BAB III METODE PENELITIAN
3.3 Diagram Alir Penelitian
3.3.2 Mengukur PDD 6 MV dan 10 MV Siemens dan Elekta 32
Menentukan jenis berkas
c. Tergantung pada model detektor untuk menentukan k .
Q
d. Mengukur suhu dan tekanan untuk mendapatkan k .
e. Mengukur M
TP .
- dan M+ untuk menentukan k f. Menghitung faktor koreksi saturasi k
pol.
s
g. Mengkoreksi dosimetri dengan membaca M .
Q
h. Menentukan dosis serap air pada kedalaman 10 cm.
.
i. Menentukan dosis per unit monitor yang di referensi dmax
Hasil dari kalibrasi berkas foton energi 6 MV dan 10 MV terdapat di lampiran 4.
.
3.3.2 Mengukur PDD 6 MV dan 10 MV Siemens dan Elekta
Menempatkan detektor semiflex tepat ditengah-tengah phantom pada permukaan air dan satu lagi detektor semiflex di area penyinaran bagian atas phantom air karena mengukur dosis relatif sehingga perlu pembanding. Mengatur luas lapangan di permukaan 10 cm x 10 cmdengan SSD 100 cm. Penyinaran dilakukan dengan SSD tetap 100 cm dengan menurunkan chamber dari permukaan dengan kedalaman 0 cm sampai kedalaman 25 cm dapat dilihat pada Gambar 3.2. berikut ini :
Gambar 3.2. Set up Pengukuran PDD 3.3.3 Mengukur TPR 6 MV dan 10 MV Siemens dan Elekta
Menempatkan detektor tepat ditengah-tengah phantom air dan satu lagi detektor di area penyinaran bagian atas phantom air sebagai pembanding.
Mengatur ukuran lapangan di permukaan 10 cm x 10 cmdengan SSD 100 cm.
Menurunkan chamber sampai kedalama 25 cm dari permukaan dengan SAD 100 cm. Melakukan penyinaran dengan menurunkan permukaan air di phantom mulai ke dalaman chamber 25 cm dari permukaan sampai 0 cm dengan SAD tetap 100 cm. Gambar 3.3 berikut adalah Set up pengukuran TPR.
10 cm x 10 cm
SSD = 100 cm
25 cm
Gambar 3.3 Set up Pengukuran TPR 3.4. Variabel dan Data yang Diperoleh
Variabel yang akan digunakan pada penelitian ini adalah:
a. Perbandingan PDD pada energi foton 6 MV Siemens dan Elekta b. Perbandingan PDD pada energi foton 10 MV Siemens dan Elekta c. Perbandingan TPR pada energi foton 6 MV Siemens dan Elekta d. Perbandingan TPR pada energi foton 10 MV Siemens dan Elekta
10 cm SCD = 100 cm
25 cm
Source Source
25 cm 10 cm x 10 cm
10 cm x 10 cm 10 cm
Data yang akan diperoleh pada penelitian ini adalah:
a. Hasil pengukuran PDD energi foton 6 MV pesawat Linac Siemens dan Elekta pada kedalaman 0 sampai 25 cm.
b. Hasil pengukuran PDD energi foton 10 MV pesawat Linac Siemens dan Elekta pada kedalaman 0 sampai 25 cm
c. Hasil pengukuran TPR pada kedalaman 10 cm dan 20 cm energi foton 6 MV pesawat Linac Siemens dan Elekta
d. Hasil pengukuran TPR pada kedalaman 10 cm dan 20 cm energi foton 10 MV pesawat Linac Siemens dan Elekta
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 PDD pada Energi Foton 6 MV Siemens
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 6 MV pada pesawat Siemens M5782 terdapat di Lampiran 6 Tabel 6.1. Pada Gambar 4.1 berikut ini memperlihatkan distribusi kedalaman dosis metode PDD pada energi foton 6 MV Siemens. Dmax pada energi foton 6 MV Siemens terjadi pada kedalaman 15 mm.
Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium yang dilaluinya.
Gambar 4.1 Grafik PDD Siemens pada Energi Foton 6 MV
4.2 PDD pada Energi Foton 6 MV Elekta
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 6 MV pada pesawat Linac Elekta Pricise 151614 terdapat di Lampiran 6 Tabel 6.2. Pada Gambar 4.2 berikut ini memperlihatkan distribusi kedalaman dosis metode PDD pada energi foton 6 MV Elekta. Dmax pada energi foton 6 MV Elekta terjadi pada kedalaman 16 mm.
Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium tersebut. Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium yang dilaluinya.
Gambar 4.2 Grafik PDD Elekta pada Energi Foton 6 MV
16 mm
4.3 PDD pada Energi Foton 10 MV Siemens
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 10 MV pada pesawat Siemens M5782 terdapat di Lampiran 6 Tabel 6.3. Pada Gambar 4.3 berikut ini memperlihatkan distribusi kedalaman dosis metode PDD pada energi foton 10 MV Siemens. Dmax pada energi foton 10 MV Siemens terjadi pada kedalaman 20 mm. Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium yang dilaluinya.
Gambar 4.3 Grafik PDD Siemens pada energi foton 10 MV
4.4 PDD pada Energi Foton 10 MV Elekta
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 10 MV pada pesawat Linac Elekta Pricise 151614 terdapat di Lampiran 6 Tabel 6.4. Pada Gambar 4.3 berikut ini memperlihatkan distribusi kedalaman dosis metode PDD pada energi foton 10 MV Elekta. Dmax pada energi foton 10 MV Elekta terjadi pada kedalaman 21 mm.
Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium yang dilaluinya.
Gambar 4.4 Grafik PDD Elekta pada Energi Foton 10 MV
21 mm
4.5 PDD pada Energi Foton 6 MV Siemens dan Elekta
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 6 MV dan 10 MV pada pesawat Linac Siemens M5782 dan Elekta Pricise 151614, terdapat di Lampiran 6 Tabel 6.5. Pada Gambar 4.5 berikut ini memperlihatkan distribusi kedalaman dosis metode PDD pada energi foton 6 MV Siemens dan 6 MV Elekta. Pada daerah build up distribusi dosis hampir sama terlihat pada grafik garis hampir berhimpit setelah sampai dosis maksimum (dmax) baru berjauhan. Dmax
16 15 pada energi foton 6 MV Siemens terjadi pada kedalaman 15 mm sedangkan pada energi foton 6 MV Elekta terjadi pada kedalaman 16 mm, Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium yang dilaluinya.Dari kedua pesawat Linac ini pada energi yang sama sebesar 6 MV terdapat perbedaan sebesar ( )
x 100% = 0,94%, dengan standar BATAN yang diperbolehkan sebesar 3%.
Gambar 4.5 Grafik PDD Siemens dan Elekta pada Energi Foton 6 MV
16 mm
4.6 PDD pada Energi Foton 10 MV Elekta dan Siemens
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 10 MV pada pesawat Linac Siemens M5782 dan Elekta Pricise 151614 terdapat di Lampiran 6 Tabel 6.6.
Pada Gambar 4.6 berikut ini memperlihatkan distribusi kedalaman dosis metode PDD pada energi foton 6 MV Siemens dan 6 MV Elekta. Pada daerah build up distribusi dosis hampir sama terlihat pada grafik garis hampir berhimpit setelah sampai dosis maksimum (dmax) baru berjauhan. Dmax
21 20
pada energi foton 10 MV Siemens terjadi pada kedalaman 20 mm sedangkan pada energi foton 10 MV Elekta terjadi pada kedalaman 21 mm. Kemudian presentase distribusi dosis akan turun secara berangsur-angsur karena radiasi yang mengenai medium akan menyerahkan energinya kepada medium yang dilaluinya. Dari kedua pesawat Linac ini pada energy yang sama sebesar 10 MV terdapat perbedaan sebesar ( ) x 100 % = 0,95%, dengan standar BATAN yang diperbolehkan sebesar 3%
Gambar 4.6 Grafik PDD Siemens dan Elekta pada Energi Foton 10 MV
21 mm
Kalau dilihat secara fisis dosis build up adalah sebagai berikut :
a. Sebagai berkas berenergi tinggi, foton masuk ke dalam tubuh pasien atau phantom mengeluarkan elektron yang searah dengan foton saat melewati permukaan dan lapisan berikutnya.
b. Elektron ini menyimpan energi pada suatu jarak tertentu dari posisi normalnya/awalnya sehingga fluens elektron dan dosis meningkat hingga nilai maksimum dosis tercapai.
c. Fluens foton terus menurun dengan bertambahnya kedalaman maka produksi elektron pun juga ikut menurun.
d. Efek setelah melampui kedalaman tertentu dosis akan menurun dengan bertambahnya kedalaman.
Dengan melihat fenomena tersebut maka pada daerah build up dari kedua energi tersebut pasti akan berhimpit karena pola dosis permukaan hampir sama kecuali pada daerah dmax pasti akan berbeda karena dipengaruhi oleh energinya.
Pada energi foton 10 MV dmax akan lebih dalam dibandingkan dengan energi foton 6 MV karena penyerapan energi di dalam medium. Demikian juga setelah melewati dmax pada energi foton 10 MV presentase dosisnya akan lebih besar pada kedalaman yang sama.
4.7 Perhitungan TPR pada Energi Foton 6 MV Siemens dan Elekta
Untuk foton berenergi tinggi yang dihasilkan oleh akselerator klinis kualitas berkas ditentukan oleh tissue phantom ratio (TPR20 ,10
TPR
). Ini adalah rasio dari dosis yang diserap pada kedalaman 20 cm dan 10 cm di water phantom, diukur jarak sumber dengan detektor konstan 100 cm dan ukuran lapangan 10 cm x 10 cm di bidang ruangan.
20,10 dapat diperoleh dari hubungan PDD20,10 (Followil et. al., 1998) adalah:
TPR20,10 = 1,2661PDD20,10 - 0,0595
(2.17)
PDD20,10
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 6 MV pada pesawat Siemens M5782 terdapat di Lampiran 6, pada kedalaman 20 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 38,92, pada kedalaman 10 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 67,17 %,
adalah perbandingan presentase dosis pada kedalaman 20 cm dan kedalaman 10 cm untuk ukuran lapangan 10 cm x 10 cm pada permukaan phantom dengan SSD 100 cm. Persamaan empiris ini diperoleh dari sampel hampir 700 akselerator dan telah mengkonfirmasi formulasi sebelumnya digunakan dalam TRS-277 (IAEA, 1997).
Sesuai rumus TPR20,10 = 1,2661PDD20,10
Sedangkan dari hasil pengukuran PDD energi foton 6 MV pada pesawat Elekta terdapat di lampiran 6, pada kedalaman 20 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 39,76, dan kedalaman 10 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 68,04 %,
- 0,0595 diperoleh TRP pada energi foton 6 MV Siemens sebesar 0,66 % sesuai Lampiran 7.1.
Sesuai rumus TPR20,10 = 1,2661PDD20,10
Dari hasil yang diperoleh TPR 6 MV Siemens sebesar 0,66 %, sedangkan TPR 6 MV Elekta 0,67 % maka terdapat perbedaan
- 0,0595 diperoleh TRP pada energi foton 6 MV Elekta sebesar 0,67 % sesuai Lampiran 7.2.
67
dengan standard BATAN yang diperbolehkan sebesar 3 % .
4.8 Perhitungan TPR pada Energi Foton 10 MV Siemens dan Elekta
Untuk foton berenergi tinggi yang dihasilkan oleh akselerator klinis kualitas berkas ditentukan oleh tissue phantom ratio (TPR20 ,10
TPR
). Ini adalah rasio dari dosis yang diserap pada kedalaman 20 cm dan 10 cm di water phantom, diukur jarak sumber dengan detektor konstan 100 cm dan ukuran lapangan 10 cm x 10 cm di bidang ruangan.
20,10 dapat diperoleh dari hubungan PDD20,10 (Followil et. al., 1998) adalah:
TPR20,10 = 1,2661PDD20,10 - 0,0595 (2.17)
PDD20,10
Persamaan empiris ini diperoleh dari sampel hampir 700 akselerator dan telah mengkonfirmasi formulasi sebelumnya digunakan dalam TRS-277(IAEA, 1997).
adalah perbandingan presentase dosis pada kedalaman 20 cm dan kedalaman 10 cm untuk ukuran lapangan 10 cm x 10 cm pada permukaan phantom dengan SSD 100 cm.
Dari hasil pengukuran PDD energi foton 10 MV pada pesawat Siemens M5782 terdapat di Lampiran 6, pada kedalaman 20 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 47,9, pada kedalaman 10 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 73,5 %,
Sesuai rumus TPR20,10 = 1,2661PDD20,10 - 0,0595 diperoleh TRP pada energi foton 10 MV Siemens sebesar 0,75 % sesuai Lampiran 7.3.
Sedangkan dari hasil pengukuran PDD energi foton 10 MV pada pesawat Elekta terdapat di Lampiran 6, pada kedalaman 20 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 45,94, dan kedalaman 10 cm distribusi dosis diperoleh sebesar 73,27%,
Sesuai rumus TPR20,10 = 1,2661PDD20,10
Dari hasil yang diperoleh TPR 10 MV Siemens sebesar 0,75%, sedangkan TPR 10 MV Elekta 0,73% maka terdapat perbedaan
- 0,0595 diperoleh TRP pada energi foton 10 MV Elekta sebesar 0,73% sesuai Lampiran 7.4.
75 , 0
73 ,
0 x 100 % = 0,97%
dengan standard BATAN yang diperbolehkan sebesar 3%.
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian “Perbandingan Indeks Kualitas Energi Foton Pada Pesawat Linac Siemens Dan Elekta Dengan Metode Precentage Depth Dose (PDD) dan Metode Tissue Phantom Ratio (TPR) diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada energi foton 6 MV metode PDD, Dmax Pesawat Linac Elekta lebih besar sejumlah 0,94% dibandingkan Dmax Pesawat Linac Siemens, sesuai hasil penelitian Dmax Pesawat Linac Siemens terdapat pada kedalaman 15 mm sedangkan Elekta terdapat pada kedalaman 16 mm dan pada energi foton 10 MV metode PDD, Dmax Pesawat Linac Elekta lebih besar sejumlah 0,95%
dibandingkan Dmax Pesawat Linac Siemens, sesuai hasil penelitian Dmax
2. Pada energi foton 6 MV metode Tissue Phantom Ratio (TPR), TPR Pesawat Linac Elekta lebih besar 0,98%, sesuai hasil penelitian diperoleh TPR Pesawat Linac Siemens diperoleh 0,66% sedangkan Pesawat Linac Elekta 0,67 % dan pada energi foton 10 MV metode Tissue Phantom Ratio (TPR), TPR Pesawat Linac Siemens lebih besar 0,97%, sesuai hasil penelitian TPR Pesawat Linac Siemens diperoleh 0,75% sedangkan Pesawat Linac Elekta 0,73 % (standar BATAN yang diperbolehkan sebesar 3%).
Pesawat Linac Siemens terdapat pada kedalaman 20 mm sedangkan Elekta terdapat pada kedalaman 21 mm (standar BATAN yang diperbolehkan sebesar 3%).
3. Dari penelitian yang telah dilakukan pada pesawat Linac Siemens dan Elekta dapat disimpulkan bahwa:
a. Energi foton 6 MV metode PDD Pesawat Linac Elekta lebih baik dari Siemens dan energi foton 10 MV metode PDD Pesawat Linac Elekta lebih baik dari Siemens, namun masih dalam batas toleransi dibawah 3%
sesuai standar BATAN 3%.
b. Energi foton 6 MV metode TPR Pesawat Linac Elekta lebih baik dari pesawat Linac Siemens dan energi foton 10 MV metode TPR Pesawat Linac Siemens lebih baik dari Elekta, namun masih dalam batas toleransi dibawah 3% sesuai standar BATAN 3%.
c. Disimpulkan Pesawat Linac Siemens dan Elekta dinyatakan layak pakai.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan penelitian maka penulis merekomendasikan saran sebagai berikut :
a. Berharap dilakukan penelitian selanjutnya dibandingkan dengan pesawat Linac lebih dari 2 unit pesawat dengan merek yang berbeda.
b. Berharap penelitian selanjutnya dengan pesawat Linac lebih dari 2 unit dengan tahun yang sama dan jumlah pasien yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003, Digital Accelerator Instalation, Electa Limited, no.
4513370187105 (08.03), Electa Limited Linac House Flaming Way, Red Crawley West Sussex RH109RR, UK. 6-30
Anonim, 1996, Central axis depth dose data for use in Radiotherapy, British Journal Radiologi, Supplement no. 25, The British Institute of Radiology, London.
Alam M. J., Rabbani Z., Hussain A., Baig A. K. V., 2007, A modified formula for defining tissue phantom ratio of photon beams, Bangladesh Medical Research Council. 33: 92-97
Butson M. J., Cheung T., Yu P., 2002, Calculation of electron contamination doses produced using blocking trays for 6 MV X-rays, Pegamon, Department of Physics and Materials Science, City University of Hong Kong. Radiation Measurements 35 : 99–102
Buzdar S. A., Rao A., Aalia N., 2009, An Analyis 0f Depth Dose Charateristik of Photon in Water, Journal Ayub Med Coll Abbottabad, The Islamia University, Bahawalpur, Pakistan. 21(4)
Chen C., 2007, Principles and requirements of external beam dosimetry, Elselvier,Department of Therapeutic Radiology, Yale University School of Medicine, New Haven, Connecticut, USA.S2 – S21
Followill D.S., Toilor R.C., Tello V.M., Hanson W.F., 1998, An empirical relationship for determining photon beam quality in TG-21 from a ratio of percent depth doses, Med Phys. 25 : 1202-1205.
IAEA, 1997, Absorbed Dose Determination in Photon and Electron Beams: An International Code of Practice, Technical Report Series, TRS-277, IAEA, Vienna, Austria.
IAEA, International Atomic Energy Agency, 2000, Absorbed Dose Determination in External Beam Radiotherapy : An International Code of Practice for Dosimetry based on Standards of Absorbed Dose to Water, International Atomic Energy Agency, Technical Reports Series, TRS-398, IAEA, Vienna, Austria. (62-63, 157-164)
Khan F. M., 2003, Title : Physics of Radiation Therapy, The 3rd Edition, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, USA(136-137,164)
Kriˇzan P., Rihard H., 2008, Teleradiography Dose Calculation, Faculty of Mathematics and Physics, University of Ljubljana.
Li G., Huaqing Z., Guangyao S. and Wu Y., 2011, Photon Energy Spectrum Recontruction Based on Monte Carlo and Measured Precentage Depth Dose in Acurate Radiotheraphy, Institut Plasma Physic,Chinese Academy of Science, China.Vol. 2, pp.160-164
Natto S. A., 2007, A Comparative Study of Measured Percentage Depth Doses for two Medical Linear Accelerators, Umm Al-Qur a Univ. Journal Science Med. Eng, Saudi Arabi.Vol.19,No.2, pp.145 -151
Podgorsak E.B., 2005, Radiation Oncology Physics: A Handbook for Teachers and Students, International Atomic Energy Agency, Technical Editor, Vienna.Thirth Edition.(179-191)
Richmond N., Robert B., 2014, A Comparison of Small-Field Tissue Phantom Ratio Data Generation Methods for an Elekta Agility 6 MV Photon Beam, Elsevier, Medical Physics Department, The James Cook University Hospital, Middlesbrough, United Kingdom.60-63
Suharni, Kusminarto, Diah F.I., Aggraita P., 2012, Perhitungan Eefisiensi Daya Berdasarkan Presentase Kedalama Dosis (PDD) pada Linac Medis RS dr.
Sarjito, Program Pasca Sarjana Fisika – UGM, PTAPB – BATAN, Yogyakarta. Volume 14. ISSN 1411-1349
Ślosarek K., Agata R., 2005, Comparison of Percent Depth Doses for Various Linear Accelerators, Journal Medical Physics Eng, Polandia. 11(1):39-50.
PL ISSN 1425-4689
Sardari D., Maleki R., Samavat H., Esmaeeli A., 2009, Measurement of depth-dose of linear accelerator and simulation by use of Geant4 computer code, Elselvier, Department of Medical Physics, Hamadan University of Medical Science, Hamadan, Iran. Reports of practical oncology and radiotherapy 15 (2010)64–68
Tammasebi B., Karbalaee, 2009, Calculation of Expressieon for Measured Precentage Depth Dose Data in Megavoltage Photon Theraphy, Iranian Red Crescent Medical Journal, Iran
LAMPIRAN 1. GAMBAR ALAT DAN BAHAN
1.1. Pesawat Linac Siemens dan Phantom Air
1.2 Pesawat Linac Elekta dan Phantom Air
1.1.1. Chamber Farmer Siemens 1.2.1. Chamber Farmer Elekta
1.1.2. Elektrometer Siemens 1.2.2. Elektrometer Elekta
1.1.3. Meja kontrol Siemens
1.2.3. Elektrometer Elekta
LAMPIRAN 2. HASIL PENGUKURAN POLARISASI TEGANGAN
Tabel 2.1 Hasil pengukuran polaritas tegangan pesawat Linac Siemens dengan dosis energy = 200 MU (Monitor Unit)
Tabel 2.2 Hasil pengukuran polaritas tegangan pesawat Linac Elekta Dengan dosis energy = 200 MU (Monitor Unit)
LAMPIRAN 3. TABEL TRS 398
Tabel 3.1. TRS 398 Pesawat Linac Siemes 6 MV
User: Date:
1. Radiation treatment unit and reference conditions for Dw,Q determination Accelerator:
Nominal Acc Potential: 6 MV
Nominal dose rate: 200,0 MU min-1 Beam quality, Q (TPR20,10) 0,670
Reference phantom: water Set up:
Reference field size: 10 x 10 cm cm x cm Reference distance: 100 cm
Reference depth zref : 10,0 g cm-2
2. Ionization chamber and electrometer
Ion. chamber model Serial No.:
Chamber wall material: graphite thickness: 0,068 g cm-2
Waterproof sleeve material: thickness: g cm-2
Phantom window material: thickness: g cm-2
Abs. dose-to-water calibration factor a
Calibration quality Q0: Calibration depth: g cm-2
If Q0 is photons, give TPR20,10:
Reference conditions for calibration
P0: 101,3 kPa T0: 20,0 °C Rel. humidity: 50 %
Polarizing potential V1: 300 V
Calibration polarity:
User polarity:
Calibration laboratory: Date:
Electrometer model: Serial no.:
Calib. separately from chamber: Range setting:
If yes Calibration laboratory: Date:
3. Dosimetry reading b and correction for influence quantities
Uncorrected dosimeter reading at V1 and user polarity: 26,58
Corresponding accelerator monitor units: 200 MU
Ratio of dosimeter reading and monitor units: M1 = 0,1329
(i) P: 100,5 kPa T: 23,8 °C Rel. humidity: 42 % 1,021
(ii) Electrometer calibration factor kelec :
(iii) Polarity correction d rdg at +V1 M+ = 26,58 rdg at -V1: M- = 26,6
1,000
(iv) Recombination correction (two-voltage method)
Polarizing voltages: V1 (normal) = 300 V V2 (reduced) = 100 V
Corrected dosimeter reading at the voltage V1:
0,1362
4. Absorbed dose rate to water at the reference depth, zref Beam quality corr. factor for user quality Q : 0,9940 taken from Worksheet for the determination of the absorbed dose to water
in a high-energy photon-beam
15-Agust-16 0,05
Siemens Primus M5782
+ve -ve corrected for polarity effect
+ve -ve Wellhöfer IC 70 Farmer
Table 6.III Other, specify:
+ =
Tabel 3.2. TRS 398 Pesawat Linac Siemes 10 MV
User: Date:
1. Radiation treatment unit and reference conditions for Dw,Q determination Accelerator:
Nominal Acc Potential: 10 MV
Nominal dose rate: 300,0 MU min-1 Beam quality, Q (TPR20,10) 0,750
Reference phantom: water Set up:
Reference field size: 10 x10 cm x cm Reference distance: 100 cm
Reference depth zref : 10,0 g cm-2
2. Ionization chamber and electrometer
Ion. chamber model Serial No.:
Chamber wall material: graphite thickness: 0,068 g cm-2
Waterproof sleeve material: thickness: g cm-2
Phantom window material: thickness: g cm-2
Abs. dose-to-water calibration factor a
Calibration quality Q0: Calibration depth: 5 g cm-2
If Q0 is photons, give TPR20,10:
Reference conditions for calibration
P0: 101,3 kPa T0: 20,0 °C Rel. humidity: 50 %
Polarizing potential V1: 300 V
Calibration polarity:
User polarity:
Calibration laboratory: Date:
Electrometer model: Serial no.:
Calib. separately from chamber: Range setting:
If yes Calibration laboratory: Date:
3. Dosimetry reading b and correction for influence quantities
Uncorrected dosimeter reading at V1 and user polarity: 28,89
Corresponding accelerator monitor units: 200 MU
Ratio of dosimeter reading and monitor units: M1 = 0,1445
(i) P: 100,5 kPa T: 23,8 °C Rel. humidity: 42 % 1,021
(ii) Electrometer calibration factor kelec :
(iii) Polarity correction d rdg at +V1 M+ = 28,89 rdg at -V1: M- = 28,9
1,000
(iv) Recombination correction (two-voltage method)
Polarizing voltages: V1 (normal) = 300 V V2 (reduced) = 100 V
Corrected dosimeter reading at the voltage V1:
0,1480
4. Absorbed dose rate to water at the reference depth, zref Beam quality corr. factor for user quality Q : 0,9830 taken from
0,0073 Gy / MU in a high-energy photon-beam
15-Agust-16
+ve -ve corrected for polarity effect
+ve -ve Wellhöfer IC 70 Farmer
Table 6.III Other, specify:
+ =
Tabel 3.3. TRS 398 Pesawat Linac Elekta 6 MV
User: Date:
1. Radiation treatment unit and reference conditions for Dw,Q determination Accelerator:
Nominal Acc Potential: 6 MV
Nominal dose rate: 500,0 MU min-1 Beam quality, Q (TPR20,10) 0,680
Reference phantom: water Set up:
Reference field size: 10x10 cm x cm Reference distance: 100 cm
Reference depth zref : 10,0 g cm-2
2. Ionization chamber and electrometer
Ion. chamber model Serial No.:
Chamber wall material: PMMA thickness: 0,057 g cm-2
Waterproof sleeve material: thickness: g cm-2
Phantom window material: thickness: g cm-2
Abs. dose-to-water calibration factor a
Calibration quality Q0: Calibration depth: 5 g cm-2
If Q0 is photons, give TPR20,10:
Reference conditions for calibration
P0: 101,3 kPa T0: 20,0 °C Rel. humidity: 60 %
Polarizing potential V1: 400 V
Calibration polarity:
User polarity:
Calibration laboratory: Date:
Electrometer model: Serial no.:
Calib. separately from chamber: Range setting:
If yes Calibration laboratory: Date:
3. Dosimetry reading b and correction for influence quantities
Uncorrected dosimeter reading at V1 and user polarity: 25,33
Corresponding accelerator monitor units: 200 MU
Ratio of dosimeter reading and monitor units: M1 = 0,1267
(i) P: 1015,0 kPa T: 20,2 °C Rel. humidity: 49 % 0,100
(ii) Electrometer calibration factor kelec :
(iii) Polarity correction d rdg at +V1 M+ = 25,33 rdg at -V1: M- = 25,35
1,000
(iv) Recombination correction (two-voltage method)
Polarizing voltages: V1 (normal) = 400 V V2 (reduced) = 100 V
Corrected dosimeter reading at the voltage V1:
1,2677E-02
4. Absorbed dose rate to water at the reference depth, zref
Beam quality corr. factor for user quality Q : 0,9900 taken from
6,6393E-04 Gy / MU 2923 LAZ/TATY
BATAN
25/02/2017 Worksheet for the determination of the absorbed dose to water
in a high-energy photon-beam
17-Okt-16 0,0529
Elekta Precise Treatment System
+ve -ve corrected for polarity effect
+ve -ve
Table 14 Other, specify:
+ =
Tabel 3.4. TRS 398 Pesawat Linac Elekta 10 MV
User: Date:
1. Radiation treatment unit and reference conditions for Dw,Q determination Accelerator:
Nominal Acc Potential: 10 MV Nominal dose rate: 477,0 MU min-1 Beam quality, Q (TPR20,10) 0,730
Reference phantom: water Set up:
Reference phantom: water Set up: