7 Menilai Bahaya dan Risiko di Laboratorium
LD 50 adalah jumlah bahan kimia yang saat dicerna, disuntikkan, atau dioleskan ke kulit hewan uji dalam kondisi laboratorium yang terkendali
7.4 Menilai Risiko Racun Bahan Kimia Laboratorium Tertentu Langkah pertama dalam menilai risiko eksperimen terencana antara lain
mengidentii kasi bahan kimia mana yang akan digunakan yang berpotensi zat berbahaya. Bagian ini menjelaskan bagaimana cara menilai risiko yang terkait dengan kelas bahan kimia beracun tertentu.
Bahan kimia yang digunakan di laboratorium dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelas zat beracun berbeda. Banyak bahan kimia memiliki lebih dari satu jenis
Nitrogen dioksida, gas kuning-cokelat, sangat beracun jika terhirup.
80
7
Menilai Bahaya dan Risiko di Laboratoriumkandungan racun. Selanjutnya kelas zat beracun paling umum yang ditemukan di laboratorium.
7.4.1 Racun Akut
Toksisitas akut adalah kemampuan bahan kimia untuk menyebabkan efek berbahaya setelah pemaparan satu kali. Bahan beracun akut dapat menyebabkan efek racun lokal, efek racun sistemik, atau keduanya. Kelas racun ini meliputi bahan kimia korosif, iritan, dan alergen (pemeka). Bahan kimia yang paling umum dengan tingkat toksisitas akut tinggi yang ditemui di laboratorium antara lain
akrolein;
•
nikel karbonil;arsina;
•
nitrogen dioksida;klorin;
•
osmium tetraoksida;diazometana;
•
ozon;diborana (gas);
•
fosgen;dimetil merkuri;
•
natrium azida; dan hidrogen sianida;•
natrium sianida (dan hidrogen l uorida; garam sianida lainnya). metil l uorosulfonat;Tangani senyawa ini menggunakan prosedur tambahan yang diuraikan pada Bab 9, Bagian 4. Saat merencanakan eksperimen, temukan apakah racun akut harus ditangani secara khusus sebagai senyawa berbahaya dengan mempertimbangkan
jumlah total zat yang akan digunakan;
sifat i sik zat (msl., Apakah mudah menguap? Apakah cenderung membentuk debu?);
jalur pemaparan potensialnya (msl., Apakah siap diserap melalui kulit?); dan keadaan penggunaannya dalam eksperimen yang diajukan (msl., Apakah zat akan dipanaskan? Apakah unsur itu cenderung menghasilkan aerosol?). Mungkin akan membantu jika memutuskan cara penanganan racun akut berdasarkan konsultasi dengan manajer laboratorium atau CSSO.
Lihat Lampiran F.2. Menilai Risiko Terkait dengan Racun Akut untuk informasi
lebih lanjut tentang cara menentukan tingkat bahaya toksisitas akut dan kemungkinan dosis letal untuk manusia.
Menilai Bahaya dan Risiko di Laboratorium
7
7.4.2 Iritan, Korosif, Alergen, dan Pemeka
LD50, LC50, dan nilai toksisitas lainnya memberikan sedikit panduan dalam menilai risiko korosif, iritan, alergen, dan pemeka karena unsur racun menerapkan efek berbahaya mereka secara lokal. Gunakan panduan berikut untuk menilai risiko bahan kimia ini.
7.4.2.1
IritanIritan adalah bahan kimia non-korosif yang memiliki efek peradangan (pembengkakan dan kemerahan) yang dapat dibalik pada jaringan hidup karena tindakan kimia di tempat yang mengalami kontak. Beri perhatian khusus pada LCSS, MSDS, dan sumber informasi lainnya tentang bahan kimia iritan. Berbagai bahan kimia organik dan anorganik bersifat iritan, seperti silil halida dan hidrogen
selenida. Lakukan beberapa langkah untuk meminimalkan kontak kulit dan mata dengan semua bahan kimia reagen di dalam laboratorium.
7.4.2.2
Zat KorosifZat korosif adalah zat padat, cair, atau gas yang menghancurkan jaringan hidup dengan tindakan kimia di tempat yang mengalami kontak. Efek korosif tidak hanya terjadi di kulit dan mata, tetapi juga di saluran pernapasan dan, bila termakan, di dalam saluran cerna. Zat korosif umum yang ditemukan di banyak lab antara lain
amonia;
•
hidrogen peroksida;bromina;
•
metal hidroksida;kalsium oksida;
•
asam nitrat;klorin;
•
nitrogen dioksida;kloramina;
•
fenol;asam hidroklorat;
•
fosfor; dan asam hidrol orat;•
fosfor pentoksida.Saat merencanakan eksperimen yang melibatkan zat korosif, kaji praktik penanganan dasar untuk memastikan bahwa kulit, wajah, dan mata cukup terlindung. Pilih sarung tangan tahan-korosi serta pakaian dan penutup mata pelindung yang tepat, termasuk, dalam beberapa kasus, pelindung wajah.
7.4.2.3
Alergen dan PemekaAlergi bahan kimia adalah reaksi balik sistem kekebalan terhadap bahan kimia. Reaksi alergi semacam itu disebabkan oleh sensitisasi sebelumnya terhadap bahan kimia tersebut atau bahan kimia yang mirip secara struktural. Beberapa reaksi alergi muncul secara langsung, terjadi dalam beberapa menit setelah pemaparan. Syok anai laktik
Untuk menangani bahan korosif seperti asam nitrat diperlukan pakaian pelindung, termasuk sarung tangan tahan korosi. Asam nitrat juga bersifat oksidan.
82
7
Menilai Bahaya dan Risiko di Laboratoriumadalah reaksi alergi langsung yang parah dan menyebabkan kematian jika tidak ditangani degan cepat. Reaksi alergi tunda memerlukan waktu beberapa jam atau bahkan beberapa hari untuk berkembang. Kulit adalah tempat yang biasa mengalami reaksi tunda semacam itu, memerah, bengkak, dan gatal bahkan setelah bahan kimia dihilangkan.
Kepekaan yang ditunjukkan setiap orang terhadap bahan kimia laboratorium sangat beragam. Saat bekerja dengan alergen yang dikenal, ikuti kebijakan
laboratorium tentang penanganan dan pengendaliannya.
Karena reaksi alergi dipicu oleh alergen dalam jumlah sangat kecil di tubuh individu yang peka, pegawai laboratorium harus mewaspadai tanda respons alergi terhadap bahan kimia.
7.4.3 Asi ksian
Asi ksian adalah zat yang mengganggu pengiriman pasokan oksigen yang memadai ke organ tubuh yang vital. Otak adalah organ yang paling mudah
terpengaruh oleh kekurangan oksigen, dan pemaparan terhadap asi ksian
menyebabkan pingsan dan kematian dengan cepat. Gas asetilen, karbon dioksida, argon, helium, etana, nitrogen, metana, dan butana adalah asi ksian yang umum. Bahan kimia tertentu lainnya memiliki kemampuan untuk mengikat hemoglobin, sehingga mengurangi kapasitas darah untuk mengangkut oksigen. Karbon monoksida, hidrogen sianida, serta sianida organik dan anorganik adalah contoh zat semacam itu.
7.4.4 Neurotoksin
Neurotoksin memiliki efek merugikan pada struktur atau fungsi sistem saraf pusat atau periferal, yang dapat bersifat permanen atau sementara. Deteksi efek neurotoksik mungkin memerlukan teknik laboratorium khusus, tetapi sering kali efeknya terlihat dalam perilaku, seperti bicara tidak jelas dan berjalan sempoyongan. Banyak neurotoksin adalah zat beracun kronis dengan efek merugikan yang tidak langsung tampak. Beberapa neurotoksin kimia antara lain merkuri (anorganik dan organik), pestisida organofosfat, karbon disuli da, xilena, trikloroetilena, dan n-heksana.
7.4.5 Toksin Reproduktif dan Pengembangan
Toksin reproduktif adalah zat yang menyebabkan kerusakan kromosom (mutagen) dan zat dengan efek letal atau teratogenik (perubahan bentuk) pada janin. Zat ini menimbulkan masalah dalam berbagai aspek reproduksi, termasuk kesuburan, kehamilan, produksi ASI, dan kinerja reproduksi umum lainnya serta dapat
mempengaruhi baik pria maupun wanita. Toksin reproduktif pria dalam beberapa kasus menyebabkan kemandulan. Banyak racun reproduktif merupakan racun kronis yang menyebabkan kerusakan setelah pemaparan berulang atau jangka panjang, dengan efek yang menjadi jelas hanya setelah masa laten yang lama.
Menilai Bahaya dan Risiko di Laboratorium
7
Toksin pengembangan beraksi selama kehamilan dan menyebabkan efek merugikan pada fetus. Saat wanita terpapar bahan kimia, umumnya janin juga terpapar karena plasenta merupakan penghalang bahan kimia yang sangat buruk. Racun
pengembangan memiliki dampak terbesar selama trimester pertama kehamilan. Karena sering kali wanita tidak mengetahui kehamilannya selama periode yang sangat rentan ini, wanita yang berpotensi mengandung disarankan untuk sangat berhati-hati saat bekerja dengan bahan kimia, terutama yang cepat diserap melalui kulit (msl., formamida). Ibu hamil dan wanita yang berkeinginan untuk hamil harus meminta saran dari sumber ahli sebelum bekerja dengan zat yang diduga merupakan racun
reproduktif. Sebagai tindakan pencegahan minimal, orang harus mengikuti prosedur umum yang diuraikan pada Bab 9, bagian 4, meski dalam beberapa kasus akan lebih tepat untuk menangani senyawa itu sebagai zat sangat berbahaya.
Informasi tentang racun reproduktif dapat diperoleh dari LCSS, MSDS, dan ICSC serta dengan berkonsultasi pada profesional keselamatan di departemen keselamatan lingkungan, kantor kesehatan industri, atau departemen kesehatan.
7.4.6 Racun yang Mempengaruhi Organ Lainnya
Zat beracun juga mempengaruhi organ selain sistem reproduksi dan saraf. Sebagian besar hidrokarbon berklor, benzena, hidrokarbon aromatik lainnya, beberapa logam, karbon monoksida, dan sianida, di antara zat lainnya, menghasilkan satu atau lebih efek pada organ target. Banyak LCSS menyebutkan efek racun pada organ seperti hati, ginjal, paru-paru, atau darah.
7.4.7 Karsinogen
Karsinogen adalah zat yang mampu menyebabkan kanker. Karsinogen merupakan zat beracun kronis; yaitu, zat yang menyebabkan kerusakan setelah pemaparan berulang atau dalam jangka panjang, dan pengaruhnya mungkin terlihat nyata setelah masa laten yang panjang. Karsinogen merupakan racun yang sangat berbahaya karena tidak memiliki efek berbahaya yang langsung tampak.
Berbagai zat yang ditemui dalam penelitian, terutama di laboratorium yang terlibat dengan pembuatan senyawa baru, belum diuji karsinogenisitasnya. Tangani bahan kimia yang dikenal sebagai karsinogen sebagai zat yang sangat berbahaya dengan menggunakan praktik dasar di Bab 9, Bagian 3 dan 4. Konsultasi dengan CSSO mungkin diperlukan untuk memutuskan apakah bahan kimia perlu digolongkan sebagai zat yang sangat berbahaya. Daftar karsinogen dan senyawa manusia yang dikenal dapat dilihat di situs web Agen Penelitian Kanker Internasional World Health Organization, www.iarc.fr.
Karena wanita sering kali tidak tahu bahwa dia hamil selama trimester kehamilan pertama, yang merupakan periode yang sangat peka, wanita yang berpotensi hamil disarankan untuk benar-benar berhati-hati saat bekerja dengan bahan kimia, terutama bahan yang sangat cepat diserap melalui kulit.
84
7
Menilai Bahaya dan Risiko di LaboratoriumUntuk zat kimia yang tidak memiliki data karsinogenisitas, pegawai laboratorium terlatih harus mengevaluasi potensi risiko bahwa bahan kimia yang dimaksud merupakan zat karsinogenik. Penentuan ini terkadang dibuat atas dasar pengetahuan kelas senyawa dan jenis kelompok fungsi tertentu yang terkait dengan kegiatan karsinogenik.
Apakah bahan kimia yang diduga sebagai karsinogen perlu ditangani sebagai bahan berbahaya khusus atau tidak dipengaruhi oleh skala dan keadaan yang terkait dengan eksperimen yang dimaksudkan. Pegawai laboratorium harus
menentukan apakah jumlah dan frekuensi penggunaan, juga keadaan lainnya,
memerlukan tindakan pencegahan tambahan selain praktik bijak dasar Bab 9, Bagian 3. Misalnya, penggunaan bahan yang diduga karsinogen dalam skala besar atau secara berulang mungkin menunjukkan bahwa tindakan pencegahan khusus pada Bab 9, Bagian 4, diikuti untuk mengendalikan pemaparan. Dalam kasus lain, mengikuti prosedur dasar pada Bab 9, Bagian 3, akan memberikan perlindungan memadai dari satu kali penggunaan zat itu dalam jumlah kecil.
Saat mengevaluasi potensi karsinogenik bahan kimia, perhatikan bahwa pemaparan terhadap kombinasi senyawa tertentu (tidak harus bersamaan)
menyebabkan kanker bahkan pada tingkat pemaparan di mana masing-masing senyawa itu tidak bersifat karsinogenik. Pahami bahwa respons organisme terhadap racun biasanya meningkat dengan dosis yang diberikan, tetapi hubungannya tidak selalu linear. Pada dosis rendah, sistem perlindungan alami mencegah kerusakan genetik, tetapi saat kapasitas sistem ini berlebih, organisme menjadi jauh lebih sensitif terhadap racun. Tetapi, orang memiliki perbedaan dalam tingkat perlindungannya terhadap kerusakan genetik dan sistem pertahanan lainnya. Perbedaan ini sebagian ditentukan oleh faktor genetik, dan sebagian oleh pemaparan total individu terhadap seluruh bahan kimia di dalam dan di luar laboratorium.