• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Tujuan

Dengan diberikan modul penjelasan tentang mengukur azimuth dengan berbagai metode, guru diharapkan mempunyai pengetahuan dan keterampilan tentang mengukur azimuth dengan berbagai metode dan mampu mengaplikasikan dalam perencanaan dan pengukuran.

B. Indikator

Mengukur azimuth dengan berbagai metode.

C. Uraian Materi

1. Defenisi

Menentukan Pengukuran untuk pemetaan pada hakikatnya adalah untuk menentukan posisi baik planimetris (X,Y), maupun ketinggian (Z) dari suatu titik ke titik lain. Agar titik yang telah diukur dapat dihitung atau ditentukan kembali posisinya , maka unsur-unsur yang harus diketahui atau diukur adalah Jarak, sudut arah, beda tinggi dan luas. Dalam ilmu ukur tanah sudut arah atau sudut jurusan dihitung dari arah utara geografis ke arah timur berputar searah jarum jam. Sudut arah atau sudut jurusan ini juga dikenal dengah istilah Azimuth.

Dalam peralatan ukur tanah, umumnya belum banyak alat yang menunjukkan atau mengukur sudut arah dari utara geografis secara langsung ke titik yang dibidik. Pada alat-alat yang dilengkapi dengan bousole atau kompas seperti halnya theodolit dengan offset bousole, theodolit (T0) dan BTM (Bousole Trance Montagne) dapat secara langsung mengukur sudut jurusan atau azimuth, namun bukan azimuth geografis akan tetapi azimuth magnetis. Perbedaan antara arah utara yang ditunjukkan oleh utara magnetis dan utara geografis disebut dengan “ Delinasi magnit “ atau salah tunjuk jarum magnit. UG = Utara Geografis

UM = Utara Magnetis

181

Gambar 4.1. Sudut Deklinasi

Besar kecilnya sudut deklinasi dipengaruhi oleh :

a. Tempat dimana dilakukannya pengamatan matahari, makin mendekati kutub makin besar, begitu juga sebaliknya.

b. Adanya atraksi lokal atau gangguan medan magnet setempat.

c. Adanya benda-benda yang terbuat dari logam (besi, nikel dan lain lain) pada tempat diadakannya pengamatan.

d. Kesalahan konstruksi alat tersebut seperti jarum magnet tidak sejajar dengan 0º - 180º

Cara membandingkan suatu arah yang diukur dengan kompas dan dengan pengamatan utara astronomis (Pengamatan matahari). Selisih arah yang didapat merupakan besaran koreksi yang harus diberikan terhadap data hasil ukuran arah dengan kompas untuk mendapatkan arah yang benar.

2. Macam-macam Azimuth.

Pada alat ukur tanah yang menggunakan kompas, maka azimuth yang terbaca dengan menggunakan ujung utara magnit adalah azimuth magnetis. Pada alat-alat yang menggunakan kompas dalam pembacaan arah horizontalnya adanya ketentuan bahwa: “ Azimuth adalh besar sudut yang dimulai dari arah utara atau selatan jarum magnit sampai objektif garis bidik yang besarnya sama dengan angka pembacaan”. Karena pengaturan arah angka-angka skala lingkaran

179°15'25"

182

horizontal ada yang kekanan atau searah jarum jam dan ada pula yang kekiri atau berlawanan arah dengan putaran jarum jam, demikian pula posisi teropong atau garis bidik ada yang sejajar dengan angka 0º-180º, dan ada pula yang sejajar dengan 180º-0º pada skala lingkaran horizontal , maka dalam pembacaan akan didapat 4 (empat) macam kemungkinan azimuth atau Bearing. Sehingga sebelum dimulai pengukuran dengan alat-alat ukur yang menggunakan kompas perlu terlebih dahulu macam azimuth apa yang dibaca oleh alat tersebut.

3. Cara Penentuan Azimuth

Adapun cara menentukan macam azimuth adalah sebagai berikut

a. Tentukan garis skala yang berimpitan dengan ujung utara magnit. Angka tersebut menyatakan besar suatu busur yang dimulai dari nol skala dan diakhiri pada angka itu.

b. Tentukan busur yang besarnya sama dengan dengan angka pembacaan dimulai dari titik nol.

c. Carilah suatu sudut yang dimulai dari salah satu ujung jarum magnit utara atau selatan sampai garis bidik yang sama besarnya dengan busur lingkaran yang dinyatakan dalam angka pembacaan. Maka cara atau arah putaran dari sudut tersebut menyatakan macam azimuthnya.

Gambar 4.2. Azimuth Selatan Timur dan Utara Barat

1) Skala lingkaran searah jarum jam, garis bidik sejajar 0º - 180º (Gambar 4.2.a)

2) Skala lingkaran searah jarum jam, garis bidik sejajar 180º - 0º (Gambar 4.3.b ) Az 270 90 160 180 B S T U Azimuth P 160° ST320 0 270 180 S B T U Azimuth P 320° UB

183

Gambar 4.3. Azimuth Selatan Barat dan Utara Timur

3) Skala lingkaran berlawanan arah jarum jam, garis bidik sejajar dengan garis 0º - 180º (Gambar 4.3a)

4) Skala lingkaran berlawan arah jarum jam, garis bidik sejajar dengan garis 180º-0º (Gambar 4.3b )

Apabila dalam perhitungan selanjutnya diperlukan macam azimuth Utara- Timur maka macam Azimuth Utara- Barat, dan Selatan-Timur dikonversikan menjadi azimuth Utara-Timur.

Adapun konversinya sebagai berikut:

360º-Azimuth Utara-Barat = Azimuth Utara-Timur 180º- Azimuth Selatan-Timur = Azimuth Utara-Timur Azimuth Selatan- Barat - 180º = Azimuth Utara-Timur

4. Rumus penentuan Koreksi Bousole (Metode Pengamatan Matahari)

Sebelum dilaksanakan pengukuran, terlebih dahulu diperlukan besarnya koreksi bousole dari alat yang digunakan dengan cara pengamatan matahari. Maksud dan tujuan diadakan koreksi bousole yaitu untuk mengetahui berapa besar penyimpangan besaran utara magnetis dari alat tersebut, sesuai tidak dengan nilai akurasi dari alat tersebut. Misalnya alat tersebut mempunyai nilai akurasi 20’ ternyata penyimpangan 30’ berarti alat tersebut mempunyai penyimpangan 10’

dari nilai koreksi. Apabila terjadi penyimpangan sampai derajat, alat tersebut harus dikalibrasi/ perbaikan.

Az 90 270 210 180 B S T U Azimuth P 210° SB30 0 90 180 S B T U Azimuth P 300° UT270

184

Rumus C = A – Am dimana

C = Besarnya koreksi bousole

A= Azimuth matahari/ azimuth sesungguhnya hasil pengolahan data

Am= Azimuth matahari hasil pembacaan jarum magnet

Untuk menghitung azimuth matahari dari pengamatan matahari digunakan rumus: t Cos Q Cos Q.sin Z sin -D sin A Cos  

dimana A= Azimuth matahari D = Deklinasi matahari Q = Lintang pengamatan

t = Tinggi/ sudut mirirng rata-rata

Sedangkan azmiuth yang digunakan adalah azimuth perbaikan antara azimuth magnet ditambah dengan koreksi bousole

Rumus A = Am + C

dimana A = Azimuth Perbaikan

Am = Azimuth hasil pembacaan alat ukur C = Koreksi bousole

Cat A= Azimuth ( perbaikan )

 Azimuth dari hasil pembacaan ke muka A = Am + C

 Azimuth dari hasil pembacaan belakang A = ( Am ± 180º ) + C

5. Penentuan Koreksi Bousole (TitikKoordinat)

Rumus Perhitungan Kwadran

 Kwadran I Jika =    ΔY ΔX

, maka hasil α tetap

 Kwadran I Jika =    ΔY ΔX , maka hasil 180º - α

Dokumen terkait