Tujuan-4 Peningkatan Kapasitas SDM dan Penataan Kelembagaan
Sasaran 4.2 Meningkatkan pengawasan dan akuntabilitas kinerja aparatur BPS
95.46 -- IKU IKU
Tujuan-4 Peningkatan Kapasitas SDM dan Penataan Kelembagaan
Sasaran 4.1 Memperbaiki sumber daya manusia
Kemampuan teknis dan manajerial sangat mendukung kelancaran tugas, sehingga beberapa indikator untuk mengukur peningkatan kapasitas SDM dipilih untuk menunjukkan tingkat pencapaian memperbaiki SDM.
Pengembangan SDM dalam jajaran BPS, dimaksudkan untuk mewujudkan SDM yang berkualitas. Di samping menggunakan berbagai forum resmi para pegawai juga diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi dalam berbagai keterampilan
Tabel berikut ini menyajikan tingkat capaian sasaran berdasarkan indikator kinerjanya:
Indikator Kinerja Target
2014 Realisasi 2014 Tingkat Capaian % Keterangan 2014 2014
4.1.a Persentase pegawai berpendidikan minimal Diploma IV atau Strata 1 4.1.b Jumlah pegawai yang memangku jabatan fungsional tertentu
4.1.c Persentase Pegawai yang sudah pernah mengikuti diklat prajabatan
4.1.d Persentase pejabat yang sudah pernah mengikuti diklat kepemimpinan sesuai eselon
35.48 1 100.00 100.00 32.26 1 96.77 66.67 90.91 100.00 96.77 66.67 -- 100.00 100.00 100.00 IKU IKU -- --
http://jayapurakab.bps.go.id
Penilaian terhadap lembaga BPS oleh instansi pemerintah yang mempunyai wewenang pengawasan, menjadi perhatian pimpinan dan seluruh pegawai BPS. Pencapaian yang belum memuaskan menjadi pemicu untuk lebih sungguh-sungguh mencapai target yang diharapkan.
Permasalahan/Kendala yang dihadapi
1) BPS yang merupakan instansi vertikal hingga wilayah kabupaten/kota sehingga BPS terdiri dari beberapa satker, kesalahan pada satu satker akan berdampak kepada BPS keseluruhan.
2) Sistem pelaporan yang hirarki dari satker BPS kabupaten/kota ke satker provinsi hingga satker Kantor Pusat BPS memerlukan waktu. Disisi lain tenggat waktu harus dipenuhi sehingga satker di tingkat lebih tinggi kekurangan waktu untuk mengevaluasi laporan.
Strategi mengatasi masalah/kendala
1) Untuk mengatasi sempitnya tenggat waktu dan banyaknya satker yang laporannya harus dikompilasi maka diusahan kertas kerja pembantu yang memuat berbagai informasi yang harus dimasukkan kedalam laporan. Hingga memudahkan operator dan mempersingkat waktu pengisian.
2) Membangun sistem pelaporan yang berbasis program online, dengan sistem ini memudahkan monitoring satker mana saja yang terlambat, sehingga dapat segera dibantu untuk segera menyelesaikan laporan.
Tabel berikut ini menyajikan tingkat capaian sasaran berdasarkan indikator kinerjanya:
Indikator Kinerja Target
2014 Realisasi 2014 Tingkat Capaian % Keterangan 2014 2013 4.2.1 Menyusun Renstra, RKT, Lakip, dan PK 100.00 93.94 93.94 100.00 --
Penyediaan data dan informasi statistik yang berkualitas sebagai tujuan utama BPS dalam Rencana Strategis Tahun 2010-2014, pada periode tahun 2014 ditandai dengan baiknya pencapaian sasaran-sasaran yang mendukungnya. Data yang lengkap, akurat dan tepat waktu dapat terpenuhi. Pada Tujuan-1, terlihat seluruh indikator kinerjanya telah memiliki tingkat pencapaian diatas 80,00 persen. Adapun dimensi kualitas lainnya
http://jayapurakab.bps.go.id
dijabarkan dalam Tujuan-2, yaitu Meningkatkan Pelayanan Prima, sasaran-sasaran strategis yang ditargetkan secara umum dapat dikatakan baik, hanya satu indikator yaitu Jumlah pengunjung eksternal yang mengakses data dan informasi statistik melalui website BPS Kabupaten/Kota yang masih memiliki tingkat pencapaian rendah, yaitu 43,33 persen. Sedangkan Tujuan-3, dan Tujuan-4 merupakan pendukung untuk mencapai visi BPS sebagi Pelopor data statistik terpercaya untuk semua. Untuk mencapai kinerja yang handal jelas dibutuhkan peralatan yang mendukung serta kapasitas SDM yang mampu secara teknis dan manajerial. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan diusahakan dapat dipenuhi pada periode tahun 2014 ini, sehingga selanjutnya upaya dalam pencapaian visi BPS pada akhir periode dapat diwujudkan sesuai dengan harapan.
Sajian rinci tentang target dan realisasi pengukuran kinerja dapat dilihat pada Lampiran 5 (PKS).
3.2 Evaluasi Kegiatan Tahun 2014 Sub Bagian Tata Usaha
BPS Kabupaten diwajibkan menyusun Renstra wilayah masing-masing dengan berpedoman kepada Renstra yang telah diterbitkan BPS RI. Renstra BPS daerah harus memperhatikan kebutuhan lingkungan setempat, hal ini dimaksudkan untuk mendukung pembangunan daerah.
Dalam rangka usaha mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan dari BPS, maka seluruh satuan kerja BPS secara bersama-sama harus memperbaiki administrasi Barang Milik Negara (BMN) dan mengelola Sistem Informasi Manajemen dan Akutansi Keuangan BMN atau SIMAK BMN secara profesional. Langkah awal yang mudah dan dapat segera dilakukan antara lain membenahi inventaris barang di setiap ruangan, serta segera menatausahakan pengadaan BMN. Disamping itu buku-buku publikasi yang berada diperpustakaan baik di kantor pusat maupun daerah yang merupakan aset BPS mulai dikelola dengan baik sebagai BMN.
Seksi Statistik Sosial
Untuk kebutuhan sensus dan survei, wilayah administrasi terkecil desa/kelurahan dibagi habis menjadi blok sensus yang merupakan wilayah tugas petugas pengumpul data. Peta Blok Sensus yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan pada saat pembentukan Blok
http://jayapurakab.bps.go.id
Sensus harus diperbaiki karena akan dipakai dan selalu dimutakhirkan terus menerus untuk survei dan sensus lainnya.
Data hasil Potensi Desa, Susenas, Sakernas, Survei Upah dan survei lainnyadigunakan oleh pemerintah dan lembaga lainnya untuk perencanaan, monitoring dan evaluasi program dan kegiatan yang dilaksanakan. Data yang dihasilkan dari kegiatan bidang statistik sosial antara lain jumlah penduduk miskin, pengangguran, angkatan kerja, upah minimum daerah dan sebagainya.
Seksi Statistik Produksi
Data utama yang dihasilkan dari kegiatan bidang statistik produksi antara lain produksi padi dan palawija, produksi tanaman holtikultura, indeks produksi industri besar dan sedang, produksi ikan dari tempat pelelangan ikan, dan sebagainya.
Beberapa data statistik pertanian sangat tergantung kepada instansi/ kementerian terkait sehingga komunikasi menjadi faktor penting. Untuk itu perlu dijalin hubungan yang intensif dan kondusif dengan instansi/dinas terkait di provinsi dan kabupaten/kota.
Seksi Statistik Distribusi
Produk utama kegiatan bidang statistik distribusi antara lain harga pedesaan untuk menghitung nilai tukar petani, tingkat hunian hotel, keuangan daerah, dan sebagainya.
Keterlambatan pengiriman data, kuesioner atau dokumen masih sering terjadi yang menyulitkan pengolahan data statistik distribusi yang seharusnya tanpa time-lag. Untuk itu perlu pemantauan dan kepedulian terhadap pengumpulan dan pengiriman dokumen tersebut.
Seksi Neraca dan Analisis Statistik
Hasil kegiatan bidang neraca dan analisis lintas sektor antara lain, pertumbuhan ekonomi, PDRB dan sebagainya. Pertumbuhan ekonomi dan PPDRB disajikan setiap tahun. Tahun dasar PDRB akan diubah dari tahun 2000 menjadi 2010. Sedikitnya ada 4 alasan yang mendasari: (i) sudah terjadi perubahan struktur ekonomi dibandingkan dengan struktur ekonomi tahun 2000; (ii) perekonomian 2010 dianggap stabil; (iii) tersedia data hasil SP2010 dan data dasar lainnya; dan (iv) mengikuti standar internasional yang tertuang dalam system of National Account 2008.
http://jayapurakab.bps.go.id
3.3 Akuntabilitas Keuangan Tahun 2014
Realisasi penggunaan anggaran tahun 2014 mencapai 94,60 persen, dengan rincian yaitu: Program Penyediaan dan Pelayanan Informasi Statistik sebesar 98,23 persen, Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis sebesar 92,29 persen. Adapun realisasi penggunaan anggaran selama tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut.
REALISASI PENGGUNAAN ANGGARAN TAHUN 2014
No. Jenis Anggaran/Program/Belanja Pagu 2014 Realisasi s/d
30 Juni 2014
Realisasi s/d 31 Desember 2014
(1) (2) (3) (4) (5)
1 Program Dukungan Manajemen
dan Pelaksanaan Tugas Teknis 2.995.982.000 1.065.025.417 2.814564.337
2 Program Penyediaan dan
Pelayanan Informasi Statistik 566.818.000 49.686.000 555.363.000
TOTAL 3.562.800.000 1.114.711.417 3.369.927.337
Untuk dapat menghasilkan Laporan Keuangan BPS Kabupaten Jayapura yang lengkap, akurat, dan konsisten perlu dilakukan rekonsiliasi data keuangan dan barang menjelang penyampaian Laporan Keuangan BPS Kabupaten Jayapura semesteran dan tahunan, sehingga konsistensi data keuangan dan barang tingkat satker, wilayah, eselon 1 hingga sampai tingkat Kementerian/Lembaga akan memperoleh opini wajar.
http://jayapurakab.bps.go.id
BAB IV PENUTUP
4.1 Tinjauan Umum
Hasil evaluasi atas pelaksanaan fungsi dan tugas Badan Pusat Statistik menyimpulkan bahwa secara umum pencapaian kinerja Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat keberhasilan. Kesimpulan ini tercermin dari Indikator Kinerja Utama sebagai acuan tingkat keberhasilan. Tujuh sasaran strategis yang telah ditetapkan mempunyai tingkat pencapaian indikatornya secara rata rata sebesar 93,82 persen.
Sedangkan yang masih perlu diperbaiki adalah tingkat pencapaian Jumlah pengunjung eksternal yang mengakses data dan informasi statistik melalui website BPS Kabupaten/Kota yang baru 43,33 persen, serta kpersentase pemasukan dokumen/response rate dari kegiatan survei statistik yang baru 80,44 persen. Laporan kegiatan BPS Kabupaten Jayapura harus terintegrasi mulai dari penyusunan rencana, penyusunan anggaran dan monitoring evaluasi pelaksanaan kegiatan oleh unit kerja BPS sehingga dapat menggambarkan akuntabilitas kinerja.
4.2 Permasalahan dan Kendala Utama
Meskipun program kegiatan sudah sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan, namun masih memerlukan beberapa langkah perbaikan guna lebih menyempurnakannya. Secara umum, beberapa penyebab atau kendala yang mengakibatkan tidak tercapainya target sasaran dan tujuan yang ditetapkan, diantaranya adalah kendala yang bersifat non teknis, seperti masalah koordinasi, kerjasama internal maupun eksternal, dan kondisi geografis. Selain itu juga terjadi kendala yang bersifat teknis yang berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, seperti perekrutan petugas mitra yang belum baik, tingkat pendidikan mitra yang belum memenuhi standar yang ditetapkan. Masalah lain yaitu pemahaman yang terbatas tentang manfaat data statistik.
1) Keterbatasan tenaga untuk menangani pekerjaan teknis yang mendukung penyusunan kebijakan pemerintah propinsi/kabupaten/kota termasuk dalam pengembangan metodologi dan melakukan pengawasan pelaksanaan survei;
2) Responsibiltas masyarakat terhadap kegiatan pengumpulan data oleh BPS relatif masih rendah, khususnya dari kalangan dunia usaha.
http://jayapurakab.bps.go.id
3) Jumlah dan sebaran sampel yang masih terkendala oleh keterbatasan dana pemerintah. Dilain pihak kebutuhan dari banyak kalangan pemerhati dan pengguna data BPS semakin menginginkan cakupan sampel meliputi wilayah terkecil (small area statistics).
4) Waktu antara pelaksanaan kegiatan statistik oleh BPS dengan kebutuhan data semakin pendek.
5) Karena keterbatasan anggaran, menyebabkan BPS kurang dapat menyesuaikan kebutuhan sarana dan prasarana untuk mengikuti kecepatan pemekaran wilayah sehingga kebutuhan berbagai kegiatan BPS tidak sepenuhnya tercukupi.
4.3 Saran Tindak Lanjut
Saran yang dapat dilakukan guna peningkatan kinerja Badan Pusat Statistik selanjutnya adalah :
1) Mengoptimalkan sumber daya manusia dengan melakukan peningkatan kemampuan staf diantaranya mengikuti pendidikan formal, melalui tugas belajar dan memberi peluang ijin belajar untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
2) Pemanfaatan sarana teknologi informasi dan komunikasi terkini secara optimal.
3) Untuk meningkatkan pemasukan dokumen diusahakan dengan berbagai pendekatan, misalnya dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, pendekatan kepada asosiasi pengusaha tentang kegiatan, hasil dan pemanfaatan data statistik.
4) Mengembangkan kerjasama dengan pemerintah daerah, juga lembaga lainnya sehingga dimungkinkan penambahan sampel pencacahan untuk mendapatkan statistik yang dapat menggambarkan wilayah terkecil.
5) Perlunya kordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi untuk berbagai kegiatan di BPS. Selain itu juga mengadakan pendekatan dan meningkatkan kerjasama dengan instansi dan lembaga terkait dalam memperoleh data sekunder.