• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengurangi volume sampah organik

Dalam dokumen Laporan Konservasi Tanah dan Air (Halaman 44-58)

DAFTAR PUSTAKA

B. Prosedur kerja

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Mengurangi volume sampah organik

Sampah organik di Kota Medan sebahagian berasal dari sampah rumah tangga yang menghuni kawasan pemukiman, berupa sisa makanan atau sampah dapur. Selain itu juga berasal dari sisa tanaman berupa bekas pangkasan tanaman pekarangan, sisa hasil panen tanaman yang tidak terjual dan jerami, peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan peningkatan volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA).

Keterbatasan sarana dan prasarana penanganan sampah di Kota Medan menyebabkan pengelolaan sampah tidak berjalan maksimal, sehingga masyarakat mencari alternatif penanganan lain seperti membakar, membuang sampah ke sungai, menumpukkan di seberang tempat yang sangat mengganggu estetika lingkungan dan akan berdampak negatif terhadap pelestarian lingkungan.

Perencanaan Saluran Drainase

Saluran drainase harus direncanakan untuk dapat melewatkan debit rencanadengan aman. Perencanaan teknis saluran drainase menurut Suripin mengikuti tahapan-tahapan meliputi: menentukan debit rencana, menentukan jalur saluran, merencanakan profil memanjang saluran, merencanakan penampang melintang saluran, mengatur dan merencanakan bangunan-bangunan serta fasilitas system drainase.

Menurut Soedarmo dan Purnomo (1993), perubahan kadar air akibat adanya resapan air yang masuk ke dalam tanah akan segera meningkatkan kadar air dan menurunkan kekuatan geser dalam tanah. Aliran air dalam tanah akan mempercepat terjadinya keruntuhan lereng karena air dapat menurunkan tingkat kelekatan butiran tanah. Semakin bertambah air yang masuk ke dalam pori-pori tanah maupun yang menggenang di permukaan tanah akan mempercepat terjadinya keruntuhan tanah (Hardiyatmo, 2003). Ohsuka & Yoshifumi (2001) menyebutkan bahwa peningkatan tekanan air pori menyebabkan terjadinya deformasi menjadi sangat cepat hingga mencapai keruntuhan. Meningkatnya tekanan air pori adalah salah satu penyebab utama keruntuhan lereng. Air yang mengalir dan mengisi retakan akan mendorong tanah ke arah lateral (Hardiyatmo, 2003). Secara umum, kekuatan gese tanah akan berkurang apabila mempunyai kadar air yang tinggi atau dalam kondisi yang sangat jenuh air (saturated).

Praktikum Konservasi Tanah dan Air kali ini di lakukan pengukuran terhadap Hantaran Hidrolik tanah. Pengukuran hantaran hidrolik ini telah dilakukan dalam waktu 31 menit. Penyerapan konstan terjadi pada menit ke 7 pada interval 5. Sehingga berdasarkan hasil analisis diperoleh hasil ∑xy = 454,25,

∑x2

= 1096,917 dan b (tan ) = 0,414 karena jari-jari (r) diketahui 6 maka diperoleh nilai K sebesar 3,726 cm/dtk. Pada penentuan dan perhitungan hantaran hidrolik, masing masing tanah meskipun dalam satu daerah yang sama memiliki hantaran hidrolik yang tidak sama. Hal ini di karenakan hantaran hidrolik dapat di pengaruhi oleh kondisi tanah yang berupa tektstur, struktur, agregat, porositas dari suatu tanah. Jenis tanah berbeda akan mempunyai karakteristik yang berbeda

sehingga memiliki nilai hantaran hidrolik yang berbeda pula. Setiap sifat fisik tanah mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan sifat fisik tanah lainya. Dan masing masing sifat fisik mempunyai ruang lingkup yang khas sehingga pada praktikum kali ini antar masing masing kelompok terdapat nilai hasil perhitungan hantaran hidrolik yang berbeda di karenakan oleh factor tersebut. ( Darcy, 1856 ).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

1. Hidraulic conductivity (HC) merupakan suatu parameter sifat fisik tanah yang menunjukan kemampuan tanah dalam kedaan jenuh untuk melakukan atau melewatkan air.

2. Berdasarkan data hasil praktikum di peroleh nilai K sebesar 3,726 cm/dtk. Selama rentang waktu 31 menit. Penyerapan konstan terjadi pada menit ke 7 pada interval 5.

3. Hantaran hidrolik ini merupakan factor penting dalam dunia pertanian karena secara langsung hantaran hidrolik ini berkorelasi positif terhadap laju infiltrasi suatu tanah

B. SARAN

Praktikum Konservasi tanah dan air acara hantaran hidrolik ini sudah berjalan cukup baik, namun ada beberapa hal yang harus di perbaiki seperti mis komunikasi antara asisten dengan praktikan terkait masalah penentuan dalamnya lubang yang di isi air serta kurang responsifnya asisten dalam memandu para praktikan.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. ITB press, Bogor.

Asdak, C. 2001. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Baver, L.D. 1959. Soil Physics. John Wiley and Sons, Inc. New York.

BPLHD Provinsi Jawa Barat. 2009. Implementasi Lubang Resapan Biopori untuk Perbaikan Lingkungan.

Brata, K. 2008. Lubang Resapan Biopori. Swadaya. Jakarta.

Darcy, H.P.G. 1856. Les Fontaines publiques de la Ville de Dijon. Victor Dalmont, Pris

Hardiyatmo, H.C., 1992, Mekanika Tanah 2, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Hardjowigeno, Sarwono. 1987. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta

http://erabaru.or.id/2008. Biopori Teknologi Solusi Banjir.

Ohtsuka, S., and Yoshifumi, 2001, Consideration on landslise mechanism based on pore water pressure loading test, The 15th International Conference on Soil Mechanics and Geotechnical Engineering, 27-31 August 2001, Istanbul,Turkey.

Rauf, A. 2009. Optimalisasi Pengelolaan Lahan Pertanian Hubungannya dengan Upaya Memitigasi Banjir. (Pidato Pengukuhan Guru Besar). Universitas

Sumatera Utara. Medan.

Rohmat, dede. 2009. Tipikal Kuantitas Infiltrasi Menurut karaktereristik lahan. Bandung.

Soedarmo,G.D. dan Purnomo, S.J., 1993, Mekanika Tanah 2, Kanisius, Yogyakarta.

I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Infiltrasi adalah proses meresapnya air atau proses meresapnya airdari permukaan tanah melalui pori-pori tanah. Dari siklus hidrologi, jelas bahwa air hujan yang jatuh di permukaan tanah sebagian akan meresap ke dalam tanah, sabagian akan mengisi cekungan permukaan dan sisanya merupakan overland flow.

Air adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup di bumi. Secara umum banyaknya air yang ada di planet ini adalah sama walaupun manusia, binatang dan tumbuhan banyak menggunakan air untuk kebutuhan hidupnya. Jumlah air bersih sepertinya tidak terbatas, namun sebenarnya air mengalami siklus hidrologi di mana air yang kotor dan bercampur dengan banyak zat dibersihkan kembali melalui proses alam.

Air dalam tanah berasal dari air hujan yang ditahan oleh tanah sehingga tidak meresap ke tempat lain,disamping campuran bahan mineral dengan bahan organik, maka dalam proses pembentukan tanah terbentuk pula lapisan-lapisan tanah atau horizon-horison. Tanah akan kehilangan bahan-bahan mineral tersebut jika tanah dipergunakan secara terus-menerus tanpa memperhatikan kaedah-kaedah konservasi maupun pengelolaan tanah yang baik.

Proses siklus hidrologi berlangsung terus-menerus yang membuat air menjadi sumber daya alam yang terbaharui. Jumlah air di bumi sangat banyak baik dalam bentuk cairan, gas / uap, maupun padat / es. Jumlah air seakan

terlihat semakin banyak karena es di kutub utara dan kutub selatan mengalami pencairan terus – menerus akibat pemanasan global bumi sehingga mengancam kelangsungan hidup manusia di bumi. Oleh karena itu, untuk mengetahui siklus tersebut pada suatu lahan perlu dilakukan suatu pengujian mengukur infiltrasi.

Sumber daya alam utama, yaitu tanah dan air, mudah mengalami kerusakan atau degradasi. Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi berupa kemunduran sifat-sifat kimia dan fisik tanah seperti kehilangan unsur hara dan bahan organik dan memburuknya sifat-sifat fisik yang tercermin antara lain pada menurunnya kapasitas infiltrasi dan kemampuan tanah menahan air, meningkatnya kepadatan dan ketahanan penetrasi tanah dan berkurangnya kemantapan struktur tanah.

Vegetasi yang tumbuh di atas tanah juga akan mempengaruhi infiltrasi pada tanah tesebut. Vegetasi pada atas tanah akan berpengaruh karena fungsi tanaman yang tumbuh di atas tanah sendiri nantinya akan berfungsi untuk melindungi agrerat-agrerat tanah dari kerusakan akibat datangnya butiran- butiran hujan yang turun ke bumi. Fungsi tanaman itu sendiri berbeda satu sama lain bergantung kepada pada jenis tanaman, perakaran, tinggi tanaman, tajuk, tingkat pertumbuhan, dan musim.

B. TUJUAN

Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk menentukan laju infiltrasi pada suatu lahan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian infiltarsi itu sendiri adalah salah satu proses yang mempunyai arti penting dalam tata air pertanian. Dengan kata lain air infiltarasi merupakan simpanan bawah permukaan atau disebut persediaan air di bawah tanah permukaan. Persediaan air bawah dapat juga langsung mengalir sehingga membentuk aliran bawah permukaan ( inter flow ) yang kemudian menjadi sungai. Selain dapat langsung mengalir, air infiltarsi juga dapat langsung masuk ke dalam tanah ataupun disebut juga dengan perlokasi.

Dari pengertian yang ada infiltrasi mempunyai peranan yang sangat erat dengan perlokasi karena sebenarnya peristiwa infiltrasi menyediakan air untuk perlokasi. Jika air dalam tanah tidak bergerak vertikal, tetapi kearah horizontal disebut dengan perembesan lateral, yang di sebabkan oleh permeabilitas lapisan tanah yang tidak seragam.

Sifat-sifat tanah yang berhubungan dengan tindakan pengolahan tanah (angka Atterberg) adalah batas mengalir / liquid limit (jumlah air terbanyak yang dapat ditahan tanah), batas melekat (kadar air dimana tanah mulai tidak dapat melekat pada benda lain), batas menggolek (kadar air dimana gulungan tanah mulai tidak dapat digolek-golekkan lagi), indesk plastisitas / palsticity indeks (perbedaan kadar air pada batas mengalir dengan batas menggolek), jangka olah (besarnya perbedaan kandungan air pada batas melekat dengan batas menggolek), dan bats ganti warna / titik ubah (batas terendah kadar air yang dapat diserap taamanan), (Sarwono, 1987).

Kapisitas infiltrasi tidak sama untuk setiap jenis tanah. Pada tanah yang sama, kapasitas infiltrasi, dapat berbeda, tergantung dari kondisi fisik kimia dan biologi tanah tersebut. Infiltrasi juga dapat berubah sesuai dengan intensitas curah hujan.

Faktor faktor yang mempengaruhi infiltrasi di antaranya :

a. Faktor tanah

Sifat anah yang beperngaruh terhadap infiltrasi adlah tekstur, struktur jneis liat, kandungan, air pada saat mulai infiltrasi dan heterogenitas lapisan tanah.

b. Vegetasi

Vegetasi dapat mempengaruhi infiltrasi melalui pengaruh tajuk, akar, batang serta seresah terhadap air yagn jatuhnya di atasnya.

c. Lain lain

Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap infiltrasi adalah kemirngan lahan, suhu udara, udara terjebak dalam pori tanah. Walaupun pengaruh faktor faktor ini relatif kecil namun pada kondisi teretentu berpengaruh terhadap intensitas.

Siklus Hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu.

Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut (Subagyo, 1990).

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga cara yang berbeda:

1. Evaporasi / transpirasi – Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es (Marshal, 1998).

2. Infiltrasi / Perkolasi ke dalam tanah – Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan (Marshal, 1998).

3. Air Permukaan – Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut (Marshal, 1998).

Infiltrasi adalah proses meresapnya air atau proses meresapnya air dari permukaan tanah melalui pori-pori tanah. Dari siklus hidrologi, jelas bahwa air hujan yang jatuh di permukaan tanah sebagian akan meresap ke dalam tanah, sabagian akan mengisi cekungan permukaan dan sisanya merupakan overland flow.

Infiltrasi mempunyai arti penting terhadap : 1. Proses Limpasan

Daya infiltrasi menentukan besarnya air hujan yang dapat diserap ke dalam tanah. Sekali air hujan tersebut masuk ke dalam tanah ia akan diuapkan kembali atau mengalir sebagai air tanah. Aliran air tanah sangat lambat. Makin besar daya infiltrasi, maka perbedaan antara intensitas curah dengan daya infiltrasi menjadi makin kecil. Akibatnya limpasan permukaannya makin kecil sehingga debit puncaknya juga akan lebih kecil

2. Pengisian Lengas Tanah (Soil Moisture) dan Air Tanah

Pengisian lengas tanah dan air tanah adalah penting untuk tujuan pertanian. Akar tanaman menembus daerah tidak jenuh dan menyerap air yang diperlukan untuk evapotranspirasi dari daerah tak jenuh tadi. Pengisian kembali lengas tanah sama dengan selisih antar infiltrasi dan perkolasi (jika ada). Pada permukaan air tanah yang dangkal dalam lapisan tanah yang berbutir tidak begitu kasar, pengisian kembali lengas tanah ini dapat pula diperoleh dari kenaikan kapiler air tanah

Kurva kapasitas infiltrasi merupakan kurva hubungan antara kapasitas infiltrasi dan waktu yang terjadi selama dan beberapa saat setelah hujan. Kapasitas infiltrasi secara umum akan tinggi pada awal terjadinya hujan, tetapi semakin lama kapasitasnya akan menurun hingga mencapai konstan. Besarnya penurunan ini dipengaruhi bebagai faktor, seperti kelembaban tanah, kompaksi, penumpukan bahan liat dan lain-lain. Untuk megumpulkan data infiltrasi dapat dilakukan dengan tiga cara: inflow-outflow, analisis data hujan dan hidrograf, dan menggunakan double ring infiltrometer. Cara double ring infiltrometer sering digunakan karena mudah dalam pengukuran dan alatnya mudah dipindah – pindah (Subagyo, 1990).

III. METODE PRAKTIKUM

Dalam dokumen Laporan Konservasi Tanah dan Air (Halaman 44-58)

Dokumen terkait