihat, untuk contoh, tulisan suci yang disarankan dalam garis be-sar ini). Apa yang dapat mereka
pelajari mengenai Pendamaian dari perbandingan itu? Tulislah di papan tulis, “_________ adalah seperti.” Un-danglah remaja untuk mengisi ruang kosong pertama dengan sebuah asas yang berkaitan dengan Pendamaian (misalnya pertobatan, pengampunan, atau kebangkitan) dan ruang kosong kedua dengan sesuatu yang familier yang dapat mereka gunakan untuk mengajar orang lain mengenai asas itu. Berilah para remaja beberapa ke-sempatan untuk mempraktikkan me-tode pengajaran ini.
• Bagilah anggota kelas menjadi dua kelompok. Tugasi satu kelompok un-tuk membaca dan membahas kisah Presiden James e. Faust mengenai Little Jim (dalam ceramahnya “The Atonement: Our Greatest Hope”), dan mintalah kelompok yang lain mem-baca serta membahas contoh Penatua Dallin H. Oaks tentang pohon yang bengkok diterpa angin (dalam
Kiat mengajar
”Guru yang terampil tidak berpikir, ‘Apa yang akan saya lakukan di kelas hari ini?’ melainkan bertanya, ‘Apa yang siswa saya akan lakukan di kelas hari ini?’; bukan, ‘Apa yang akan saya ajarkan hari ini?’ me-lainkan, ‘Bagaimana saya akan membantu siswa saya menemukan apa yang mereka perlu keta-hui?’” (Virginia H. Pearce, dalam Mengajar, Tiada Pe-manggilan yang Lebih Mulia [1999], 61).
Mengajarkan dengan Cara Juruselamat
Juruselamat membagikan kisah, perumpamaan, dan contoh kehidupan nyata yang sederhana yang membantu mereka yang Dia ajar menemukan pela-jaran Injil di dunia di seki-tar mereka. Bagaimana Anda dapat membantu para remaja mengajar de-ngan cara Juruselamat? artikelnya “The Atonement and
Faith”). Mintalah setiap kelompok un-tuk mengajarkan kepada kelompok
lainnya apa yang mereka pelajari me-ngenai Pendamaian dari perban-dingan yang mereka telaah.
Mintalah para remaja untuk membagikan apa yang mereka pelajari hari ini. Apakah mereka memahami bagaimana menggunakan perbandingan untuk mengajarkan kepada orang lain mengenai Pendamaian? Apakah mereka memiliki pertanyaan tambahan apa pun? Akankah bermanfaat untuk meluangkan lebih banyak waktu mengenai topik ini?
Mengundang untuk bertindak
• Mintalah para remaja untuk memi-kirkan mengenai apa yang mereka pelajari tentang mengajar hari ini. Apa yang mereka rasa terilhami un-tuk lakukan unun-tuk mengajarkan ke-pada orang lain mengenai
Pendamaian? Bila mungkin, izinkan mereka saling mengajar selama
pelajaran, atau aturlah bagi mereka untuk mengajar dalam tatanan lain. • Berikan kesaksian Anda tentang berkat-berkat yang para remaja dapat datangkan bagi orang lain sewaktu mereka mengajar mengenai Pendamaian.
Sumber-Sumber Pilihan
Kutipan dari James E. Faust, “Pendamaian: HarapanTerbesar Kita,” ensign, November 2001, 18–20;
Lia-hona Januari 2002, 19–22
Beberapa tahun yang silam, Presiden Gordon B. Hinckley menceritakan “sebuah perumpamaan” tentang “sekolah yang digunakan untuk mengajar anak berbagai umur di pegunungan Virginia di mana anak-anak lelaki sedemikian nakal sehingga tidak ada guru yang mampu menangani mereka.” Kemudian suatu hari seorang guru muda yang be-lum berpengalaman melamar menjadi guru. Dia di-beritahu bahwa setiap guru pernah menerima pukulan, tetapi guru itu mau menerima resikonya. Hari pertama guru itu meminta anak-anak lelaki itu untuk membuat peraturan sendiri dan hukumannya jika peraturan tersebut dilanggar. Kelas mengajukan 10 peraturan, yang ditulis di papan tulis. Kemudian sang guru bertanya, “Apa yang akan kita lakukan dengan orang yang melanggar peraturan tersebut?” “Memukul punggungnya sepuluh kali tanpa menge-nakan jaket di tubuhnya, muncul satu tanggapan. “Beberapa hari kemudian, … bekal makan siang se-orang murid yang gendut Tom, dicuri. Pencurinya tertangkap—seorang anak lelaki kecil dan kurus, berusia sekitar sepuluh tahun.
“Ketika si kecil Jim maju ke depan untuk menerima pukulan, dia memohon untuk dibiarkan tetap me-ngenakan jaketnya. ‘Lepaskan jaketmu,’ kata sang guru. ‘Kamu telah menyumbang sesuatu dalam membuat peraturan itu!
Anak lelaki itu melepaskan jaketnya. Dia tidak me-makai baju dan terlihatlah tulang-tulangnya di tu-buh kerempengnya. Ketika guru itu ragu-ragu dengan pemukulnya, si Gendut Tom segera berdiri dan menawarkan diri untuk menerima pukulan bagi anak itu.
Bagus, ada perturan khusus bahwa seseorang dapat menggantikan orang lain. Kalian semua setuju?” guru itu bertanya.
Setelah lima pukulan di punggung Tom, pemukul itu patah. Seluruh kelas menangis. Si kecil Jim me-raih dan merangkul Tom dengan kedua belah lengan melingkar di lehernya. ‘Tom, maafkan saya karena telah mencuri makan siangmu, tetapi saya sangat la-par. Tom, saya akan mengasihi kamu sampai saya mati karena kamu menerima pukulan yang seharus-nya saya terima! Ya, saya akan mengasihi kamu se-lamanya! Berita Gereja, 10 Desember 1994, 4].
Kutipan dari Dallin H. Oaks, “Pendamaian dan Iman,”
ensign, April 2010, 30–34
Mengapa perlu bagi kita untuk menderita dalam perjalanan menuju pertobatan untuk pelanggaran yang serius? Kita cenderung memikirkan hasil perto-batan sesederhana membersihkan diri kita dari dosa, tetapi itu adalah sebuah pandangan yang tidak leng-kap. Seseorang yang berdosa adalah seperti pohon yang mudah sekali membungkuk tertiup angin. Pada hari yang berangin dan hujan, pohon mem-bungkuk begitu dalam menuju tanah sehingga da-un-daunnya menjadi kotor dengan lumpur, seperti dosa. Jika kita hanya berpusat pada membersihkan daun-daunnya, kelemahan dalam pohon tersebut yang memungkinkannya untuk membungkuk dan mengotori daun-daunnya tetap ada. Demikian pula, seseorang yang hanya menyesal karena dikotori dosa akan berdosa lagi dalam masa angin tinggi se-lanjutnya. Kerentanan terhadap pengulangan terus berlanjut sampai pohon tersebut telah diperkuat. Ketika seseorang telah melewati proses yang meng-hasilkan apa yang tulisan suci sebut “hati yang pa-tah dan jiwa yang menyesal,” Juruselamat
melakukan lebih dari membersihkan orang tersebut dari dosa. Dia memberinya kekuatan baru.