• Tidak ada hasil yang ditemukan

M£/VINGGAL.NYA RAJA BUN\J

8. MENINGGALNY A RAJA BUNU

Raja Bunu sudah lama menderita sakit. Penyakitnya makin lama makin parah. Ia terbaring saja di tikar dan tak mampu duduk lagi. Seleranya makan pun sudah tiada.

Demikianlah kedua orang saudaranya, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang beserta orang-orang tua lainnya datang menjenguk dan sejak ia jatuh sakit h'!lldai-taulan dan kaum kerabat secara ber­ gantian siang dan malam menunggu si sakit.

Akhirnya Raja Sangen dan Raja Sangiang mengusulkan, "Lebih baik Mangku Amat dan Nyai Jaya kita undang ke mari mengobatiriya! Karena rupanya dia balang tau lunuk batipas tantangah, baringin tau bagetu sangkabilaa." (ajalnya akan sampai dan tak terelakkan lagi).

Demikianlah mereka mengutus anak Raja Bunu yang ber­ nama Raja Paninting Tarung berangkat ke Batu Nindan Tarung di tepi Telaga Mantuk.

Setiba Raja Paninting Tarung di sana, dilihatnya rumah Mangku Amat dan Nyai Jaya sedang kosong. Lalu pulanglah Raja Paninting memberitahukan bahwa ia tidak berhasil menjumpai Mangku Amat dan Nyai Jaya Sangen karena mereka sedang keluar, tidak ada di rumah.

"Coba datangi sekali lagi, mungkin mereka sedang istirahat," perintah Raja Sangen.

Sekali lagi Raja Paninting Tarung berangkat ke sana meng­ ingat keadaan ayahnya yang sedang gawat. Rasa letih karena jauh beJjalan tak dihiraukannya. Akhirnya ia pun tiba di sana dan ter­ nyata rumah yang dituju masih juga tertutup. Didekatinya rumah itu dan digedornya, tak ada juga suara yang menyahut dari dalam. Diketoknya lagi, dan barulah Nyai Jaya terbangun. Rupanya tidur­ nya pulas sekali sukar membangunkannya. Maklumlah karena Nyai J aya tidur pulas sekali dan tiba-tiba terbangun oleh bunyi ketokan di luar, wajarlah kalau ia memerlukan waktu dan tidak langsung bangkit melihat siapakah yang ada di muka rumahnya itu.

Sementara itu Raja Paninting Tarung sudah tak sabar lagi menanti, karena tak ada tanda-tanda bahwa dalam rumah itu ada orangnya, sehingga ketika itu juga ia langsung pulang dengan perasaan kecewa.

Kata Nyai J aya,

"Siapakah yang mengetok rumahku?".

Karena tidak ada jawaban dari luar ia membuka peti pakaian­ nya mengambil "Garu Batu Kinaw". Melihat kejadian itu, ia ber­ kata, "Wah, katanya, rupanya yang ke sini tadi ialah Raja Panin­ ting Tarung. Kenapa dia cepat-cepat pulang?".

Demikian Raja Paninting Tarung pulang memberi tahukan bahwa rumah Mangku Amat dan Nyai Jaya tetap tertutup.

"Saya gedor berkali-kali di pintu depan, tetapi tak ada juga yang menyahut dari dalam," sambungnya.

Keadaan Raja B\lnU sudah semakin gawat. Nafasnya sudah terputus-putus. Denyut jan tung sudah mengendor sama sekali.

Berkatalah Raja Sangiang dan Raja Sangen,

"Ayo pergi, temui lagi dan biar ditunggu sampai bertemu. Ayo, lari cepat dan bawa mereka segera ke mari. Ayahmu kini hampir menemui ajalnya!".

Begitulah selanjutnya Raja Paninting Tarung berlari lagi menuju Danau Matuk, ke rumah Nyai Jaya Sangen. Dasar Nasib­ nya memang sial, ketika itu Mangku Amat dan Nyai Jaya sedang pergi berjalan keliling telaga melihat keadaan tumbuh-tumbuhan, obat-obatan dan pohon pekasih.l�

Maka ketika Raja Paninting Tarung tiba, rumah itu tetap sepi dan tertutup. Digedornya, namun tak ada yang menyahut. Akhir­ nya dibongkarnya pintu, lalu masuk, tetapi ternyata tak ada peng­ huninya.

Dengan perasaan kecewa, marah dan pu tus asa ia pun pulang­ lah. Dalam pad� itu sebagai bukti bahwa ia telah melakukan tugas­ nya, dibawanyalah palang pintu, baji genderang serta simpainya dari rumah itu.

"Mana mereka?", tanya Raja Sangiang. "Mereka tak ada di rumah!" sahut Paninting.

"Barangkali engkau bohong, engkau tak sampai di sana!" sambung Raja Sangiang.

"Saya telah sampai di sana. Buktinya saya telah membawa dari sana palang pintu, baji genderang dan simpainya. Saya tidak berbohong!". Paninting menjelaskan.

Mangku Amat dan Nyai Jaya merasa seolah-olah ada sesuatu yang tidak beres akan terjadi. Karena itu mereka berdua bergegas pulan�. Dan memang, apa yang tadinya seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu, kini menjadi kenyataan. Mereka melihat, rumahnya terbuka, pintunya rusak. Genderang (ketambung) yang 42

selalu dipakainya dalam acara pengobatan, kini telah dirusak, pecah. Baji dan simpainya hilang.

Diambilnya Garu Batu Kinaw, melihat apakah yang telah tetjadi di situ. Dalam batu itu terlihat segala kejadian. Mereka tahu bahwa kejadian itu adalah oleh Raja Parinting Tarung.

"Wah, jika ia menunggu, biar pun bapanya telah meninggal, kita masih bisa balian. 2>· menghidupkan ayahnya. Tetapi kini alat kita semua.telah dirusaknya," sesal Nyai Jaya.

"Tetapi biarlah, karena ayahnya hampir meninggal. Biarlah palang pintu itu telah menjelma menjadi peti jenazah ayahnya, biarlah baji genderang itu menjelma menjadi burung yang mem­ bersihkan tetesan mayatnya dan biarlal1 simpai tadi menjelma menjadi raja lipan sebagai perisai baginya dalam mengatasi halang­ an-halangan menuju lewo-tataw3). ! demikian gerutu Nyai Jaya sambil mengganti palang pintu dan memperbaiki baji dan simpai katambungnya.

Raja Bunu telah meninggal. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mencari Mangku Amat dan Nyai Jaya kini semua telah kasip. Seluruh warga menjadi gempar, berkumpul semua.

Rupanya telah ditakdirkan bahwa Raja Bunu harus meng­ alami kematian.

Arti Istilah

1)

Pohon pekasih :

Sejenis tumbuhan yang tumbuh di Telaga Matik.

Siapa yang memiliki pohon ini ia selalu disenangi dan dicintai orang lain. Ia tidak akan ��rmusuh dengan siapapun.

2) Balian :

Upacara penyembuhan seorang sakit menurut adat Kaharingan.

3). Lewo- tataw : Sorga - khayangan.