• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENIKMATI PERJUANGAN MENUJU GURU YANG PROFESIONAL Oleh : Sugiyatno

Guru yang profesional sangat mulia dan diidam - idamkan semua orang.

Guru adalah sosok yang selalu menjadi panutan baik kata - kata maupun perilakunya; penampilannya selalu rapi, sopan, dan selalu ramah. Termasuk aku seorang anak dari lima saudara yang mempunyai cita-cita menjadi seorang guru yang profesional. Nama ku adalah Sugiyatno atau sering disapa Ogik. Aku lahir di Rumbia, 01 April 1990. Saya anak ke tiga dari lima saudara lelaki semua dalam bahasa jawa disebut pendawa. Saya tamat sekolah di SD Negeri Banjarharjo, Desa Keruk II, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di Banjarharjo, aku melanjutkan belajar di Sekolah Menengah Pertama Gotonng Royong (SMP GOTRO) di desa Kemiri, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul. Di SMP lah aku mulai aktif, baik di bidang olahraga, karawitan dan juga pada bidang organisasi OSIS dan organisasi desaku di bidang keagamaan Taman Pendidikan Al-quran (TPA). Di bidang olah raga saya sering mengikuti lomba – lomba lari maraton 5 Km. Di bidang karawitan saya menabuh kendang atau fokal, sedang pada OSIS saya dua tahun berturut – turut sebagai seksi keagamaan. Dan di organisasi di Desa di TPA sebagai pengajar anak mengajari I’roq dan ilmu Akhlaq atau cerita nabi dan Rosul. Tamat pendidikan di SMP GOTRO saya melanjutkan belajar di Sekolah Menengah Atas Institut Indonesia Seleman (SMA II Seleman), sembil bekerja di outlet pulsa.

Selesai SMA aku belajar di sebuah Universitas Swasta yaitu Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Mulai dari sini aku mengenal lebih jauh tentang guru, program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM-3T), Indonesia Mengajar, dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Sebelum tamat Aku mulai mengabdikan diri menjadi guru Honor di SD Negeri Gatak, di Desa Gatak I Kecamatan Ngestiharjo, Kabupaten Gunungkidul berjarak dua kilo meter dari rumah ku. Sambil menyelesaikan tugas akhir, aku mengajar di SD dan mencari informasi tentang

program SM-3T dan Indonesia Mengajar. Setelah lebih dari satu tahun aku menunggu program SM-3T akhirnya datang juga penerimaan program SM-3T.

Sejak awal aku mantap mengikuti program SM-3T dengan niat mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan mencari ilmu dari daerah penempatan serta mengikuti PPG gratis bonus dari SM-3T. Tahap demi tahap telah terlewati hingga pada tangggal 12 juli 2015 pengumuman hasil seleksi wawancara dan pemanggilan prakondisi saya lolos dengan daerah penempatan provinsi Aceh kabupaten Gayolues.

Masih teringat ku injakkan kaki pertama kali di tanah Aceh Kabupaten Gayolues, yaitu Kamis, tanggal 20 Agustus 2015 di Rumah Dinas Bupati Gayolues. Pukul 18.15 tepat saat makhrib bersama dengan teman baru dan seperjuangan berjumlah 67 orang pendidik atau calon guru. Suasana alam yang masih hijau, asri dan sejuk serta dingin adalah gambaran suasana alam yang indah. Sabtu, tanggal 22 Agustus 2015 diadakan acara pelepasan dan penyambutan SM-3T angkatan empat dan lima. Pada hari Senin, tanggal 24 Agustus 2015 diadakan upacara dan penempatan SM-3T ke masing-masing Instansi baik SD sederajat, SMP sederajat maupun SMA sederajat. Senin itu aku pergi mengendarai sepeda motor dalam bahasa Gayolues sepeda motor adalah kereta bersama dengan Bapak Kepala Sekolah SDN 11 Terangun, yaitu Bapak Berlian S.Pd menuju rumah beliau. Sampai di rumah beliau, jamuan pun sudah tersedia daging rusa, ikan nila, sayur nangka, rendang belut dan minuman khasnya kopi Gayo asli gayolues. Aku di rumah Bapak Berlian sampai hari Jum’at, dan Sabtu. Aku pergi ke SD 11 Terangun beralamatkan di Jalan Terangun-Blang Pidie, Kampung Melelang Jaya, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Tiba perkenalan dengan bapak ibu guru serta pembentukan jam mengajar serta pembagian tugas mengajar. Tidak disangka ternyata dalam sejarah SM-3T angkatan satu sampai angkatan lima baru aku yang mengajar kelas rangkap yaitu kelas satu dan dua. Alasan karena kelas satu dan kelas dua masih menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa Gayo.

Saat itu hari kedua aku di kampung Melelang siang, sepulang sekolah bersama Bapak Abdul Rahman, guru kelas lima, aku beranikan diri untuk jalan-jalan sambil silaturahmi dan berkenalan. Dan ternyata sambutan masyarakat Desa

Melelang sangat baik. Aku masih teringat saat diberi buah pertama kali adalah buah mata rusa, karna buah tersebut kecil dan mirip dengan mata dari hewan rusa dan tidak lupa kopi Gayo. Saat itu ada kejadian lucu saat aku meminum kopi, aku malu-malu dan saat mau pulang baru aku habiskan, eh ternyata belum boleh dipulangkan, karna adat di sana kopi yang sudah dibuat satu ceret berukuran sedang belum habis. Adat disana jika bertamu harus menghabiskan hidangan yang ada; jika orang empat, maka kopi tersebut harus habis orang empat. Belum habis kopi ternyata datang makanan, dan sama aturannya yaitu makanan yang dihidangkan juga harus habis. Mau tidak mau saya harus mengikuti adat yang ada, kata pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijinjing.

Hari pertamaku sampai dua minggu pertama berjalan menyenangkan, tapi setelah minggu kedua baru perjuanganku yang sebenarnya dimulai; aku mulai menemukan banyak hal yang perlu di rubah dan di benahi di SD 11 Terangun, mulai dari anak-anak kelas satu sampai kelas empat yang sama sekali tidak ada yang bisa membaca, menulis dan berhitung (CaLesTung). Mulailah bulan September aku meminta ijin kepada Bapak Kepala Sekolah untuk memberi les secara gratis kepada kelas satu sampai kelas empat. Les tersebut aku mulai dari jam 13.30 sampai 15.00, dari hari Senin hingga Kamis. Puji syukur tak ada yang sia-sia dibalik semua perjuangan kelas empat dalam waktu dua minggu sudah mampu CaLesTung, dan kelas tiga serta sebagian siswa kelas dua satu bulan baru bisa CaLesTung. Kelas satu selama satu bulan hanya mampu menulis dan berhitung sampai angka 30 dan mengeja empat huruf. Selain itu aku juga mengadakan kegiatan pramuka yang dilaksankan pada hari Jumat. Kegiatan saat bulan romadhon adalah baca tulis ikro’ dan hafalan surat-surat pendek pada hari Rabu sampai Jum’at pukul 15.00 – 17.20.

Kegiatanku setelah memberikan pelajaran tambahan atau les adalah ketika malam bersama pemuda (dalam bahasa Gayo sibujang/anak lajang) aktif dalam kegiatan karang taruna baik kegiatan jaga teraktor maupun ronda malam atau rapat kegiatan menyiapkan hajatan nikahan atau hari besar seperti isro’ mi’roz sampai pukul 22.00. Selain kegiatan SDN 11 Terangun dan masyarakat aku pun banyak mengikuti kegiatan rapat rutin satu bulan sekali di kecamatan Terangun

dan Tripijaya serta rapat di Kabupaten Belangkejeren. Tidak jarang saat kami mau mengadakan rapat banyak jalan longsor, jalan tertutup tertimpun batu longsoran, hujan hampir setiap hari, bahkan jalannya sendiri di sebelah kanan dan kiri adalah jurang curam yang dalam, tapi kami tak pernah patah semangat demi rapat rutin yang harus kami lakukan setiap bulan baik kecamatan maupun kabupaten. Banyak kegiatan yang terselenggara di kegiatan SM-3T Kecamatan Terangun di antaranya Pramuka Sabtu Minggu (Persami) di SMP N 3 Terangun dan SMA N 1 Terangun.

Sedangkan kegiatan di Kabupaten Belangkejeren adalah Perkemahan Sabtu Minggu Pramuka Tingkat Penegak Se-Kabupaten Gayo Lues Tahun 2016, buka bersama SM-3T bersama dengan anak-anak SDLB Mutiara Luser dan Gebyar Ramadhan Gayo Lues. Kadang untuk mengisi waktu luang di malam hari aku sempatkan untuk menulis satu bait atau dua bait puisi untuk mencurahkan sebuah keluhan atau menceritakan isi hati kepada hal yang positif. Berikut ini beberapa puisi yang aku buat di Gayolues

Perjuangan ( Untuk SM-3T ) Meski waktu terus kulalui

Tapi perjuanganku baru ku mulai Ku lewati jalan berkelok tak bertepi Banyak kerikil tajam menanti Tebing-tebing curam menanti Hujan setiap hari selalu menanti Namun kaki ini selalu pergi, pergi

Memberantas kebodohan dan ketertinggalan hari ini Setiap hari engkau selalu tersenyum

Setiap katamu mengandung seribu makna

Benih-benih cinta dan rasa saying selalu kau tanam

Untuk mereka yang selalu menanti didepan kelas yang suram Agar masa depan mereka tidak menjadi buram

Jangan bertanya mengapa ku rela berjuang Meninggalkan keluarga dan kampong halaman Jangan katakana aku mau sok jagoan

Atau jadi seorang pahlawan kesiangan

Karna semua hanya tulus iklas yang kulalukan Tanpa mengharap sebuah imbalan dan pujian.

SAJAK HARI INI