• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGUJI IDEOLOGI

Dalam dokumen SOSIOLOGI KEHIDUPAN: Fragmen-Fragmen Teoretik (Halaman 109-115)

Bagaimana suatu ideologi menjadi dominan dan hegemonik? Secara hipotetik dan tentatif, ideologi yang memiliki lebih banyak kesesuaian dengan hukum logis (formula keteraturan matematis) dan hukum alam (formula-formula dalam fisika dan kimia), suatu ideologi yang dapat diuji–meminjam istilah Badiou (2005:47)–

dalam perspektif prosedur kebenaran (procedure of truth).

Hal yang dimaksud dengan prosedur kebenaran adalah bagaimana setiap elemen dari praktik ideologi tersebut, setiap bagian-bagian dari satuan praktik, sesuai dengan posisi-posisi dan relasinya, dapat dibuktikan sebagai bagian dari himpunan kebenaran itu sendiri.

Semua dapat bekerja sesuai dengan karakter dan kriterianya masing-masing.

Di Eropa, hingga abad ke-16, masih terjadi segitiga persaingan sengit antara kekuatan gereja (agama) dengan kekuatan raja-bangsawan, dan ilmuwan dan/atau intelektual (lihat Gelder, 1961; Jordan, 2010;

Allen, 2013). Kekuatan raja/bangsawan dan gereja secara bergantian telah lama menguasai Eropa. Namun, dalam sejarahnya, praktik feodalisme, borjuisme, bahkan teologisme (sementara saya memakai istilah ini untuk kekuasaan Gereja atau Agama), tidak tahan uji terhadap

prosedur kebenaran, sehingga harus menyingkir dari peradaban.

Ilmuwan, dalam ketiarapannya, terus bekerja dan menemukan banyak hal yang kelak akan mengubah konfigurasi dan struktur dunia. Banyak temuan ilmu-pengetahuan dan teknologi, yang dibangun dalam prosedur keilmiahan, sehingga dapat mengubah dunia.

Dunia (khususnya Eropa) perlahan mulai memasuki masa-masa ketika ilmu dan pengetahuan menjadi standar dan pegangan hidup bersama.

Pada saat yang sama, hingga abad ke-19, di benua lain seperti Afrika dan Asia, masih tenggelam dalam kekuasaan raja yang didukung kepercayaan lokal, atau belakangan kekuatan agama (lihat Ajayi (Ed.)., 1998; Kratoska (Ed.)., 2001; Noor, 2016; Dean, 2019). Amerika sebagai benua yang ditemukan Eropa, segera bergeliat mengikuti apa yang terjadi di Eropa.

Lebih belakangan, Australia tidak lebih hanya menjadi halaman belakang negara Inggris.

Seperti telah disinggung, pada abad ke-17 hingga ke-19, ilmuwan banyak menemukan berbagai hal terkait dengan teknologisasi kehidupan. Masa-masa ilmu-pengetahuan, teknologi dan teknokrasi kehidupan semakin deras. Kapitalisme dan modernisme berjalan beriringan mulai merambah ke sebagian besar dunia.

Beberapa negara, seperti China dan Uni Soviet, dan diikuti beberapa negara lain di Asia atau Amerika Latin, dalam persaingan dan latar belakang sejarah politiknya tetap bertahan dalam sosialisme dan komunisme.

Namun, praktiknya, seperti China, misalnya,

negara-negara tersebut juga mengusung kapitalisme, meski diiringi dengan kekhasannya.

Nusantara, hingga abad ke-19 masih merupakan bagian dari kerajaan-kerajaan. Pernah ada kerajaan yang cukup besar seperti Sriwijaya yang beragama Budha, atau Majapahit yang didukung Hindu, dan belakangan karajaan Mataram Islam yang eksis hingga lebih belakangan. Terlepas dari berbagai polemik, sudah ada tanda-tanda Islam masuk Nusantara abad ke-12. Penjajah Belanda, dengan semangat kapitalisme kolonial dan modernisme awal, masuk Nusantara pada abad ke-16.

Hal yang paling traumatis bagi bangsa Indonesia adalah bahwa hampir di semua tempat di Indonesia, penjajahan Belanda memenangkan persaingan lunak (semacam dialog dan kerja sama) dan persaingan keras. Akhir abad ke-19, praktis sebagian besar wilayah Nusantara dikuasai Pemerintah Hindia Belanda. Apakah kemudian kita perlu bertanya “apa yang salah” dengan masyarakat atau bangsa Indonesia sehingga masyarakat dan bangsa Indonesia kalah dengan bangsa penjajah pada waktu itu?

Pernyataan singkat di atas hanya ingin menyegarkan ingatan bahwa terbukti hari-hari ini Indonesia mengikuti dan menjadi negara modern, menjadi bagian dan rangkaian sistem ekonomi global (kapitalisme).

Dengan demikian, pertanyaannya dilengkapi, mengapa modernisme (dan kapitalisme) mampu menjadi dominan dan hegemonik? Bagaimana posisi agama di Indonesia?

Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin membicarakan secara ringkas lima ideologi besar di dunia yang memperlihatkan persaingan yang tidak akan pernah selesai, yakni kapitalisme dan modernisme, religiusisme, humanisme, dan sosialisme.

Terdapat beberapa varian ideologi yang juga layak diuji, seperti nasionalisme, tradisionalisme, feodalisme, dan sebagainya, tetapi tidak dibicarakan.

Kelebihan kapitalisme, dan modernisme, adalah kesesuaiannya dengan hukum logis sehingga banyak ilmu pengetahuan (dalam pengertian positif) menempatkan posisi yang dapat diterima secara rasional dan empirik.

Satuan atau bagian-bagian yang membangun himpunan ideologinya, terbangun dan dibangun berdasarkan unsur yang disebut sebagai ilmu dan pengetahuannya sendiri.

Itulah sebabnya, hingga hari ini kelebihan tersebut masih mendominasi, bahkan hegemonik, di berbagai belahan dunia.

Di bidang ekonomi misalnya, bagian-bagian unsurnya dapat bekerja saling mendukung dan melengkapi sesuai dengan hukum matematika sehingga ideologi ini dapat memprediksi hal-hal terkait sesuai dengan keteraturan formulanya. Itulah sebabnya, dengan perhitungan tertentu frame ideologi ini memiliki kekuatan untuk menembus banyak bidang kehidupan, karena segala sesuatunya dapat diperhitungkan sesuai dengan hukum logisnya.

Akan tetapi, kelemahannya justru pada upaya-upaya yang terlalu bersemangat menerobos (mengekplorasi hingga mengeksploitasi) hukum alam sehingga akan

terjadi distorsi yang berlebihan dan itu diandaikan keluar dari prosedur kebenaran. Sebagai akibatnya, untuk jangka panjang kapitalisme dan modernisme sangat mungkin akan berjalan membunuh dirinya sendiri.

Namun, tentu saja para pemikir dan pendukung kapitalisme akan terus bekerja memperbaiki kinerja ideologi tersebut. Upaya itu diperlihatkan dengan membagi keuntungan yang diperoleh oleh kapitalisme, sehingga tidak mengherankan jika muncul apa yang disebut sebagai kapitalisme yang saleh (religius), atau modernisme yang baik hati. Kita lihat ke depan bagaimana perkembangan keberadaan dua ideologi tersebut.

Sebaliknya, religiusme (dan humanisme) terlalu menekankan hukum alam dan tidak kokoh pada hukum logis. Hal ini sebagai pangaruh bahwa dunia itu fana, hidup itu sementara. Kalau dalam religiusime dan humanisme Jawa ada ungkapan urip mung mampir ngombe (hidup hanya mampir minum). Dengan demikian, daya eksplorasi dan penetrasi ideologi ini terhadap hal duniawi kalah dibanding kapitalisme dan modernisme.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Arab Saudi, yang memiliki kota suci Mekah dan Madinah, merupakan negara yang terkesan memegang prinsip dan ideologi berbasis Islam, melainkan justru negara yang sangat modern dan kapitalis. Dalam praktik-praktik yang berhadapan, sangat mungkin hukum logis lebih diutamakan daripada hukum alam. Percaya pada bukti-bukti nyata kadang bisa didahulukan daripada sekadar percaya pada sesuatu yang belum terbuktikan. Kondisi

seperti Mekah dan Madinah, di beberapa masyarakat lain yang mengaku masyarakatnya religius ternyata adalah masyarakat modern yang kapitalis.

Sosialisme bahkan lemah pada sisi hukum logis dan hukum alam. Hal ini membuktikan kenapa ideologi ini sulit diterima masyarakat dunia. Tentu ideologi ini tetap beroperasi di beberapa negara yang mencoba menerapkannya dengan cara yang berbeda dan disesuaikan kondisi lokalnya. Hal yang ingin saya katakan adalah bahwa ideologi ini terlalu memaksakan dirinya untuk meraih apa yang disebut sebagai fantasi kesejahteraan, fantasi kemakmuran, sehingga dalam rangka mewujudkan fantasi tersebut, hukum logis dikebiri sedemikian rupa.

Saya membayangkan bahwa saya tidak akan pernah merasa bahagia dan sejahtera hidup di negara seperti itu. Dalam situasi tertentu, saya akan memilih jalur hidup sendiri. Minimal, saya sedang dan telah memikirkannya.

Dalam dokumen SOSIOLOGI KEHIDUPAN: Fragmen-Fragmen Teoretik (Halaman 109-115)

Dokumen terkait