Pertanyaan pertama dilontarkan dimulai kepada Pasangan Calon nomor urut 2. Ramadhan Pohan: “Terima kasih, yang pertama program unggulan kami adalah pelayanan administrasi kependudukan yang gratis, akte kelahiran, kartu keluarga, KTP, akte nikah, akte kematian yang gratis, dan yang benar-benar gratis, karena selama ini kami menyaksikan.. mohon tenang, ijinkan saya berbicara. Ketika kandidat Anda berbicara saya tidak mengganggu, marilah kita jaga ketertiban ini bersama-sama. Fakta di lapangan kami menemukan kutipan-kutipan itu masih berlangsung, nah, ini yang tidak relevan antara pernyataan yang mengatakan gratis tetapi faktanya itu orang masih membayar, membayar dan membayar dan lama dan mahal sekali, ini yang harus kita selesaikan. Yang kedua adalah mempermudah perijinan investasi, perlu diterangkan, ya, berapa lama sih sebenarnya orang itu untuk mendapatkan ijin investasinya, ya, nah pengalaman menunjukkan kepada kami, pengusaha mengeluhkan tentang kutian-kutipan yang diberlakukan kepada mereka, pungutan-pungutan liar dan dana siluman, ini harus dihentikan. Dan yang ketiga adalah peningkatan sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan kita, ya, banyak gedung sekolah yang rusak, dan kemudian juga kita liat orang masuk sekolah harus membayar, membayar 13 juta, 15 juta, 20 juta dan ini kita biarkan, ini tidak boleh ini, nah, di kami, kami memastikan bahwa tidak akan ada pungutan-pungutan ataupun sekolah-sekolah siluman seperti itu, kalau itu terjadi, pada hari itu juga, ya, walikota akan memberhentikan kepala dinas pendidikan tersebut dan kepala-kepala sekolah yang terlibat, itu harus dan pasti. Dan selanjutnya, adalah, ha, ini yang tak kalah pentingnya, kita menciptakan birokrasi yang kredibel dan kompeten, ya, memberlakukan fit and propertest tanpa uang mahar apapun kepada mereka, sehingga yang terbaiklah yang menduduki tempat-tempat terbaik di Pemko ini, ya, nah, peningkatan SDM melalui bimtek, diklat, serta pendidikan formal sampai jenjang S1 dan S3, itu tetap kita akan lakukan, kita mengacu pada kedisiplinan yang memberlakukan reward and punishment, mereka yang berprestasi kita apreisiasi, mereka yang
tidak menunjukkan prestasi kita bina untuk menjadi berprestasi. Nah, selanjutnya, e.. kita juga punya program unggulan untuk mengatasi banjir dan kemacetan. Banjir dan kemacetan sudah menjadi momok bagi warga medan, ini harus kita selesaikan, berarti harus ada penata ulang, re-desain, terhadap sistem drainase kita, ya, kemudian juga (dipotong oleh moderator: “maaf waktunya habis”) normalisasi sungai-sungai kita. Itulah yang akan kami lakukan, demikian juga heritage, ya, situs-situs sejarah, (waktunya, Pak, waktunya sudah selesai) itu harus kita jaga. Terima kasih.”
Pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada Pasangan Calon nomor urut 1. Akhyar Nasution: “Baik, terima kasih, atas ijin Pak Dzulmi Eldin, jadi andalan prioritas kami, 3 pokok, yaitu infrastuktur, pendidikan, dan kesehatan. Infrastuktur khususnya kita menangani drainase-drainase kita yang sudah ada, namun perlu pembenahan-pembenahan. Kemudian, traffic manajemen, jalan-jalan kita ini perlu kita perbaiki. Kemudian, banyak sebenarnya jembatan-jembatan kita itu peninggalan masa lalu, jalannya sudah lebar, jembatannya masih sempit, sehingga mengalami bottleneck dan itu akan kita perlebar bekerja sama nanti dengan pemerintah provinsi, karena itu di provinsi, jembatan-jembatan itu. Kemudian, pendidikan, sarana pendidikan akan kita tingkatkan, ada satu kecamatan yang selama ini memang belum ada sekolah negeri, SMA, SLTA negeri, maka di Kecamatan Medan Deli dalam 2 tahun kita bangun SLTA negeri. Kemudian, sarana kesehatan, kita ketahui kapasitas rumah sakit Dr. Pirngadi sudah overload, kelebihan beban, maka demi pemerataan kita akan bangun rumah sakit tipe C di Kecamatan Medan Labuhan, ini dalam 2 tahun sarana prasarananya dengan sarana paramedisnya kita beresi dalam tempo 2 tahun. Kemudian, pelayanan publik, memperbaiki sistem pelayanan publik.. yang cepat dan mudah, seperti akte kelahiran, KTP, Kartu Keluarga dan surat keterangan lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian memperbaiki sistem pengelolaan sampah yang modern dan memiliki nilai tambah, jadi sampah itu kita buat memiliki nilai tambah, yaitu kita kelola dia menjadi sumber enerji listrik, kemudian.. yang utama kita akan lakukan e-budgetting, e-procurement,dan e-katalog untuk mewujudkan transparansi pemerintah kota Medan, serta membangun smart city, kota Medan kita harus bangun dengan smart city, kita gunakan budgetting, katalog,
e-procurement dan kita mengarah kepada go-green dengan mengarah kepada paperless.
Pertanyaan 2: “Bagaimana strategi yang Anda berdua akan gunakan di dalam memperkuat birokrasi pemerintahan kota Medan, di dalam rangka mencapai visi misi dan program unggulan atau program prioritas tadi yang sudah Anda sampaikan?”
Pertanyaan kedua dilontarkan dimulai kepada Pasangan Calon nomor urut 1. Dzulmi Eldin: “Baik, terima kasih, pembenahan birokrasi harus kita lakukan dalam rangka suatu perubahan perbaikan kinerja aparatur birokrasi, tentunya melalui penyempurnaan struktur organisasi birokrasi yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat yaitu SKPD4 Kecamatan,Kelurahan, dan tentunya setelah itu kita meningkatkan salary atau insentif kepada pejabat birokrasi setiap levelnya, untuk memberikan ukuran keberhasilan mereka dan kinerjanya, dan setelah itu baru kita menerapkan sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada pejabat pemerintah kota atau yang beri pelayanan Medan.. di Medan ini, yang melanggar peraturan serta Undang-Undang, dan seterusnya kita menempatkan aparatur sesuai dengan kompetensi keahliannya serta mekanisme.. maksimalkan peran inspektorat dalam mengawasi program pembangunan yang dilakukan oleh aparatur, dan ke empat menyelenggarakan shortcourse program bagi pejabat pemerintah kota Medan secara teratur dan berkesinambungan, dan tentunya kita tidak lupa harus e-budgetting dan e-provement dan e-collect untuk kita teruskan dalam rangka meningkatkan program-program pembenahan birokrasi tersebut.”
Akhyar Nasution: “Baik, saya melanjutkan, jadi pembenahan birokrasi itu, pertama kita semangat revolusi mental kita tularkan kepada semua warga kota Medan. Semangat itu, semangat sebagai warga kota Medan harus bekerja keras mengabdi kepada rakyat, ini ada kepada Pak Dzulmi Eldin, pada kami, yang akan ditularkan kepada semua aparatur. Kemudian daripada itu, kami bertekad, Pak Dzulmi Eldin sudah bertekad, dia pada posisi tidak cari duit lagi, ini yang harus… bisa dilanjutkan.. suara.. ini janji, ini tekad, yang ini bisa dicatat oleh seluruh warga kota Medan. Kita akan benahi birokrasi tapi bukan hantam kromo, kita
4
membenahi birokrasi, dengan menempatkan orang pada keahliannya, kita menempatkan birokrat sesuai dengan pendidikannya, kita menempatkan birokrat dengan reward and punishment yang jelas dan baik. Kemudian kita lakukan..” (dipotong oleh moderator: “waktunya habis, Pak”)
Pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada Pasangan Calon nomor urut 2. Eddie Kusuma: “Ada dua hal. Pertama, pelayanan terhadap masyarakat. Saya melihat, Pemda Medan tidak menerapkan Pasal 227 UUD No. 23 Tahun 2014 pelimpahan wewenang kepada Kecamatan sehingga pelayanan itu bisa cepat. Alangkah sedihnya, alangkah sayangnya, masyarakat Jakarta Utara mengurus KTP harus masuk ke Dukcapil tingkat 1, tak tingkat kota, padahal di tingkat Kecamatan punya wewenang untuk itu dan kami bertekad pelayanan seperti plasministrasi ini setiapkelurahan memiliki komputerisasi menyelesaikan masalah cukup di kantor kelurahan masing-masing. Selanjutnya, kami akan menetapkan orang-orang yang tepat melalui fit and propertest, orang yang tepat menduduki tempat yang tepat pula, sehingga birokrasi ini dijalankan oleh orang-orang yang betul, orang-orang yang memang sesuai keahliannya. Selama ini kita melihat, selama ini kita melihat yang duduk di dalam, maaf.. yang duduk di dalam Pemko maupun kecamatan asal gimana nggak ngerti saya yang paling ngerti semua masyarakat, kita tidak akan menarik atau menagih uang mahar tetapi kita melalui lelang jabatan.”
Ramadhan Pohan: “Terima kasih, saya sambungkan dari Pak Eddie, Medan ini tidak membutuhkan superman, medan membutuhkan supertim, supertim itu adalah Medan dengan walikota dan wakil walikota yang qualified, dan Sekda yang qualified, dan juga adalah 2 SKPD 33 yang bermutu, berkualitas, dan 21 camat yang qualified, 151 lurah yang qualified dan 2001 kepala lingkungan yang qualified. Inilah yang akan membentuk merawat Medan. Nah, oleh karena itu kita harus memberikan apresiasi bagi mereka yang berprestasi, termasuk diantaranya kami merencanakan, apresiasi patut diberikan kepadakepala lingkungan terbaik untuk bisa melakukan studi banding ke luar negeri. Demikian juga lurah terbaik dan camat terbaik, tentu dengan penggunaan anggaran yang sesuai dengan tata kelola keuangan yang berlaku.Itu yang harus kita lakukan.”
Pertanyaan ketiga: “Kita tahu, kota Medan terdiri dari berbagai suku bangsa, agama dan kelompok sosial, kelompok politik dan lain-lain yang sangat beragam, pertanyaan kami, bagaimana Anda berdua memanfaatkan keberagaman ini di dalam pembangunan kota Medan ke depan agar semua pihak merasakan manfaatnya?”
Pertanyaan ketiga dilontarkan dimulai kepada Pasangan Calon nomor urut 2. Eddie Kusuma: “Baik terima kasih, bahwa Medan itu masyarakatnya betul-betul prularis, majemuk, mempunyai keanekaragaman adat istiadat, budaya yang berbeda-beda. Perbedaan ini harus kita kemas melalui interaksi sosial, ya, toleransi supaya perbedaan-perbedaan itu bisa dijadikan sebuah kekuatan untuk bersama-sama memajukan Medan ke depan yang lebih baik. Medan yang lebih baik adalah Medan yang cerdas seperti pilihan kami, Medan yang cerdas adalah Medan yang berbalikan daripada yang konvensional, termasuk dalam pelayanan harus dengan kejujuran, harus dengan keadilan.”
Ramadhan Pohan: “Baik, dalam pluralisme, saya sudah perlihatkan tadi di dalam salam saya pada warga Medan, ya, yang dimulai dari Assalamualaikum, Syaloom, dan kemudian Omswastiastu dan kemudian Namobudaya, itu untuk menghargai keperbedaan kita. Keperbedaan itu harus kita hormati dalam bentuk yang sangat konkrit, kita tidak bisa mengatakan hal yang sepele, itu sangat penting, orang merasa terhargai. Selanjutnya adalah, kalaukita lihat, bahwa kami ini sebenarnya sudah mencerminkan pluralisme Indonesia, kami sudah mencerminkan bhinneka tunggal ika, saya seorang batak dan Pak Eddie seorang tionghoa dan saya beragama Islam dan Pak Eddie non-muslim, beliau seorang Buddha, dan kami tetapi bersama di dalam cita-cita membangun Medan, ya, Pak Eddie lahir dan besar di Medan menjadi kepala sekolah, aktif di dunia pendidikan dan di dunia sosial, dan yang dibantu oleh beliau itu adalah semuanya, semua suku dan agama. Nah, kami juga demikian dan istri saya yang cantik juga orang suku jawa, ya, nah jadi udah bener-bener tercermin bhinneka tunggal ika itu. Nah di dalam birokrasi, Bapak Taufan, ya, di dalam birokrasi, kami mendengar ada diskriminasi yang dialami masyarakat Medan Utara, ini tidak boleh lagi terjadi, ada apa dengan Medan Utara sehingga didiskriminasi seperti itu, baik dalam kesempatan pendidikan maupun didalam kesempatan ekonomi, dan juga di
jabatan-jabatan birokrasi, apakah ini ada unsur kesengajaan, ini di era kami ini tidak boleh terjadi, harus kita rubah, perubahan itu nyata.”
Pertanyaan yang sama juga dilontarkan kepada Pasangan Calon nomor urut 1. Akhyar Nasution: “Terima kasih, Bang Topan. Pluralitas. Slogan kami sudah jelas, „Medan Rumah Kita‟, Medan rumah kita itu medan yang multikultural, itu kita pertahankan. Sudah menjadi fakta dan realita, keberagaman kita, kerukunan kita, kedamaian kita, baik dari berbagai suku agama yang ada di kota Medan itu dapat hidup berdampingan, dapat hidup mesra dapat hidup bercengkrama dengan damai, itu adalah salah satu fakta, dan itu akan terus kita pertahankan. Selanjutnya, forum kerukunan umat beragama di kota Medan salah satu pilar keberhasilan kita dalam keberagaman kita, kebhinekaan kita, forum kerukunan umat beragama kota Medan menjadi contoh baik di tingkat nasional maupun di regional. Banyak negara-negara dari tetangga kita dari Malaysia, dari Thailand itu belajar kerukunan itu di kota Medan. Itu suatu fakta, dan itu akan kita pertahankan. Makanya kita bangun slogan kita, medan rumah kita. Kemudian, di dalam pembinaan seni dan budaya, kita nanti memberi kesempatan sebulan sekali kepada semua warga dari setiap suku bangsa yang ada di kota Medan untuk tampil di Lapangan Merdeka, menampilkan keseniannya masing-masing dan Pemko nanti kita akan fasilitasi untuk pagelaran tersebut. Pusat-pusat seni budaya karena memang anak-anak muda kita sekarang butuh itu. Kemudian, memasukkan kurikulum muatan lokal setiap sekolah-sekolah kita, karena Medan punya kekhasan sendiri, Medan itu berbeda dari kota-kota lain di Indonesia. Medan itu punya dialek sendiri, Medan itu punya bahasa yang khas sendiri, yang ini akan kita pertahankan, Medan kita bangun dengan cara Medan sendiri, tidak perlu mengundang walikota lain datang ke Medan. Medan musti dibangun oleh orang Medan sendiri yang tau Medan. Jadi, yang mengetahui Medan itu adalah orang Medan, yang lahir, besar dan bertempat tinggal di medan, karena dia lah yang meresapi, karena dialah yang menyelami bagaimana dinamika pluralisme kita di Medan. Selanjutnya, taman seni budaya itu akan kita hidupkan, kita beri subsidi kepada semua seniman dan budayawan di kota Medan untuk dia bisa tampil (dipotong oleh moderator: “mohon maaf waktunya habis”).
Dalam segmen ini, Pasangan Calon penanya pertama diberi waktu bertanya selama 1 menit, kemudian dijawab oleh Pasangan Calon yang ditanya selama 3 menit, selanjutnya ditanggapi oleh Pasangan Calon penanya selama 2 menit. Pasangan Calon nomor urut 1 dipersilahkan bertanya lebih dulu, durasi 1 menit. Akhyar Nasution: “Terima kasih, dalam beberapa waktu yang lalu, saya banyak.. karena ini beliau teman saya, beliau banyak melontarkan bahwasanya beliau akan sanggup meningkatkan pendapatan transfer dari pemerintah pusat itu duakali lipat. Pertanyaan saya, pertanyaan kami, bagaimana caranya pendapatan transfer pemerintah pusat itu bisa dua kali lipat? Karena sepengetahuan kami, transfer itu sudah ada formulanya yang dibuat dan diperkuat oleh peraturan dan Undang-Undang. Yang kami ingin tanyakan, bagaimana caranya? Karena itu memang sudah diatur melalui Undang-Undang APBN, gitu ya. Beberapa waktu yang lalu banyak pernyataan-pernyataan itu. Saya kira itu perlu diketahui oleh masyarakat kota Medan, bahwasanya transfer pemerintah daerah baik DAU5 dan DAK6 itu sudah ada formulanya. Terima kasih.”
Pasangan Calon nomor urut 2 dipersilahkan untuk menjawab, durasi 3 menit. Ramadhan Pohan: “Banyak cara untuk menaikkan PAD7
kita di Medan tercinta ini, ya, melalui iklim investasi yang kita bukakan, karena selama ini kepercayaan atau trust dari bisnis pengusaha kepada pemerintah kota itu rendah sekali, bahkan ada yang mengeluhkan kutipan-kutipan dan sebagainya, ini nanti tidak akan ada lagi, kebocoran-kebocoran seperti itu harus kita hentikan. Demikian juga, saya membaca koran SIB8 pada hari ini, ya, koran SIB pada hari ini yaitu ada juga pajak reklame tahun 2014 targetnya adalah 60 milyar tapi realisasinya kenapa 0, gitu lho. Ini kan ada kebocoran, nah kebocoran-kebocoran ini yang akan kita tapis. Nah, kemudian di samping itu, bermanfaat dari pengalaman saya 5 tahun di DPR RI, saya kira banyak program dari pusat ataupun anggaran dari pusat bisa kita lobi, karena saya cukup dikenal di DPR pusat, jadi tidak ada masalah, dan itu mudah sekali. Dan yang terakhir, bahwa saya 115 duta besar di seluruh dunia itu, fit and propertest nya itu adalah melalui saya dan tanda tangan saya juga di situ.
5
DAU: Dana Alokasi Umum
6
DAK: Dana Alokasi Khusus
7
PAD: Pendapatan Asli Daerah 8
Jadi kalo saya bilang kepada mereka untuk membantu Medan itu masuk akal sekali, jadi networking internasional kita, kita akan manfaatkan betul, untuk pembangunan di kota Medan ini. PAD kita tidak begitu sulit untuk menaikkannya, saya yakin itu. Kebocoran itu kita hentikan, itu adalah salah satu cara, ya, untuk menaikkan PAD kita.”
Eddie Kusuma: “Kemudian juga seorang walikota harus punya wawasan yang luas, loyal. Seorang walikota harus punya networking yang baek dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hubungan inilah, dikemas dalam suatu perencanaan yang besar sehingga pengajuan RAPBD9 itu menjadi lebih besar sehingga penjelasan komunikasi yang intens komunikasi itu yang akan membangun APBD10 kita menjadi lebih tinggi. Saya kira itu sudah semestinya, kita tidak bisa menunggu bola, kita harus menjemput bola. Medan masih banyak masalah infrastuktur, masih banyak masalah fasiliitas umum yang belum beres yang perlu dibiayai oleh DAU maupun DAK. Medan sangat sedih sekali, pembangunan pendidikan dananya tidak cair gitu lho, gimana mau tingkatkan sedangkan yang ada saja tidak bisa dimanfaatkan dengan sebaek-baek. Padahal gedung sekolah di medan 4.. Medan Helvetia 041042 hancur itu, nggak bisa dipakai, jadilah ini, kalau kasih banyak pun nggak bisa realisasi apa gunanya. Kita akan menggunakan dengan baek semua itu.”
Pasangan Calon nomor urut 1 dipersilahkan menanggapi jawaban Pasangan Calon nomor urut 2, durasi 2 menit.
Dzulmi Eldin: “Baik, terima kasih. Saya tadi dengar yang ditanyakan saudara Akhyar bahwa bagaimana transfer yang dilakukan oleh pemerintah pusat kepada daerah yang dijanjikan bisa dua kali lipat, karena saya sudah mengalami itu, saya pernah jadi walikota, mengalami hal itu mengajukan ke pemerintah pusat malah turun, transfer itu malah berkurang, karena PAD kita meningkat, jadi pemerintah pusat mengurangi jatah DAU kita, karena kita sudah bisa meningkatkan PAD kita lebih baik itu. Jadi ini yang kita haruskan, strategi apa yang kita harapkan, bukan lari kesana kemari, yang penting strategi itu kita sama-sama bisa mengajukan.Ini
9
RAPBD: Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 10
masukan, kalau kita maju jadi walikota nanti, oh ini yang harus kita kerjakan ke depan, masyarakat sudah tahu nantinya, itu ya.”
Sebaliknya, kesempatan yang sama juga diberikan pada Pasangan Calon nomor urut 2 untuk bertanya kepada Pasangan Calon nomor urut 1, durasi 1 menit. Ramadhan Pohan: “Baik, terima kasih. Bapak Eldin, bapak menjadi walikota PLT itu 15 Mei, 26 Juli 2013 sampe 26 Juli 2015. Visi misi bapak yang katakan tadi itu bagus sekali. Kenapa tidak dilaksanakan? Kenapa jalan-jalan masih dibiarkan banyak berlobang? Jalan Sutomo, Jalan Gaharu, Jalan Sunggal, dan sebagainya, banyak sekali. Kenapa juga ee.. misalnya banjir dan sampah liar itu terjadi dan dibiarkan? dan kenapa kasus gedung nasional itu dibiarkan? Dan kemudian juga kita tau pajak pasar induk Bapak Eldin, pedagang-pedagang menangis pada saya, ya, menyampaikan bahwa mereka tidak ingin digusur, tapi diajak lah bicara, begitu lho. Nah, rakyat membutuhkan kepemimpinan, Bang Eldin, yang mau mengayomi mereka, mau berbicara dengan mereka, ya, besuklah mereka, lihatlah mereka, ajaklah mereka bicara mereka, jadi seperti insentif kepada seniman, olahragawan dan sebagainya itupun juga tidak ada.”
Pasangan Calon nomor urut 1 dipersilahkan untuk menjawab, durasi 3 menit. Dzulmi Eldin: “Baik, karena adinda Ramadhan Pohan nanya sama saya, terus bilang sama saya, ee.. yang disampaikan jalan-jalan yang berlobang itu, itu jalan provinsi, dan proyek air limbah yang dilakukan itu memang bukan kewenangan kita. Jadi, ini yang kita harus punya pemahaman bahwa jalan di kota kita ini adalah satu jalan kota, jalan provinsi dan jalan balai.. jalan jembatan. Jadi ini yang tidak bisa kita kordinasikan secara menyeluruh. Kenapa? Karena kewenangan itu masing-masing di pemerintahan provinsi dan pusat. Yang kedua, apa yang kita inginkan tentang bagaimana kita harus bisa menata pedagang yang ada di kota ini. Saya sudah menyampaikan itu bersama DPR, melihat memberikan informasi kepada para pedagang di Jalan Sutomo bahwa fasilitas di Tuntungan itu, Lau Cih itu, sudah ada. Mari kita harapkan para pedagang untuk pindah ke sana, karena itu fasilitas yang sudah diberikan, dan itu bukan kemauan pribadi saya, dinda Ramadhan, itu adalah kemauan dari teguran yang disampaikan oleh DPR kepada pemerintah kota dan begitu juga para aparat pemerintah pemeriksaan bahwa ada gedung bangunan yang sudah dibangun oleh pemerintah tapi tidak dimanfaatkan.
Nah inilah yang kita fasilitasi para pedagang kita, yang lebih banyak pedagang itu ada 1000an lebih dibanding pedagang yang menangis mungkin sama adinda itu yang cuma 200an orang, yang ini yang perlu kita seimbangkan. Nah kalau kita mau menata kota ini, tapi kan kita sudah siapkan fasilitasnya, inilah yang kita harapkan bagaimana kita harus bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. karena kita sadari, bahwa masyarakat juga ingin fasilitas-fasilitas itu, makanya kita permudah, dan fasilitas itu, kalau pedagang yang 200 ini tidak mau pindah ke Lau Cih sana, kita sudah siapkan di Jalan Denai itu ada pasar yang menampung untuk 300 pedagang, tapi memang pedagang maunya di situ juga,