Indikator 17 : Rasio (Indikator MDG) dan Angka Kematian Ibu
R
asio kematian ibu/Maternal Mortality Ratio adalah jumlah kematian ibu per tahun dari penyebab yang berkaitan dengan atau diperburuk oleh kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk sebab-sebab karena kecelakaan atau alasan insidental) yang terjadi selama kehamilan dan persalinan atau dalam 42 hari dari terminasi kehamilan, per 100.000 kelahiran per tahun. Indikator ini mencerminkan kapasitas sistem kesehatan untuk mencegah dan mengatasi komplikasi yang terjadi selama kehamilan dan persalinan secara efektif. Indikator ini juga menyoroti kurangnya asupan gizi reproduksi mereka sehingga menyebabkan kehamilan yang buruk dan berulang. Sementara itu, angka kematian ibu (AKI)/Maternal Mortality Rate adalah jumlah kematian ibu di suatu populasi dibagi dengan jumlah wanita usia reproduksi. AKI menangkap kemungkinan hamil dan meninggal selama kehamilan (termasuk kematian sampai enam minggu setelah melahirkan).Kedua indikator ini dapat digunakan untuk menjawab target 3.1 SDGs, yaitu, pada 2030 mengurangi rasio kematian ibu global menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup.
Ketersediaan data indikator ini diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilaksanakan setiap 5 tahunan. Disagregasi data dapat dilakukan berdasarkan umur, wilayah (perkotaan dan perdesaan), dan tingkat pendapatan.
Data dapat tersaji sampai dengan level provinsi. Khusus rasio kematian ibu, indikator telah digunakan untuk mengukur ketercapaian MDGs. Berdasarkan hasil laporan pencapaian tujuan MDGs tahun 2014, Indonesia belum mampu memenuhi target menurunkan kematian ibu hingga 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Oleh karena itu, indikator ini masih menjadi perhatian khusus.
Dalam SDKI, angka kematian ibu dengan rasio kematian ibu memiliki hubungan linier atau searah karena angka kematian ibu bisa dikonversikan menjadi rasio kematian ibu dan disajikan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian ibu dengan angka fertilitas umum (General Fertility Rate). Berdasarkan Gambar 3.1, jumlah kematian ibu dalam tahap kehamilan dan kelahiran cenderung mengalami penurunan selama tahun 1994-2012. Namun, pada tahun 2012 jumlah kematian menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Walaupun angka kematian ibu terlihat meningkat pada SDKI 2012, diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan hasil dari tren tersebut. Menurut publikasi SDKI 2012, angka ini
Angka kematian ibu dalam tahap kehamilan dan kelahiran cenderung mengalami penurunan selama tahun 1994-2012, namun pada tahun 2012 jumlah kematian menunjukkan peningkatan yang signifikan dari 228 menjadi 359 per 100.000 kelahiran.
Gambar 3.1. Rasio Kematian Ibu / Maternal Mortality Rasio (per 100.000 kelahiran hidup),
1994-2012
1994 1997 2002-2003 2007 2012
http://www.bps.go.id
belum tentu menunjukkan kegagalan dalam mengurangi peran kematian ibu terhadap kematian wanita secara keseluruhan.
Perlu diperhatikan kesalahan sampling yang berhubungan dengan responden terpilih, dan kesalahan nonsamplingnya.
Dalam publikasi SDKI disebutkan bahwa survei sampel seperti SDKI dianggap tidak tepat digunakan untuk memantau kemajuan menuju target MDGs akibat adanya kesalahan sampling dan nonsampling pada pemilihan responden wanita. Melihat fenomena ini akan sulit bagi Indonesia untuk dapat memenuhi target 3.1 pada SDGs kedepannya.
Indikator 18. Angka Kematian Neonatal, Bayi, dan Balita (indikator MDG yang dimodifikasi)
A
ngka kematian balita adalah kemungkinan seorang anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun, jika merujuk pada angka kematian spesifik usia saat ini. Indikator ini mengukur kesehatan dan kelangsungan hidup anak dan dinyatakan sebagai jumlah kematian per 1.000 kelahiran hidup.Indikator ini menggambarkan lebih dari 90 persen kematian global di antara anak-anak di bawah usia 18 tahun. Data kejadian penyakit seringkali tidak tersedia, sehingga yang digunakan adalah data angka kematian. Indikator digunakan untuk melihat ketercapaian dari target 3.2, yaitu pada 2030 mengakhiri kematian pada bayi baru lahir dan balita.
Ketersedian data Indikator ini dapat diperoleh dari SDKI, SP, dan Supas. Data bisa disajikan berdasarkan usia kematian bayi yaitu neonatal (0-1 bulan), bayi (0-1 tahun), dan balita (0-4 tahun), serta daerah tempat tinggal. Data dapat disajikan sampai wilayah provinsi dan dapat diproyeksi setiap tahunnya.
Gambar 3.2 memperlihatkan selama 1991 hingga 2012 kematian neonatal, bayi, dan balita mengalami penurunan yang cenderung melambat. Kematian banyak terjadi pada usia balita dan bayi, dari 1.000 balita pada tahun 2012, 40 diantaranya tidak akan berhasil mencapai umur lima tahun dan 32 diantaranya tidak dapat mencapai umur satu tahun.
Meskipun pada MDGs ketercapaian indikator ini masih perlu mendapat perhatian khusus, penurunan angka kematian neonatal, bayi, dan balita merupakan suatu perkembangan yang positif. Turunnya angka kematian tersebut menunjukan bahwa program penurunan kematian bayi dan balita cukup berhasil (BAPPENAS, 2015). Melihat dari pola penurunan angka kematian yang cenderung melambat, mengakhiri kematian pada bayi baru lahir dan balita di Indonesia akan memerlukan waktu yang cukup lama. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kesehatan anak, namun strategi percepatan perlu dilakukan agar pada 2030 indonesia dapat mencapai target mengakhiri kematian pada bayi dan balita.
Selama 1991 hingga 2012 kematian neonatal, bayi, dan balita mengalami penurunan yang cenderung melambat.
Kematian banyak terjadi pada usia balita dan bayi, dari 1.000 balita pada tahun 2012, 40 diantaranya tidak akan berhasil mencapai umur lima tahun dan 32 diantaranya tidak dapat mencapai umur satu tahun
2012 2007 2002-2003 1997 1994 1991
Gambar 3.2. Angka Kematian Neonatal, Bayi dan Balita,
1991-2012
Sumber : SDKI
http://www.bps.go.id
Indikator 19. Persentase anak yang menerima imunisasi lengkap (Sesuai jadwal imunisasi nasional)
H
ampir setiap negara saat ini memiliki jadwal khusus dalam penerimaan vaksin. Pada tingkat global, WHO merekomendasikan bahwa semua anak menerima vaksinasi terhadap BCG, Hepatitis B, Polio, DTP, Haemophilus influenza tipe b, Pneumococcal (Conjugate), Rotavirus, Campak, Rubella, dan bahwa gadis remaja (usia 9-13) menerima vaksinasi terhadap HPV. Indikator ini mengukur persentase anak-anak dan remaja yang telah menerima semua imunisasi pada usia yang tepat, seperti yang dianjurkan oleh jadwal nasional tiap negara atau, jika tidak adanya jadwal vaksinasi nasional, maka dapat menggunakan jadwal WHO. Negara juga mungkin dapat memasukkan vaksinasi tambahan, seperti tetanus, demam kuning, dll, seperti yang direkomendasikan oleh program Global Vaccine Action Plan oleh WHO.Keberadaan indikator 19 dapat digunakan untuk menjawab target dalam SDGs, yaitu:
Target 3.2 Pada tahun 2030 mengakhiri kematian pada bayi baru lahir dan balita
Target 3.3 Pada tahun 2030 mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan dan memerangi hepatitis, penyakit yang terbawa air, dan penyakit menular lainnya Target 3.8 Mencapai cakupan kesehatan universal (UHC),
termasuk perlindungan risiko keuangan, akses ke pelayanan kesehatan utama yang berkualitas, dan akses ke obat-obatan dan vaksin utama yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau untuk semua.
Ketersediaan data indikator 19 dapat diperoleh dari BPS, melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Data indikator ini dapat didisagregasikan berdasarkan jenis kelamin, usia, dan wilayah, selanjutnya disagregasi data masih dapat dikembangkan. Indikator ini harus didukung oleh data pada semua vaksin yang diterima oleh individu dimana tidak mungkin negara akan memenuhi kebutuhan imunisasi lengkap. Selain itu, di sebagian besar negara memiliki jadwal nasional mencakup vaksin kurang dari yang WHO rekomendasikan. Di negara-negara ini, Departemen Kesehatan harus bekerja sama dengan WHO untuk memastikan mereka memiliki jadwal yang tepat.
Gambar 3.3 menunjukkan bahwa persentase anak yang menerima imunisasi lengkap di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2011 hingga tahun 2014. Pada umumnya persentase lebih tinggi pada wilayah perkotaan dibandingkan dengan wilayah perdesaan, persentase di perkotaan bahkan lebih tinggi dibandingkan persentase secara nasional di setiap
Di Indonesia pada tahun 2014, persentase anak yang menerima imunisasi lengkap sudah mencapai 76,82 persen.
Pada umumnya persentase lebih tinggi pada wilayah
2010 2011 2012 2013 2014
Kota Desa Indonesia Weight Var.
Sumber : Susenas, BPS
Gambar 3.3. Persentase Anak yang Menerima Imunisasi
Lengkap di Indonesia, 2010-2014
http://www.bps.go.id
tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa perlu peningkatan sosialisasi mengenai pentingnya imunisasi lengkap bagi anak di wilayah perdesaan. Meskipun demikian, peningkatan persentase secara nasional di tahun 2014 membuat Indonesia optimis dalam pencapaian target SDGs pada tahun 2030.
Indikator 20. Insiden, angka pengobatan, dan angka kematian HIV (ndikator MDGs yang dimodifikasi)
I
ndikator ini mengukur jumlah individu dengan kelompok usia yang hidup dengan HIV, yang dinyatakan dengan persentase terhadap total penduduk pada kelompok usia, serta tingkat pengobatan dengan terapi anti-retroviral menurut kelompok usia tertentu. Indikator ini menggambarkan kemajuan dalam mengurangi infeksi HIV dan meningkatkan akses terhadap pengobatan. Indikator pengobatan menggambarkan persentase penduduk di setiap kelompok umur dengan HIV saat ini yang menerima terapi antiretroviral (ART), yang terdiri dari penggunaan setidaknya tiga antiretroviral (ARV), yang secara maksimal menekan HIV dan menghentikan perkembangan penyakit. Indikator ini juga menambahkan gambaran kematian yang disebabkan oleh HIV/ AIDS.Indikator ini dapat digunakan untuk mengukur target 3.3 yaitu tahun 2030 mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan dan memerangi hepatitis, penyakit yang terbawa air, dan penyakit menular lainnya. Indikator ini dapat didisagregasi berdasarkan jenis kelamin dan umur.
Prevalensi HIV pada kelompok usia tertentu adalah contoh acuan yang lebih baik untuk memantau kejadian HIV secara keseluruhan karena kecenderungan prevalensi HIV biasanya berbeda bagi setiap kelompok umur. Prevalensi kasus HIV AIDS dihitung dengan menggunakan informasi data kasus baru dan kasus kumulatif HIV AIDS.
Indikator perkembangan kasus AIDS ini dikumpulkan oleh Kementerian Kesehatan yang terdeteksi dari berbagai sarana kesehatan di seluruh Indonesia setiap tahunnya. Indikator dapat dirinci berdasarkan umur dan jenis kelamin penderita HIV/AIDS dan tersedia sampai dengan level kabupaten/kota. Berdasarkan survei STBP, prevalensi dapat didisagregasi menurut kelompok penduduk berisiko tinggi.
Indikator yang dapat menggambarkan perkembangan pengobatan HIV dan tersedia di Indonesia adalah proporsi penduduk terinfeksi HIV lanjut yang memiliki akses pada obat-obatan antiretroviral (ARV). Data dikumpulkan oleh Kemenkes dari berbagai sarana kesehatan setiap tahun. Indikator dapat dirinci berdasarkan jenis terapi ARV (ART lini 1 dan lini 2), wilayah (kabupaten/kota), umur, dan jenis kelamin. Data kematian AIDS yang dilaporkan tercatat di berbagai sarana kesehatan di
Indikator 20 didekati dengan prevalensi HIV/AIDS, tingkat kejadian, dan jumlah kematian akibat HIV/AIDS dengan menggunakan data dari Worldbank.
Gambar 3.4. Prevalensi HIV/AIDS Usia 15-49 Tahun dan Tingkat Kejadian di Indonesia, 2010-2013
http://www.bps.go.id
Indonesia. Indikator dapat dirinci berdasarkan umur dan jenis kelamin penderita HIV/AIDS dan tersedia sampai dengan level kabupaten/kota.
Berdasarkan gambar 3.4, prevalensi HIV/AIDS usia 15-49 tahun konstan setiap tahun hingga 2012 sebesar 0,4 persen dan meningkat menjadi 0,5 persen pada tahun 2013. Pola yang sama juga terjadi pada tingkat kejadian HIV. Menurut United Nations (UN), tingkat kejadian HIV adalah jumlah infeksi HIV baru dalam suatu populasi selama periode waktu tertentu. Pada tahun 2010 sampai 2012, tingkat kejadian HIV konstan sebesar 0,05 persen dan meningkat menjadi 0,06 persen pada tahun 2013.
Berdasarkan gambar 3.5, jumlah kematian akibat HIV/AIDS di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2010, jumlah kematian akibat HIV/AIDS sebesar 19 ribu kematian meningkat tajam hingga tahun 2013 mencapai 29 ribu kematian. Hal ini disebabkan karena perilaku yang tidak sehat seperti melalui hubungan seksual (homoseksual maupun heteroseksual), penggunaan pada jarum suntik pengguna narkotika, dan transfusi darah dari ibu yang mengidap HIV kepada bayi yang dilahirkannya.
Indikator 21. Insiden, prevalensi dan angka kematian terkait TB (indikator mdg)
A
ngka kejadian TB adalah jumlah kasus baru TB per 100.000 orang per tahun. Prevalensi adalah jumlah kasus TB dalam suatu populasi pada suatu titik waktu tertentu per 100.000. Angka kematian TB adalah jumlah kematian yang disebabkan oleh TB per 100.000 dalam satu tahun. Mendeteksi dan menyembuhkan TB merupakan tindakan yang penting untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan. Prevalensi dan kematian merupakan penanda yang lebih sensitif dari beban tuberkulosis yang berubah-ubah dari kasus baru, namun data insiden TB lebih komprehensif dan memberikan gambaran terbaik dari dampak penanggulangan TB di dunia.Data untuk indikator kasus TB di atas diperoleh dari laporan TB Global oleh WHO pada level nasional setiap tahun. WHO mengestimasi indikator tersebut berdasarkan data kasus TB yang dilaporkan dengan melakukan konsultasi bersama negara yang bersangkutan. Pada indikator tersebut diperoleh informasi pengidap TB yang juga terinfeksi HIV. Data Prevalensi TB Paru juga dapat diperoleh dari Riskesdas. Data prevalensi dari Riskesdas tersedia sampai level provinsi dan dapat dirinci berdasarkan wilayah kota-desa, dan karakteristik penderita seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan kuintil pendapatan.Data harus dipisahkan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, kota/desa, dan pendapatan, serta jenis TB, dengan perhatian khusus pada varietas yang resistan terhadap obat. Selain itu, harus dipisahkan berdasarkan penyakit (paru/
19 23
26 29
2010 2011 2012 2013
Sumber : MDGs, United Nation Gambar 3.5. Jumlah Kematian
Akibat HIV/AIDS di Indonesia (ribu penduduk), 2010-2013
Angka kejadian TB rata-rata menurun 2 kasus per tahun selama 2010-2013
http://www.bps.go.id
ekstra-paru), jenis konfimasi laboratorium (biasanya BTA), dan riwayat pengobatan sebelumnya.
Informasi mengenai kasus TB dapat juga diperoleh dengan menggunakan indikator Proporsipasien TB Paru BTA+ di antara suspek yang diperiksa, Angka penemuan kasus TB Paru BTA+(Case Detection Rate (CDR)), dan Angka keberhasilan pengobatan (Success Rate (SR)) yang dikumpulkan Kemenkes secara pencatatan yang tersedia sampai wilayah kabupaten/kota tetapi tidak bisa dirinci secara lengkap berdasarkan karakteristik penderita. Indikator ini digunakan untuk mengukur salah satu target SDGs yaitu target 3.3 pada tahun 2030 mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan dan memerangi hepatitis, penyakit yang terbawa air, dan penyakit menular lainnya.
Gambar 3.6 memperlihatkan bahwa terjadi penurunan angka kejadian TB rata-rata 2 kasus per tahun selama 2010-2013 yang berarti ada kemajuan positif untuk mencapai kehidupan masyarakat yang sehat, begitu pula prevalensi TB yang cenderung menurun selama tahun 2010-2013 hanya pada tahun 2012 sedikit meningkat. Sementara Angka kematian TB cenderung stagnan dengan 27 kasus setiap tahunnya selama tahun 2010-2012, hanya terjadi penurunan 2 kasus pada tahun 2013.
Indikator 22. Insiden dan angka kematian terkait malaria (indikator mdg)
A
ngka kejadian malaria adalah jumlah kasus malaria baru per 100.000 orang per tahun. Angka kematian malaria adalah jumlah kematian yang disebabkan oleh malaria per 100.000 orang per tahun. Indikator ini digunakan untuk mengukur salah satu target SDGs yaitu target 3.3 pada tahun 2030 mengakhiri epidemi AIDS, tuberkulosis, malaria, dan penyakit tropis terabaikan dan memerangi hepatitis, penyakit yang terbawa air, dan penyakit menular lainnya.Insiden malaria dan prevalensi kasus malaria dapat diperoleh dari Riskesdas. Data tersedia sampai level provinsi dan dapat dirinci berdasarkan wilayah (kota-desa) dan karakteristik penderita seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan kuintil pendapatan. Selain melalui Riskesdas, data insiden malaria juga dapat diperoleh dari Kementerian Kesehatan berupa pendataan setiap tahunnya dari berbagai sarana kesehatan. Sayangnya Publikasi Riskesdas tidak menghasilkan angka kematian akibat malaria.
Kualitas data sangat bergantung pada kelengkapan pelaporan fasilitas kesehatan. Selain itu, karena gejala malaria mirip dengan penyakit lain, insiden dan kematian kadang-kadang mengalami salah pelaporan di negara-negara yang memiliki sumber daya yang kurang. Global Tuberculosis Control
2011
Gambar 3.6. Insiden, Prevalensi, dan Angka Kematian Terkait TB,
2010-2013
Insiden dan angka kematian terkait malaria cenderung menurun dari 465.764 kasus pada tahun 2010 menjadi 343.527 kasus pada tahun 2013.
http://www.bps.go.id
Penemuan pengujian diagnostik malaria yang cepat harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas data. Data harus dipisahkan berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, lokasi geografi (kota-desa), pendapatan, serta oleh agen penyebab malaria.
Tidak tersedianya data mengenai kematian penduduk akibat malaria baik dari pendataan maupun Riskesdas, maka untuk melihat perkembangan insiden dan angka kematian terkait malaria disajikan data bersumber dari Website WHO.
Berdasarkan Gambar 3.7 secara umum jumlah insiden dan angka kematian terkait malaria yang dilaporkan cenderung berfluktuatif tiap tahunnya dengan jumlah tertinggi tahun 2010 sebanyak 465.764 kasus dan terendah tahun 2003 sebanyak 223.075 kasus yang dilaporkan.
Masih cenderung tingginya insiden dan angka kematian terkait malaria selama beberapa tahun terakhir menjadi bahan masukan bagi pemerintah untuk lebih memerhatikan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan ketersediaan dan kualitas dari fasilitas kesehatan dan tentunya didukung oleh kesadaran dari masyarakat sendiri untuk meningkatkan kualitas hidup dengan menjaga kesehatan.
Indikator 23. Probabilitas Kematian antara Usia Tepat 30 dan 70 Tahun dari Setiap Penyakit Jantung, Kanker, Diabetes, atau Penyakit Pernapasan Kronis, (atau Bunuh Diri)
B
eban penyakit akibat penyakit tidak menular (PTM) atau Non-Communicable Disesase (NCD) di antara orang dewasa meningkat karena faktor usia dan transisi kesehatan.Mengukur risiko kematian akibat PTM merupakan hal yang penting dilakukan untuk menilai beban dari kematian akibat PTM dalam suatu populasi. Indikator ini mengukur risiko kematian dini akibat PTM yang paling umum. Merupakan persentase orang berumur 30 tahun yang akan mati sebelum ulang tahun ke-70 Gambar 3.7. Insiden, Prevalensi, dan Angka Kematian Terkait TB, 2010-2013
Sumber : World Health Organization (WHO) 200 000
250 000 300 000 350 000 400 000 450 000 500 000
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
http://www.bps.go.id
mereka dari penyakit jantung, kanker, diabetes, atau penyakit pernapasan kronis, dengan asumsi bahwa ia akan mengalami tingkat kematian saat ini di setiap usia dan ia tidak akan mati dari penyebab kematian lain, seperti kecelakaan atau HIV/ AIDS.
Sebagai Indikator pengukur resiko kematian, indikator ini digunakan untuk menjawab target SDGs 3.4, pada tahun 2030 mengurangi angka kematian premature sepertiga dari penyakit tidak menular (NCD) melalui pencegahan dan pengobatan, dan mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan.
Ketersediaan data indikator ini belum tersedia. Hal ini disebabkan karena pengukuran kejadian PTM di Indonesia tidak dapat mengukur probabilitas kematian antara usia 30-70 tahun.
Indikator 24. Persentase populasi kelebihan berat badan dan obesitas, termasuk balita.
I
ndikator ini menggambarkan proporsi penduduk suatu negara yang kelebihan berat badan atau obesitas. Obesitas di semua usia memiliki efek yang signifikan pada kesehatan, bahkan berdampak sangat buruk untuk anak-anak yang mengalami obesitas hingga dewasa. IMT atau Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index/BMI) adalah ukuran lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan yang dihitung dengan membagi berat badan seseorang dengan tinggi badan yang dikuadratkan. Menurut WHO, kelebihan berat badan untuk orang dewasa yaitu seseorang yang memiliki IMT lebih besar dari atau sama dengan 25. Seseorang dengan IMT yang lebih besar dari atau sama dengan 30 didefinisikan sebagai orang yang obesitas. Kelebihan berat badan pada anak didefinisikan oleh Child Growth Standards (Standar Pertumbuhan Anak) WHO sebagai persentase anak usia 0-5 tahun yang proporsi berat terhadap tinggi badan berstandar deviasi +2 di atas median Child Growth Standards (Standar Pertumbuhan Anak) WHO. Prevalensi kelebihan berat badan pada remaja adalah persentase remaja yang memiliki berstandar deviasi satu di atas IMT dan dapat dibedakan berdasarkan usia dan jenis kelamin.Indikator ini dapat mengukur target 3.4, yaitu pada tahun 2030 mengurangi angka kematian premature sepertiga dari penyakit tidak menular (NCD) melalui pencegahan dan pengobatan, dan mempromosikan kesehatan mental dan kesejahteraan.
Data untuk indikator ini dapat diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan.
Menurut Riskesdas, untuk menilai status gizi anak balita, perhitungan dilakukan dengan cara mengonversikan angka berat badan dan tinggi badan setiap anak balita ke dalam nilai standar (Z-score) menggunakan baku antropometri anak balita WHO 2005. Kemudian salah satu penentuan status gizi dilakukan klasifikasi status gizi berdasarkan indikator BB/TB,
Ketersediaan data indikator 23 belum tersedia, karena pengukuran kejadian penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia tidak dapat mengukur probabilitas kematian antara usia 30-70 tahun
Indikator 24 disajikan berdasarkan kelompok umur
http://www.bps.go.id
dengan batasan sebagai berikut:
Sangat kurus : Z-score <-3,0
Kurus : Z-score ≥-3,0 s.d. Z-score<-2,0 Normal : Z-score ≥-2,0 s.d. Z-score ≤2,0 Gemuk : Z-score >2,0
Indikator ini dapat diukur dari angka prevalensi balita yang mengalami kegemukan. Definisi dari angka prevalensi balita yang mengalami kegemukan adalah banyaknya balita yang kegemukan dari 100 balita.
Selanjutnya, status gizi untuk kelompok remaja (5-18 tahun) menggunakan hasil pengukuran antropometri berat badan dan tinggi badan yang disajikan dalam bentuk salah satunya indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U). Berdasarkan baku antropometri WHO, nilai Z-score IMT/U setiap remaja dikategorikan sebagai berikut:
Sangat kurus : Z-score <-3,0
Kurus : Z-score ≥-3,0 s.d. Z-score <-2,0 Normal : Z-score ≥-2,0 s.d. Z-score ≤1,0 Gemuk : Z-score >1,0 s.d. Z-score ≤2,0 Obesitas : Z-score >2,0
Kemudian, status gizi dewasa (>18 tahun) dinilai berdasarkan IMT. Penghitungan IMT adalah berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m) dikuadratkan, dengan batasan sebagai berikut:
Kurus : IMT <18,5 Normal : IMT≥18,5 - <24,9
Berat badan lebih : IMT ≥25,0 - <27,0 Obesitas : IMT ≥27,0
Ketiga indikator tersebut dapat dilakukan disagregasi berdasarkan jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dan kuintil pendapatan.
Kegemukan harus dideteksi pada usia dini. Kegemukan pada balita akan berisiko terkenanya penyakit metabolik dan degeneratif pada saat dewasa. Prevalensi gemuk pada balita di Indonesia meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2010, kemudian menurun cukup signifikan dari tahun 2010 ke tahun 2013.
Selama tahun 2010-2013, penurunan prevalensi gemuk pada balita di Indonesia menurun rata-rata sebesar 0,73 persen setiap tahunnya. Penurunan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat dalam pencegahan kegemukan sejak dini sudah mulai meningkat. Namun demikian, prevalensi gemuk pada balita lebih tinggi dibandingkan prevalensi kurus dan sangat kurus pada balita. Prevalensi kegemukan pada balita tersebut
Selama tahun 2010-2013, penurunan prevalensi gemuk pada balita di Indonesia menurun rata-rata sebesar 0,73 persen setiap tahunnya. Penurunan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat dalam pencegahan kegemukan sejak dini sudah mulai meningkat. Namun demikian, prevalensi gemuk pada balita lebih tinggi dibandingkan prevalensi kurus dan sangat kurus pada balita. Prevalensi kegemukan pada balita tersebut