10 http://www.tempo.co/read/news/2012/02/16/199384479/SBY-Ingin-Sangiran-Jadi-Pusat-Kajian-Manusia-Purbadiakses tanggal 2 Maret 2014
commit to user
Upaya mewujudkan konsep pelestarian yang menempatkan warisan budaya pada konteks sosial masyarakat sekarang, termasuk pemanfaatannya, menuntut pentingnya dikembangkan pendekatan partisipatif yang mengarah pada keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan warisan budaya.
Pendekatan partisipatif adalah pendekatan yang lebih bersifat community-oriented, yaitu sebuah pendekatan yang lebih peduli terhadap keberadaan
masyarakat lokal untuk terlibat secara bersama-sama mengelola warisan budaya miliknya. Dalam konteks demikian itu, masyarakat lokal penting diposisikan sebagai salah satu pusat pertimbangan keputusan yang menyangkut persoalan warisan budaya. Sudah saatnya arkeologi meninnggalkan dan membuang konsep atau penekatan yang hanya bersifat site-oriented semata, karena pendekatan semacam ini sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan kondisi dan situasi tata pemerintah masa sekarang.11
Setelah terbentuknya Unit Peleksana Teknis BPSMP Sangiran, Museum Sangiran tidak hanya melakukan sosialisai terhadap masyarakat tetapi juga mengadakan pendekatan dengan cara pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini mempunyai keuntungan kedua belah pihak, antara pihak pengelolan warisan budaya dengan pihak masyarakat di sekitar situs. Pihak pengelola, yakni pemerintah (pusat) dan pemerintah daerah dalam upaya pelestarian akan memperoleh dukungan dari masyarakat setempat, karena mereka membutuhkan peran dari warisan tersebut. Sebaliknya masyarakat juga akan memperoleh
11Tjahyono Prasojo, Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi (Makalah disampaikan dalam rangka Pelatihan Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi Tingkat Dasar di Trowulan,2004) hlm. 4
commit to user
keuntungan, baik moral maupun material, karena warisan budaya dapat meningkatkan taraf perekonomian dalam kehidupan.
Konsep pemberdayaan12 diartikan sebagai upaya untuk memampukan masyarakat (di sekitar Situs Sangiran) dalam mengelola warisan budaya, dengan cara mendorong, memotivasi sekaligus membangkitkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimilikinya serta berupaya mengembangkannya untuk memperoleh kemandirian dalam meningkatkan taraf hidup. Beberapa program pemberdayaan masyarakat lokal dalam upaya pemanfaatan dena pengembangan Situs Sangiran yang dapat dikembangkan antara lain dapat dilihat pada tabel 14.13
Tabel 13. Program Pemberdayaan Masyarakat Di Wilayah Cagar Budaya Situs Sangiran
Bidang Sasaran Program Kegiatan
A. Hukum 1. Masyarakat di wilayah Sosialisasi peningkatan kesadaran
12Pemberdayaan (empowerment) adalah konsep yang lahir sebagai bagain dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat, khususnya Eropa. Pemikiran ini muncul bersamaan dengan tumbuhnya aliran pemikiran pasca modernisme yang mengalami perkembangan pada dekade 80-an dengan penekanan paa sikap dan pendapat yang orientasinnya cenderung mengarah ke antisistem, antistruktur dan antideterminisme yang diaplikasikan pada dunia kekuasaan. Mengenai proses munculnya dan berkembangnya konsep pemberdayaan lihat Pranaka A.M.W. dan Vidyandika Moelyarto, “Pemberdayaan (empowerment) dalam Onny S. Priyono dan A.M.W. Pranaka, Pemberdayaan, Konsep, Kebijakan dan Implementasi, (Jakarta: Centre for Straregic and International Studies, 1996), hlm. 4
13Truman Simanjuntak dan Budiman., op.cit., hlm. 130-131
commit to user
Cagar Budaya Situs Sangiran
terhadap hukum, undang-undang Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 sebagai pengganti Undang-undang No. 5 tahun 2992 tentang Benda Cagar Budaya.
B. Sosial Budaya 1. Masyarakat di wilayah Cagar Budaya Situs Sangiran
1. Pelatihan untuk mendukung pengembangan kepariwisataan.
2. Sosialisasi peningkatan kesadaran terhadap nilai penntinng Warisan Budaya Situs Sangiran
3. Pembentukan organisasi atau kelompok Peduli Pariwisata dan Pelestarian Warisan Budaya Sangiran.
2. Kelompok Kesenian 1. Pembentukan dan pemantapan kelompok kesenian.
2. Revitalisasi kesenian lokal sebagai pendukung atraksi kepariwisataan di lingkungan Cagar Budaya Sangiran.
3. Pelatihan peningkatan kemampuan dalam pementasan penyelenggaraan 2. Pendampingan atau pendukung dalam
pelayanan wisata baik menyangkut masalah ketrampilan, maupun ketrampilan, maupun proses produksi rancangan penciptaan bentuk-bentuk karya baru, sekaligus bantuan pemasarannya.
2. Pembentukan organisasi usaha koperasi di lingkungan pengrajin.
2. Kelompok Usaha
Peternakan dan Perikanan
1. Pendampingan atau pendukungan dalam usaha peternakan dan perikanan baik menyangkut masalah permodalan, maupun ketrampilan.
2. Pembentukan organisasi usaha koperasi di lingkungan peternakan dan perikanan.
3. Kelompok Usaha Pertanian
1. Pendukungan usaha pertanian rakyat, baik berkaitan dengan pemilihan bibit padi unggul yang sesuai dengan lahan tanah Sangiran, maupun permodalan dan pengenalan teknologi tepat guna serta bantuan pemasaran padi hasil peningkatan produktifitas rakyat.
2. Pembentukan paguyuban petani dan usaha koperasi.
commit to user 2. Pendampingan atau pendukung dalam
pelayanan wisata baik menyangkut masalah ketrampilan, manajeman, maupun permodalan serta bantuan mencarikan pelanggan.
3. Pelatihan strategi pelayanan dan peningkatan.
Proses pemberdayaan masyarakat Sangiran pada hakekatnya adalah upaya untuk melestarikan Situs Sangiran itu sendiri. Dalam proses pemberdayaan tersebut diperlukan perantara (mediator) sebagai motivator, fasilitator sekaligus dinamisator. Dalam konteks demikian, pemerintah tidaklah dominan. Pemerintah hanya dituntut menyediakan iklim yang kondusif bagi pemberdayaan masyarakat melalui kebijakan-kebijakan yang memberikan peluang seluas-luasnya bagi keterlibatan masyarakat terhadap pengelolaan Situs Sangiran. Dengan asumsi tersebut, peran pemerintah daerah dan LSM dapat turut serta berpartisipasi.
Dengan demikian upaya pemberdayaan masyarakat di wilayah Cagar Budaya Sangiran, masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang pasif yang tidak berdaya, tetapi juga terlibat langsung dalam perumusan, persiapan maupun pelaksanaan program aksi pemberdayaan dengan tetap memperhatikan konsep-konsep pelestarian sebagaimana telah diatur oleh Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kawasan Museum Sangiran, pernyataan tersebut sama dengan yang dituturkan oleh Widodo selaku Kepala Desa Krikilan, yaitu:
Terjadi perubahan pengelolaan Museum Sangiran juga mempengaruhi masyarakat sekitar, dengan adanya pemberdayaan masyarakat yang merupakan salah satu program dari Museum Sangiran yang disosialisasikan di kawasan museum yang dilakukan oleh Museum Sangiran dengan bekerjasama dengan pemerintah, salah satunya Pemerintah Kelurahan. Pemberdayaan masyarakat mempunyai dampak
commit to user
positif bagi masyarakat, yaitu yang dulunya masyarakat bermatapencaharian sebagai petani kemudian mempunyai pekerjaan sambilan yaitu menjual souvenir, perajin cinderamata batuan, perajin anyaman dari bambu, perajin meubelair, perajin batok kelapa dan ada juga yang membuka warung atau di sekitar Museum. Dengan adanya kerja sambilan masyarakat bisa mendapatkan uang tambahan.14
Keberadaan Museum Situs Sangiran yang berada di permukiman penduduk dengan sosio kulturalnya, harus bisa menjalin suatu kerjasama yang bersifat pemberdayaan masyarakat. Secara teori setiap individu dapat berubah akibat stimulasi lingkungannya. Perubahan perilaku manusia antara lain dipengaruhi oleh: 1). Perilaku disebabkan faktor dari dalam (demerministik); 2).
Perilaku disebabkan oleh faktor lingkungan dan proses belajar; 3). Perilaku disebabkan oleh interaksi manusia dan lingkungan.15 Dengan demikian museum situs Sangiran memiliki peluang menjadi pelopor dalam mengubah perilaku masyarakat situs Sangiran menjadi positif dan kreatif. Pemberdayaan yang telah disosialisasikan telah dirasakan oleh masyarakat sekitar Museum Sangiran:
“Setelah adanya pemberdayaan masyarakat, yang dulunya saya adalah seorang petani sekarang saya juga mempunyai pekerjaan sambilan yaitu membuka warung souvenir di dalam Museum Sangiran. Pendapatan dari menjual souvenir terbanyak saya dapatkan kalau musim liburan, kalau hari biasa cuman sedikit”.16
Pernyataan tersebut juga dirasakan oleh ibu Wagiyem yang mempunyai warung di dekat Museum Sangiran yang menuturkan bahwa:
14Wawancara dengan Widodo selaku Kepala Desa Krikilan tanggal 11 April 2014
15 Alvin Fadilla Helmi, Beberapa Teori Psikologi Lingkungan. Dalam Buletin Psikologi Tahun VI No. 2 Desember 1999, (Yogyakarta: Fak. Psikolog UGM, 1999), hlm. 7
16 Wawancara dengan Siti pada tanggal 10 April 2014
commit to user
“selain bekerja di ladang mengurusi sawah saya juga mempunyai pekerjaan sambilan yaitu membuka warung makan meskipun tidak begitu besar, tapi bisa memberi uang tambahan”.17
Seiring dengan disusunnya rancangan perundangan tentang museum tidak hanya sebagai wadah tetapi menjadi sebuah kawasan. Dengan demikian peran museum tidak hanya sebatas di dalam lingkup bangunannya, akan tetapi mencakup segenap potensi pendukung dan penyangga di sekelilingnya (buffering zone of museum).
Museum harus memahami bahwa pada masyarakat terdapat sumber daya manusiawi yang berupa energi, kepemimpinan, organisasi, lembaga, ketrampilan laten, dan persediaan teknologi, baik yang sedang digunakan maupun yang akan dimasukan ke masyarakat sebagai input pihak lain.18
Salah satu peran museum secara umum adalah ikut memberdayakan masyarakat kawasannya secara aktif dalam rangka pemeliharaan dan pemanfaatan Benda Cagar Budaya di museum. Di samping itu Museum Sangiran juga harus mampu menjadi pelopor perubahan (agent of change). Perubahan yang dimaksud adalah dari masyarakat yag terbiasa hidup dengan berjualan fosil menajdi insan yang berkreasi dalam cenderamata. Masyrakat akan diberikan pengetahuan guna mengingkatkan kreativitas desain cenderamata sehingga mampu bersaing menarik, dan informatir bagi pengunjung Museum Sangiran.
Museum Sangiran sebagai institusi yang berwawasan lingkungan atau kawasan dengan bantuan pemerintah dan masyarakat medirikan sebuah asosiasi
17Wawancara dengan Wagiyem pada tanggal 10 April 2014
18 Sartono Kartodirdjo, Masyarakat Pedesaan dalam Pembangunan:
Mengembangkan Teknologi Berwajah Manusiawi, Dalam Majalah Prisma No. 6 Juni 1979 Tahun VIII, (Jakarta: LP3ES, 1979), hlm. 5.
commit to user
perajin. Brunei sebagai contohnya, di Departemen Museumnya mempunyai cabang yang bernama The Art and Handicraft Center, yang memangku tanggung jawab, antara lain:19
a. Mendorong orang atau masyarakat untuk aktif memproduksi kerajinan bercitra Brunei;
b. Memberikan training-traning pada calon perajin(regenerasi);
c. Berusaha mempopulerkan seni dan kerajinan serta strategi pemasarannya.
Dapat disimpulkan bahwa meningkatnya pendapatan masyarakat Kawasan Sangiran dipengaruhi adanya pemberdayaan masyarakat yang di adakan oleh Museum Sangiran dan dipengaruhi juga dengan meningkatnya data kunjungan yang sudah dijelaskan di tabel 13. Meningkatnya data kunjungan otomastis banyak juga wisatawan yang membeli souvenir dan istirahat di warung makan.
2. Instansi (Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen)
Museum Sangiran ditangani oleh dua instansi yaitu Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen. Masalah urusan jual tiket diurusi oleh Pemda, tetapi Museum Sangiran juga mendapatkan bagian dari penjulan tiket tersebut.
Tiket masuk Museum Sangiran adalah 5.000 rupiah. 3.500 rupiah masuk ke Pemda dan 1.500 masuk ke BPSMP Sangiran.20
19Javelosa, Jeannie E, Comparative Museology and Museography in ASEAN (Jakarta: ASEAN-COCI Secretariat, 1997), hlm. 6.
20Wawancara dengan Anjarwati tanggal selaku Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan 24 Februari 2014
commit to user
Meningkatnya pendapatan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat kawasan Sangiran tetapi juga dirasakan oleh instansi yaitu Pemerintah Daerah. Ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pengunjung yang otomatis juga ada peningkatan masalah jual beli tiket. Penjualan tiket meningkat di tahun 2012 dengan total 249.260 tiket ada kenaikan 125.495 tiket dari tahun 2011. Dengan nilai nominal dari Rp. 618.825.000 pada tahun 2011 menjadi 1.246.300.00 pada tahun 2012. Kenaikan nilai nominal tersebut menunjukan nilai positif bagi pemerintah Kabupaten Sragen dan:
kenaikan tersebut telah melebihi target yang sudah telah ditentukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sragen.21
Tabel 14. Besarnya Retribusi Masuk Ke Objek Wisata Museum Sangiran Tahun 2001
Obyek
Jenis Tanda Masuk
Besarnya Retribusi
Keterangan Hari Biasa
(Rp.)
Hari Minggu/
Hari Libur (Rp.)
21Wawancara dengan Anjarwati selaku Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan tanggal 24 Februari 2014
commit to user
Retribusi Obyek Wisata Kabupaten Sragen (Dinas Perhubungan dan Pariwisata Seni Budaya Kabupaten Sragen 2001)
D. Meningkatnya Kesadaran Masyarakat Sangiran terhadap