BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Mengkuantitatifkan Performa Ketahanan Energi
Untuk mengkuantitatifkan ketahanan energi, European
Commison (EC), European Environment Agency (EEA),
Organization for Economic Co-operation and Development
(OECD), International Energy Agency (IEA), Asia Pacific
Energy Research center (APERC), International Atomic Energy
Agency (IAEA), World Energy Council (WEC), United Nations
Department of Economic and Social Affairs (UNDESA) telah
mengembangkan indikator indikator untuk mendeskripsikan hubungan antara penggunaan energi dan ekonomi, lingkungan dan isu sosial pada suatu negara. (Martchamadol dan Kumar, 2013).
Martchamadol dan Kumar (2013) menjelaskan bahwa indikator ketahanan energi dibagi menjadi dua tipe,
disaggregated (individual indikator) dan aggregated. Indikator
disaggregated menilai ketahanan energi termasuk dengan rasio
cadangan dengan produksi (RPR), cadangan bahan bakar strategis, Shannon-Wienier Index (SWI), ketahanan energi geopolitik, biaya pengeluaran minyak bumi per GDP. 30 indikator individu juga telah pernah dibuat oleh United Nations
Department of Economic and Social Affairs (UNDESA) untuk
menilai performa pengembangan energi berkelanjutan berfokus pada konservasi energi dan kebijakan efisiensi energi.
Sedangkan untuk indikator aggregated berdasarkan kombinasi dari banyak indikator individu, Oil Vulnerability Index (OVI) dikombinasikan dari tujuh indikator yang terkait pada resiko pasar minyak dan resiko penyediaan minyak. WEC mengembangkan Assessment Index (AI) menggunakan 46
indikator dan Energy Sustainibility Country Index dengan 22 indikator. Energy Development Index dikombinasikan dengan 4 indikator. Energy Sustainibility Index yang dikembangkan oleh Douglas et al. (2009) dibuat dengan 9 indikator untuk komunitas pedesaan (Martchamadol dan Kumar, 2013)
Menurut Kruyt et al. (2009), dijelaskan bahwa terdapat
simple indicator untuk mengukur indiviudal indikator, yaitu (1)
estimasi sumber yang tersedia, (2) rasio candangan dengan produksi (R/P), (3) Keragaman tipe bahan bakar dan sumber goegrafis, (4) ketergantungan impor, (5)kestabilan politik/regulasi dari pemerintah, (6) besar kecilnya harga energi, (7) rata rata finansial ekonomi dari beberapa jenis biaya yang diperlukan, (8) persebaran nol emisi karbon, (9) elastisitas harga, (10) indikator dari segala sisi kebutuhan.
Sedangkan untuk aggregrated indikator ketahanan energi dapat dilakukan dengan menggunakan 4 i ndeks, yaitu pertama adalah Shannon index based, kedua adalah indeks ketahanan energi IEA yang menggunakan dua indikator, ketiga adalah S/D indeks, yaitu supply-demand indeks untuk jangka panjang ketahanan energi, perbedaan terbesar S/D indeks dengan indeks lain adalah S/D indeks mencakup semua aspek, termasuk konversi, transportasi, dan kebutuhan. Keempat adalah
Willingness to pay yang berarti persentasi GDP sebuah negara
yang memiliki kemauan untuk mengeluarkan biaya untuk memperkecil resiko ketahanan energi (Kruyt et al., 2009).
Sedangkan menurut Loschel et al. (2010) untuk mengukur ketahanan penyediaan energi bisa dilakukan melalui pendekatan dengan metode IEA yang mengembangkan dua indikator yang berkaitan dengan bahan bakar fosil. Indikator IEA yang pertama menggambarkan implikasi ketahanan energi dari konsentrasi sumber mengkarakteristikan harga dari ketahanan energi itu sendiri, dan indikator yang kedua berkaitan dengan ketersediaan komponen secara fisik dari ketahanan energi itu sendiri. Untuk indikator harga komponen mempertimbangkan tiga bahan bakar fosil, batubara, gas alam dan minyak bumi, pengukuran ketahanan
energi ditentukan secara terpisah dari masing masing bahan bakar.
Berdasarkan Herfindahl Hirschmann indeks diformulakan sebagai jumlah dari pembagian bobot kuadrat. ESMC =∑i S2
if , dimana S2
if adalah pembagian jatah dari suatu pensuplai dalam pasar bahan bakar fosil, f didefinisikan potensi ekspor. Semakin tinggi nilai ESMC, makin tinggi tinggak konsentrasi pasar, nilai ESCM yang tinggi mengindikasikan rendahnya level ketahanan energi. Kedua, indikator ketersediaan komponen secara fisik, contohnya aliran pipa gas impor. IEA menyarankan pembagian bobot aliran pipa gas impor di dalam kebutuhan energi total sebagai pengukuran ketersediannnya komponen secara fisik, dapat diformula kan, ESIvolume = Pipe Imp (gas)oil_indexed/TPES. Dimana pipe lmp (gas) adalah impor pipa gas melalui kontrak oil-indexed. Makin tinggi nilai ESIvolume, makin rendah ketahanan energi (Loschel et al., 2010).
Selanjutnya menurut Kanchana dan Unesaki (2014), pemilihan indikator terdiri dari 6 komponen, yaitu (1) neraca energi keseluruhan, (2) manajemen kebutuhan, (3) ketahanan cadangan domestik, (4) rentannya ketergantungan pada luar negeri, (5) keragaman penyediaan energi, (6) keberlangsungan lingkungan hidup seperti yang terlihat pada Tabel 2.3.
Pada komponen pertama, neraca energi primer keseluruhan, energi primer menjadi pilihan utama dalam pengembangan indikator ini, energi primer ini adalah minyak bumi, gas alam, batu bara, dan energi baru terbarukan. Pada komponen kedua, terlihat mengarah ke kemudahan untuk mengakses energi tersebut dan efisiensinya, akses untuk menikmati aliran listrik menunjukkan apakah energi modern ini termanfaatkan dengan baik atau tidak dan intensitas pemakaian energi di suatu daerah. Jika makin rendah intensitas pemakaian energi, maka semakin tinggi energi efisiensinya.
Tabel 2.3 Indikator-indikator Ketahanan Energi (Kanchana dan Unesaki, 2014)
Komponen Metrik Satuan Definisi
Overall Energy Balance Primary Energy Mix % share jumlah batu bara, minyak bumi, dan gas alam
Persentase jumlah batu bara, minyak bumi, dan gas alam dibandingkan dengan total sumber energi. Demand-side Management Total Primary Energy Supply per capita ton oil
equivalent/capita Total energi primer per produksi kepala penduduk.
Final Energy Consumption per Capita
ton oil
equivalent/capita Konsumsi produk energi akhir per kepala penduduk. Domestic Energy Resources Self-sufficiency ‘Reserves-to-production, ratio Rasio jumlah cadangan energi terhadap jumlah produksi. Refining Capacity
Barrel/day Kapasitas kilang minyak dalam barel/hari. Overseas Energy Resources Energy Import Dependency Energy Import Dependency Rate Skala kebergantungan terhadap impor, berupa jumlah impor dibandingkan dengan kebutuhan domestik. Resource Diversification Skala keberagaman sumber daya energy Shannon Wiener
Index (SWI) Tingkat keberagaman energi
dalam skala SWI.
Komponen ketiga, meninggikan kepada ketahanan sumber persediaan energi, “self-suffciency” indikator menilai persebaran energi dalam negeri di dalam total persediaan energi. Biasanya “self-suffciency” berskala 0-1. Makin tinggi nilainya, makin bagus, jika melebihi 1 diartikan mempunyai potensi untuk mengekspor. Rasio cadangan terhadap produksi memperlihatkan ketersediaan sumber cadangan domestik yang terbukti (biasanya bahan bakar fosil), sebagai hasilnya “kapasitas kilang” termasuk dalam penilaian. Komponen keempat, terkait dengan ketergantungan impor seputar minyak bumi, batu bara dan gas. Biasanya dinilai dengan skala 0-1. Dimana semakin tinggi nilainya, semakin tinggi pula tingkat ketergantungannya, semakin rendah kemampuan persediaan energi dalam negeri. Komponen kelima fokus kepada keragamaan sumber dan keragaman penyuplai/pasar. The Shannon-Wiener Index (SWI) digunakan dalam mengukur keragaman sumber energ biasanya diukur dengan skala 0-2.
Besarnya nilai SWI menunjukkan keragaman sumber yang baik, sehingga memiliki ketahanan energi yang baik juga, sebaliknya kecilnya nilai SWI menunjukkan ketahanan energi yang semakin rentan.
Untuk memperhitungkan diversifikasi energi, kami menggunakan Shannon-Wiener Index (SWI) sebagai metode perhitungan skala keberagaman energi. Menurut Chuang dan Wen, (2013), SWI biasa digunakan untuk memperhitungkan skala keberagaman energi, dan dapat diperhitungkan sebagai berikut :
SWI = -Σi piln(pi) (3.1)
di mana pi adalah bagian dari opsi i dibandingkan dengan total opsi. Semakin besar nilai SWI maka semakin besar nilai keberagamannya. Apabila seluruh opsi terbagi rata maka nilai SWI akan masksimum. Range indeks SWI adalah 0-2 (Kanchana dan Unesaki, 2014).