ARSIP DPR RI
MENTERI HUKUM DAN HAM RI (YASONA H. LAOLY):
PENDAPAT AKHIR
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ATAS
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PENGESAHAN PERJANJIAN EKSTRADISI ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN PAPUA NUGINI (EXTRADITION TREATY BETWEEN REPUBLIC OF INDONESIA
AND INDEPENDENT STATE OF PAPUA NEW GUINEA) DAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENTANG
PENGESAHAN PERJANJIAN EKSTRADISI ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SOSIALIS VIETNAM (EXTRADITION TREATY BETWEEN REPUBLIC
OF INDONESIA AND THE SOCIALIST REPUBLIC OF VIET NAM) DALAM
RAPAT PARIPURNA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Om swasti atsu.
Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, Hadirin dan sidang kami muliakan.
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kasih setia-Nya kita dapat melakukan karya, melakukan pekerjaan kita sampai pada hari ini dan pada saat ini hadir pada Rapat Paripurna yang terhormat.
Pada hari yang berbahagia ini kita dapat hadir dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dengan agenda antara lain, penyampaian Pendapat Akhir Presiden terhadap Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Perjanjian Ekstradisi Antara Republik Indonesia dan Papua Nugini dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Perjanjian Ekstradisi Antara Republik Indonesia dan Republik Sosialis Viet Nam.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa rancangan undang-undang tersebut telah diselesaikan pembahasannya dalam pembicaraan tingkat I secara simultan pada tanggal 2 Februari 2015 dengan keputusan untuk menyetujui untuk diteruskan ke tahap selanjutnya, yaitu pengambilan keputusan atau pembicaraan tingkat II dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang sedang kita laksanakan pada saat ini.
Kita semua mengharapkan semoga rancangan undang-undang tersebut dapat disetujui bersama dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk disahkan menjadi undang-undang, sehingga diharapkan akan dapat
ARSIP DPR RI
terbentuk regulasi yang komprehensif dalam rangka proses ekstradisi diantara Republik Indonesia dan Papua Nugini, serta Republik Indonesia dan Republik Sosialis Viet Nam.
Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, Hadirin sidang yang kami muliakan.
Dalam rangka mencapai tujuan negara Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, Pemerintah Republik Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional melakukan hubungan dan kerjasama internasional yang diwujudkan dalam perjanjian internasional.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi komunikasi, transportasi dan informasi yang semakin canggih telah menyebabkan wilayah negara yang satu dengan wilayah negara yang lain seakan tanpa batas, bordesless, sehingga memudahkan lalu lintas dan perpidahan manusia dari suatu negara ke negara lain. Di samping mempunyai dampak positif bagi kehidupan manusia kemajuan teknologi transportasi, komunikasi dan informasi juga berpotensi disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif khususnya kejahatan-kejahantan yang bersifat lintas batas, cross border crimes, sehingga seringkali memudahkan para pelaku kejahatan melarikan diri ke negara lain dengan tujuan untuk menghindari tuntutan hukum.
Hal ini juga yang mempengaruhi bentuk dan jenis kejahatan yang pada awalnya bersifat konvensional dan individual atau kelompok terbatas menjadi kejahatan yang terorganisasi dengan modus operan yang semakin canggih dan meluas serta locus delicti-nya tidak lagi pada satu negara tetapi telah menyebar di berbagai negara sebagai trans-national crime.
Papua Nugini dan Viet Nam merupakan dua negara yang cukup strategis bagi Indonesia dalam rangka penanggulangan kejahatan yang bersifat lintas batas, letak geografis serta tingginya mobilitas orang dari dan menuju ke negara tersebut setidaknya menjadi faktor signifikan diperlukannya perjanjian ekstradisi antara Republik Indonesia dengan kedua negara tersebut.
Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat, Hadirin sidang yang kami muliakan.
Fenomena kejahatan yang terorganisir lintas negara atau transnational organized crime menunjukkan tren yang semakin meningkat pada saat ini dan tidak saja berdampak secara psikologis bagi individu atau kelompok-kelompok masyarakat tetapi juga berdampak kepada sendi-sendi perekonomian nasional dan internasional serta keutuhan suatu negara.
ARSIP DPR RI
Bentuk-bentuk kejahatan terorganisir lintas negara ini antara lain, tindak pidana korupsi, tindak pidana pencucian uang, tindak pidana narkotika dan psikotropika, narcotic drugs and psychotropic substances, tindak pidana perdagangan orang, trafficking in persons, tindak pidana cyber crime, tindak pidana penyelundupan manusia, tindak pidana terorisme serta pencurian ikan, sehingga penanggulangannya diperlukan kerjasama antara negara yang satu dengan negara yang lain.
Untuk mempermudah penanganan proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap kejahatan-kejahatan tersebut diperlukan kerjasama antar negara dalam bidang penegakan hukum yang dilakukan melalui berbagai perjanjian bilateral maupun multilateral.
Saat ini Perserikatan Bangsa Bangsa telah mengeluarkan model treaty on extradition yang dapat dijadikan model atau acuan pembuatan Undang-Undang Ekstradisi Nasional. Demikian juga dalam United Nation Convention Againts Corruption yang telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2006 diatur mengenai kerjasama internasional dan secara khusus mengatur tentang pengembalian asset korupsi hasil tindak pidana atau asset recovery.
Berdasarkan hal tersebut di atas, setelah mempertimbangkan secara sungguh-sungguh persetujuan Fraksi-fraksi izinkanlah kami mewakili Presiden dalam Rapat Paripurna yang terhormat ini dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Presiden menyatakan setuju Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Papua Nugini (Extradition Treaty between Republic of Indonesia and Independent State of Papua New Guinea) dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Republik Sosialis Viet Nam (Extradition Treaty between Republic of Indonesia and the Socialist Republic of Viet Nam) untuk disahkan menjadi undang-undang.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang terhormat, atas segala perhatiannya dalam menyelesaikan proses pembahasan rancangan undang-undang ini. Kami sampaikan juga ucapan terima kasih yang tak terhingga dan apresiasi atas segala perhatian, dukungan dan partisipasinya kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran pembahasan, para wartawan dan para pemangku kepentingan yang selalu mengikuti proses rancangan undang-undang ini dengan tertib.
Semoga setetes tinta yang kita goreskan dan buah pikiran yang kita sumbangkan dalam proses pembahasan rancangan undang-undang ini dapat dinilai sebagai amal ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Demikian pandangan dari Pemerintah dari Presiden Republik Indonesia.
Om santi-santi-santi om,
Wallahul Muwwafiq Ilaa Aqwamiththoriq,
Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
ARSIP DPR RI
KETUA RAPAT:
Terima kasih kami sampaikan kepada yang terhormat Saudara Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia yang telah menyampaikan pendapat akhirnya mewakili Presiden.
Sekarang kami menanyakan kepada Sidang Dewan yang terhormat apakah Pengesahan Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Republik Sosialis Viet Nam (Extradition Treaty between Republic of Indonesia and the Socialist Republic of Viet Nam) dan Pengesahan Perjanjian Ekstradisi antara Republik Indonesia dan Papua Nugini (Extradition Treaty between Republic of Indonesia and Independent State of Papua New Guinea) dapat disetujui untuk disahkan menjadi undang-undang?
(RAPAT : SETUJU)
Sidang Dewan yang kami hormati,
Mari kita masuk acara yang keempat dan kelima Rapat Paripurna, yaitu pembicaraan tingkat II pengambilan keputusan terhadap RUU tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Demokratik Timor Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan menjadi undang-undang dan pembicaraan tingkat II pengambilan keputusan terhadap RUU tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan menjadi undang-undang.
Untuk itu, kami persilakan kepada Pimpinan Komisi I DPR RI yang terhormat Saudara Asril Hamzah Tanjung, S.IP., untuk menyampaikan laporan.
Kami persilakan.
PIMPINAN KOMISI I DPR RI (ASRIL HAMZAH TANJUNG, S.IP. /F-GERINDRA):
LAPORAN KOMISI I DPR RI
MENGENAI HASIL PEMBAHASAN PEMBICARAAN TINGKAT I TERHADAP
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH ISLAM PAKISTAN TENTANG KEGIATAN KERJASAMA DI BIDANG PERTAHANAN (AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE
REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE ISLAMIC REPUBLIC OF PAKISTAN ON THE COOPERATIVE ACTIVITIES IN THE FIELD
OF DEFENCE) DAN
ARSIP DPR RI
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG
PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR LESTE TENTANG KEGIATAN KERJA SAMA DI BIDANG PERTAHANAN (AGREEMENT BETWEEN
THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE DEMOCRATIC OF TIMOR-LESTE CONCERNING
COOPERATIVE ACTIVITIES IN THE FIELD OF DEFENCE) PADA RAPAT PARIPURNA
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA 9 FEBRUARI 2015
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat Paripurna DPR RI, Yang terhormat Saudara Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Yang terhormat Saudara Menteri Hukum dan HAM atau yang mewakili, Yang terhormat Saudara Menteri Luar Negeri atau yang mewakili,
Saudara-saudara Anggota Dewan, hadirin sekalian yang kami muliakan.
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya pada hari ini kita dapat menghadiri Rapat Paripurna DPR Republik Indonesia dalam keadaan sehat walfiat untuk mendengarkan laporan Komisi I DPR RI mengenai hasil pembahasan pembicaraan tingkat I Terhadap Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government pf the Islamic Republic of Pakistan on the Cooperative Activities in the Field of Defence) dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Demokratik Timor Leste tentang Kegiatan Kerja Sama di Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Democratic of Timor-Leste Concerning Cooperative Activities in the Field of Defence)
Saudara Pimpinan, Anggota Dewan, Hadirin yang kami muliakan,
Perkenankanlah saya mewakili Pimpinan dan seluruh Anggota Komisi I DPR RI menyampaikan laporan hasil pembahasan Pembicaraan Tingkat I terhadap Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah
ARSIP DPR RI
Republik Demokratik Timor-Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan.
Perlu kami informasikan bahwa Presiden Republik Indonesia melalui surat Nomor R60/Pres/X/2014 dan Nomor R61/Pres/X/2014 pada tanggal 15 Oktober 2014 telah menyampaikan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan dan menugaskan Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri dan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk mewakili Pemerintah membahas kedua rancangan undang-undang tersebut bersama dengan DPR RI.
Selanjutnya berdasarkan Keputusan Rapat Bamus DPR RI tanggal 6 November 2014 menugaskan Komisi I DPR RI untuk melakukan pembahasan terhadap kedua rancangan undang-undang tersebut bersama-sama dengan Pemerintah.
Menindaklajuti penugasan Rapat Bamus, Rapat Intern Komisi I DPR RI tanggal 13 Januari 2015 memutuskan bahwa Komisi I DPR RI akan melakukan pembahasan terhadap kedua rancangan undang-undang tersebut.
Saudara Pimpinan, Anggota Dewan, hadirin yang kami muliakan,
Dalam proses persiapan pembahasan terhadap kedua rancangan undang-undang tersebut, Komisi I DPR RI telah melaksanakan rapat dengar pendapat dan rapat dengar pendapat umum dengan instansi terkait maupun dengan pakar untuk mendapatkan masukan. Selanjutnya pada tanggal 5 Februari 2015 Komisi I DPR RI melakukan pembahasan Pembicaraan Tingkat I bersama dengan Pemerintah dalam hal ini Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri yang diwakili oleh Dirjen Hukum dan Peraturan Internasional dan Menteri Hukum dan HAM yang diwakili oleh Dirjen Peraturan Perundang-undangan. Pembahasan Pembicaraan Tingkat I tersebut berlangsung secara kritis, mendalam dan terbuka. Akhirnya Fraksi-fraksi di Komisi I DPR RI dan Pemerintah menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Islamic Republic of Pakistan on the Cooperative Activities in the Field of Defence) dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan (Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Democratic of Timor-Leste Concerning Cooperative Activities in the Field of Defence) untuk dibahas dalam Pembicaraan Tingkat II atau Pengambilan Keputusan pada Rapat Paripurna DPR RI untuk disahkan menjadi undang-undang.
ARSIP DPR RI
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat Paripurna DPR RI; dan Saudara-saudara Anggota Dewan,
Aspek pertahanan merupakan salah satu faktor yang sangat hakiki dalam menjamin kelangsungan hidup suatu negara. Kemampuan mempertahankan diri terhadap ancaman dari luar negeri dan/atau dari dalam negeri merupakan syarat mutlak bagi suatu negara dalam mempertahankan kedaulatannya. Untuk itu kerjasama pertahanan merupakan salah satu faktor yang sangat diperlukan untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara, membangun kehidupan berbangsa dan bernegara serta berpartisipasi dalam menjaga ketertiban dunia.
Kami berharap dengan disahkannya kedua rancangan undang-undang ini, keinginan kita untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara serta membangun kehidupan berbangsa bernegara dan berpartisipasi dan menjaga ketertiban dunia dapat terealisasi.
Disamping itu, kami mengharapkan kerjasama di bidang pertahanan ini dapat menjaga hubungan baik kedua negara dan meningkatkan kesejahteraan dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Yang terhormat Saudara Pimpinan Rapat Paripurna DPR RI, Saudara-saudara Anggota Dewan yang kami muliakan,
Demikian laporan Komisi I DPR RI mengenai hasil Pembahasan Pembicaraan Tingkat I terhadap Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara PemerintahRepublik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang KegiatanKerjasama di Bidang Pertahanan dan Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan.
Selanjutnya Komisi I DPR RI mengharapkan persetujuan Rapat Paripurna DPR RI hari ini agar kedua rancangan undang-undang tersebut dapat disahkan menjadi undang-undang.
Mengakhiri laporan Komisi I DPR RI hari ini, kami mengucapkan terima kasih kepada para Anggota Dewan yang terhormat yang telah mempercayakan Komisi I DPR RI untuk melaksanakan tugas pembahasan tugas pembahasan terhadap kedua rancangan undang-undang ini. Kami juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya kepada para Anggota Komisi I DPR RI dan pada tim interdept Pemerintah yang telah secara kooperatif bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam pelaksanaan pembahasan kedua rancangan undang-undang ini.
Selanjutnya kepada Setjen DPR RI khususnya Sekretariat Komisi I DPR RI dan kalangan pers, kami sampaikan penghargaan dan terima kasih.
Sekian terima kasih.
ARSIP DPR RI
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, 9 Februari 2015 PIMPINAN KOMISI I
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KETUA
Drs. MAHFUDZ SIDDIQ, M.Si.
A-105
KETUA RAPAT:
Baik. Terima kasih kami sampaikan kepada Saudara Asril Hamzah Tanjung, S.IP., yang telah menyampaikan laporan Komisi I DPR RI terhadap pembahasan RUU tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan dan pembahasan RUU tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan menjadi undang-undang.
Untuk selanjutnya, kami menanyakan kepada Sidang Dewan yang terhormat, apakah RUU tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Demokratik Timor-Leste tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan menjadi undang-undang dapat disetujui?
(RAPAT : SETUJU)
Apakah RUU tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Islam Pakistan tentang Kegiatan Kerjasama di Bidang Pertahanan menjadi undang-undang dapat disetujui?
(RAPAT : SETUJU) Baik.
Sidang Dewan yang terhormat,
Berikutnya kami persilakan kepada Saudara Menteri Pertahanan Republik Indonesia untuk menyampaikan pendapat akhir mewakili Presiden.
Kami persilakan.